Jumat, 08 April 2011

Satu Cinta Selalu Pulang

Judul             : Refrein
Pengarang    : Winna Efendi
Halaman        : 318 hal
Penerbit        : Gagasmedia

SAYA BENCI WINNA....!

Bagaimana tidak, setiap bukunya yang saya baca selalu membuat saya mendapat malu! Sore ini saya mendapat lirikan kasihan serta keheranan dari setengah isi transjakarta(yang bisa melihat wajah saya), karena tanpa sadar saya menitikkan air mata hiks..hiks..hiks..! Orang yang duduk di kanan dan kiri serta yang berdiri di depan saya, berusaha keras mengintip apa yang saya baca, sehingga mampu membuat saya tanpa sadar menitipkan air mata.

Untung saya segera sadar dan menutup buku ini, dan memasukkannya ke dalam tas. Dengan gaya bak pemain sinetron, pura-pura menguap, cari obat gosok. Maksudnya biar dikira keluar air mata karena pusing, sebab memaksakan diri membaca dalam kendaraan. Tutup mata pura-pura tidur padahal 3 perhentian lagi saya sampai di tujuan. Menyebalkannya, air mata kok ya enggak bisa diajak kompromi sih! tetap saja sedikit-sedikit menampakkan dirinya.

Dari beberapa novel buatan Winna yang saya baca, temanya sudah jelas, persahabatan yang beralih ke cinta. Walau begitu tetap ada sesuatu yang lain di setiap novelnya. Endingnya sudah jelas terlihat, namun perjalanan menuju kesana yang pernuh dengan kejutan.

Dalam novel ini, perbedaan yang mencolok adalah jumlah tokoh yang ada. Tentunya selain cover yang dibuat unik dengan menempelkan amplop berwarna biru. Kalau biasanya hanya ada tiga tokoh sentral plus 1 tokoh penggembira, di novel ini alur percintaannya persis Film India. Rumit!

Dua orang yang bersahabat sejak kecil, Niki dan Nata, sama-sama tidak menyadari kedekatan mereka mengarah ke cinta dua orang dewasa. Di antara mereka muncul Anna, anak seorang model kondang yang menyukai Nata. Namun mereka bertiga bisa bersahabat dengan baik. Tokoh Oliver muncul sebagai tokoh yang mencintai Niki, sementara itu ada Helen yang diam-diam sangat mengagumi sosok Oliver. Oliver sendiri, sebenarnya cinta mati dengan Sasha yang ternyata sepupu Helen. Rumit khan?

Belum cukup rumit kok, karena sebagai pelengkap,Winna menghadirkan sosok Danny, kakak Nata yang dalam usahanya melupakan mantannya, Miriam, tenyata tertarik pada sosok Anna. Lengkap kan bak Fim India..... tinggal tambah tiang, pohon  dan ayunan ^_^

Tapi tetap saja,  Winna mampu mengolah konflik yang ada seakan memang sudah sewajarnya terjadi, tidak dibuat-buat atau mengada-ngada seperti sinetron kita yang kejar tayang, serba dipaksakan.

Kata-kata yang diucapkan para tokoh kadang hanya sepenggal kata sederhana, namun bermakna banyak. Yang terpenting diucapkan secara lugas, tanpa ada kesan menggurui.

Sebenarnya saya lebih menyukai membaca novel fantasi, misteri dan sejenisnya, namun menolak romace. Tapi dengan berat hati membuat pengecualian untuk yang Winna buat! Novel Ai, yang pertama membuat saya menitikkan air mata, membuat teman-teman saya melihat sisi diri saya yang lain. Kata mereka, walau cuex, jahil, terkesan mandiri, ternyata saya punya sisi melankolis yang tidak banyak orang tahu. Semua gara-gara Winna!

Dan mereka juga yang dengan senyum (sok) manis meminjamkan buku ini ke saya, tentunya dengan harapan bisa melihat saya termehek-mehek lagi. Saya senang telah mengecewakan mereka! Bukan mereka yang melihat saya termehek-mehek, namun teman seperjalanan saya di transjakarta sore ini hi...hi...hi...

Biru, selalu menjadi warna kesayangan saya.
Novel Winna-lah, yang akan selalu saya pilih jika ingin membaca romance.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar