Minggu, 27 September 2020

020 #39: Sebuah Kisah Pandemi



Penulis:  Jesse F. Bone
Penerjemah: Muthia Esfand
Penyunting: Chandra Kamila
ISBN: 9786239324476
Halaman: 90
Cetakan: Pertama- September 2020
Penerbit: Sunset Road
Harga: Rp 35.000
Rating:4/5

"Kurasa mereka butuh bantuan juga. Penyakit Thurston telah mengacaukan profesi medis. Tapi,  jangan lupa bahwa tempat ini bisa menjadi perangkap maut. Satu kesalahan saja dan kau terjangkit. Biasanya kami mengambil setiap tindakan pencegahan, tetapi dengan virus ini, tidak ada perlindungan yang sepenuhnya berhasil. Jika kau ceroboh dan membuat kesalahan dalam prosedur, cepat atau lambat salah satu molekul protein  
  submikroskopis  itu akan masuk ke sistem tubuhmu.'
~ Pandemi, halaman 7~


Kadang suatu hal terjadi dengan kebetulan yang begitu unik.
Tak ada rekayasa, hanya kebetulan semata,   yang sungguh luar biasa. Tapi faktnya banyak hal yang terjadi seperti itu di sekitar kita. Kisah ini misalnya. Penulis tak pernah mengira bahwa kisah yang ia buat  bisa begitu mirip dengan situasi saat ini.

Novela ini dibuka dengan percakapan, tepatnya wawancara pekerjaan antara dr. Walter Kramer dengan seorang wanita  berambut pirang bernama Mary.  Ia mengajukan diri untuk menjadi asisten sang dokter. Empat tahun lalu ia pernah bekerja sebagai seorang perawat, mungkin itu yang membuat sang dokter mempertimbangkan lamarannya. Atau, karena sudah tak ada  lagi yang mau melamar pekerjaan dengan risiko yang begitu tinggi.

Sebagai ilustrasi kisah, pembaca diberikan info  bahwa saat itu sedang terjadi pademi. 
Terkait hal tersebut, sebagian besar kisah menguraikan bagaimana sang dokter dan asisten berusaha keras mencari cara guna menghambat perkembangan, bahkan menghancurkan virus tersebut. Berbagai upaya untuk menemukan penangkalnya terus dilakukan, berpacu dengan jumlah korban yang meninggal.

Virus yang melanda dikenal dengan nama Virus Thurston.  Penjelasan mengenai apa dan bagaimana penyakit  akibat virus Thurston juga 
dijelaskan dalam buku ini. Semula saya  mengira akan menemukan aneka istilah medis yang bisa bikin diri ini rasanya sakit he he he. 

Untunglah dugaan saya salah. Pastinya ada berbagai istilah medis, temanya saja tentang kesehatan, namun pembaca bisa dengan mudah memahami makna dari istilah tersebut. Jika ada kata yang dianggap bersifat terlalu teknis, biasanya akan ada catatan kaki dari penerjemah. 

Sebagai contoh, pada halaman 25, penerjemah memberikan  penjelasan mengenai apa yang dimaksud dengan "eksudat", yaitu campuran serum, sel, atau sel yang rusak yang keluar dari pembuluh darah ke jaringan, biasanya akibat radang. Suatu hal yang layak dicontoh, memberikan hiburan juga membagikan pengetahuan pada pembaca. Dan penjelasan tersebut tidak ada pada cerita aslinya.

Oh ya, salah satu keunikan buku ini adalah pembaca bisa menikmati dalam dua versi. Bagi mereka yang lebih menyukai versi terjemahan, bisa dibaca mulai halaman 1-47. Sedangkan bagi mereka yang lebih menyukai membaca dalam veri bahasa Inggris, bisa membaca halaman 50-89. Sementara informasi seputar penulis hanya tersedia di halaman 48-49 dalam versi bahasa Indonesia.

Itu sebabnya saya bisa menyebutkan bahwa dalam versi aslinya, pembaca tidak akan menemukan penjelasan terkait istilah medis seperti yang ada dalam versi terjemahan. Cara ini tentunya juga berguna untuk membuat novela ini jadi agak lebih tebal ketika dicetak menjadi sebuah buku.

Meski muncul pertama kali pada tahun 1962, seperti yang disebutkan di atas,  beberapa bagian dalam kisah ini bisa dikatakan begitu mirip dengan situasi pandemi saat ini. Dikatakan  bahwa penyakit ini menyerang semua orang dari segala ras dan usia. Ciri penyakit ini antara lain bantuk-batuk, serta suhu yang agak naik.  Virus menyerang saluran udara, kemudian masuk ke jaringan yang lebih dalam di paru-paru.

Seperti juga dengan situasi saat ini, muncul berbagai khabar perihal penemuan serum anti virus Covid-19, dalam kisah ini juga disebutkan bahwa  percobaan sang dokter menunjukkan titik terang. Meski demikian, bagian yang menyebutkan bahwa perkembangan penyakit tersebut bisa ditunda dengan tembakau, sehingga mereka yang merokok lebih kuat terpapar virus dari pada mereka yang tak merokok, sepertinya bisa  menimbulkan aneka persepsi.

Apa lagi uji coba yang akan dilakukan sang dokter bisa dikatakan ekstrim, meski tujuannya guna keselamatan umat. Meski secara kronologis, hal ini sesuai dengan uraian sebelumnya yang menyatakan bahwa paru-paru pasien yang meninggal karena penyakit ini, menjadi bengkak bernanah. Sementara seorang yang mengisap tembakau (baca:merokok)  walau sudah menunjukkan gejala terkena Thurston mampu bertahan hidup lebih lama.

Padahal, jika dikaji lebih lanjut, asal mula munculnya rokok kretek konon kisahnya adalah untuk mengurangi sesak napas sang penemu, Haji Djamari dari Kudus. Dengan mencampur cengkeh dan tembakau kemudian dilinting dengan bungkus klobot atau daun kering, lalu dibakar untuk diisip. Suara "keretek" yang timbul akibat pembakaran tersebut, membuat rokok tersebut dikenal dengan istilah Rokok Kretek.

Sekedar info, bagi yang tertarik untuk membaca perihal kretek bisa berkunjung ke cerita dibalik sepuntung kretek, atau yang lebih tertarik pada kisah berbau sedikit romantis bisa meluncur ke kretek dalam kisah cinta. Sementara perihal kejayaan pabrik kretek ada dalam  kisah sang raja ketek dari kudus.

