Minggu, 10 April 2011

Untuk Peri Buku (Bareng Luckty,and Dion)

Alkisah, di suatu tempat bernama Negeri Buku. Jika dalam film Planet 51 semua benda berbentuk bulat/lingkaran, di Negeri Buku ini semua benda berbentuk buku, Setiap rumah berisikan buku-buku. Rumah-rumah mereka pun berbentuk buku. Begitupula dengan perabotan rumah, dari piring berbentuk buku hingga bak mandi berbentuk buku. Hidup mereka ditaburi buku-buku.

Penduduknya terdiri dari empat golongan. Golongan yang pertama, para Pengolah Buku. Hidupnya tiap detik dihabiskan untuk menulis di tiap lembaran kertas yang nantinya akan menghasilkan karya yang disebut buku.

Kedua, golongan yang disebut Pemulung Buku. Mereka adalah orang-orang yang menikmati dan mengoleksi buku yang ditulis para pengolah buku. Para pemulung buku ini sendiri juga terdiri dari beberapa kelompok; hobi membeli buku saja tapi tidak sanggup membacanya, hobi membaca namun tidak memiliki kemampuan membeli, dan hobi membeli buku sekaligus mampu membacanya hingga tandas.

Referensi yang mereka pakai untuk memilih sebuah buku untuk menjadi bacaan yang pas, biasanya dibuat oleh orang-orang yang masuk kategori ketiga, Peresensi Buku. Tidak sembarang orang bisa masuk kategori Peresensi Buku, hanya orang-orang yang mempunyai ikatan batin kuat dengan buku. Para Peresensi Buku ini biasanya mendapatkan kiriman buku terbaru untuk diresensi. Buntelan dari Peri Bukulah yang nantinya akan diulas oleh para peresensi buku.

Para Peri Buku adalah golongan kategori terakhir. Yang terpilih menjadi Peri Buku sungguh berat. Harus melewati beberapa tahap seleksi agar berhasil menjadi Peri Buku. Pertama, terlebih dahulu masuk kategori Pemulung Buku, mencintai segala jenis buku. Kedua, dia pernah berpengalaman menjadi Peresensi Buku yang ciamik agar menarik orang untuk membaca sebuah buku. Kemudian, calon Peri Buku ini setidaknya juga punya pengalaman menjadi Pengolah Buku.

Setelah berhasil melewati tiga tahap tersebut, barulah bisa diangkat menjadi Peri Buku. Banyak yang berlomba-lomba ingin menjadi Peri Buku, namun banyak juga yang gugur. Hanya orang-orang terpilih yang mampu menduduki jabatan sebagai Peri Buku. Wajar saja, diantara empat golongan tersebut menjadi Peri Bukulah yang terlihat istimewa.

Peri Buku bertugas menerbangkan buntelan buku yang di tulis Pengolah Buku untuk Peresensi Buku. Nantinya buku-buku terbaru yang diulas tersebut menjadi bahan rujukan Pemulung Buku dalam membeli dan membaca buku. Tugas Peri Buku memang berat, namun menyenangkan karena berkubang di labirin penuh buku.

Kini, Negeri Buku sedang berduka. Peri Buku telah melepas mahkotanya dan turun dari singgasanya. Banjir air mata dimana-mana.
Dikisahkan pula, menurut agen-agen yang sering mangkal di daratan Jawa, Peri Buku berdiam di Puri Aneka Buku yang dikelilingi oleh Benteng Fantasy (bukan Benteng Takashi lho!). Dari menara inilah, sang Peri Buku mengawasi para pengolah buku, pemulung buku, dan peresensi buku yang berdiam di pelosok negerinya. Setiap hari kantoran, eh Purian—karena beliau bekerja di Puri—Peri Buku menyortir sihir-sihir imaji yang dihasilkan oleh para pengolah buku, lalu menyebarkannya lewat jaringan tak kasat mata tapi bisa dicerminkan pada ribuan cermin lopian (*eh kok jd kek cerita Mak Lampir?) yang tersebar di penjuru negeri.

Dari sini, para pemulung buku dan peresensi buku kemudian dibuat terpesona, mabuk kepayang, hingga tak kuat untuk segera melangkahkan kaki ke toko buku terdekat. Mereka yang masih bertahan dari godaan ajaib dan kebetulan lagi bokek, tanpa bat bet but langsung menuliskan sihirnya sendiri, dalam bentuk repiu-repiu yang kemudian di send-balik ke Puri Aneka Buku, berharap peri buku tersihir dan mengirimkan buntelan ajaib.


Salah satu kebiasaan peri buku yang amat dirindukan oleh para hulubalang dan sekalian rakyat Negeri Buku adalah kebiasaan  beliau untuk duduk-duduk di SERAMBI purinya yang sangat megah. Di teras depan itulah, beliau senantiasa memberikan arahan, petunjuk, saran-saran, aneka jampi-jampi peningkat kreativitas bagi sekalian rakyatnya. Dan, yang juga sangat ditunggu-tunggu juga, membagikan buntelan ajaib berisi mahakarya terbaik karya pengolah buku yang lolos seleksi. Sungguhpun begitu, setiap buntelan dan sapaan penggugah semangat dari ibu peri begitu mengugah sekalian rakyat negeri buku. Kehadiran beliau di wall Lupian seolah selalu dinantikan oleh para Lupianers (a.k.a fesbuker kalo zaman sekarang). Kehadirannya sendiri adalah keajaiban!

Hari ini butir-butir  air turun dengan derasnya! Di dunia manusia kejadian itu disebut hujan. Manusia memang aneh! saat hujan tidak hadir mereka berkeluh kesah. tapi saat hujan turun berlimpah mereka mengeluh dan menyalahkan hujan atas segala kekacauan  yang sebenarnya  disebabkan oleh ulah mereka sendiri.

Seorang  Peresensi Buku  Magang berjalan  dengan cepat. Ia tidak menghiraukan tingkah polah para Ceasg yang sibuk menunjuk-nunjuk  ke dunia manusia dari sisi tebing, ke arah laut tepatnya. Mereka sepertinya sedang menemukan sebuah permainan baru.  Padahal sepak terjang mereka  merupakan kejadian yang layak dinonton oleh para penghuni Dunia Buku.

Wajah   Peresensi  Magang   terlihat serius,   sebuah bungkusan anti basah  terlihat di bawanya dengan sangat hati-hati. Dunia Buku sedang mengalami gonjang-ganjing! Ibu Peri Buku baru saja lengser. Beliau memang belum lama menjadi Peri Buku, namun rakyat Dunia Buku sangat mencintai dan menghormatinya. Sosoknya yang lembut dan penuh kasih sayang selalu dirindukan setiap Dunia Peri mengadakan Pesta Buku. Dengan sabar Ibu Peri memberikan bimbingan tanpa pandang bulu.

"Bagaimana nasibku kelak?"  Peresensi Buku Magang itu terus mengulang pertanyaan yang sama dalam hatinya. Ia dan juga beberapa  sahabatnya seperti Dion Yulianto, Noviane, Abdul Kholiq dan Luckty Giyan Sukarno merupakan peresensi magang yang beruntung karena bisa belajar langsung dari Ibu Peri Buku. Selama ini Ibu Peri sangat membantu mereka dalam urusan belajar membuat review.

Guna membagi ilmu seputar Review, Ibu Peri Buku bahkan membuat sebuah blog yang diberi nama Perca. Setiap peresensi buku magang pasti pernah mampir kesana dan bercita-cita memiliki sebuah blog yang sama. Dalam Perca, bagaimana cara Ibu Peri Buku mengupas sebuah buku dijabarkan dengan gamblang, tidak ada yang ditutupi. Ibu Peri buku sangat bermurah hati dalam berbagi ilmu.

