Selasa, 29 Desember 2020

2020 #48: Nostalgia Kisah Lawas

Salah satu cara saya  agar tetap beraktivitas saat pandemi adalah dengan membereskan rak buku. Proyek ambisius yang membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Percayalah! Para penggila buku paham sekali maksud saya ini.

Salah satu alasan kenapa membutuhkan banyak waktu dan tenaga adalah, kadang saya berhenti ketika menemukan sebuah buku yang sepertinya menarik (lagi) perhatian saya. Coba diingat dapat dari mana, apakah sudah pernah dibaca, cek di GRI apakah ada versi lainnya, dan hal-hal sejenisnya. 

Bayangkan kalau 1 buku yang saya temukan menghabiskan waktu sekitar 10 menit untuk ritual tersebut. Berapa waktu yang akan dihabiskan jika saya menemukan 10 buku selama 1 hari saja!

Beberapa buku berikut ini, sengaja saya ulas secara singlat sekedar mengenang keseruan ketika membacanya. Siapa tahu, ada yang juga merasakan hal sama.

Judul: Menggulung Komplotan Penculik
Penulis: Dwianto Setyawan
Halaman: 91
Tahun terbit: 1979
Penerbit: Balai Pustaka
Rating: 4/5

 Empat orang sahabat berencana menghabiskan malam panjang di rumah salah satu dari mereka. Keempatnya adalah Iwan, Sutitik, Mandoko, serta Robin.

Iwan merupakan anak tunggal seorang jutawan namun tak pernah menunjukkan sifat manja atau egois. Robin yang berbadan gempal dan sering datang terlambat jika ada janji berkumpul, merupakan anak seorang direktur perusahaan obat dari Sumatra, ibunya keturunan Jerman. 

Sementara itu, Sutitik adalah anak seorang penjahit sederhana dengan 6 saudara, Demikian juga dengan Mandoko, ia tinggal di rumah dengan dua kamar bersama 4 adiknya. Terbayangkan, jika mereka tidur, posisinya persis ular melingkar. Ayahnya adalah pegawai kantor pos.

Rencanya empat sekawan tersebut menghabiskan waktu dengan riang sambil menikmati panganan yang disediakan. Kebetulan, malam ini kedua orang tua Iwan ada keperluan keluar rumah, sehingga mereka membaca kunci sehingga tak perlu menyusahkan anak-anak ketika pulang nanti

Mendadak, terdengar ketukan keras di pintu. Meski merasa heran, siapa yang mengetuk malam-malan begini, mereka dengan ceroboh membuka pintu, karena penasaran siapa yang begitu keras mengetuk pintu depan. Begitu pintu terbuka sedikit, sang pengetuk mendorong Iwan yang membuka pintu dengan kasar! 

Iwan dan Robin diculik! Mereka meminta uang tebusan sebesar Rp 12 juta Rupiah! Jumlah yang sangat besar untuk ukuran saat itu.  Penulis penyelipkan pesan moral pada bagian ini, agar  anak-anak diberikan pengarah untuk berhati-hati jika berada di rumah. Tidak membukakan pintu begitu saja.

Sepertinya penculik sangat tahu situasi rumah dan paham siapa saja yang ada saat itu. Buktinya hanya Iwan dan Robin yang diculik. Andaikata kita anak orang kaya, kita akan mereka culik juga, demikian pikiran Sutitik dan  Mandoko.

Akhir kisah bisa ditebak. Semuanya berakhir dengan baik, penculik tertangkap, Iwan dan Robin kembali dengan selamat. Sutitik dan Mandoko ikut membantu memecahkan misteri penculikan kedua sahabat mereka sehingga layak mendapatkan hadiah.

Untuk kisah tahun 1970-an, kisah ini lumayan seru. Saya membayangkan  jika diceritakan ulang dengan beberapa penyesuaian,  tetap masih  seru. Kepiawaian penulis menciptakan alur membuat kisah ini menjadi menarik.

Judul: Laki-Laki dan Mesiu

Penulis: Trisnojuwono
Halaman:116
Tahun terbit: 1971
Penerbit: Pustaka Jaya
Rating: 4/5

 Jika tidak salah, buku ini diterbitkan ulang oleh salah satu penerbit besar. Kovernya dibuat lebih menarik dengan aneka warna dan ilustrasi yang mengusung tema perjuangan. Meski melihatnya saya malah merasa terenyuh karena menggambarkan suasana pertempuran.