Bagi para pembaca kisah fiksi ilmiah, tentunya buku ini perlu dibaca karena menawarkan banyak hal unik. Sementara dengan adanya dua versi bahasa dalam sebuah buku  akan sangat berguna bagi mereka yang sedang belajar bagaimana cara alih bahasa sebuah novel.  Dan, jangan khawatir! Bagi penggemar kisah romantis, ada bumbu percintaan yang membuat buku ini menjadi unik.

Penerbit Sunset Road sungguh memilih waktu yang tepat untuk meluncurkan buku ini. Disaat sedang terjadi pandemi akibat Covid-19, buku ini memberikan secercah harapan  akan ditemukannya cara guna mencegah meluasnya penyebaran serta menangkal virus tersebut. Pembaca bisa menjadi lebih optimis dalam menghadapi situasi saat ini.Tak ada yang tak mungkin. Informasi lebih lanjut terkait buku ini bisa dilihat di IG @penerbit_sunsetroad

Judul kisah ini, Pandemi,  bisa bermakna pada  suatu kondisi dimana terjadi wabah penyakit  secara luas di seluruh dunia. Dengan kata lain, penyakit ini sudah menjadi masalah bersama bagi seluruh warga dunia. Informasi perihal perbedaan antara pandemi, endemi dan lainnya bisa dilihat di sini

Bahkan kovernya pun dibuat  dengan desain yang cukup menggambarkan isi buku. Sudah sangat sesuai dengan kisah. Hanya saja menurut saya, warna putih kurang menarik perhatian jika diletakkan di antara buku-buku lain di toko buku. Walau saya juga tak bisa membayangkan jika warna kover,  katakanlah dibuat menjadi merah muda! Malah jadi aneh.

Tukang alih bahasa, Muthia Esfand, merupakan sosok yang sudah memiliki jam terbang tinggi dalam dunia buku. Berbagai posisi sudah dijajakinya. Bisa dikatakan bagi saya pribadi, jika ada sebuah buku yang mengandung unsur campur tangannya dalam proses penerbitan, maka bisa menjadi jaminan akan ada sesuatu yang unik. Layak dibaca dan dikoleksi tentunya.

Pada bagian kover buku sudah tertulis keterangan bahwa kisah atau buku ini termasuk Novela atau novelet. Yaitu bentuk karya sastra yang lebih kecil dari novel pada umumnya. Kisah dalam novela lebih panjang dari cerita pendek, namun belum sepanjang novel.  

Para penulis fiksi fantasi dari Amerika memandang panjang-pendeknya novela dari banyaknya kata, yaitu antara 17.500-40.000.  Kata novela sendiri berasal dari bahasa Italia, Novella yang berarti dongeng atau berita. Jadi jangan mengharapkan buku ini muncul dalam bentuk yang umumnya kita lihat, berukuran besar dan tebal.

Bacaan akhir pekan yang inspiratif.

Sumber gambar
www.barnesandnoble.com



Selasa, 22 September 2020

2020#38: Tanpa HURUF ITU

 



LAPORAN KHUSUS SANGAT RAHASIA

 

Pada: Para Komandan  Abdi Utama  Khusus
Dari: Pimpinan  Paling Tinggi Wiranacita

Hal:  Manuskrip yang dilarang
Status: Siaga tunggu instruksi lanjut

Para Komandan Abdi  Utama Khusus,  tak habis  rasa syukurku  atas dukungan kalian. Wiranacita bukan apa-apa tanpa kalian,  banyak hal jadi kacau. Untunglah kalian  sangat cakap dan pandai hingga suasana jadi damai.

Saat ini, saya mau kasih info soal masalah yang buat Wiranacita punya  masa lalu sulit dan suram. Mungkin tak banyak yang tahu soal sangat rahasia ini. Tapi informan paling pandai sudah kasih laporan soal  mungkin munculnya  lagi hal yang bahaya ini. Kalian harus siaga kapan pun. Ini soal hur
uf yang dilarang  waktu   zaman Tuan Zaliman Yang Mulia .

Pada lima Sabtu lalu,   usaha Abdi Baca Khusus bawa hasil yang luar biasa. Dari informasi yang  dikirimi Ivan  Barbarovich Barbarov via utusan khusus,  tim  jadi bisa lacak  salinan manuskrip yang bikin suasana politik dalam Wiranacita panas.  Manuskrip itu  juga yang dulu bikin  munculnya  maklumat hapuskan HURUF ITU. Ada yang diam-diam simpan untuk dijual mahal kapan-kapan. Dikira bisa  bakal banyak dapat uang, lupa nyawa bisa hilang.

 Dari  manuskrip itu,  didapati banyak  hal baru soal huruf yang dilarang.  Informasi yang ada pada  Pusat Data sangat minim jika topiknya asal mula larangan HURUF ITU. Padahal untuk bisa larang abadi, harus paham asal-usulnya. Manuskrip asli sudah hangus,  ikut Tuan Zaliman jatuh dalam kawah logam saat  ada hukuman mati lalu. Salinan itu bisa jadi jawaban soal kasus HURUF ITU.

Munculnya larangan akan huruf  ITU, yang dipakai nomor tiga paling banyak di Wiranacita dampaknya sungguh luar biasa. Banyak hal tak masuk akal timbul. Salah satunya naiknya bisnis pisang yang jadi makanan utama 


warga hingga 3 kali lipat di atas inflasi! Luar biasa bukan? Padahal pisang bukanlah komoditi baru, itu makanan pokok rakyat Wiranacita dari zaman dahulu kala.

 Dari informasi akurat  dari lapangan,  hal ini akibat adanya biang makar yang punya gagasan  sangat miring. Puisinya dianggap dalang dari  naiknya harga pisang.  Dia punya nama, Bagus Prihardana. Bagi para usahawan pisang,  namany

Dari informasi akurat  dari lapangan,  hal ini akibat adanya biang makar yang punya gagasan  sangat miring. Puisinya dianggap dalang dari  naiknya harga pisang.  Dia punya nama, Bagus Prihardana. Bagi para usahawan pisang,  namanya hanya satu dari banyak distributor biasa. Tapi  tidak  bagi pihak lain.

Tak ada larangan unt
uk  diskusi  atau acara  baca puisi, hanya khawatir jika dampaknya malah jadi makar.  Tapi puisi gubahan Bagus  Prihardana  topiknya soal gugatan, atau rasa tidak suka pada diktaktor.  Kacaunya, banyak yang suka sama karyanya.

