Selasa, 21 Juni 2022

2022 #15: Kisah Cullen Post dan Quincy Miller

Judul asli: The Guardians-Para Pelindung
Penulis: John Grisham 
Barokah Ruziati
ISBN: 9786020659459
Halaman:440
Cetakan: Pertama-8 April 2022
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 107.000
Rating: 3.25/5


Kita berada di bisnis yang sama, bisa dibilang begitu. Kau Memecahkan kejahatan untuk mengurung orang. Aku memecahkan kejahatan untuk membebaskan orang.
-The Guardians-Para Pelindung, hal 293-

Kisah ini dbuka dengan sosok Duke Russell, 38 tahun,  yang sedang bersiap menikmati makan terakhir ketika ia mendapat informasi  perihal penangguhan hukuman matinya. Sang pengacara,  Cullen Post, mengaturnya menikmati santapan lezat tersebut sebelum akhirnya pihak penjara juga mendapat informasi. 

Selama empat tahun Post berjuang membuktikan Duke tidak bersalah  atas tuduhan pemerkosaan dan pembunuhan seorang wanita bernama Emily Broone. Duke memang memiliki catatan kejahatan tapi tidak ada perihal kekerasan. Ia adalah korban salah tangkap, sementara penjahat sesungguhnya masih bebas berkeliaran di luar sana.

"Well, Mr Post, kelihatannya Anda benar. Klien Anda telah dibebaskan oleh tes DNA. Ketujuh rambut kemaluan itu milik Mr. Carter."  Vonis Duke atas dakwaan pemerkosaan dan pembunuhan tingkat satu  dibatalkan dan dicabut. Ia bebas! Sekarang giliran  penjahat sesungguhnya dihukum.

https://www.goodreads.com/book/
show/43701061-the-guardians


Cullen Post bukan sekedar pengacara, ia juga seorang pendeta Episkopal. Suatu ketika ia merasa  muak dengan kehidupannya sebagai pengacara kriminal. Dalam masa "mencari jati diri" ia bertemu dengan Vicki Gourley, pendiri Guardian Ministris yang dioperasikan di  Savannah, Georgia. Tujuan mereka adalah membebaskan  tahanan yang dianggap tidak bersalah atau salah tangkap dari hukuman.

Sejauh ini sudah lumayan klien  yang  mereka tangani. Sembilan orang berhasil mereka bebaskan, 1 orang gagal, beberapa  terbukti memang bersalah. Ada juga yang sedang dalam proses upaya pembebasan. Mereka sangat hati-hati ketika memutuskan untuk menerima klien. 

Klien selanjutnya adalah seorang pria  kulit hitam bernama Quincy Miller  yang ditahan selama 22 tahun dengan tuduhan membunuh pengacaranya, Keith Russo di Seabrook, Florida.

Bisa dikatakan Quincy Miller merupakan sosok yang direkayasa untuk dihukum demi kepentingan pihak-pihak tertentu. Terbukti dengan kejadian yang nyaris membuat nyawanya hilang ketika berlangsung proses banding. Seakan ada yang tak ingin ia bebas dan pembunuh sesungguhnya tertangkap.

Bukan Post  jika menyerah begitu saja. Ia bertahan dengan segala keyakinan bahwa kliennya tidak bersalah. Berbagai cara ia tempuh untuk bisa mendapatkan banding dengan menyodorkan bukti baru, termasuk menyewa  sebuah rumah yang dianggap telah dikutuk oleh penghuni terakhirnya.

Bagian ini, meski bukan hal utama, justru merupakan bagian favorit saya. Bagaimana Post mencari bukti guna menyelamatkan Quincy Miller sementara ada perasaan tak nyaman memasuki rumah yang sudah lama kosong, tanpa ada listrik untuk pencahayaan dan dianggap terkutuk. 

Meski tak ada adegan seru seperti kisah The Client, banyak juga bagian yang bisa membuat membaca merinding. Misalnya ketika  Tyler Townsend, pengacara yang membela Quincy dalam persidangan awal  bercerita perihal penculikan yang ia alami. Dimana ia menyaksikan orang dilemparkan hidup-hidup ke mulut buaya sebagai peringatan agar tidak membela Quincy.
https://www.goodreads.com/book/
show/55215679-cartada-final


Ternyata urusan tuduhan pembunuhan terhadap Keith Russo terkait dengan hal lain. Ada hal besar yang terjadi dibalik pembunuhan itu!  Tak heran jika banyak pihak yang tak ingin kasus ini dibuka lagi. 

Saya sempat berharap ada adegan seru dan menegangkan ketika membaca bagian yang menyebutkan seseorang yang diduga bagian dari kartel hadir dalam sidang. Ternyata kisahnya bisa dianggap berlangsung dengan lebih tenang.

Keberuntungan kali ini berpihak pada keduanya. Setelah berhasil menemukan bukti-bukti yang selama ini dicari, serta mendapat bantuan dari banyak pihak yang ternyata juga memiliki kepentingan dalam kasus ini. Jika boleh meminjam istilah, menggunakan ikan kecil sebagai umpan supaya mendapatkan ikan besar.

Kisah ini mirip dengan salah satu novel penulis, The Innocent Man-Tak Bersalah yang sudah diangkat menjadi Film Seri Dokumenter Netflix. Mirip dalam arti sama-sama tentang seseorang yang dipenjara atas tuduhan yang tak pernah ia lakukan. Singkatnya, akibat salah tangkap. Dan  kedua buku tersebut ditulis berdasarkan kisah nyata.

Kalimat dari The Innocent Man  yang paling membuat saya merinding sekaligus penasaran untuk membacanya adalah,
"Jika kau percaya bahwa di Amerika orang tak bersalah sampai dinyatakan bersalah, buku ini akan mengejutkanmu. Jika kau percaya hukuman mati, buku ini akan mengusikmu. Jika kau percaya sistem peradilan pidana adil, buku ini akan menyulut kemarahanmu."

Sementara dalam buku ini,  Guardian Ministries juga terinspirasi dari sosok James McCloskey, pendiri Centurion Ministries. Ada kasus yang juga menjadi inspirasi kisah di Texas. Sayangnya nasib tokoh tersebut tidak seberuntung Quincy Miller, hingga tahun 2019, permohonan bandingnya ditolak untuk kesekian kali.

Karena tak memiliki pengetahuan dalam bidang hukum, membaca karya John Grisham membuat saya mendapat tambahan pengetahuan tentang hukum. Misalnya pada halaman 21 tertera kata exoneree. Lalu ada afidavit, sumpah palsu, dan beberapa hal lagi.

Bagi mereka yang tertarik tentang hukum di Amerika, para mahasiswa hukum, buku ini layak dibaca. Karena  bisa menjadi tambahan pengetahuan selain hiburan.  Apalagi terkait bagaimana hukum diterapkan dengan benar, walau bisa saja terjadi kesalahan dalam sistem. 

Menurut buku ini, 10% dari semua orang yang dipenjara merupakan orang yang tidak bersalah. Quincy Miller bisa kita anggap merupakan salah satu sosok yang beruntung dari 10% tersebut. Tepat sekali pemberian judul buku ini. Karena Post dan teman-temannya merupakan pelindung bagi orang-orang yang mengalami nasib seperti Quincy Miller

Ah! Saya nyaris lupa berterima kasih pada sang tukang alih bahasa, Sis Uchi. Semula saya hanya bertanya bagaimana tanggapannya akan isi buku ini. Bukan sebagai penerjemah, namun sebagai pembaca. Maklum saya sempat kecewa dengan beberapa karya John Grisham yang menurut saya ngak banget.

Pertanyaan saya dijawab dengan janji memberikan satu eksemplar buku. Baiklah. Walau bagaimana saya tetap akan membuat komentar apa adanya. Dan bagi saya, buku ini memang menarik namun tak sebegitu menariknya dibandingkan karya-karya beliau yang lain.

Entah standar saya yang berubah, atau penulis sudah mengurangi urusan aksi dalam karyanya, lebih menekannya pada taktis pekerjaan dalam bidang hukum. Seperti bagaimana pengacara berusaha mencari bukti untuk membebaskan kliennya dengan cara yang lebih mengandalkan otak (sedikit otot akan menambah kisah lebih seru), atau bagaimana menggali informasi dengan tepat.

Untuk urusan kover, beberapa kover mengambil tema mobil yang melaju di jalan. Ini menunjukkan bagaimana tokoh kita, Post, banyak menghabiskan waktu di jalan, dari mengunjungi klien, hingga mencari bukti baru.  Meski ada juga yang mengambil tema lain seperti yang dlakukan penerbit Gramedia.

Satu kalimat yang tak bisa bilang dari benak saya, "Kenapa kami harus merayakan setelah seorang lelaki tak bersalah dibebaskan." Kenapa? Bukanlah wajar jika seseorang yang tak bersalah bebas, lalu kenapa harus ada perayaan?

Demikianlah kehidupan ini.























Minggu, 12 Juni 2022

2022 #14: The Ladies of Grace Adieu

Penulis: Susanna Clarke
Ilustrator: Charles Vess
ISBN: 0747587035 
ISBN13: 9780747587033
Cetakan: Oktober 2006
Halaman: 235
Penerbit: Bloomsbury UK
Rating: 3.25/5

Dasar saya teledor he he he! Buku ini termasuk dalam buku yang belum dibaca sampai tamat karena terlupa ditaruh di mana. Ditambah dengan bahasa asing, makin membutuhkan waktu bagi saya untuk menuntaskan buku ini.

Lalu kenapa nekat beli, padahal sadar diri kemampuan bahasa Inggris minim? Apalagi kalau bukan karena harga murah untuk ukuran hardcover, nama pengarang,   euforia pertama kali mengunjungi BBW (yups sudah lama kan ^_^). Plus kalimat yang ada di bagian belakang buku,
Magic, madam, is like wine and,  if you are not used to if, it will make you drunk
Susanna Clarke saya kenal melalui kisah Jonathan Strange & Mr Norrell. Kisah yang menunjukkan betapa serius penulis menggarap riset. Buku yang tak terlupakan dengan catatan kaki yang berjibun!

https://www.goodreads.com/book/
show/24936370-damy-z-grace-adieu
Secara keseluruhan, terdapat delapan cerita dalam buku ini Mulai dari The Ladies of Grace Adieu; On Lickerish Hill; Mrs Mabb; The Duke of Wellington Misplaces His Horse; Mr Simonelli, or the Fairy Widower; Tom Brightwind, or How the Fairy Bridge was Built at Thoresby; Antickes and Frets;  hingga John Uskglass and the Cumbrian Charcoal Burner. 

Oh ya, sebelum menikmati kisah-kisah yang ada dalam buku ini, pembaca disambut dengan semacam pengantar oleh  Professor James Sutherland, Director of Sidhe Studies, University of Aberdeen.

Karena ini antologi, maka saya mulai dengan membaca kisah yang juga dijadikan judul buku ini, kisah The Ladies of Grace Adieu, baru dilanjutkan kisah-kisah lainnya, tergantung suasana hati ketika memilih.

Sihir kembali menjadi topik dalam buku ini. Tiga orang wanita, 
Cassandra Parbringer, Nona
  Tobias, dan Nyonya Fields bisa disebut sebagai orang yang memahami dan bisa mempraktekan sihir. Suatu yang hal yang dianggap tak bisa bagi wanita pada abad ke-19 di Gloucestershire.
https://www.goodreads.com/
book/show/35174142--

Secara tak langsung, kisah ini juga berhubungan dengan karya Susanna Clarke yang lain. Pada kover buku bahkan dituliskan secara jelas  bahwa pengarang buku ini adalah pengarang yang sama dengan yang membuat kisah Jonathan Strange & Mr Norrell.

Meski demkian, jangan minta saya untuk cek pada halaman berapa mereka disebutkan dalam seri itu ya, bisa pegal mengecek begitu banyak catatan kaki^_^.  Masih ingatkan berapa banyak catatan kaki yang ada dalam buku tersebut? Fantastis!

Sementara kisah  On Lickerish Hill  bisa dianggap sebagai pelesetan dari kisah Rumplestiltskin yang dipopulerkan oleh Grimm Bersaudara. Jika dalam kisah asli diceritakan perihal seorang gadis yang berhasil memintal jerami menjadi emas berkat bantuan seorang bertubuh kerdil, maka berbeda dengan yang ada dalam kisah ini. Oh ya cerita 
Rumplestiltskin bisa dibaca di sini.

Membaca kisah The Duke of Wellington Misplaces His Horse,  yang mengambil setting salah satu buku karangan Neil Gaiman yang terkenal, Stardust, membuat saya ingin membaca ulang buku tersebut. Dalam buku tersebut,  Charles Vess juga menjadi ilustratornya.  
https://www.goodreads.com/book/
show/42939005-les-dames-de-gr-ce-adieu

Tanpa membaca keterangan yang ada pada awal kisah, para penikmat kish fantasi pasti bisa menebak ketika membaca kalimat berikut, " The People og the village of Wall in_ shire are celebrated for their independent spirit, It is not their way to how down before great men.... In late September of that year the Duke happened to spend one night at The Seventh Magic in Wall...."