Versi yang saya baca merupakan ejaan lawas. Mungkin anak zaman sekarang tak banyak yang tahu bahwa nj adalah nydj dibaca j, tj adalah c, Hal-hal seperti itu yang membuat membaca buku ini menjadi tantangan tersendiri.

Terdapat  10 kisah yang bisa dinikmati dalam buku ini. Ada Tinggul; Kopral Tohir; "Dropping-zone"; Restoran; Sebelum Pajung Terbuka; Pak Parman; Pagar Kawat Brduri; Di Kaki Merapi; Rantjah;  serta Lewat Tambun. Kesamaan kisah-kisah tersebut adalah pada waktu peristiwa yaitu masa pascakemerdekaan.

Membaca kisah Dropping-zone yang ada di halaman  30, menimbulkan rasa haru. Akibat habisnya persediaan, beberapa tentara nekat meminta makan penduduk. Hal yang sangat dilarang oleh komandan mereka sebenarnya. Ada yang ketahuan melakukan hal tersebut, langsung mendapat teguran keras.

Menjadi tentara saat itu sungguh berat. Tidak saja harus menghadapi musuh secara fisik, namun juga harus kreatif dalam menghadapi kehidupan. Saya teringat kisah Oshin, dimana anak pertamanya meninggal bukan karena bertempur namun karena kehabisan bekal makanan (kalau tidak salah ingat).

Kisah Tingul  mendapat Hadiah Pertama majalah Kisah tahun 1956. Buku kumpulan cerpennya, Laki-laki dan Mesiu (1957), mendapat Hadiah Sastra Nasional BMKN 1957/1958. Penghargaan yang patut diperhitungkan

Judul: Mentjahari Pentjuri Anak Perawan
Penulis: Soeman H.S
Halaman:98
Tahun terbit: 1961 (Cetakan ke-IV)
Penerbit: N.V. Nusantara
Rating: 4/5

 ,,Pada pendapat saja, djangan dahulu dikabarkan kepada polisi,"udjar Sir Djoon, ,,karena berurusan dengan polisi itu banjak susahnja. Tak boleh tidak kabar ini makin petjah kemana-mana. djadi memberi aib kita semua dan memberi malu tuan djua. Dan melemahkan tenaga kita; padahal polisi itu belum tentu mau bekerdja dengan sungguh-sungguh hati untuk keperluan kita...."

Kembali menikmati sebuah buku dengan ejaan lawas. Seorang gadis bernama Nona mendadak lenyap dari kamarnya. Diduga ia dibawa kabur melalui jendela rumah. Orang tua dan tunangannya panik mencari. Salah seorang yang dianggap keluarga-Sir Djoon, menawarkan bantuan untuk mencari keberadaan Nona. Bisa dikatakan ialah yang menjadi detektif dalam kisah ini.

Tapi jangan dikira cara penyelidikan yang dilakukan oleh Sir Djoon mirip dengan cara kerja detektif yang umumnya kita baca. Tak ada kaca pembesar, tak ada adegan duduk manis sambil merenung atau menyelidiki TKP, jelasnya tak ada juga adegan mempergunakan bank data untuk melakukan penyelidikan awal.

Saya menemukan banyak kalimat indah dalam buku ini. Misalnya, " Tak usah engkau sjak-sjak hati kepadaku."  Kemudian kalimat,"... tiada sebuahpun tanda bahkan alamat jang boleh menggerakkan hati, membersihkan kelamin manusia itu menjesali muhibat antara keduanja.  Sebaliknja antara kasih-mengasihi itu, tersimpullah tali tjinta bahagia tersepuh mati jang mungkin lekang diterik panas dan lapuk dilebat hujan...."

Sang penulis, Soeman H.S, bisa dianggap sebagai pelopor kisah detektif di tanah air. Meski cara berceritanya dipengaruhi  kisah detektif ala barat, namun ia memasukan unsul lokal dalam kisah. Misalnya dengan membuat sosok detektif yang  bertingkah laku sopan dan tak pernah berkata kasar.

Karya sang penulis yaitu Kasih Tak Terlarai (1929); Pertjobaan Setia (1931); Mentjahari Pentjoeri Anak Perawan 1932); Kasih Tersesat (1932); Teboesan Darah (1939); dan Kawan Bergeloet (1941). 

Sepertinya saya harus sering beberes rak, siapa tahu  masih banyak buku lawas  dalam dus yang belum saya bongkar ^_^.