Maka Unit Bahasa dan Syair larang hal-hal  mirip itu. Surat Kabar yang suatu saat muat puisi Bagus Prihardana langsung dibungkam, tidak  ada sirkulasi lagi.  Tak ada yang tahu bagaimana dia punya wajah. Data milik Unit Bahasa dan Syair soal sosoknya  sangat minim

 Agar suasana kondusif, Tuan Zalim sudah siapkan  siasat jitu. Orang-orang pilihan dijadikan staf di  Balai Adikamus. Tugas utamanya ubah atau ganti isi Adikamus agar tak ada HURUF ITU lagi di dalamnya. Jadi tak ada lagi kata pakai HURUF ITU di Waranacita.

 Buku ini kasih info luar biasa! Siapa  sosok asli Bagus  Prihardana itu ada dalam buku ini! Pantas Tuanku Zaliman dulu sangat takut padanya! Dikiranya Bagus sudah mati, tapi bayang-bayangnya muncul dimana ia suka, kapan saja ia mau. Lama-lama tak kuat juga Zaliman,  rasanya dihantu bayang-bayang Bagus ikuti dia.  Mana khayalan, mana nyata sudah tak tahu lagi dia. Maka dipanggilnya dua psikiatri untuk bantu usut urusan jiwa dan fungsi-fungsi fisiologis.

Soal kabar burung yang ada di halaman 247  baris 10-14 harus diuji dulu.Apakah  kabar burung  atau info yang valid. Harap jangan yakin  dulu akan hal itu. Saat ini Wiranacita sudah buat tim khusus untuk usut masalah itu. Diharapkan tak butuh waktu lama untuk bisa sampaikan hasilnya. Tapi  kabar angin bilang kalau informan kunci masih tak mau buka mulut.

Bisa dikatakan  payahnya  situasi  saat itu akibat tidak disampaikannya  daftar buku yang dilarang pada rakyat.  Hanya toko buku daring yang dapat info. Tak salah jika banyak rakyat tak paham bahwa buku CADL masuk golongan buku dilarang. Siapa yang  simpan buku itu, bisa dapat ganjaran hukuman mati dalam 30 hari tanpa putusan hakim. Tahapannya dibui, dibugili, ditusuk, dilumpuhkan, dan diikat.

Jawaban soal  makin 
banyaknya anak muda yang suka hal miring juga ada dalam buku ini. Gara-gara banyak buku yang dihanguskan usai Maklumat April dikumandangkan,  Wiranacita  jadi punya banyak stok abu.  Dari pada tak digunakan, difungsikan saja jadi pupuk  via Unit Agrikultur.  Tak ada yang duga kalau  makan pisang dari hasil  tanam dan pupuk itu juga bawa dampak miring.

Hal yang juga luar biasa dari manuskrip ini,  adalah kita bisa tahu   dalang  yang bikin kisah Bagus  Prihardana dan buku CAD*L muncul  aman di  lokasi lain. Biar  banyak yang tahu soal ini, dia larikan diri sampai kota J. Di sana dia malah bikin  kisah yang pakahuruf ITU, Mau bagaimana, di sana tak ada larangan soal pakai HURUF ITU/ Bahkan, salah satu majalah-DAAD juga pakai gambar pisang buat dipasang di halaman muka. Nama majalahnya NADI, topiknya pangan.

Dalam kisah ini,  yang  Suka Baca  diajak masuk pada dunia baru   yang bak  diciptaan tukang racik kisah. Misalnya untuk  dapat ilmu, ada Institut ajar formal untuk anak-anak. Mulai dari maktab dasar, madya, dan atas. Untuk hari,  pakai kata Minggu, Soma, Anggara, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu.

Adapun untuk urusan surat via daring dinamakan ratron.  Agar komunikasi bisa lancar, banyak yang pakai pon-gam,  alat komunikasi tanpa kawat  yang banyak manfaat.  Kurang mirip apa coba! Suka Baca tak sadar bahwa kisah yang dibaca adalah soal kondisi nyata masyarakat di Waranacita  akibat larangan pakai HURUF ITU, bukan karangannya.

Gila dia! Buku ini ditulis  cuman buat jawab tantangan lipogram. Sungguh pandai dia bikin kisah rupanya. Sampai dapat 282 halaman.  Oh ya, dia punya nama Triskad*kaman. Lihat kan! Dia tak mau tahu soal maklumat ganti nama. Bagian sunting namanya Afandi.  Buku itu disalin dan djual  sama Gram*dia.  Konon, buku ini juga sudah  ada di banyak lokasi, tak hanya Kota J.

Untuk bisa dapat buku ini via toko,  Suka Baca  cukup kasih nomor ISBN  9786020639581.  Harganya juga tak mahal, hanya   Rp 88.000 nilai tukar uang di sana. Bayangkan jika buku ini ada yang jual di Wiranacita! Pasti harganya naik banyak.

Bagi para Suka Baca, tata bahasa yang dipakai dalam buku ini,  bisa jadi agak tak biasa dibandingkan tata bahasa yang dipakai di sana. Ada banyak kalimat yang rasanya dipaksakan, kurang pas. Tapi  para Suka Baca  juga bisa nikmati kisah lantaran banyak kata yang mirip.

 Tuanku Pimpinan  Paling Tinggi Wiranacita, sudah kasih instruksi baru. Saat ini manuskrip hasil lacak disimpan dalam gudang khusus barang-barang yang dianggap  bahaya bagi Wiranacita. Hanya Pimpinan  Paling Tinggi Wiranacita  dan 3 ajudan pribadi yang tahu lokasinya.

 Lalu,  akan ada tim yang dapat izin khusus untuk lakukan   transaksi buku dari kota J. Jika sudah, maka staf  tinggi dari  Balai Adikamus akan coba lihat, apakah isinya sama antara manuskrip yang kita dapati dibandingkan buku CAD*L yang dijual di kota J.  Supaya bisa dijadikan bahan ajar didikan bagi Abdi Utama  Khusus pilihan. Jadi bisa antisipasi ha-hal yang mungkin muncul dan bikin Wiranacita tidak damai lagi.

 Kalian,  Komandan  Abdi Utama  Khusus akan dapat izin untuk ikut baca. Buat catatan yang dirasa bikin bahaya bagi Wiranacita. Jangan coba-coba buat duplikat jika tidak mau dapat masalah!