Wajar jika peresensi magang itu merasa khawatir. Selama ini ia dan kawan-kawannya sering mendapat pasokan buku untuk berlatih membuat review hingga kelak bisa meninggalkan embel-lembel magang mereka. Setiap kali Puri Serambi mengeluarkan sebuah buku, bisa  dipastikan salah satu dari mereka akan mendapat sebuah buntelan yang dilapisi kertas  coklat.  Karya mereka jelas masih jauh dari layak, namun kerajinan mereka membuat review dan keinginan kuat untuk belajar membuat Ibu Peri Buku tidak ragu-ragu mengirimkan sebuah buku untuk direview. Berkat Ibu Peri Buku juga kualitas review mereka kian meningkat pesat.

Seiring waktu berjalan, mereka kian menemukan ciri khas dan spesialisasi  dalam membuat review. Misalnya saja buku bertema agama akan diberikan ke Dion dan Abdul Kholiq. Setiap peresensi magang yang mendapat buntelan selalu berupaya menciptakan sebuah review yang terbaik sebagai balasan atas perhatian Ibu Peri. Mereka semakin giat membuat review karena setiap review yang dibuat akan mendapat ganjaran buku baru! Itu artinya mereka kembali bisa  memperaktekan ilmu yang diperoleh.  Sebuah lingkaran yang sangat menyenangkan.

Dengan lengsernya Ibu Peri, mereka hanya bisa  berharap penggantinya tidak akan melupakan mereka dan mencoret nama mereka dari daftar penerima buntelan dari Puri Serambi dan lainnya.  Hubungan yang telah mereka bina dengan para pembesar puri dan penguasa dunia buku tetap bisa berjalan harmonis

"Sialannnnnnnnnnnnnnn!" maki peresensi  magang  itu spontan!
Biasanya ia jarang mengeluarkan makian. Namun kali ini pantas jika ia memaki. Beberapa Nereid sedang asyik bercengkerama hingga tanpa sadar air bergejolak dan menciprati  tubuh peresensi  magang itu. Jika tubuhnya basah  sepertinya itu bukan masalah karena sejak tadi pun ia sudah basah kuyup. Masalahnya  adalah bungkusan anti basahnya juga terkena cipratan air yang cukup banyak.

"Sorry Sis.......!" seru salah satu Nereid sambil tertawa.
Tanpa memperdulikan mereka, peresensi magang itu segera menepi. Ia mengaku salah  berjalan di dekat air tanpa memperhatikan sekitar.  Apa mau dikata, lengsernya Ibu Peri Buku nyaris menguras perhatian dan konsentrasi warga Dunia Buku.Tapi kelakuan para  Nereid juga sungguh kelewatan! Bercanda tanpa perduli sekitar.

Peresensi magang itu bergegas berjalan menuju sebuah pohon yang paling dekat, kali ini dengan lebih memperhatikan sekitarnya. Setelah dirasa aman ia  membuka jacketnya dan berjongkok dibawah pohon  sambil  melapisi bungkusan anti basah yang dibawanya dengan jacketnya  yang sudah nyaris basah kuyup. Memang bungkusan itu sudah diberi lapisan anti basah tapi siapa yang bsia menjamin tidak ada kebocoran disana? Benda yang ada dalam bungkusan itu sangat berharga sehingga ia mau berbasah-basahan. Minimal jacketnya mampu menahan air yang mungkin mengenainya lagi

Sekilas dilihatnya bungkusan yang dibawanya. Miris rasanya mengetahui apa isi bungkusan itu. Tapi demi menghormati Ibu Peri Buku ia harus kuat! Perlahan ia mulai melangkahkan kaki ketujuan awal. Sambl berjalan, pikirannya menerawang ke masa lalu. Dahulu ia sangat menyukai hujan, apalagi jika hujan itu turun dengan lebatnya sehingga ia basah kuyup.  Biasanya setelah kesal karena basah kuyup akibat ulah hujan, ia akan menemukan sebuah buntelan hadiah dari Ibu Peri Buku  berbentuk segi empat dilapisi kertas coklat. Kadang tebal, kadang tipis tergantung bagaimana nasib.