Saya penasaran, kenapa belum ada yang menerjemahkan dan menerbitkan buku ini ya? Atau sudah ada tapi saya tidak tahu. Mengintip Goodreads, buku ini telah mendapatkan beberapa apresiasi, yaitu Locus Award Nominee for Best Collection (2007), World Fantasy Award Nominee for Best Collection (2007), Mythopoeic Fantasy Award Nominee for Adult Literature (2007).

Sementara penulis sendiri, juga telah memperoleh banyak apresiasi atas karya-karyanya.  Ada Mythopoeic Award for Adult Literature untuk karyanya Jonathan Strange & Mr Norrell (2005),  British Book Awards Newcomer of the Year Award-Best new author (2005), serta Women's Prize for Fiction untuk karyanya Piranesi (2021).

Sungguh, saya berharap ada penerbit yang mau menerbitkan versi terjemahan.  Tak menutup kemungkinan, versi terjemahan mendapat bintang lebih he he he. Para penikmat kisah fantasi di tanah air, tentunya akan menyukai kisah ini, seperti mereka menyukai kisah Jonathan Strange & Mr Norrell.





Jumat, 27 Mei 2022

2022 #13: Kumpulan Dongeng Untuk Penulis

Penulis: Lawrence Schimel
Alih bahasa: Ronny Agustinus
ISBN: 9786020788272
Halaman: 38
Cetakan: Pertama-Maret 2022
Penerbit: Marjin Kiri
Harga: Rp 32.000
Rating:  4.25/5

Entah itu dari orang tua atau guru, saudara, atau pasangan, kadang hanya butuh satu tusukan duri kecil kritik untuk menidurkan seorang penulis yang hendak mekar itu selama seratus tahun, seumur hidup, untuk sekian lama sampai tak ada lagi pangeran yang tersisa buat membabat semak-semak duri itu. Atau kalau memang ada si pangeran, dia tidak bisa membayangkan bahwa dia perlu repot-repot untuk itu.

-Kumpulan Dongeng Untuk Penulis, hal 8-

Banyak cara untuk tertarik pada sebuah buku. Salah satunya dari judul. Begitu menemukan promosi tentang buku ini dari penerbit di media sosial, saya sudah tertarik untuk memiliki buku ini.  Dongeng seperti  apa yang  akan disajikan oleh penulis dalam buku ini? Apakah mengusung penulis sebagai tokoh, atau dongeng yang ditulis ulang menurut versi penulis? Penasaran.

Dasar saya, kadang keinginan berbanding lurus dengan ingatan untuk eksekusi. Ingin memiliki, namun sering kelupaan untuk order. Untung menemukan pada salah satu lapak langganan. Oh ya,  yang tertarik  tapi malas keluar rumah, atau sering lupa pesan buku ciamik seperti saya,  bisa langsung menuju ke laman berikut..

Begitu mendarat, langsung menemukan kekurangan buku ini! Halamannya terbilang tipis, hanya 38 halaman. Hal menarik apa yang bisa disampaikan "hanya" dalam 38 halaman? Tentunya butuh keterampilan mumpuni untuk membuat  38 halaman menjadi  kisah menawan. Penulisnya juga baru saya kenal.  Menggoda!

Menilik kover,  membuat  teringat pada dongeng Putri Salju dan Tujuh Kurcaci, Rapunzel, Si Itik Buruk Rupa, Jack dan Kacang Ajaib, Si Kerudung Merah serta Putri Duyung (The Little Mermaid) tanpa perlu membaca blurd  (itu sih saya ^_^).  Gambar yang ada di bagian bawah, apel yang  seakan menutupi laptop, membuat saya langsung teringat merek yang mempergunakan lambang apel yang digigit pada salah satu sisi.

Pada Daftar Isi, saya menemukan ada 13 kisah dalam buku ini. Semakin menarik!  Artinya ada 13 kisah dalam 38 halaman. Mulai dari kisah Putri Duyung; Sinderella; Pohon Jintan; Putri dan Kacang Polong; hingga Jack dan Pohon Buncis.  

Butuh beberapa saat untuk mencerna judul-judul tersebut. Alih-alih Sinderella saya lebih akrab dengan Cinderella .   Jack dan Kacang Ajaib, bukan Jack dan Pohon Buncis, atau Putri Salju dan Tujuh Kurcaci bukan Putri Tidur.  Perbedaan ini  menambah keinginan untuk membaca.

Kisah Itik Buruk Rupa yang asli, berkisah tentang telur angsa yang entah bagaimana dierami dan menetes bersama anak itik. Ia dianggap berbeda dan buruk rupa hingga bertemu dengan keluarga aslinya. 

Para penggila buku, sering dianggap sosok yang aneh, jauh dari keren. Banyak film yang menggambarkan penggila buku (dan pustakawan) sebagai sosok yang lemah, berkaca mata tebal, sering gugup jika berada dalam keramaian, sukar diajak bercakap-cakap, dan tak modis. 

Tapi, seorang penggila buku tak selamanya begitu. Seorang penyanyi K-Pop dikenal suka membaca. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca.  Tiap buku yang ia baca langsung laris dipasaran. Versi terjemahan, bermunculan di negara tempat fansnya berada.
https://www.goodreads.com/book/
show/819034.Fairy_Tales_for_Writers

Para penggila buku, seperti juga si itik buruk rupa, akan berubah menjadi sosok yang anggun jika berada bersama sesama penggila buku. Bukan salah mereka jika terlihat "berbeda", hanya saja kebetulan mereka berada di lingkungan yang kurang tepat semata.

Jack dan Pohon Buncis, bisa dikatakan satu-satunya kisah yang berakhir bahagia, menurut saya.  Kadang akhir yang bahagia itu memang ada, bahkan di dunia penerbitan, demikian yang tertera di halaman 37.

Jack tetap bersemangat menuliskan kisah walau sang ibu menganggapnya buang waktu. Dibawanya kisah yang ia tulis kehadapan penebit besar, ia bertemu dengan dua editor, penentu layak atau tidaknya naskah diterbitkan.

Seorang penolak, yang lain menerima dan  melupakannya  untuk sesaat sebelum akhirnya menyadari ia bisa menghasilkan telur emas lewat karya Jack. Sang ibu yang tak paham soal penulis tapi sangat paham soal uang, maju membela kepentingan Jack. Karyanya laris manis, pendapatan melebihi uang muka.

Duh, kenapa saya jadi teringat nasib naskah seseorang yang berada lebih dari setahun ditangan salah seorang editor penerbit besar. Kalau ditolak, tak ada masalah artinya memang karyanya belum memenuhi standar yang berlaku di sana. Masalahnya ia sudah diminta membuat revisi. 

Setelah revisi dilakukan, mendadak editor menjadi orang yang paling sulit dicari! Setahun tanpa khabar. Mencoba mencari tahu juga sia-sia. Untunglah ia tak kecil hati dan tetap menulis, jika tidak, bisa saja kita kehilangan sebuah karya besar yang tak akan pernah terbit karena penulisnya meratapi php yang diberikan editor tadi.

Kalimat di halaman 15 pada kisah  Sinderela, membuat saya ingin segera menuntaskan beres-beres buku yang belum atau sepertinya tak akan terbaca,

Kadang seorang teman meminjamimu rok, mengantarmu ke pesta, atau cuman menggenggam tanganmu, tindakan murah hati yang sepele, yang pada akhirnya mengubah hidupmu 
Mendapat begitu banyak perhatian dari sesama penggila buku, saya sering menerima hadiah buku. Namun dengan keterbatasan waktu, apalagi dikantor baru, sangat minim waktu yang saya miliki untuk bisa menikmati semuanya. 

Biasanya, saya tawarkan buku-buku tersebut pada para sahabat. Dengan demikian, saya berharap informasi tentang buku itu tak akan berhenti pada saya. Si penerima  bisa memberikan ulasan,  sekedar bintang di GRI atau  posting di sosmed. Sehingga karya tersebut bisa dikenal luas. 

Penerima juga bisa mendapatkan kebahagian dari buku tersebut, siapa tahu itu buku idaman tapi karena sesuatu dan lain hal ia belum bisa memilikinya. Sungguh, saya tahu sekali bagaimana rasanya ingin memiliki sebuah buku namun kondisi sedang tidak memungkinkan. Hal sepele yang mungkin bisa membuat hidup si penerima menjadi lebih baik atau lebih bahagia.


Kisah dalam buku ini merupakan dongeng yang diceritakan ulang menjadi kisah yang berbeda. Menambah  aneka kisah yang dibuat dengan cara serupa, seperti Snow White & The Huntsman (Lily Blake) dan The Lunar Chronicles (Marissa Meyer). Perbedaan dengan kisah lain adalah para tokoh dan setting  mengambil dunia penulisan dan penerbitan. 
https://www.goodreads.com/book/show/
52797829-cuentos-de-hadas-para-escritores

Meski berkesan suram dengan akhir kisah yang kurang menyenangkan, buku tidak bertujuan membuat seseorang menjadi takut  untuk menjadi penulis. Atau pembuat penulis pemula menjadi patah arang.

Sebaliknya, buku ini menjadi penyemangat. Memberikan dorongan, bahwa tak mudah memang menyelami dunia tersebut. Menjadi penulis bukan hal mudah tapi bukan berarti tidak mungkin. Mengetahui segala hal yang mungkin bisa terjadi, membuat seseorang akan lebih waspada.

Selain mereka yang memilih profesi sebagai penulis, para pekerja dunia buku, mereka yang memiliki ketertarikan pada dunia penulisan dan penerbitan  juga disarankan untuk ikut menikmati kisah ini. Demikian juga mahasiswa sastra, perlu membaca buku ini.

Untuk  urusan alih bahasa, siapa yang meragukan kemampuan Mas Ron. Kalimat mengalir dengan lancar, dan mudah dipahami tanpa mengurangi makna. Pembaca bisa merasakan emosi yang disampaikan penulis dengan baik.

Dalam buku ini terdapat dua ilustrasi yang terletak pada bagian depan dan akhir buku. Keduanya masih terkait dengan isi buku. Saya lebih menyukai ilustrasi yang berada di bagian belakang buku, gambar buku terbuka lalu tumbuh pohon dari bagian tengah. Menawan!

Hati senang rasanya membaca buku incaran dan menemukan isinya tak berbeda jauh dengan yang diharapkan. Secara keseluruhan buku ini layak diberikan bintang 5, karena terlalu tipis sehingga rasanya kurang puas membacanya, maka saya berikan bintang 4,25 saja

Sumber gambar:
https://www.goodreads.com

Jumat, 20 Mei 2022

2022 #12: Kisah Detektif Melacak Tunangan Hilang

Judul asli: All She Was Worth-Melacak Jejak
Penulis : Miyuki Miyabe
Penerjemah : Gita Yuliani K.
Editor: Ariyanti E. Tarman
ISBN: 9786020658179
Halaman: 480
Cetakan:  Kedua-Maret 2022
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 110.000
Rating: 3.25/5

Kalau ada orang mengajukan permohonan kartu kredit atau membeli dengan angsuran, perusahaan pemeringkat kredit lebih dahulu memeriksa dengan cermat bahwa orang  tersebut tidak pernah gagal membayar kredit atau setidaknya tidak gagal membayar kredit sejumlah sangat besar
-All She Was Worth, hal 28-

Ketika seorang kerabat yang tak lama bertemu mendadak menyampaikan ingin berkunjung, maka hal tersebut menjadi   janggal.  Shunsuke Honma sudah lama-lebih dari  tiga tahun, tak bertemu dengan Jun Kurisaka. Bahkan ketika istri Honma meninggal,  ia tak datang.  Tentunya ada yang sangat penting hingga  Jun ingin bertandang.

Jun  yang  berkerja sebagai seorang bankir  membutuhkan jasa  untuk menyelidiki tunangannya yang bernama Shoko Sekine. Ia menghilang begitu saja, padahal hubungan mereka  dalam kondisi baik-baik saja.  Shoko menghilang ketika Jun menyinggung tentang kartu kredit. 

Jun ternyata hanya tahu sedikit perihal tunangannya, ini menjadi tantangan tersendiri  bagi Honma. Kebetulan, ia sedang cuti  karena kecelakaan, jadi ada waktu luang untuk membantu kerabat.

Honma hanya mendapat info bahwa Shoko  adalah seorang anak tunggal yang yatim-piatu. Ia berasal dari Utsonomiya. Informasi terakhir ia bekerja di Mesin Kantor Imai dan sempat mengalami kebangkrutan sehingga menemui pengacara Mizoguchi & Takada.

Misteri semakin berkembang, hasil penyelidikan Honma membuahkan penemuan yang luar biasa. Sosok   Shoko  yang dikenal  di Imai  ternyata berbeda dengan Shoko yang menjadi tunangan Kurisaka. Kejutan!

Jun merasa kesal, mengira Honma sedang mengada-ada. Ia memutuskan untuk menghentikan penyelidikan  hilangnya sang tunangan. Meski demikian, Honma tetap melanjutkan penyelidikan  karena rasa penasaran. Ia merasa ada misteri yang lebih besar dari sekedar menghilangnya seorang gadis.

Penyelidikan selanjutnya mengarahkan Honma pada perusahaan bernama Rosaline, pengecer pakaian dalam import yang melakukan transaksi melalui pos, barang mewah dengan harga terjangkau. Dari penyelidikan di sana, sedikit demi sedikit misteri terkuak.

Buku ini penuh dengan kejutan!
Lalu apa hubungannya antara dua orang yang berbeda namun mempergunakan identitas yang sama dengan perusahaan pengecer pakaian dalam import, serta dengan kuburan burung peliharaan saat kecil? Semuanya ada dalam kisah ini ^_^.

Meski bagian awal alur kisah mengalir dengan cepat, namun akan terasa sedikit membosankan dibagian tengah. Hal ini dikarenakan banyak terdapat uraian terkait dengan kegiatan ekonomi  dan  politik yang terjadi di Jepang pada era 90-an. Pembaca diharap sabar.

Hidup di Jepang, dalam kisah ini di Kota Tokyo, tidak seindah yang sering terlihat di aneka film atau drama. Masyarakat di sana cenderung konsumtif.  

Dengan pendapatan yang tidak seberapa, tak sedikit yang berusaha memenuhi gaya hidup dengan meminjam uang. Seakan tak peduli dari mana sumber uang asal gaya hidup impian bisa tercapai. Mereka yang terjerat hutang kartu kredit, hingga rentenir makin bertambah.

Salah satu solusi adalah mengajukan Kebangkrutan Pribadi-menyatakan kepada kuasa hukum seseorang  tidak mampu membayar segala hutang kreditnya, Memang ia tak akan diuber-uber penagih hutang,  tapi tindakan ini juga berdampat buruk bagi dirinya. Ia akan dimasukkan dalam daftar hitam seluruh instansi perbankan serta sulit mendapatkan pekerjaan tetap.

Pada halaman 177 disebutkan bahwa di bawah undang-undang Jepang, orangtua dan anak-anak, suami dan istri berbagi kewajiban hanya atas hutang di mana ada tandatangan bersama. Maka seharusnya  penagih hutang tak bisa mengancam Shoko. Tapi begitulah penagih.

Kisah ini mengingatkan saya pada kondisi yang terjadi di sekitar kita. Terbujuk dengan iming-iming pinjaman mudah dengan bunga rendah, tak sedikit yang terjerat dengan pinjaman daring alias pinjaman online. Dengan hanya mengisi formulir melalui aplikasi, berfoto dengan memegang KTP, dalam waktu singkat pinjaman mendarat dalam rekening.

Jika tak bisa membayar cicilan, teror mulai dirasakan peminjam. Tak hanya terdapat dirinya tapi juga pada mereka yang dijadikan kontak darurat. Dahulu, malah semua kontak yang ada di HP si peminjam juga akan mendapat pesan, dari nada manis, ancaman, hingga pesan  atau gambar seronok! Depresi karena tak bisa membayar hutang dan merasa malu, bisa berujung hal yang tak diinginkan.

Setahu saya belum ada Kebangkrutan Pribadi di tanah air. Si peminjam akan tetap dicari untuk menyelesaikan urusan hutangnya. Jika ia berhasil menyembunyikan diri, pindah rumah dan kantor, ia akan masuk daftar hitam di Bank Indonesia sebagai nasabah yang bandel.

Permintaan kredit untuk urusan apapun akan sulit dipenuhi. Konon butuh 10 tahun untuk membersihkan datanya (informasi salah satu aplikasi daring yang menitipkan pesan untuk seseorang melalui wa saya).

Penagih juga  ada yang sampai mendatangi rumah kontak pribadi dan melakukan intimidasi.  Intinya tugas mereka menagih harus bisa diselesaikan dengan baik, bagaimana pun caranya. Karena pendapatan mereka tergantung dari suksesnya menagih.

Bagian yang menjelaskan bagaimana sebuah perusahaan bisa mendapatkan data diri seorang, patut dicermati. Beberapa perusahaan bergerak dalam usaha menjual data, entah dari mana mereka bisa mendapatkannya. 

Saya jadi merasa perlu waspada jika ada penawaran diskon, souvernir atau iming-iming lain sebagai imbalan mengisi survei dan sejenisnya. Dipikir-pikir, murah sekali data pribadi saya jika bisa ditukar dengan voucher diskon 10% dengan minimal belanja sekian-sebagai contoh.

Oh, ya selain soal hilangnya seorang gadis, terdapat juga kisah pendamping alias kisah sisipan (menurut istilah saya) tentang hilangnya anjing kesayangan dua remaja. Bagian ini justru mengandung kalimat yang paling saya suka.

Dan kalau mereka melihat sesuatu yang tidak mereka sukai, mereka menghancurkannya begitu saja. Lalu, belakangan mereka mencari alasan

Kover buku ini, dengan wajah wanita yang dibuat samar yang terbentuk dari susunan kota-kotak (begitulah maksudnya) sangat sesuai dengan isi kisah. Kita memang tidak pernah tahu siapa sesungguhnya jadi diri orang lain, baik sahabat bahkan pasangan kita.
Segala yang terlihat belum tentu sesuai dengan yang sesungguhnya. Bisa saja yang terlihat itu untuk menyamarkan suatu hal yang ingin ditutupi. Waspada  setiap saat sangat dianjurkan, namun bukan berarti harus selalu curiga pada orang.

Memuaskan rasa penasaran saya, pada GR terpampang versi cetakan pertama yang terbit tahun 2016  dengan warna merah. Saya lebih menyukai versi cetakan pertama, karena kesan misterius lebih terasa dibandingkan cetakan pertama. Meski untuk tampilan, warna merah lebih membuat mata saya melirik tumpukan buku ini.

Novel tersebut ternyata pernah dijadikan obyek penelitian untuk skripsi Bidang Ilmu Sastra Jepang. Hem, menarik juga membaca ulasan sebuah novel dengan cara yang berbeda. Pilihan  obyek penelitian yang menarik! Lengkapnya ada di sini. 

Secara keseluruhan, kisah ini layak dibaca oleh  pasangan muda, agar lebih teliti dalam memahami bagaimana sesungguhnya sosok pasangannya. apa lagi jika sudah sampai tahap pertunangan. Jangan sampai ikut terjerat urusan hutang, bahkan kasus kriminal.

Juga bagi mereka yang tertarik pada Sastra Jepang, serta perkembangan ekonomi di Asia. Juga terkait kehidupan sosial di negara Asia, lebih tepat pada kehidupan masyarakat di Jepang.

Karya ini telah mendapat apresiasi seperti Naoki Prize 直木三十五賞 Nominee (1992),  serta 山本周五郎賞 Yamamoto Shūgorō Prize (1993). Selain itu, sudah banyak negara yang menerbitkannya. 





----










Kamis, 28 April 2022

2022 # 11: Dendam Kolektor Buku

Judul: Memory  Bookstore
Penulis: Choung Myung Seob
Penerjemah: Dwita Rizki
ISBN: 978-602-6486-69-1
Cetakan: Pertama-April 2022
Halaman: 310
Penerbit: BACA
Harga: Rp 88.000
Rating: 3.75/5

Buku memiliki nilai yang tak bisa diukur dengan uang
-Profesor Yoo Myeong Woo,  Memory Bookstore, hal 81-

Penggila buku seperti saya, dan juga Anda, tentu akan menyayangi dan menjaga buku koleksi dengan penuh perhatian. Bahkan  banyak yang mengatakan, para penggila buku bisa begitu mencintai koleksinya, melebihi kecintaan pada diri sendiri. Mungkin tak hanya penggila buku, tapi mereka yang mengoleksi sesuatu, bisa bertindak diluar nalar.

Maka, sangat wajar jika banyak yang terkejut ketika mengetahui  tokoh dalam kisah ini, Profesor Yoo Myeong Woo, seorang profesor  dan publik figur  yang terkenal akan kegemarannya mengoleksi buku-buku kuno, berniat membuat toko buku khusus untuk menjual buku-buku koleksinya.

Suatu saat, ketika menjadi narasumber pada acara Buku,Buku, Buku, Bersama TV, profesor mengumumkan akan mengundurkan diri dari urusan dunia, baik dari kampusnya atau sebagai narasumber terkait buku. Ia hanya ingin menghabiskan masa tua dengan mengurus toko miliknya.
Saya tidak bisa membawa buku-buku itu ke akhirat.                       Buku-buku itu berat, lho
Jelas banyak yang terkejut, bagaimana tidak! Menjual seluruh koleksi merupakan suatu hal yang jarang dilakukan oleh seorang kolektor buku, ditambah ada kemungkinan buku tersebut diberikan secara gratis! Tidak hanya harga buku dalam koleksi profesor yang menakjubkan, tapi kisah dibalik buku juga selalu membuat orang terpesona.

Tanpa sadar, saya langsung teringat koleksi saya. Dari buku Little Women terbitan tahun 1800-an hingga buku Pram. Pasti ada sesuatu yang sangat istimewa jika saya sampai merelakan mereka pindah ke rak penggila buku lainnya.

Ternyata betul, ada hal lain!
Toko buku tersebut didirikan sebagai upaya menepati janji pada sang putri tunggal. Meski sudah tak mungkin lagi ia mengetahui keberadaan toko tersebut, tapi setidaknya profesor sudah berupaya menepati janji. Plus, hal tersebut terkait dengan  pembunuhan anak dan istrinya 15 tahun silam! Peristiwa yang juga membuatnya harus berada di kursiroda seumur hidup.

Sang Pemburu, begitu julukan pembunuh keluarganya, ternyata juga mencintai buku. Terbukti dengan selamatnya profesor dari pembunuhan karena Sang Pemburu tak ingin menghancurkan buku kesayangannya yang tak sengaja dijadikan alat membela diri profesor.  

Profesor berencana akan menjadikan toko bukunya-Memory Bookstore sebagai alat untuk memancing Pemburu. Ia sangat yakin, di luar sana Pemburu selalu mengawasi dirinya. Profesor juga yakin, Pemburu sudah tahu bahwa toko buku itu merupakan jebakan. Seru!

Salah satu keunikan  adalah Memory Bookstore hanya bisa dikunjungi dengan perjanjian. Mereka yang ingin berkunjung, harus membuat janji dan datang sesuai dengan waktu kesepakatan. Diluar waktu tersebut, jangan harap bisa datang berkunjung.
Buku kuno adalah sebuah buku tua. Sebagian besar dari buku-buku itu aslinya tidak mahal atau langka. Harganya naik karena satu per satu hilang seiring waktu yang berlalu. Saya biasanya tidak suka membaca buku yang dibeli dengan harga mahal. Menurut saya, itu bukan esensi sebuah buku. Buku harus dibaca halaman demi halaman. Tidak dapat membali satu per satu halaman buku akibat harganya terlalu mahal merupakan ejekan besar bagi buku itu. Buku harus dibaca dan disayangi. Jangan sampai hanya diberi label harga, disimpan di brankas, atau dijadikan benda pameran.
Sejauh ini, sudah lumayan banyak yang datang berkunjung. Mereka yang memang menyukai buku kuno, atau sekedar orang yang ingin tahu tentang  Memory Bookstore.  Tak butuh lama bagi profesor untuk menyusun daftar nama orang yang diduga adalah Pemburu. Ide profesor memancing pembunuh keluarganya 15 tahun lalu sepertinya akan berhasil!

Ketika sampai pada bagian yang mengisahkan profesor menyebutkan tentang 4 tamu yang ia duga adalah Sang Pemburu, saya secara acak menebak salah satu nama. Dan ternyata benar! Alasan saya menuduh Mr X-kita sebut saja begitu supaya tidak spoiler ^_^, karena tingkah lakunya  agak mencurigakan.

Ia memang datang sebagai salah satu pengunjung, tapi digambarkan tidak fokus, agak gelisah, mata menatap sekeliling, dan tingkah yang seakan tidak memperhatikan ucapan profesor, menjadi tanda tanya tersendiri bagi saya. 

Belum lagi, mengaku tidak menyukai buku tapi memiliki  pengetahuan lumayan tentang buku. Belakangan, profesor menyebutkan bahwa Pemburu melakukan kebiasaan lama tanpa ia sadari. Sehingga profesor bisa mengetahui jati dirinya.
 
Saya penasaran, dalam 15 tahun wajah seseorang bisa berubah. Maka profesor  mengandalkan ingatan ciri khas  dari Pemburu. Lalu kira-kira berapa usia Pemburu saat ia membunuh istri dan anak profesor? Karena dalam kisah ini profesi yang dipilihnya untuk mendekati profesor sepertinya agak aneh mengingat usia serta gambaran tentang dirinya.

Hem...,susah menjelaskan maksud saya tanpa membocorkan kisah.  Silakan baca, mungkin setelah sampai pada bagian siapa sesunguhnya Pemburu, Anda paham maksud saya. Serius, ini termasuk buku yang agak susah saya berikan komentar tanpa harus membocorkan kisah. 

Meski urusannya seakan sederhana, ternyata tak seperti itu. Biasa dikatakan keluarga profesor terbunuh karena berada di waktu dan tempat yang salah. Dan profesor, sebagai sosok yang membuat mereka berada dalam situasi seperti itu hingga terbunuh, memendam rasa bersalah sumur hidup.

Bagaimana selama 15 tahun profesor selalu mengutuk dirinya sendiri karena keputusan yang ia ambil membuat keluarga terbunuh, serta bagaimana dengan sabar profesor menyusun rencana menangkap Pemburu, menjadi bagian yang luar biasa.

Sumber: Buku Memory  Bookstore
Penulis menciptakan kedekatan emosi yang rumit antara Sang Pemburu, profesor dan buku. Seperti diuraikan di atas,  Pemburu  menghentikan upayanya  membunuh profesor karena dapat berakibat pada rusaknya buku kesayangannya. Dilain waktu, Pemburu merasa marah ketika menduga buku kesayangannya dibakar profesor.

Sementara  profesor, walau mencintai buku, tapi ia tetap merasa menemukan siapa yang membunuh anak dan istinya merupakan hal utama. Melebihi kecintaannya akan koleksi buku kuno yang ia miliki. Profesor akan membakar buku yang mana saja, tanpa pandang bulu, jika dianggap mampu membuat kesal Sang Pemburu. Hal yang berlawanan dengan kecintaannya pada buku.

Jadi menurut Anda, siapakah yang lebih mencintai buku diantara keduanya? Profesor atau Si Pemburu? Masing-masing memiliki alasan kuat tentang bagaimana mereka memperlakukan buku. Keduanya menunjukkan cara unik mencintai buku. 

Jangan tertipu dengan kisah yang sepertinya akan berakhir. Saya sempat mengomel, mempertanyakan kenapa semudah ini penjahat alias Sang Pemburu tertangkap. Ternyata saya salah!

Itu sekedar bagian dari proses melindungi diri yang dilakukan oleh Sang Pemburu yang asli. Dengan cerdik ia memperdayai banyak pihak. Banyak pihak memang, tapi bukan profesor. Lima belas tahun menunggu, membuat profesor sudah mempertimbangkan banyak hal.

Melihat kover buku ini ketika tiba, saya menduga akan membaca kisah yang suram. Tidak terlalu salah, namun jika memakai ilustrasi yang menandakan bab baru dibandingkan kover, sepertinya akan menimbulkan kesan yang lebih dramatis. Tentunya penerbit punya alasan sendiri memilih kover yang sekarang.

Apa yang dialami oleh profesor memang sangat menyakitkan. Tapi hal tersebut tidak menjadi pembenaran terhadap apa yang ia lakukan pada Sang Pemburu. Jika demikian, maka ia tak lebih baik dari Si Pemburu.

Saya berusaha mencari informasi mengenai buku yang disebutkan sebagai buku kesayangan Pemburu, namun sepertinya saya belum berhasil menemukan, Atau judul buku dan pengarangnya hanya sekedar karangan semata? Tapi seakan nyata ada judul buku dan pengarang terssebut. Satu lagi nilai tambah bagi penulis.

Setelah buku-buku dengan tema buku, seperti Libri di  Luca (Mikkel Birkegaard), The Book With No Name (anonymous),  The Man Who Loved Books Too Much (Allison Hoover Bartlett),  People of The Book (Geraldine Brooks), Fahrenheit 451 (Ray Bradbury), The Fantastic Flying Books of Mr Morris Lessmore (William Joyce), serta Trilogi Perpustakaan Kelamin (Sanghyang Mugni Pancaniti), buku ini layak berada dalam rak buku para penggila buku.

Semoga buku dengan tema sejenis makin sering bermunculan dan menyajikan aneka kisah yang menarik.

Sumber gambar:
Buku Memory  Bookstore





Sabtu, 23 April 2022

2022 #10: Kisah Persahabatan Garda dan Si Pintu

Judul: Dua Muka Daun Pintu
Penulis: Triskaidekaman
Editor: Teguh Afandi
ISBN: 9786020656397
Halaman: 191
Cetakan: Pertama-September 2021
Harga: Rp 82.000
Rating: 3.75/5

Manusia memang gemar membanting pintu kalau marah, tetapi jangan dikira pintu tak bisa membalas. Mau sepintar pun manusia membongkar rahasia, selalu ada pintu yang lebih pintar menutupinya

Dua Muka Daun Pintu, hal 132-

Apapun yang ada di sekitar kita, merupakan sumber inspirasi yang bisa diolah menjadi sebuah kisah yang menarik. Mulai dari cara belajar matematika yang tak hanya urusan tambah, kurang, kali,  serta bagi, tapi menjadi sesuatu yang bermakna lebih dalam kehidupan ini, hingga urusan pintu yang menjadi sahabat baik.

Demikianlah kesan yang diperoleh jika kita menikmati karya  Triskaidekaman. Sesuatu yang sepertinya biasa-biasa saja, bisa berubah menjadi hal yang tak biasa. Soal huruf 'e' misalnya. Butuh tenaga ekstra untuk membuat sebuah kisah tanpa menggunakan salah satu vokal. Tak mudah memang, karena penulis harus mencari padanan kata yang tidak menggunakan huruf 'e' namun tetap sesuai dengan apa yang ingin dikomunikasikan. 

Demikian juga dengan kisah kali ini.  Tokoh dalam kisah ini-aku, adalah sebuah pintu yang ditempatkan di sebuah kandang, tempat untuk "menjaga" orang yang dianggap berbahaya. Ia berteman dengan sosok yang berada di  dalam. Garda, begitu ia dipanggil.

Bagi pintu si tokoh kisah, Garda bukanlah sosok manusia yang  perlu ditakuti. Ia bersikap baik, sering mengajak bercakap-cakap, membacakan potongan koran yang terima diantara kiriman. Garda juga meletakkan koran di  lubang intip yang ada pada  tokoh kita hingga ia belajar membaca aksara.

Semula kisahnya menggambarkan kedekatan Garda dengan  Pintu Penjara Fasiltas Khusus-begitu panggilan resmi tokoh kita dalam dunia pintu. Makin ke belakang, kisahnya berkembang menjadi sesuatu yang lebih luas lagi.

Suatu ketika, mereka berdua menemukan iklan menarik tentang pintu. 

"Dicari: pintu penjara. Forum Pintu Sedunia siap merangkul. Hubungi nomor sekian-sekian."

Baru kali pertama Pintu Penjara mengetahui tentang Forum Pintu Sedunia. Ia tertarik untuk bisa bergabung, tapi bagaimana cara pintu bisa menelpon? Sepertinya hanya angan-angan yang harus dilupakan.

Namanya juga Triskaidekaman. Dengan piawai ia membuat hal yang tak mungkin menjadi mungkin, tanpa pembaca merasa hal itu terlalu dipaksakan alias mengada-ngada. Singkat kata, Si Pintu bisa menghadiri  Forum Pintu Sedunia.

Di sana ia bertemu dengan aneka pintu (jelaslah! Namanya juga  Forum Pintu Sedunia ^_^). Mulai dari pintu museum, pintu pengakuan dosa, pintu apartemen, dan lainnya. Selain bertemu dan belajar bergaul dengan sesama pintu, ia juga mendapat pembelajaran dari seminar yang ia ikuti.

Meski tampak bahagia, Si Pintu merasa janggal dengan seminar yang ia ikuti. Jika memang tujuan seminar adalah untuk menjadikan pintu tebal yang aman, lalu mengapa panitia  tidak mengkhususkan peserta hanya pintu penjara saja? Justru yang menghadiri seminar nyaris semua bukan pintu penjara.

Pada halaman 65, terlihat sekali penulis menguraikan pendapatnya mengenai fungsi pintu. "Ada tiga fungsi pintu.  Melindungi, merahasiakan, dan membawa perubahan.  Sebagian pintu hanya punya satu fungsi yaitu melindungi. Ada pintu yang bisa dua, karena menyimpan rahasia juga.  Yang sedikit adalah pintu yang melindungi bisa menyimpan rahasia, dan bisa mengubah  keadaan juga."

Mari lupakan Pintu Penjara sejenak, kita  serap informasi  asal mula Garda  bisa berada dalam tahanan. Semula saya mengira Garda terlibat urusan seperti makar dan sejenisnya, jika merujuk pada  buku terakhir karya penulis.

Sungguh memilukan ternyata.  Kita tak pernah tahu dalamnya hati seseorang. Garda begitu tergores hatinya. Sakit hati yang ia alami berbuntut panjang. Hanya permintaan maaf yang ia butuhkan untuk membuat segala hal menjadi baik-baik saja. Tapi maaf tak jua terucap, sang pembuat luka bersikap tak acuh.

Kemunculan dua manusia lain dalam kisah ini seakan menjadi bumbu perumit situasi. Kenapa ada dua sosok manusia pintar yang mau bekerja seadanya di penjara? Keberadaannya menjadi tanda tanya besar bagi rasa ingin tahu,  sebenarnya mau apa mereka berdua di sana? Apakah ada hubungannya dengan Garda?

Bicara soal hati,  penulis juga menjadikannya sebagai salah satu perbedaan pintu dengan manusia.  Pintu sebagai benda mati hanya boleh menyerap sejarah dan cerita, tapi tidak boleh memendam perasaan. Apalagi memiliki rasa kasihan, karena kasihan adalah asal mula ketumpulan otak dan kekacauan di dunia.

Hem..., benar juga! Seandainya seluruh pintu mengandalkan rasa kasihan, maka tak terhitung berapa banyak pintu di penjara yang menolak menutup dengan alasan kasihan pada pelaku kejahatan yang ada di dalamnya.

Siapa yang mengira, pada akhirnya  persahabatan dan cintalah yang menjadi bahan dasar kisah kehidupan Garda. Persahabat erat dengan mengesampingkan segala perbedaan, namun hancur karena ego takut dihukum. Piawai dalam Pramuka, namun berujung pada pemecatan gara-gara cinta. 

Persahabatan bisa terjalin tidak hanya sesama manusia, bahkan dengan pintu seperti kisah ini. Persahabatan Garda dengan sesama manusia ternyata berujung dengan sakit hati dan pengkhianatan. Sementara persahabatannya dengan pintu, justru membantunya berjalan keluar dari penjara. Unik.

Bagian yang mengisahkan tentang pintu dari Perancis, bikin meringis. Panggilannya juga disesuaikan dengan tempat ia berasal.  Kalimat berikut, "Di sebelahnya, terlihat seseorang bermantel panjang menghilang di balik pintu hitam mulus bernomor 211B." Tahu kan rumah siapa itu 221 B? 

Apakah pintu rumah 221B juga serupa dengan pemiliknya? Setiap hari mendengarkan gumanan tokoh bermantel panjang bukan tak mungkin membuatnya juga memiliki permikiran yang sama. Jadi pingin usul supaya dibuatkan kisah detektif dengan pintu rumah 221B sebagai tokoh utama.

Dibandingkan dengan buku-buku terdahulu, buku ini cenderung ringan. Mudah dipahami, meski masih mengundang beberapa pertanyaan. Tapi begitulah cara seorang Triskaidekaman berkisah. Pembaca tidak hanya menikmati kisah, namun bisa mengembangkan kisah dalam imajinasi masing-masing.

Akhir kisah, ditutup dengan dramatis, menurut saya lho. Si Pintu baru menyadari jati dirinya. Ternyata ia bukan pintu penjara! Sebuah pukulan telak bagi kepercayaan dirinya. Sementara Garda, mendapatkan yang ia inginkan. Lebih tepatnya sedikit lagi bisa meraih impiannya, sayang nasib tak berpihak kepadanya.

Seperti disebutkan di atas,  manusia sering membanting pintu sebagai cara mengungkapkan amarahnya, namun menurut sejarah tradisi tersebut baru muncul ketika manusia mulai mengenal penggunaan batu dan perunggu. Awal peradaban, pintu masih terbuat dari kain atau kulit hewan, entah bagaimana efeknya jika dibanting saat marah ^_^.
Saat ini, beberapa pintu yang dianggap tertua  didunia adalah Pintu Antik India yang Terukir, Pintu Ka Mesir, Pintu Pantheon,  Pintu Sensor Kaki China, serta Pintu Itakarado. Kira-kira, mana ya yang merupakan leluhur dari tokoh kita?

Jika tertarik mendapatkan pengetahun tentang pintu, silakan mengunjungi laman berikut,  atau ini.  Adapun artikel perihal Dewa Pintu-dewa yang bertugas untuk menjaga keselamatan, keharmonisan keluarga serta menghalau makhlus halus yang jahat dari rumah yang dijaganya bisa dibaca di sini.

Ah, saya mengharapkan ada  karya duet penulis dan editor kesayangan  muncul dalam waktu dekat. Meski belum lama meramaikan kancah literasi, karyanya telah mendapat pengakuan tingkat  nasional. Informasi lengkap menegnai penulis bisa dilihat di http://triskaidekaman13.wordpress.com