                                                                                  Pimpinan  Paling Tinggi Wiranacita

                                                                                                          18/9/2029

 

 64823hfnv8`832809c34vb56-=\1349m34cv7568,=121r,33333

Ratron  ini sudah kami susupi!
Bagi yang b3rminat sama buku CAD3l bisa c3k tawa
ran m3narik dari toko daring b3rikut ini.

 Kami tak takut lagi pada Pasukan Hijau! 

Kami kami p3rlu m3mbiasakan diri pakai HURUF ITU lagi. Untunglah anak muda yang s3ring dijuluki Anak Alay di n3gara ini punya  cara tulis huruf yang bisa bantu kami hilangkan trauma.

 B3lilah!

Baca rahasia k3lam yang dis3mbunyikan s3lama ini.







s


















Rabu, 16 September 2020

2020 # 37: Seputar Pesawat Terbang

Judul asli: Dari "Si Kumbang" Hingga "Tetuko"
Penulis: Dahlan Djazh
Ilustrasi: Samin A
Halaman: 96
Cetakan: Ketiga-1990
Penerbit: Bahtera Jaya
Rating: 2.75/5



Pesawatku
BY MEMES

Biar kurakit pesawatku
Rentangkan pelan dua sayapnya
Nyalakan sumbunya hingga terpercik api menari
Lepaskan pengaitnya relakan pergi ke arah bulan
Tak perlu kau rindu menyinggungnya
Perlahan lupakan kepergiannya
Tunggulah kerling lampunya disaat bulan purnama tiba
Pertanda dia telah bertemu dengan peri kecilnya di bulan

Reff:
Pesawatku terbang ke bulan
Pesawatku terbang ke bulan

Tak perlu kau rindu menyinggungnya
Perlahan lupakan kepergiannya
Tunggulah kerling lampunya disaat bulan purnama tiba
Pertanda dia telah bertemu dengan peri kecilnya di bulan

Reff
Tunggulah kerling lampunya disaat bulan purnama tiba
Pertanda dia telah bertemu dengan peri kecilnya di bulan

Bermula dari mencari bahan bacaan untuk melengkapi ulasan buku Efek Jera (bisa dibaca di  sini), saya jadi tertarik untuk membeli buku ini pada salah satu lapak buku bekas daring langganan saya. Kenapa buku ini? Karena saya butuh buku yang membuat informasi tentang pesawat terbang. Dalam koleksi saya hanya ada tentang desain lapangan terbang, bukan tentang pesawatnya.

Prinsip saya saat mengomentari buku, harus ada pengetahuan yang bisa diambil oleh pembaca dari ulasan saya. Untuk buku Efek Jera,  jika melihat adanya keterlibatan sebuah maskapai dalam kisah, maka  sedikit tambahan pengetahuan tentang pesawat terbang tentunya akan sesuai.

Ketika buku ini tiba, saya hanya sempat membaca cepat isinya agar bisa segera menuntaskan ulasan buku yang sudah saya janjikan. Hal-hal lain, baru sempat saya perhatikan dengan lebih seksama belakangan. Buku yang cukup menarik .


Misalnya, buku ini memuat keterangan sudah dianggap layak untuk dipergunakan sebagai bacaan berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan   Nomor 023/C/Kep/R/89 pada tanggal 1 Maret 1989. Jadi pilihan saya membeli buku ini bisa dianggap tepat! Karena isinya sudah melalui uji kelayakan untuk dibaca.


Selanjutnya, pada Kata Pengantar, banyak disebutkan hal yang membuat pembaca akan teringat pada alm Bp B.J Habibie. Terutama pada tujuan pendirian IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara), yaitu agar mudah menghubungkan berbagai daerah dan pulau yang ada di tanah air, khususnya untuk daerah pedalaman.


Ketika memasuki awal  cerita, kita akan disuguhi percakapan dua tokoh dalam kisah ini, Ramli dan adiknya-Amri. Keduanya terbang  dari  Jayapura setelah berlibur untuk pulang ke Jakarta dengan mempergunakan maskapai Garuda. Sempat disingung sedikit tentang bagaimana pelayanan yang diberikan oleh masakapai tersebut. 

Dari dalam pesawat, keduanya mengagumi keindahan Kepulauan Maluku yang  dilihat dari udara.  Suatu pengalaman yang tak terlupakan tentunya. Keduanya  digambarkan sebagai anak seorang pilot. Maka tak heran jika sang kakak memiliki lumayan banyak pengetahuan tentang pesawat, sementara sang adik memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang dunia penerbangan. 

Karena perjalanan yang mereka tempuh lumayan membutuhkan waktu lama (menurut https://www.tiket2.com memerlukan waktu sekitar 5 jam), keduanya juga menghabiskan waktu dengan berdiskusi seputar pesawat terbang.   Tentang sejarah ditemukannya pesawat terbang, tugas pengawas di menara, bagaimana pesawat berbelok, dan banyak lagi.

Salah satunya tentang bagaimana pesawat yang memiliki bobot begitu besar bisa terbang. Ada yang tahu? Disebutkan dalam buku ini,  bahwa untuk dapat naik ke udara, pesawat memerlukan gaya angkat. Gaya angkat itu dimungkinkan oleh kedua sayapnya yang merentang. 

Jika kita perhatikan agak teliti, maka kedua sisi sayap pesawat terbang itu mempunyai bentuk yang berbeda. Sisi sayap bagian atas berbentuk lengkungan, sedangkan bagian bawah agak rata. Saat mesin dihidupkan maka pesawat itu akan bergerak ke depan. 

Dengan demikian sayap pesawat akan menembus udara, yang mengalir melalui sisi atas dan sisi bawah sayap pesawat. Bentuk sayap sisi atas yang melengkung dan lebih tinggi itu membentuk pula aliran udara yang melengkung. Ia akan menghisap udara ke atas sedangkan udara pada sisi bagian bawah akan mendorong pula ke atas.

Pembicaraan kedua anak tersebut seputar pesawat tidak berhenti begitu saja. Di rumah, mereka juga mendiskusi banyak hal terkait pesawat dengan sang ayah.  Sebagai seorang pilot, tentunya pengetahuan beliau tentang dunia penerbangan lebih luas.  Pembicaraan berkembang tak hanya mengenai bagaimana cara kerja pesawat. Tapi juga membahas mengenai produk dari IPTN, pesawat yang pertama dimiliki bangsa kita, hingga aneka jenis psawat yang ada. 