Mengenang saat-saat yang membahagiakan itu ia tersenyum sendiri. Seakan baru kemarin ia merasakan sensasi saat membuka sebuah buntelan dan menemukan buku yang diincarnya. Buku yang dikirim kadang merupakan buku yang belum ada di toko buku alias baru keluar dari percetakan. Biasanya peresensi magang itu akan segera membaca dan merepiunya bahkan kadang hingga diri hari sebagai wujud ucapan terima kasih. Sering kali jika sifat jahilnya keluar, ia akan memamerkan keberuntungannya ke para sahabat, bisa dipastikan mereka akan memberinya celaan alih-alih ikut bahagia atas keberuntungannya.

Mendadak ia teringat saat Ibu Peri Buku memberikan isyarat akan  lengser. Sungguh ia menyesali dirinya yang kurang peka. Andai saja ia peka, tentunya ia bisa menahan Ibu Peri untuk tetap berada di Puri Serambi. Tapi kemudian ia sadar, sungguh egois meminta Ibu Peri tetap berada di Puri sementara beliau sendiri  ingin melalang buana  mengembangkan ilmunya. Siapa tahu dengan begitu, Ibu Peri Buku bisa memberikan  banyak limpahan ilmu pengetahuan lagi.

Sesaat wajahnya kembali terlihat memancarkan aura bahagia. Sebagai tanda perpisahan, dibuatnya dua buah review buku secara maksimal khusus untuk Ibu Peri Buku. Bisa dianggap  sebagai ungkapan terima kasih atas bimbingannya. Khusus untuk itu ia sengaja membuatnya dalam waktu semalaman, tanpa  makan dan tidur sekejap pun . Saat review itu selesai, seakan sebuah batu besar diangkat dari pundaknya. ia merasa  telah menciptakan sebuah mahakarya untuk Ibu Peri Buku, walau ia tahu karyanya masih jauh dari menarik.

Tanpa terasa, ia sudah sampai ditujuan. Setelah mencari sesaat, ditemukannya bel didekat sebuah pohon di pojok halaman. Ditekannya bel tersebut, di ujung yang lain terdengar suara kicau burung. Bel yang menarik, pikirnya. Tak lama kemudian seorang laki-laki mengintip dari balik kaca. Spontan diangkatnya bungkusannya sambil sibuk menunjuk-nunjuk. laki-laki itu menganggukan kepala, sesaat kemudian kepala tadi sudah berada di hadapannya sambil membawa kunci pagar, tentunya bersama badannya he he he

"Ayo masuk, kamu sudah ditunggu" katanya sambil berusaha membukakan gembok  pintu masuk. Satu tangan memegang payung sementara yang  satu berusaha membuka gembok bukanlah hal mudah. Untungnya gembok terbuka dengan cepat. Beiringan mereka masuk ke halaman.   Sekilas sebuah senyum mengembang diwajahnya seiring lirikan mata yang memperhatikan  tubuh peresensi magang. Senyum itu berlahan  berubah menjadi tawa. Peresensi magang menatap dengan heran.

"Apa?" tanyanya
"Lihat kondisimu Jeng, sungguh menyedihkan" jawab laki-laki itu sambil tertawa lepas
Sesaat peresensi magang  mengawati tubuhnya. Mau tidak mau peresensi magang itu ikut tertawa walau dengan sebal. Habis apa mau dikata, kondisinya memang meyedihkan. Dari ujung kepala  sampai ujung kaki seluruhnya basah kuyup. Pakainya tidak hanya basah namun juga penuh dengan cipratan lumpur. Sepatunya penuh dengan  air, bahkan saat ia berjalan mengeluarkan bunyi. Rambutnya, jangan ditanya! Sungguh sosok yang menyedihkan!

Ia mengikuti laki-laki itu  dengan canggung. Tahu diri akan keadaannya ia memilih duduk di kursi yang ada di teras depan. laki-laki tadi sesaat masuk kedalam rumah.  "Keringkan dulu dirimu sebelum masuk, jika tidak bisa-bisa banyak kertas yang terkena cipratan air dari tubuhmu" kata laki-laki tadi sambil mengulurkan sebuah handuk yang dibawanya dari dalam. Peresensi magang itu menerimanya dan mulai mengelap wajah, tangan dan rambutnya. Setelah melempar sepatunya ke tempat sampah terdekat ia mulai mengeringkan telapak kakinya.Baru ia mulai merasakan badannya bergetar karena dingin.

"Mana barang yang kamu janjikan?" sebuah suara dari arah dalam menghentikan kegiatannya mengeringkan badan. Bergegas ia berdiri, dari dalam keluarlah seorang penguasa dunia buku. Perlahan diserahkannya bungkusan yang tadi dibawanya. Penguasa itu menaikan salah satu alisnya sambil melihat bungkusan yang disodorkan kehadapannya. Peresensi magang seakan baru bangun dari tidur! Bergegas dibukanya jacket yang digunakan untuk melapisi bungkusan itu. Rupanya bungkusan itu masih kering, aman! Lalu disodorkannya kembali bungkusan itu. Sang jacket yang sudah berjasa, menyusul sahabatnya sepasang sepatu berada di tempat sampah terdekat

Kali ini Penguasa dunia buku menerimanya dengan bersemangat. "Silahkan kamu istirahat sambil menunggu hujan berhenti baru kamu pulang. Saya pastikan KUMPULAN KISAH MENGENAI IBU PERI BUKU akan diterbitkan . Pihak kerajaan memutuskan akan menerbitnyanya sebagai ungkapan terima kasih atas jasa Ibu Peri Buku Selama ini. Kalian para penulis tinggal menjalani proses editing saja" katanya bersemangat sambil memeluk bungkuisan yang ada di tangannya

"Terima kasih  Editor, tapi ijinkan saya pulang sekarang' jawab peresensi magang itu dengan segera
"Tapi ini masih hujan, kamu ada urusan mendesak lainnya?" tanya Penguasa dunia buku yang disapa Editor
"Tidak, tapi kali ini saya ingin bernostalgia dibawah guyuran air hujan" jawabnya misterius
Editor itu tertawa dan melambaikan tangan tanda memberikan ijin.  Ia tidak ingin tahu apa urusannya hujan dan nostalgia, yang penting sekarang ia akan mulai membaca naskah KUMPULAN KISAH MENGENAI IBU PERI BUKU. Peresensi magang itu memberikan salam lalu bergegas keluar. Editor tadi segera masuk tanpa memperdulikan apakah peresensi magang  itu masih ada di halaman atau tidak. Tugas berat sudah menantinya.

"Tunggu! Maksudmu apa?" tanya  lelaki yang tadi membukakan pintu penasaran.
Peresensi magang  itu terseyum dan mulai menjawab dengan lirih, "Biasanya buntelan dari Ibu Peri  Buku selalu datang setelah hujan turun. Sebut itu kebetulan atau apa, namun sungguh begitu adanya. Semakin deras hujan turun, semakin basah aku, biasanya isi paket akan semakin menawan. Kali ini aku yang mengantarkan naskah buku untuk persembahan Ibu Peri, hujan juga. Semoga menjadi pertanda buku ini bakalan laris dipasaran"

"ohh, begitu. Ada yang bisa  aku bantu? tanya lelaki itu lagi. "Dulu aku juga salah satu peresensi magang yang dibantu olehnya. Anggap saja ini balas budiku kepadanya" katanya lagi

"Pinjamin aku sandalmu saja, aku tak mau pulang tanpa alas kaki" sahut peresensi magang itu cepat sambil menyambar sandal jepit yang terletak di teras. Secepat ia menyambar sandal, secepat itu pula ia berlalu dari hadapan laki-laki yang masih menatapnya.

laki-laki itu hanya  bisa menggelengkan kepalanya saja dengan heran. Padahal tadinya ia bermaksud menawarkan payung atau mengantarkannya sampai di suatu lokasi plus mencarikannya alas kaki. Sekarang tugasnya adalah memikirkan sebuah jawaban logis jika Editor menanyakan kemana raibnya sandal yang diletakkanya di teras. tanpa sadar ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar