Selasa, 11 September 2018

Follow Your Bliss Bakery, Menjual yang Tak Biasa

Pengarang: Kathryn Littlewood
Penerjemah: Nadia Mirzha
Penyunting: Lulu Fitri Rahman 
Penyelaras aksara: Aini Zahra
Penata Aksara: eicreative
ISBN: 978-979-433-690-8
Halaman: 380
Penerbit: Mizan Fantasi


Muffin merupakan kue khas negeri Inggris dan lahir pada zaman Victoria. Pada saat itu muffin banyak dijual oleh pedagang keliling dengan diletakkan di nampan di atas kepala. Muffin merupakan sejenis makanan tradisional berbentuk gulungan, bundar dan tipis. Bahan dasarnya terbuat dari adonan roti yang diberi ragi (http://id.wikipedia.org/wiki/Muffin)

Muffin Zucchini
Bahan-bahan:
1. Sari vanila tahiti                           2 cangkang-ek
2. Tepung                                         1 kepal
3. Gula                                             1 kepal
4. Labu hijau besar                          1 buah
5. Telur Burung Cinta Bertopeng     1 butir

Mantera:
Agapornis Personata

Cara Membuat:
1.  Parut labu hijau besar sambil menyenandungkan nama dua orang kesepian  yang akan disatukan dalam cinta, sebanyak 3 X.
2.  Ayak tepung dan gula dengan mempergunakan pengayak logam .
3.  Taburkan sari vanila tahiti terbaik di atas tepung.
4.  Campurkan dengan telur Burung Cinta Bertopeng
5.  Tuangkan dalam loyang muffin dan panggang pada suhu panas 6 nyala api selama 8 lagu

Muffin Zucchini bukanlah muffin biasa. Kakak-beradik  Ty dan Rose Bliss  membuat kue tersebut untuk diberikan kepada  guru di sekolah mereka, Mr Bastable dan Miss Thistle. Konon kue tersebut dapat mendekatnya sosok yang saling menyuka. Celakanya selesai membuat dan memberikan kepada kedua orang guru tersebut,  Ty baru menemukan grafik koversi di dalam lemari pembeku. Kepalan setara dengan setengah cangkir, sementara mereka menganggap satu cangkir.  Lagu setara dengan empat menit, sedangkan tadi mereka berdua mengartikan sebagai setengah jam. Muffin yang mereka buat salah resep! Tak terbayangkan gimana akibatnya.

Ty dan Rose Bliss adalah dua dari empat anak keluarga Bliss pemilik Follow Your Bliss Bakery, toko roti mungil di  Calamity Falls. Sejak Rose melihat sang ibu menangkap dan memasukkan halilintar dalam adonan, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dengan produk yang dihasilkan oleh kedua orang tuanya. Ada sihir yang ikut campur sehingga wabah flu bisa diatasi, anak yang kesetrum bisa kembali sehat bahkan membuat seseorang mampu bernyanyi merdu kembali.

Rose sangat ingin menjadi ahli sihir dapur. Itu sebabnya ia tidak ingin meninggalkan toko roti itu.  Dengan demikian kelak ia bisa tahu dimana sang ibu menyimpan toples biru ajaib berisi bahan-bahan tak biasa, bagaimana mencampur angin utara menjadi sesuatu, menakar dengan tepat reaksi antara mata katak, magma yang meleleh dan soda kue.

Saat kedua orang tuanya mendapat tugas khusus dari walikota sehingga harus meninggalkan toko, Rose merasa ini saat yang tepat untuk membuktikan kemampuan dirinya. Celakanya ia dan Ty sang kakak justru membuat aneka kekacauan alih-alih kebaikan. Kekacauan demi kekacauan datang bertubi-tubi akibat ulah mereka.

Awalnya mereka patut dipuji karena ingin berbuat kebaikan, namun ternyata tidak semua niat baik menghasilajn sesuatu yang baik juga jika tidak ditangani dengan serius. Rose bahkan harus berusaha keras mempertahankan kepercayaan orang tuanya dalam wujud kunci tempat menyinpan sebuah buku resep ajaib, resep yang tidak biasa. 

Tidak hanya Ty dan Rose, adik mereka Sage dan  Leigh juga harus membereskan semua kekacauan yang terjadi. Justru serunya kisah ini ada bagaimana mereka berusaha membereskan kekacauan yang mereka buat, beberapa hal membuat kekacauan bisa diatasi namun ada juga yang malah membuat kian kacau.

Selain Muffin Asmara, pembaca juga akan disuguhi tiga  resep utama yang menyebabkan suasana Calamity Falls menjadi kacau, yaitu Cookie-cookie Kebenaran, Cake-Pemutar-Balik-Keadaan-Seutuhnya,  serta Torte Blackberry Balik Ke Dulu. Cara membuat adonan cenderung unik, efek yang ditimbulkan dari memakan kue ini juga tidak lazim. Tentunya ada beberapa resep lain yang tak kalah menariknya.

Bahan-bahan yang tersedia di ruang penyimpanan rahasia toko itu  juga sungguh luar biasa. Ada Mata Warlock, Angin Pertama Musim Gugur, Kurcaci yang Tidur Abadi, Nyanyian Burung Bul-bul dan lainnya Penulis mampu menciptakan suasana dimana memasak menjadi sebuah hal yang menegangkan dan membutuhkan penanganan khusus.  Salah menakar, memasukan bahan  atau memilih resep bisa mengacaukan seluruh kota.

Buku ini terdiri dari delapan belas bab dan satu pengantar. Pada bagian atas sisi kanan halaman, pembaca bisa menemukan judul dari bab tersebut. Dengan demikian, setiap pergantian bab kalimat yang tertulis di sisi kanan atas halaman juga akan berubah. Kisah yang diampaikan mudah dicerna dan sangat menghibur. Rasa penasaran kita akan terusik sehingga tak ingin meletakkan buku ini sebelum cerita selesai. Penulis mampu membuat hal yang biasa memasak, menjadi sebuah hal yang luar biasa dan menghibur.

Kover buku ini memang menawan. Walau gambaran sosok Rose dan kakaknya sebagai tokoh yang paling berperan tidak sesuai dengan imajinasi saya. Rambut Rose kurang gelap jika dibandingkan dengan saudaranya yang lain, rambut Ty kurang merah dan jauh dari kesan jabrik, Sage bahkan jauh dari gemuk. Namun kue-kue yang ada terlihat sangat menggoda selera, membuat ingin mencicipi.

Jika umumnya sebuah buku hanya berwarna putih pada sisi lain, maka buku ini menawarkan warna biru yang menawan sehingga sangat manis dan cocok dengan kovernya. Buku ini membuat saya jatuh cinta saat pertama kali memegang dan membaca cuplikan kisah di halaman belakang, bahkan mampu membuat saya menyingkirkan (sementara) buku terbaru dari seorang pengarang besar. Sedikit sekali yang mengganggu bagi saya. Pada halaman 125, terlihat ada kata yang diketik tanpa spasi.

Pesan moral yang bisa  ditarik adalah bahwa sebuah kepercayaan itu sungguh mahal harganya, jika sudah mendapatkan kepercayaan harus dipertahankan dengan maksimal. Kadang niat baik sekali pun  harus dipertimbangkan dengan mantap bagaimana pelaksanaannya jika tidak ingin menjadikannya sebagai kekacauan. Buku ini juga cocok untuk dibaca segala  usia.

Saya sempat teringat sebuah permainan online perihal masak-memasak, lalu beberapa kisah dengan tema permen dan coklat. Bahkan saya jadi teringat buku berjudul Bible of Bread yang ada di tempat saya bekerja. Secara keseluhan,  buku yang menarik dan sangat menghibur. Cocok untuk dipilih menghabiskan akhir tahun. Tidak sabar menunggu buku keduanya.

Note:
Rose, aku pesan dung sekeranjang  cookie yang membuat  Cintaku makin sayang padaku  saat dia selesai memakannya. Seperti yang dibagikan Ty pada "beberapa" gadis

2018 #20: Masa Bodoh!


Judul asli" Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat
Penulis: Mark Manson
Editor: Adinto F. Susanto
Alih bahasa: F. Wicaksono
ISBN: 9786024526986
Halaman: 246
Cetakan: Kedua-Maret 2018
Penerbit: Grasindo
Harga: Rp
Rating: 4/5

Dan jika Anda setiap saat memimpikan sesuatu, Anda sebenarnya sedang menguatkan realitas bawah Sadar Anda, lagi dan lagi: bahwa Anda  bukan itu

~Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, hal 5~

Pertama kali mengetahui tentang buku ini, saya langsung memasukkan dalam daftar buku yang harus dibeli dan dibaca. Siapa yang tak melotot membaca kata berikap masa bodo amat dan pendekatan yang waras demi menjalani hidup yang baik. Banyak buku yang seakan mengajak kita untuk peduli pada banyak hal jika ingin menjadi sosok yang sukses, buku ini justru sebaliknya.
 
Selain judul buku yang mampu menggelitik rasa ingin tahu, judul tiap bab juga tak kalah seru. Misalnya Jangan Berusaha, Anda Tidak Istimewa, Pentingnya Berkata Tidak dan lainnya. Sub bab juga diberi judul unik. Sebagai contoh ada Lingkaran Setan di bab 1, Bawang Kesadaran Hidup di bab 2,  Sisi Cerah Kematian di bab 3, dan lainnya.

Dalam 9 bab menarik, pembaca akan diajak untuk menelaah sikap dan tindakan yang telah dilakukan dalam kehidupan. Beberapa walau bertujuan baik, ternyata malah merugikan diri kita. Ada beberapa hal yang berkesan tidak pantas dalam bermasyarakat, justru merupakan hal yang sepatutnya kita lakukan. Aneh? Begitu adanya. 

Meski latar belakang sang penulis berbeda dengan budaya kita, namun ternyata jika dikaji dengan cermat apa yang ia uraikan, ternyata hal tersebut dapat diterima dan diterapkan dalam kehidupan kita. Hanya saja semuanya terserah Anda, mau mengikuti saran penulis atau tidak.

Kadang, kehidupan tidak seperti yang kita harapkan. Ada saat ketika kegagalan seolah mengikuti kita.  Tak usah perduli dengan segala komentar dan pandangan orang! Apa urusan mereka dengan perasaan tidak nyaman Anda. Jika Anda mampu melakukan hal tersebut, maka bisa dikatakan saat itu juga Anda telah sukses mengatasi rasa benci pada diri sendiri karena mengalami kegagalan.

Mendadak saya  jadi teringat ucapan seorang mahasiswa yang sukses dua kali membawa hadiah  ciamik hasil di  kuis di booth perpus beberapa waktu lalu. Teman-temannya berusaha mengorek rahasia kesuksesannya. Ia hanya menjawab agar mereka jangan  terlalu berharap mendapat hadiah yang menarik, biasanya jika begitu ia pasti malah dapat hadiah yang luar biasa. Poin ini serupa dengan yang diuraikan pada halaman 12-13. Bahwa sesuatu yang bernilai positif dalam hidup diraih lewat pengalaman yang berasosiasi negatif.
Salah satu poin lebih dari buku ini adalah contoh yang terasa dekat dengan pembaca. Beberapa bahkan mungkin  sama persis dengan yang pembaca alami. Hal tersebut memicu perasaan kedekatan secara emosi, membuat pembaca lebih mudah memahami sebuah uraian.

Saya menemukan Malala Yousafzai sebagai contoh terkait bagaimana menanggapi seuah tragedi dalam buku ini. Dari halaman 121 hingga 122, penulis menguraikan bagaimana tragedi yang menimpa Malala justru membuatnya menjadi lebih didengar dan termotivasi untuk mendapatkan pendidikan lebih tinggi lagi. 

Sebuah  buku yang saya baca mengisahkan bagaimana rasa marah bisa menjadi pemicu kekuatan hingga membuat tokoh kita menjadi sukses. Amarah yang timbul dialihkan menjadi suatu energi guna menghasilkan suatu hal positif.  Buku ini menyatakan bahwa rasa sakit merupakan alat yang paling efektif dari tubuh untuk mendorong aksi serta  memberikan pelajaran untuk membantu memahami dan menaati batasan diri

Tanpa sadar, kita juga sering merebut tanggung jawab atas keberhasilan, kebahagian bahkan kegagalan seseorang. Padahal seharusnya bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan lebih utama. Seperti yang dikatakan dalam buku ini di halaman 185, hidup adalah tentang tidak mengetahui apa pun dan kemudian melakukan sesuatu, apa pun yang terjadi
 
Pada bagian akhir buku, terdapat penjabaran mengenai semacam "proyek keabadian". Bisa dianggap juga sebagai suatu cara untuk membuat diri kita dikenang, secara konseptual tetap hidup walau secara fisik sudah tidak ada. Peradaban, menurut buku ini adalah hasil dari proyek abadi ini. 

Saya jadi teringat kalimat Imam Ghazali  pada buku Personal Banding, jika kau bukan anak raja atau ulama besar, maka menulislah! Dengan tulisan, karya intelektual kita tetap bisa dikenal orang meski secara fisik kita sudah tak ada lagi.

Secara garis besar, tiga poin utama dari seni ini. Pertama, pahami bahwa bersikap masa bodoh berarti merasa nyaman saat berbeda dengan yang lain. Kedua,  agar bisa berkata bodo amat pada kesulitan, Anda harus peduli pada hal yang jauh lebih penting dari  meratapi kesulitan. Ketiga,  tanpa disadari Anda selalu memilih suatu hal untuk diperhatikan, mulailah memilah secara sederhana mana yang perlu untuk Anda perhatikan dan mana yang harus Anda abaikan.
  
Perlu diingat, buku ini bukan tentang tips meringankan masalah atau rasa sakit. Bukan juga mengenai  bagaimana meraih sesuatu dalam hidup ini. Jadi apa manfaat yang diperoleh dari membaca buku ini?  Isi buku ini adalah hal-hal yang dapat membantu Anda untuk fokus, agar bisa memilah mana yang penting dalam hidup dan mana yang tidak. Cara berlapang dada dan membiarkan sesuatu pergi. Anda akan mampu peduli lebih sedikit. Termasuk untuk jangan berusaha secara keras. Aneh? Makanya beli dan baca. 
    
Sesesorang pernah berkata agar kita menjalani hidup dengan legowo.  Terima kegagalan sebagai sukses yang tertunda, anggap memang belum tepat waktunya bagi Anda untuk sukses. Jika sudah sukses, syukuri dan nikmati sebagai hasil jerih payah selama ini.



Senin, 10 September 2018

2018 #19: Di Kota Tuhan, Aku Adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah




















Penulis: Stebby Julionatan    
Penyunting: Anne Shaka
Pemeriksa aksara: Dian D  Anisa
ISBN: 9786023093335
Halaman: 130
Cetakan: Pertama-2018
Penerbit: Indie Book Corner
Harga: Rp 45.000
Rating: 3.25/5

Mau bagaimana lagi!
Sebagai orang yang (pernah)  menikmati bermain hujan  dan  penyuka warna biru, tentunya  hati senang bukan kepalang melihat sebuah kover buku mengusung ilustrasi payung berwarna biru. Secara umum, payung terkait dengan hujan. Dan biru dalam wujud apapun selalu menggetarkan rasa suka dalam hati.

Jadi apa urusannya antara payung, hujan, ilustrasi jam, dan isi buku ini? Memang, jika menilik judul dan isi memang agak tidak berhubungan. Tapi siapalah saya he he he. Buku  puisi merupakan representatif isi hati sang penulis. Jadi haruslah disimak dan dinikmati dengan hati, bukan diartikan secara umum.

Buku ini mengajak pembaca mengikuti langkah kaki dan perenungan penulis akan makna kehidupan ini.  Penulis juga terlihat piawai meracik kata-kata. Tidak saja kata yang umum dipergunakan, namun juga mempergunakan kata-kata yang tidak lazim.  Contohnya kata cetat yang bermakna cepat dan telat di halaman 3

Terdiri dari dua bagian, dimana tiap bagian ada yang terdiri dari 33 puisi dan ada yang hanya terdiri dari 9 puisi.  Judulnya juga bisa dikatakan unik.  Ada  Di Sumber Hidup, Biru Melihat Tuhannya Bercabang, Biru Merangkai Bapa Kami dalam Bahasa Latin, Surga  Adalah Masa Kanak-kanak yang Gugur Setelah Biru Mampu Membaca Azab Neraka, Serve Ordinem et Oreo Servabit Te, Sekotak Pil Lupa yang Diteguk Biru di Niaga, Ia Pernah Janji Langit Selalu Biru, Imam dan masih banyak judul yang menggelitik rasa penasaran.

Tak hanya judul, penulisan segala sesuatu  yang terkait nomor lumayan unik,  seperti mempergunakan catatan kaki. Salah satu puisi diberi nomor 33+1 berjudul Pater Noster (Pada Rabu dan Hari-hari Sesudahnya). Jika ditelaah sepertinya puisi tersebut terkait dengan puisi sebelumnya, Ada Satu Kata: Kenang!

Meski begitu, saya sempat agak bingung mencari makna kata Biru Magenta, semula saya kira memang terlupakan. Ternyata memang beda tata penulisannya dibandingkan dengan yang ada di halaman  3, 7, 11. 34, 40

Sekali lagi, menikmati buku puisi tidaklah seperti kita menikmati genre lainnya. Pembaca harus mencoba menelaah apa yang diuraikan penulis tanpa mengikutsertakan ego. Nikmati secara perlahan, bukan membaca dengan niat cepat selesai. Bahkan saya yang bukan penyuka puisi bisa menikmatinya, Anda yang mengaku maniak puisi harusnya lebih bisa menikmatinya ketimbang saya.

Sebenarnya saya membayangkan, akan lebih menariknya jika buku ini dibuat ala hardcover dengan  kertas mengkilat dan foto yang dibuat berwarna. Kesannya lebih mewah saja. Tentunya akan berpengaruh pada harga jual. Suatu hal yang selalu menjadi perhatian dalam industri buku.

Satu-satu hal yang agak mengganjal dari keseluruhan isi buku ini adalah bagian ilustrasi yang mempergunakan foto. Kebanyakan tercetak dalam warna hitam kelas, dimana justru mengurangi keindahan isi buku. Tapi memang tak ada yang sempurna bukan?
  
Kalimat yang paling saya sukai ada di halaman  68, penggalan puisi berjudul Rusak Susu Sebelanga. Abaikan cara penulisan yang tidak sama dengan yang ada di buku.
Hujan diturunkan di setiap muka,
tapi hati dirajut dari benang yag rantas.

Pilihlah seseorang yang kau benci.
Tanyakan, kenapa kau tiba-tiba membencinya?
Padahal dahulu kalian begitu dekat.

Surga mengubahmu jadi pendendam,
lenyak renik bersama lautan
Secara keseluruhan, buku ini layak dibaca bagi mereka yang ingin memahami tentang puisi. Jika tidak, tentunya karya penulis tidak akan masuk dalam shortlist API 2015 lalu. Buku ini cocok untuk usia 17 tahun lebih. Hal ini dikarenakan beberapa bagian butuh penafsiran secara bijak.

Bagian yang menyebutkan bahwa jika ingin menjadi penyair handal harus sering mengalami putus cinta sepertinya sudah menjadi hal yang sering diyakini banyak orang. Demikian juga penulis buku ini, sempat mengutarakan hal tersebut. Jadi penasaran, berapa kalikah dia patah hati  untuk mampu menciptakan karya seperti ini (disambit buku).

Secara iseng, saya mencoba mencari  bagaimana cara memperoleh buku ini, selain butelan tentunya ^_^. Ternyata belum dijual bebas, sungguh sayang. Untuk memiliki buku ini kita harus memesan melalui 08113513777.

Kalau bukan kita, siapa lagi yang memajukan literasi di tanah air.








Sabtu, 01 September 2018

2018 #18: Kisah Tentang Charlie, Mr Wonka Dan Pabrik Coklat

Judul asli: Charlie And The Chocolate Factory
Penerjemah: Maria Lubis
Penyunting: Yuli Pritania
ISBN: 9786023853076
Halaman: 248
Cetakan: Pertama-Juni 2018
Penerbit: Noura Book
Harga: Rp 69.000
Rating: 4/5


"Anda tidak boleh berputus asa!" seru Mr Wonka.
"Tidak ada yang mustahil! Lihat saja!"

Peringatan!
Lepaskan imajinasimu saat membaca buku ini. Buku dan film merupakan dua hal yang sangat berbeda. Ingatlah selalu hal tersebut ketika menonton film yang diangkat dari buku namun isinya berbeda dengan buku tersebut, atau sebaliknya. Demikian juga dengan kisah ini.

Si kecil Charlie Bucket harus membagi segala hal tidak hanya dengan orang tuanya, tapi juga dengan para kakek dan neneknya. Artinya selain Charlie dan kedua orang tuanya, ada Grandpa Jo, Gradma Josephine, Grandpa George, serta Gradma Georgina. Satu anak yang sedang dalam masa pertumbuhan berbagi dengan 4 manula dan 2 orang dewasa. Bukan hidup yang mudah!

Gaji sang ayah nyaris tidak cukup untuk membiayai kebutuhan mereka bertujuh. Maka sebatang coklat merupakan kemewahan bagi Charlie, sementara bagi anak lain merupakan hal yang bisa diperoleh  dengan mudah. Kemewahan tersebut hanya diperoleh ketika ia  berulang tahun.

Salah satu, mungkin satu-satunya pabrik coklat yang mampu menciptakan aneka rasa spektakuler berada di daerah tempat tinggal Charlie.  Semenjak pabrik ditutup, tak terlihat ada kegiatan di sana. Namun belum lama, beberapa orang mengaku melihat ada kegiatan produksi di sana. Aneh!  Meski terlihat bayang-bayang orang bekerja namun tak pernah ada yang telihat masuk atau keluar dari pabrik.

Sebuah pengumuman melalui surat kabar membuat gempar masyarakat. Willy Wonka, sang pemilik pabrik, akan memberikan kesempatan bagi lima anak terpilih  yang memiliki tiket emas untuk  mengunjung pabrik yang tertutup selama 10 tahun. Bahkan Willy Wonka sendiri yang akan memandu mereka.

Suatu hal yang mustahil bagi Charlie. Apa lagi ketika dalam hadiah ulang tahun berupa coklat yang ia peroleh, tak ada tiket emas. Tanpa sadar, ada rasa sakit ketika tahu ada orang tua yang memborong begitu banyak coklat demi sang anak mendapatkan tiket emas. Begitulah kehidupan ini, kadang 

Bukan Roald Dahl jika tak mampu mengaduk-ngaduk perasaan pembaca ciliknya (mungkin juga perasaan Anda yang sudah dewasa). Menilik kover, jelas terlihat bahwa pada akhirnya Charlie bisa memperoleh tiket emas. Meski begitu, proses bagaimana ia bisa mendapatkan tiket dan bertemu dengan Willy Wonka merupakan bagian yang sangat menarik untuk diketahui.

Sekali lagi, buku dan film berbeda.
Sebagai pembaca, tentunya bukan hal yang mudah untuk melupakan bayang-bayang film dengan kisah yang (nyaris) sama. Setidaknya ini berlaku untuk saya he he he. Meski sangat tahu teori, pada prakteknya berulang kali saya harus mengingatkan diri untuk tidak membandingkan isi buku ini dengan kisah yang saya baca.

Buat yang penasaran, beberapa contoh perbedaan misalnya mengenai sosok Augustus Gloop. Dalam buku dikisahnya sosok Augustus ditemani oleh ayah dan ibunya, sementara dalam film hanya ditemani oleh ibunya saja. 


Lalu sosok Oompa Loompa dalam buku ini digambarkan sebagai sosok mungil dengan dengan kulit putih bersemu merah muda (halaman 106). Sementara jika kita lihat di film, kulit Oompa Loompa berwarna coklat.

Perbedaan terbesar  antara buku dan kisah ada di halaman 210.  Petunjuknya juga bisa dilihat di sini.   Dibeli dan dibaca sendiri ya ^_^ 

Secara garis besar, buku ini sangat cocok dibaca anak-anak. Selain sebagai hiburan, isi buku ini membuat pembaca berimajinasi. Mereka diajak membayangkan bagaimana sebuah proses pembuatan sebatang coklat. Ternyata bisa menjadi suatu kegiatan yang menarik. Anak-anak bisa berimajinasi bagaimana jika ada sebuah coklat denga rasa tertentu. Tentunya hal ini akan mengasah kreativitas anak sejak dini.  Bukan tak mungkin, sebuah imajinasi kelak menjadi sebuah kenyataan. 


Penulis juga menanamkan rasa cinta keluarga yang besar dalam kisah ini. Bagaimana seorang anak hidup dengan dua pasang kakek-nenek yang begitu menyayanginya.  Bagian yang mengisahkan bagaimana Charlie semula rela memjual tiket emasnya agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga, merupakan pengorbanan atas nama cinta keluarga. 

Sikap  selalu berharap dan pantang mundur juga terdapat dalam kisah ini. Meski gagal medapatkan tiket emas pada coklat pertamanya, Charlie tetap berharap akan menemukan keberuntungan pada coklat selanjutnya yang ia beli. Dan pada akhirnya keberuntungan ada pada pihaknya.

Sementara sikap kurang baik seperti terlalu rakus, diwakili melalui sosok Augustu Gloop yang terjatuh di danau coklat, sifat egois dan keras kepala dan manja tercermin dari sosok Verica Salt. Anak-anak akan menemukan contoh sebab-akibat dari sikap yang tidak baik. Suatu cara mendidik yang menyenangkan.


Oh ya, buku ini juga penuh dengan aneka syair lagu. Seorang guru PAUD bisa mengadopsi lagu tersebut dan menjadikannya sebuah kegiatan yang menarik di kelas. Mungkin tidak persis sama, tapi bisa dijadikan acuan. Anak-anak bisa bergerak dan mengekspresikan diri.

Dalam situ wikipedia disebutkan bahwa Cokelat dihasilkan dari kakao (Theobroma cacao) yang diperkirakan mula-mula tumbuh di daerah Amazon utara sampai ke Amerika Tengah. Mungkin sampai ke Chiapas, bagian paling selatan Meksiko. Orang-orang Olmec memanfaatkan pohon dan, mungkin juga, membuat “cokelat” di sepanjang pantai teluk di selatan Meksiko. Dokumentasi paling awal tentang cokelat ditemukan pada penggunaannya di sebuah situs pengolahan cokelat di Puerto Escondido, Honduras sekitar 1100 -1400 tahun SM. Residu yang diperoleh dari tangki-tangki pengolahan ini mengindikasikan bahwa awalnya penggunaan kakao tidak diperuntukkan untuk membuat minuman saja, namun selput putih yang terdapat pada biji kokoa lebih condong digunakan sebagai sumber gula untuk minuman beralkohol

Penasaran buku selanjutnya. Apa lagi para tokohnya tak terduga. Meluncur.... sambil menikmati sepotong coklat kiriman seseorang yang membuat hati saya meleleh *ehem*

Sumber gambar: Goodreads