Menbaca judul asli buku ini, sebenarnya ada informasi tambahan yang bisa diperoleh pembaca. Si Kumbang adalah pesawat pertama buatan Indonesia  dengan kode registrasi X-01.

Pesawat tersebut didisain sebagai pesawat intai bersenjata yang dapat dioperasikan di lapangan terbang tanah atau landasan rumput. Pesawat tersebut butuh  area sepanjang 350 meter untuk take off  serta 150 meter untuk landing. Uji coba perdana pesawat Sikumbang dilaksanakan pada 1 Agustus 1954.

Anak zaman sekarang atau mungkin sebaya saya ada yang tak mengerti kata "Tetuko" yang ada pada judul buku ini.  Sebenarnya "Tetuko" adalah nama kecil dari Gatot Kaca, salah satu tokoh dalam pewayangan. "Tetuko" juga nama yang diberikan oleh Presiden Soeharto untuk pesawat CN-235 sebagai pesawat buatan Indonesia pertama yang dibangun dengan teknologi penerbangan  memenuhi standar dunia.

Secara garis besar, layak jika buku ini dianggap sudah lolos untuk dijadikan bacaan bagi anak usia sekolah. Isinya memang sangat informatif dengan gaya bahasa yang mudah dicerna oleh anak-anak  usia SD. Ilustrasi yang ada, meski sederhana juga membuat buku ini menjadi makin menarik dan mudah dipahami.

Bagian sang ayah yang mengajak kedua anaknya berdiskusi merupakan hal yang sudah mulai jarang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Padahal dengan cara tersebut selain menjalin rasa kedekatan, sang ayah juga membagikan pengetahuan pada sang anak. Apa yang tak diketahui oleh sang anak bisa ditanyakan pada orang tua. Jika ada yang dirasakan kurang pas, bisa dilakukan diskusi dalam keluarga. 

Dalam  buku ini, sang ibu tidak ikut melibatkan diri dalam diskusi, mungkin karena beranggapan bahwa topik tersbut lebih dikuasai oleh sang ayah. Namun tindakan menyajikan minuman hangat bisa dianggap sebagai dukungan atas kegiatan mereka. Padahal akan lebih pas jika sang ibu juga ikut duduk bersama anak dan suaminya, walau hanya sebagai pendengar.

Meski buku ini berisi hal yang layak dibaca oleh anak-anak, saya agak keberatan membaca kalimat yang ada di halaman 72. "Ayahnya tak segera menjawab, karena ia harus membuang puntung rokoknya dalam asbak." Kenapa harus disebutkan adegan merokok pada anak-anak? Seolah-olah seorang ayah memang wajar jika merokok. Hal ini bisa memicu anak yang umumnya meniru orang tua, jadi perokok juga kelak.  Jadi bingung memberikan bintang ini. 

Saya tertarik pada kalimat yang ada di pojok kanan atas  yang menyatakan bahwa buku ini merupakan milik negara serta tidak dapat diperdagangkan. Kemudian tertera juga INPRES No 6 Tahun 1984 (1991/1992). Sekedar iseng, saya jadi penasaran dengan isi INPRES tersebut, yang tertarik atau sekedar ingin tahu bisa tautannya ada di sini

Jadi bagaimana buku ini berada di lapak buku daring? Harusnya buku ini diberikan gratis ke sekolah-sekolah.  Sepertinya ketika terjadi penyiangan koleksi ada yang mengambil kemudian menjualnya hingga bisa mendarat ke rak saya.  Sama seperti nasib buku-buku sejenis.  Tapi buku yang saya miliki bersih dari cap sekolah, nomor panggil dan lainnya. Seolah-olah belum pernah diolah dalam perpusatkaan sekolah mana pun. Hem...penasaran.

Begitulah perjalanan sebuah buku ^_^.







































Senin, 31 Agustus 2020

2020 #36: Investigasi Guna Menimbulkan Efek Jera Ala Tsugaeda

Judul : Efek Jera
Penulis: Tsugaeda
ISBN: 9786237502692
Hal: 344
Cetakan: Pertama-2020
Penerbit: One Peach Media
Harga: Rp 107.000
Rating: 3.25/5

Orang-orang ini terlalu berkuasa dan kaya untuk dimintakan pertanggungjawabannya lewat proses hukum biasa. Mereka selama ini tidak tersentuh. Maka kami punya rencana, untuk memaksa mereka bertanggung jawab. Untuk memberikan edek jera

~Efek Jera, hal 59~

Seorang pemuda berusia 19 tahun  bernama Dio, tak pernah mengira kehidupannya akan berubah dalam waktu singkat. Semula ia hanyalah seorang pedagang VCD bajakan di sebuah  petakan yang terletak dekat dua kampus  di kawasan Depok. Kehidupan yang lumayan normal seperti umumnya masyarakat.

Dalam waktu singkat, ia  berubah menjadi salah satu tim yang dilatih oleh mantan tetangga yang sudah seperti ayahnya-Om Jon,  begitu ia menyapa sosok yang dikagumi.  Tujuannya untuk  menjalankan misi rahasia, menghancurkan yang suka menghancurkan orang.

 Dio diajak bergabung dengan perusahaan rintisan baru  yang membakar singsasana mereka yang selama ini tak tersentuh hukum. Ia dianggap orang yang suka menghancurkan perusahaan. Sosok yang sesuai dengan kebutuhan kantor tempat Om Jon sekarang bergabung.

Semula Dio agak ragu, namun karena Om Jon yang mengajak, ia mulai tertarik. Sudah lama Dio tak bertemu dengan Om Jon. Banyak pelajaran kehidupan yang ia peroleh dari Om Jon.  Sebelum pindah tugas, Om Jon sempat berpesan, " Kalau takdir Allah menentukan, suatu hari kita pasti akan bertemu lagi. Jaga ibadahmu dan terus berlatih jurus-jurusmu. Dan tetaplah senang membaca. Karena itu yang akan membantumu kelak."

Membaca merupakan satu-satunya pesan Om Jon yang masih dilakukan oleh Dio.  Terbukti, berkat kesukaannya membaca Dio jadi paham banyak hal. Unik juga, hidup serampangan namun menjadi anggota beberapa perpustakaan.

Sebuah maskapai,  Penida Airways, disebutkan  memiliki banyak skandal dan permasalahan. Bertarif murah, membuat maskapai ini banyak dipergunakan. Sungguh sayang pelayanan yang diberikan Penida Airways seringkali mengecewakan.

 Konsep Low Cost Carrier-LCC harusnya tetap dibarengi dengan keselamatan dan layanan secara profesional bagi penggunanya. Bagi karyawan, perlakuan juga harus diberikan secara adil dan manusia.  Faktanya tidak begitu.

Banyak masalah yang muncul, bahkan seorang pilot meregang nyawa. Meski demikian, sungguh aneh maskapai tersebut tetap bisa bertahan dalam dunia penerbangan nasional!  Dio diajak bergabung untuk membuka tabir misterius yang ada dalam maskapai tersebut.

Semakin lama membaca kisah ini, Penida Airways mengingatkan saya pada salah satu maskapai di tanah air. Murah,  tapi selamat nanti dulu. Begitu gurau banyak orang mengenai jasa yang diberikan.  Sementara bagian yang mengisahkan   beberapa karyawan  melakukan diskusi terkait nasib mereka, mengingatkan saya pada kasus dalam dunia penerbangan yang sempat marak di twitter.

Sosok Dio yang digambarkan agak cereboh oleh penulis, sungguh pas dengan cerita. Hayulah! Apa yang bisa kita harapkan dari remaja usia 19 tahun yang mendadak disiapkan menjadi semacam agen rahasia? Terlepas dari fakta ia menyukai bacaan berbobot. Tentu ada keteledoran yang ia lakukan. Apa lagi ini tugas pertama.  Bagian ini membuat kisah lebih terasa manusiawi. Jagoan tak selalu sempurna.

Selain Dio, ada tiga orang lagi tokoh dalam kisah. Salah satu nama tokoh, membuat saya merasa  akrab, sepertinya pernah dengar. Ternyata masih terkait dengan kisah lainnya. Untung sebelum membuat ulasan, saya sempat membaca ulasan dua buku sebelumnya. Bisa ketebak siapa  yang saya maksud? Baca ulasan buku di sini. . Sekalian, jika tertarik membaca komentar buku lain  dari penulis mampir ke  sini.

Baiklah, jadi  seperti yang sudah disebutkan, ada 3 orang lagi dalam kisah ini. Tiap tokoh memiliki karaktek dan peranan yang unik dalam kisah ini.  Om Jon yang purnabakti TNI AD dengan pangkat tinggi, sosok yang sudah seperti ayah bagi Dio. Lalu seorang konsultan keuangan  dengan harta berlimpah-Makarim. Perihal sosok Pak Makarim, disebutkan Dio secara lengkap di halaman 39.

Terakhir, ada seorang gadis  misterius bernama Dinta.  Mungkin saja, pada buku selanjutnya justru Dinta yang menjadi tokoh utama. Mengingat kecenderungan penulis melibatkan karakter pada buku sebelumnya di karya baru. Tokoh Dinta juga merupakan favorit saya

Kenapa? Karena dalam kisah ini digambarkan bagaimana  ketenangan serta kecerdikan Dinta dalam mengatasi segala masalah. Ia digambarkan selalu dalam kondisi dengan persiapan yang optimal. Ada rencana A, dan ada Rencana B sebagai cadangan. Bukan tidak mungkin, ia juga sudah menyiapkan Rencana C, D, bahkan E.

Bahkan Dinta pula yang sukses mempersiapkan rencana cadangan kepulangan Dio Ia juga membukan pikiran Dio dengan mengatakan, " Di Indonesia ini Dio, daripada punya tenaga dalam, lebih baik punya orang dalam." Terbukti benar, ketika Dio mencari tumpangan untuk kembali ke Jakarta. Ia hanya perlu menyebutkan nama "orang besar" kenalannya, urusan transportasi yang semula rumit menjadi sangat mudah.

Penyebutan beberapa daerah yang cukup dikenal pembaca, akan menimbulkan kedekatan emosional. Jakarta, Depok, Semarang, hingga Korea. Apa lagi penjabarannya lumayan akurat. Penulis lumayan teliti melakukan riset sebelum membuat buku ini.

Ada beberapa hal yang membuat saya penasaran.  Untuk sosok yang tinggal  di dekat  rel kereta, rasanya aneh jika Dio justru memilih bus sebagai sarana transportasi. "Baru saja tadi aku turun dari bus kota di komdak lalu berjalan di bawah terik matahari ke situ."

Kenapa tidak kereta api? Saya masih berprasangka baik. Mungkin dari Pondok Cina naik kereta lalu menyambung bus. Atau menggunakan bus karena lebih praktis walau jarak tempuh menjadi lebih lama. Tapi ketika disebutkan pulang juga menggunakan bus, hingga terbawa jauh, seperti  menjadi makin aneh. 

Tengok saja yang tercetak di halaman 50-51, "Sampai-sampai aku tak sadar dengan perjalananku. Seharusnya aku oper bus kota yang ke arah Depok. Namun, karena keasyikan melamun, aku malah terdampar di Senen. Akhirnya butuh waktu lebih lama untuk pulang sehingga baru sampai Depok ketika matahari sudah tenggelam."

Apakah mendadak Dio kehilangan ingatan akan getaran kereta api yang lewat dekat bedengnya? Jika tidak  kenapa tidak naik kereta dari  Stasiun Senin ke Depok? Bukan lebih murah dan lebih cepat? Bagian ini lumayan mengusik saya.

 Disebutkan bahwa  Dio mengalami perubahan besar dalam hidupnya pada  tahun kedua SMA. Saya asumsikan usianya sekitar 16-17  tahun. Sampai usia 18-19 ketika ia mulai berjualan DVD bajakan, tentukan banyak hal yang terjadi.  Dari ia memperoleh modal untuk  menyewa bedeng dan berjualan?

 Meski game dan program bisa diperoleh melalui internet, tapi dari mana uang untuk menyewa bedeng? Tentunya pemiliknya meminta uang muka didepan untuk sekian bulan sewa. Lalu darimana uang untuk membeli PC dan DVD kosong?  Butuh modal juga untuk itu.

Saya penasaran, jadi bagaimanakah nasib  keluarga Dio? Hanya disinggung sekilas untuk memperjelas kepribadian Dio. Menjadi korban ketidakadilan dari orang berkuasa tentunya berdampak besar bagi keluarga. Selanjutnya bagian ini seakan menguap.

