Sabtu, 03 Desember 2016

2016#128 : Kisah Will Henry Si Monstrumologist


















Penulis: Ricky Yance
Alih bahasa: Nadya Andwiani
Editor: Bayu Anangga
Desan sampul: Olvyanda Ariesta
ISBN: 9786020331744
Halaman: 480
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Rating: 3.5/5

Di liang kubur, si Anthrotophagus memasukan kaki Erasmus Gray ke mulutnya yang mengatup-ngatup, geliginya menggigit betis si perampok kabur yang tersentak, sementara mata hitamnya berputar di rongganya.... Mulut di bawah terus bekerja, menguyah semakin ke atas sementara cakarnya menarik lelaki tua itu. kaki Erasmus yang bebas menendang-nendang seperti orang yang tenggelam berjuang naik ke permukaan....
~ hal 72-73~

Mungkin saya salah memilih bacaan. 
Rencananya hendak mengisi waktu senggang dengan menikmati minuman segar, dipilihlah buku ini untuk menemani. Belum juga selesai melewati bagian yang berurusan dengan suasana mencekam, hujan turun diiringi dengan guntur dan petir. Baiklah, saya jadi merasa agak seram. Plus pada bagian awal ditulis kata, "Diedit oleh Ricky Yancey," memberikan kesan buku ini adalah kisah nyata. Duh  saya makin terbawa 
suasana, serasa makin mencekam (mendadak lebay).

Dibuka dengan penjelasan apa yang dimaksud dengan monstrumonolgi, selanjutnya pembaca akan menemukan prolog tentang kisah ini. Seorang penulis sedang memenuhi panggilan seorang kepala panti, yang kemudian menyerahkan jurnal harian berbentuk tiga belas buku tulis tebal  milik seorang pria bernama William James Henry biasa dipanggil Will Henry. Ia merupakan penghuni panti tertua yang meninggal beberapa saat yang lalu.
Versi Bahasa Jerman



Penurut pengakuan Will Henry, ia lahir pada tahun 1876 Masehi, artinya usianya melebihi seratus tahun! Aneh memang. Tapi bukan itu saja keanehan yang akan ditemui si penulis dalam jurnal harian tersebut. Banyak hal-hal lain yang lebih mencengangkan dibandingkan mengetahui ada seseorang yang berusia lebih dari seratus tahun!.

Will Henry ternyata adalah seorang asisten  dari Dr Pellinore Warthrop, doktor  filsafat yang sangat tertarik dengan segala hal yang berurusan dengan Bangsa  Anthrophophagi  dari Afrika Utara dan Barat. Dahulu ayahnya juga asisten dari si doktor sebelum meninggal karena kebakaran bersama ibunya. Doktor merawat, memberikan tempat tinggal dan sekaligus menjadikannya sebagai asisten.

Bangsa Anthrophophagi? Jelas bukan bangsa yang ramai. Bisa dikatakan mereka sejenis monster pemakan manusia. Dalam kisah beberapa kali diuraikan mengenai monster yang sedang berburu, bersyukurlah jika bisa lolos dari kejarannya. Salah seorang anak yang berhasil lolos saat segerombolan  menyerbu rumahnya, mengalami masa-masa sulit.
 
Dengan mengambil seting kota New England akhir abad ke-19, pembaca akan ikut merasakan bagaimana perjuangan Will Henry dalam menjalani hidup. Tidak saja kerepotan  mengurus rumah tangga, tapi juga harus mampu bertahan hidup sebagai seorang asisten doktor pemburu monster. Ia juga harus berjuang membuang trauma melihat kedua orang tuanya mati terbakar.

Setelah selesai membaca kisah ini, saya merasa bahwa sosok Will Henry merupakan sosok yang tegar. Disaat anak seusianya menghabiskan waktu dengan bermain, Will Henry sibuk menggali makam atas perintah doktor untuk penelitian. Ketika anak lain seusianya tidur nyenyak, Will Henru justru harus terjaga untuk menemani sang doktor melakukan penelitian.

Ia juga merupakan orang yang paling berjasa dalam kehidupan sang doktor yang cenderung nekat. Tanpa Will Henry ia tak akan memiliki rumah yang lumayan terawat, menikmati makanan hangat, melakukan penelitian dengan benar tanpa gangguan,  dan selamat dari bahaya tentunya.
Versi Bahasa Rusia

Namun dibalik ketegaran sosok Will Henry, pembaca juga akan menemukan sisi anak-anak dalam dirinya. Anak yang butuh tidur cukup, menikmati makanan hangat, sesekali butuh diperhatikan. Anak yang kadang lepas kendali dan tak mampu mengontrol emosi.

Akhir kisah yang tak terduga mengajak kita untuk merenung. Apakah rasa penasaran atas dasar penelitian dengan kenekatan berbeda tipis. Apakah memuaskan rasa ingin tahu harus ditempuh dengan berbagai cara, bahkan cara yang tak lazim sekali pun. Ikut campur tangan pada alam merupakan hal yang membahayakan, biarlah semua berjalan apa adanya.

Butuh tenaga ekstra untuk memahami buku ini, bagi saya. Selain penggunaan kata yang lumayan beragam serta cenderung rumit, kalimat-kalimat panjang akan banyak kita temui dalam buku ini. Plus urusan mencekam  yang ternyata juga memegang peranan
Versi Bahasa Turki

Meski begitu, saya mendapat pengetahuan berupa kata baru dalam buku ini, renjana. Menurut KBBI, renjana adalah rasa hati yang kuat. Tepatnya ada di link ini. Maklumlah, pengetahuan kata saya minim, jadi senang rasanya dapat ilmu baru.

Untuk urusan kover, sepertinya para penerbit berusaha menampilkan kesan menyeramkan dan misterius. Beberapa kover yang saya lihat, menggambarkan situasi atau peristiwa yang ada dalam buku dengan sangat pas dengan imajinasi saya. Favorit saya adalah versi bahasa Jerman, kesannya klasik. Mampu menggugah rasa penasaran dan menimbulkan efek ngeri dalam waktu bersamaan.

Mengintip Goodreads, buku ini memperoleh penghargaan berupa Michael L. Printz Award Nominee (2010), Milwaukee County Teen Book Award Nominee (2011), Michigan Library Association Thumbs Up! Award Nominee (2010), Amelia Elizabeth Walden Award (ALAN/NCTE) Nominee (2010), Abraham Lincoln Award Nominee (2013)

Jika buku ini merupakan tiga jilid pertama dari jurnal harian Will Henry  bakalan ada jilid selanjutnya. Masih mengacu pada Goodreads, memang tertera ada empat buku dalam seri ini. Masalahnya apakah terjemahannya akan muncul? Mari kita sabar menunggu saja ^_^























Rabu, 30 November 2016

2016 #127: Jelajah Budaya Kuliner Masa Kolonial 1870-1942


Judul asli: Rijsttafel: Jelajah Budaya Kuliner Di Tanah Air Masa Kolonial 1870-1942
Penulis:  Fadly Rahman
Editor: Cici Hardjono & Wikan Retna
Tata letak isi: Mulyono
Desain sampul: Suprianto
ISBN: 9786020336039
Halaman: 151
Ceatakan Pertama-2016
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga:Rp 50.000
Rating: 3.5/5



Toen wij repatrieerden uit de gordel van smaragd
Dat Nederland zo koud was hadden wij toch nooit gedacht
Maar ‘t ergste was ‘t eten. Nog erger dan op reis
Aardapp’len, vlees en groenten en suiker op de rijst

(Chorus)
Geef mij maar nasi goreng met een gebakken e
Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij
Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei
Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij
Geen lontong, sate babi, en niets smaakt hier pedis
Geen trassi, sroendeng, bandeng en geen tahoe petis
Kwee lapis, onde-onde, geen ketella of ba-pao
Geen ketan, geen goela-djawa, daarom ja, ik zeg nou

(Chorus)
Ik ben nou wel gewend, ja aan die boerenkool met worst

Aan hutspot, pake klapperstuk, aan mellek voor de dorst
Aan stamppot met andijwie, aan spruitjes, erwtensoep
Maar ‘t lekkerst toch is rijst, ja en daarom steeds ik roep

(Geef Mij Maar Nasi Goreng -Tante Lien)

Urusan perut  sudah menjadi kebutuhan dasar setiap manusia.  Bahkan karena urusan perut tak jarang terjadi keributan dan hal-hal buruk lainnya. Namun, melalui urusan perut jugalah kerukunan bisa dibina, rasa kebersamaan dipupuk.

Beruntungnya kita berada di negara dimana  aneka bahan-bahan bisa ditemukan dengan mudah sehingga beragam  variasi kuliner bisa diciptakan.  Maka merupakan hal wajar jika Rendang menjadi masakan terenak di dunia.  Nasi Padang sampai dibuatkan lagu belum lama ini, karena ada yang begitu kepincut dengan rasanya.

Wieteke van Dort  lebih dikenal dengan panggilan   Tante Lien, seorang Belanda yang lahir dan besar di Surabaya hingga berusia 14 tahun, membuat lagu dengan judul Geef Mij Maar Nasi Goreng untuk mengungkapkan betapa lezatnya kuliner di tanah air. Lagu tersebut mengisahkan tentang orang Belanda yang terbiasa menikmati kuliner dengan beragam bumbu lalu harus kembali ke Belanda dan tidak bisa menikmatinya seperti di tanah air. Selain nasi goreng juga disebutkan masakan lainnya. 

Salah satu cara unik terkait urusan perut adalah dengan mengetahui aneka hal terkait dengan budaya kuliner. Bagaimana asal mula masakan,  bagaimana konsep prasmanan zaman dahulu, makan mempergunakan tangan sering dilakukan lalu bagaimana penerapan sendok-garpu di tanah air, merupakan beberapa hal yang menarik untuk ditelusuri. Salah satu sumber informasi yang tersedia adalah melalui buku Rijsttafel.

Buku ini hanya terdiri dari tiga bab, namun sarat akan pengetahuan tentang kuliner.  Seperti umumnya buku,  dimulai dengan pendahuluan yang mengisahkan tentang terbentunya sebuah budaya makan. Bagian pertama berisi uraian mengenai kehidupan sosial budaya di paruh pertama abad ke-19. Termasuk mengenai hubungan budaya Eropa dan pribumi, kebudayaan Indis serta gambaran tentang budaya makan. Bagian kedua bisa dikatakan berisi sejarah rijsttafel, menguraikan mengenai asal-usul serta proses pengenalan. Bagian ketiga, menguraikan mengenai rijsttafel, berupa penyajian, penggunaan alat makan dan komposisi hidangan Serta bagaimana rijsttafel pada masa kekuasaan kolonial.

Modifikasi dan perpaduan bahan makanan serta etiket makan antara budaya kuliner pribumi dan Eropa, khususnya Belanda, sejak paruh kedua abad ke-19 dikenal dengan sebutan rijsttafel. Secara harafiah, rijst berarti nasi sementara tafel berarti meja, kiasan untuk hidangan. Jika dipadukan maka bermakna hidangan nasi. Orang-orang Belanda menggunakan istilah tersebut untuk menyebut jamuan  hidangan Indonesia yang ditata lengkap di atas meja makan. Bisa juga dikatakan sajian nasi yang dihidangkan secara spesial. Spesial dalam arti perpaduan budaya makan antara pribumi dan Belanda. Dengan demikian rijsttafel merupakan cermin adanya keharmonisan budaya dalam kuliner kita.

Rijsttafel bisa dikategorikan dalam kemewahan. Bagaimana tidak, untuk menyajikannya saja dibutuhkan banyak pelayan dikarenakan begutu banyak ragam menu yang disajikan.  Belum lagi pemilihan bahan untuk dimasak,  pemanfaatan beraneka ragam bumbu dalam masakan  lokal, sementara bagi orang Belanda masakan umumnya minim bumbu. Konon butuh beberapa jam untuk menikmati semua hidangan yang ada. Bukan main!

Penulis beberapa kali mengulang menerangkan apa yang dimaksud dengan rijsttafel.  Misalnya ada di halaman 2, 4, 37. Mungkin untuk mengingatkan pada pembaca mengenai maknanya. Seharusnya hal tersebut tidak dilakukan karena menyebabkan pengulang yang tidak perlu.