 Dalam kisah, saya sempat berasa aneh dengan bagian yang dimuat di halaman 184. Apakah Dio tak sadar ia sudah dijebak? Atau mungkin ini hanya dugaan saya saja karena terlalu sering membaca kisah detektif. Ternyata dugaan saya benar! Ada runtutan kisah yang mengempar dari kejadian tersebut. Ini agak mengecewakan saya, karena dari dua buku yang lalu,  tebakan saya selalu salah.

Dari kover buku ini, sebenarnya pembaca sudah bisa menduga isi dari buku. Kata investigasi bisa diartikan sebagai suatu penyelidikan tentang suatu hal atau suatu perkara. Ilustrasi kapal terbang yang ada bisa kita maknai bahwa investigasi yang dilakukan berkaitan dengan pesawat udara. Entah para pilot, perusahaan penerbangan, atau hal lain, intinya terkait dengan dunia penerbangan.

Saya tak pandai eh maksudnya tak bisa menggambar, namun ilustrasi pesawat yang ada terlihat agak kurang pas menurut versi mata saya. Sayapnya bergesan lentur. Alih alih gambar spesawat yang terbang gagah,  saya malah jadi terbayang kepakan sayap burung yang luwes dan lentur.

 Secara tak sengaja, ketika mengamati kover,  ilustrasi bangunan yang ada di pojok kanan bawah mengingatkan pada menara kontrol pesawat yang ada di Halim Perdanakusuma.  Terlalu fanatik dengan kisah Tintin, Penerbangan 714 sepertinya.

Dibandingkan dengan dua buku sebelumnya,  serasa ada yang berbeda. Seolah-olah kita makan masakan yang dibuat dari koki yang sama, namun ternyata rasanya  berbeda. Meski begitu, nuansa rasa Tsugaeda alias Ade Agustian masih terasa kental. 

Ketegangan berhasil dibangun, walau seperti yang saya sebut di atas, rasanya kurang maksimal. Topik yang diangkat selalu unik. Andai buku ini muncul tahun lalu, saat ada peristiwa heboh terkait sebuah maskapai, tentunya lebih seru lagi.

Keputusan penulis untuk mencetak buku ini pada penerbit indie, merupakan keputusan yang berani. Mungkin ia ingin bisa bebas mengeluarkan  daya  kreasinya tanpa ada bayang-bayang kesuksesan dua  buku sebelumnya. Suatu langkah berani.

Penulis juga memberikan tambahan pengetahuan tentang Korea Selatan. Dari penginapan, transportasi, kehidupan masyarakat yang lebih banyak merupakan warga senior, hingga makanan. Siapa tahu ada yang mau ke sana kelak.

Soal pesan moral, tentunya ada dalam buku ini. Meski tugas Dio selesai dalam waktu singkat, bahkan cenderung dibuat agak dipaksakan sehingga berkesan buru-buru, tentunya tetap ada hikmah yang bisa diambil. Salah satunya, tak selamanya kejahatan bisa terus merajalela. Jika saat ini bukan Anda yang menumpas, tetaplah yakin suatu saat akan ada pihak yang akan membuat kejahatan tersebut kalah dari muka bumi.

Meski Dio merasa malu akan pandangan masyarakat, namun apa yang ia lakukan juga tak tepat. Meninggalkan ibu dan saudaranya menghadapi segala hal hanya berdua, bukanlah hal yang bijak. Bagaimana pun kondisinya, seharusnya kita tetap bersama dengan keluarga guna memecahkan masalah yang ada.

Sekedar mengingatkan, pesawat terbang yang dapat dijalankan dengan mesin menurut buku Dari "Si Kumbang" Hingga "Tetuko" karangan Dahlan Sjazh, adalah hasil temuan Wright bersaudara pada tahun 1903. Namun pesawat tersebut hanya mampu mengudara selama 12 detik dengan jarak tempuh 36,5 meter saja.

Bagi yang penasaran bagaimana pesawat terbang bisa naik ke udara meski memiliki bobot yang sangat berat, bisa menemukan jawabannya dalam buku ini. Dari "Si Kumbang" Hingga "Tetuko" karangan Dahlan Sjazh

Disebutkan bahwa untuk dapat naik ke udara, pesawat memerlukan gaya angkat. Gaya angkat itu dimungkinkan oleh kedua sayapnya yang merentang. Jika kita perhatikan agak teliti, maka kedua sisi sayap pesawat terbang itu mempunyai bentuk yang berbeda. Sisi sayap bagian atas berbentuk lengkungan, sedangkan bagian bawah agak rata.

Jika mesin dihidupkan maka pesawat itu akan bergerak ke depan. Dengan demikian sayap pesawat akan menembus udara, yang mengalir melalui sisi atas dan sisi bawah sayap pesawat.

Bentuk sayap sisi atas yang melengkung dan lebih tinggi itu membentuk pula aliran udara yang melengkung. Ia akan menghisap udara ke atas sedangkan udara pada sisi bagian bawah akan mendorong pula ke atas. 

Inspiratif bukan?
Dari menikmati sebuah kisah konspirasi, pembaca-minimal saya, menjadi tertarik untuk mengetahui beberapa hal terkait pesawat udara. Tak jarang penulis yang menciptakan sebuah kisah, sekaligus membuat pembacanya ingin belajar sesuatu hal. Dapat hiburan, dapat ilmu.

Semoga karya selanjutnya tidak memerlukan waktu lama lagi untuk terbit.


Sumber gambar:

Buku Dari "Si Kumbang" Hingga "Tetuko" karangan Dahlan Sjazh

-------------
Akhirnya, saya menemukan buku tentang pesawat di salah satu lapak buku daring. Lumayan ada tambahan informasi bagi pembaca. Hutang lunas sudah! he he he.












































2020 #35: Kisah Putri Kesayangan Crazy Rich Peranakan Dari Medan


Judul asli: Kisah Hidup  Queeny Chang: Anak Tjong A Fie Orang Terkaya di Medan
Penulis: Queeny Chang
Alih bahasa: Maria Elvire Sundah
Desain isi: Nur Wulan Dari
Desain sampul: Yan Moersid
ISBN: 9786020334424
Halaman:259
Cetakan: Pertama-2016
Penerbit: Pt Gramedia Pustaka Utama

Kita perempuan harus mengalah kepada suami kita. Kalau tidak, perkawinan bisa berakhir dan gagal. Kalau istri selalu bertengkar dengan suami, tidak ada damai di rumah, dan rumah yang tidak damai membawa petaka.

~ Bibi Liu, Kisah Hidup Queen Chang: Anak Tjong A Fie Orang Terkaya di Medan, hal 47~


Buku bernuasa merah muda  setebal dua ratusan halaman ini berkisah tentang sosok Queeny Chang, anak pertama dari Tjong A Fie, seorang pengusaha terkemuka dan pemimpin masyarakat Tionghoa di Medan pada akhir abad ke-19.  

Meski merupakan anak perempuan,   terlahir dengan nama Foek-yin, namun ia selalu menjadi kesayangan sang ayah.  Dalam buku ini terlihat jelas bagaimana sosok ayah yang sangat memanjakan putrinya. Terlihat sekali kedekatan mereka berdua melalui kata-kata di bagian awal buku, "Menghadiahiku tahun-tahun terindah dalam hidupku."

Meski merupakan autobiografi penulis, untuk seorang wanita berusia 80 tahun, ingatan tentang masa lalunya sunggguh luar biasa. Begitu banyak rincian yang disampaikan. Sehingga membaca buku ini seakan mendengarkan ia bercerita secara langsung di hadapan kita. 

Sekedar mengingatkan bagi yang lupa, pengertian autobiografi, ada juga yang menyebutnya otobiografi  adalah sebuah tulisan mengenai kehidupan penulis. Mulai saat kecil hingga saat tulisan dibuat. Lebih lengkap bisa dilihat di sini.

Secara garis besar, buku ini terdiri dari lima bagian.  Bagian pertama  berkisah tentang kelahiran penulis hingga dewasa.  Dari pertemuan dan pernikahan kedua orang tuanya, hingga masa-masa kecil ketika ia begitu dimanjakan oleh sang ayah.

Bagian kedua tentang pernikahan penulis hingga memiliki seorang anak laki-laki, termasuk bagaimana ia harus beradaptasi dengan keluarga suami. Bukan hal mudah, terutama karena kendala bahasa. 

Bayangkan  2 orang yang menikah namun untuk berkomunikasi satu dengan lainnya sangat sulit. Kalau zaman sekarang, bisa terjadi perang dunia dalam rumah tangga, kendala komunikasi  sering dijadikan alasan. 

Sepertinya kita perlu belajar pada kebesaran hati mereka berdua, menerima pasangan yang dijodohkan sampai akhir hayat dengan segala kelebihan dan kkurangan.

Bagian ketiga berisikan uraian tentang hubungan penulis dan suami, terutama karena sang suami nyaris mengalami kematian. Meski mereka saudah bisa berkomunikasi dengan baik, namun banyak hal yang harus dihadapi. Hubungan keduanya lebih menjadi hubungan persaudaraan dari pada pernikahan. 

Bagian keempat berisikan tentang pernikahan adik ipar penulis dengan adik kandungnya, bagaimana sang anak laki-laki penulis pada akhirnya justru dibesarkan oleh sang nenek dari pihak ayahnya. Juga perihal kondisi ekonomi pada saat Perang Dunia Pertama.

Bagian terakhir, bagian kelima sedikit berbeda dengan keempat bagian lainnya. Selain kisahnya lebih suram, karena memuat tentang sang ayah yang meninggal pad atahun 1920, juga beberapa peristiwa meneydihkan lainnya. 

Suasana muram muncul pada bagian ini. Sedih rasanya keseluruhan kisah hidup yang menggembirakan, suasana ceria, ditutup dengan akhir yang seperti ini.

Dalam kehidupannya, sosok sang ibu merupakan orang yang paling berperan dalam keluarga penulis. Meski  banyak keputusan tetap diambil oleh sang ayah. Sang ibu sadar betul bagaimana posisi suaminya di masyarakat sehingga terus berusaha mengembangkan diri agar layak untuk mendampingi sang suami. Mulai dari cara berpakaian, pergaulan, bahasa, hingga cara mendidik anak.

Ibu penulis juga yang beranggapan bahwa tanpa pendidikan yang baik, orang Tionghoa tidak akan pernah setara dengan orang-orang asing. Maka  ia selalu menemani penulis  untuk belajar meski ia tak paham apa yang sedang dipelajari oleh anaknya. 


Penulis yang dimaksukkan ke sekolah  Belanda atas kehendak sang ayah, juga  belajar bagaimana berbahasa Mandarin  pada kerabat atas perintah sang ibu.

Selain urusan aneka perhiasan yang dipakai baik oleh kaum pria dan wanita, perabotan mahal, salah satu bukti  kekayaan keluarga penulis adalah tentang rumah peristirahatan mereka di desa Poeloe Brayan yang memiliki kebun binatang.

Mereka memiliki berbagai hewan yang luar biasa, "Di belakang kebun, di lahan terbuka yang luas dan berpagar , ada burung kasuari, jerapah, zebra, dan keledai abu-abu. Di antara hewan-hewan itu berlompatan beberapa kanguru; salah satunya punya bayi yang mengintip dari balik kantong di perutnya."

Dengan membaca buku ini, kita mendapatkan banyak gambaran mengenai bagaimana kehidupan kaum peranakan, terutama di Medan. Meski banyak hal yang diuraikan oleh penulis terkait dengan kehidupannya secara pribadi, namun lumayan mmberikan informasi.

Seperti misalnya yang tertulis di halaman 5,"Ibuku mengenakan baju pesta yang sangat cantik; kebaya dan kain songket dari sutra warna merah anggur hasil tenunan tangan yang ditingkah benang emas, bahan yang dibuat khusus untuk keluarga ningrat." Pembaca jadi tahu bagaimana gaya busana saat itu.

Beberapa pertanyaan muncul dalam benak saya, terutama soal keuangan. Walau pun bisa dikatakan keluarga  mereka adalah Crazy Rich Peranakan di Medan, namun membiaya perjalanannya dengan sang suami selama 5 tahun tentunya tidak murah. 

Lalu dari mana mereka mendapatkan biayanya?  Apakah ditanggung oleh keluarga besar? Meski  ada suatu bagian yang mengisahkan tentang Queeny mendapat pekerjaan pertama karena kemampuan bahasanya. Sepertinya uang bukanlah masalah untuk mereka hingga akhir hayat.

Buku ini sangat perlu dibaca oleh mereka yang tertarik mengenai kehidupan masyarakat peranakan pada akhir abad ke-19. Terutama sekali mereka yang hidup di Medan. Kita ambil yang baik dari bacaan ini.

Inspiratif.