Saya sibuk mencari perpaduan kuliner apa yang tergolong dalam rijsttafel. Maksudnya, saya mengharapkan ada daftar nama panganan yang sudah mengalami   rijsttafel.  Buku lebih memuat tentang kebudayaan kuliner bukan kulinernya sendiri.  Ada memang namun tak terlalu banyak.  Misalnya Sup (Soep) yang di kalangan orang Belanda akan disajikan panas sebagai masakan pembuka untuk menghangatkan badan, di tanah air justru disajikan sebagai sajian sayur. Di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah mulai dikenal sup kimlo

Tahu Frikadel? Betul! Ini merupajan jenis makanan yang dibuat dari bahan dasar kentang, dihalus dan ditambah isi daging giling. Lidah kita yang susah melafalkannya mengubah menjadi perkedel. Sementara di Jawa Timir dan Jawa Barat menjadi bergedel. Masakan bercitarasa manis khas Belanda yang mempergunakan bahan daging ayam atau sapi, Semur (smoor) diadaptasi sehingga dikenal Smoor Djawa yang mempergunakan ikan sebagai bahan utama.   Begitu juga dengan bistik (biefstuk) yang dijadikan sebagai makanan pendamping nasi. Di kalangan orang Belanda justru dimakan dengan kentang, kacang polong dan wortel. Sepertinya Salat Solo juga terinspirasi dari masakan ini.

Meski banyak masakan kita yang cocok dengan lidah orang Belanda, ada masakan favorit orang-orang Belanda yang ternyata cukup  mudah membuatnya. Yaitu pisang goreng, serundeng, kacang goreng dan telur mata sapi. Bahkan mereka memakannya bersama nasi. Unik juga ternyata.

Pada Catatan Akhir yang berisikan penjelasan mengenai beberapa hal yang dirasa perlu dijelaskan lebh lanjut, saya menemukan banyak informasi tidak saja seputar kuliner namun juga hal lain.  Misalnya mengenai etimologi kata jongos, kebiasaan makan di luar rumah yang memunculkan rumah makan atau restoran, arti kata restoran sesungguhnya, penerapan pemakaian sepatu bagi pelajar di STOVIA dan masih banyak lagi. Saya merasa banyak hal yang belum saya ketahui, sungguh mengejutkan. Setelah membaca buku ini pengetahuan saya  lumayan bertambah.

Sementara pada Lampiran, saya menemukan bahan-bahan memasak, jenis makanan dan buah yang diterjemahkan dari istilah Melayu ke bahasa Belanda. Terdapat pula contoh ragam komposisi hidangan serta menu yang bisa dipilih untuk disajikan di rumah maupun restoran. Terakhir sejenis resep membuat sambal dengan memadukan antara bahan tradisional dengan bahan instan. 

Seiring waktu, banyak nyonya Belanda yang ikut suami ke perkebunan. Karena banyak nyonya Belanda yang belum bisa memanfaatkan bahan-bahan lokal maka sebuah perusahaan jeli melihat peluang bisnis dengan membuat semacam bumbu dasar. Selanjutnya tinngal menambah racikan sesuai dengan masakannya yang akan dibuat. Ternyata bumbu instan sudah ada sejak dahulu. Bagi saya yang kurang (baiklah, tidak bisa masak) tentunya sangat memanfaatkan bumbu instan ini. Biasanya tersedia dalam beberapa jenis dasar bumbu.

Penulis menyebutkan bahwa isi buku ini semula adalah skripsi untuk mendapatkan gelar sarjana pada Program Studi Sejarah di Univeristas Padjajaran. Patut diberikan acungan jempol. Memilih topik yang menurut saya unik,  merupakan tantangan tersendiri dalam membuat skripsi. Selain untuk memperoleh gelar sarjana, buku ini jelas membantu pembaca untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kehidupan sosial pada abad sembilan belas, terutama mengenai urusan kuliner.

Untuk urusan kover, sungguh cocok dengan pembahasan. Gambar aktivitas di meja makan sangat mencerminkan urusan kuliner. Ditambah dengan sosok yang duduk menikmati hidangan di meja serta beberapa pelayan yang sibuk melayani. Warna serta desain membuat saya jadi teringat pada buku-buku buluk milik keluarga dan kantor yang sering saya lihat. Pas.

Sayangnya sisi kover yang ditekuk ke dalam hanya dimanfaatkan sebagai pembatas buku semata. padahal bisa dijadikan tempat untuk memberikan tambahan informasi terkait buku. Atau untuk memperkenalkan sosok penulis.

Topik sejarah seperti ini sepertinya cocok dengan saya.
Jadi tertarik membaca buku selanjutnya.

Sementara itu, hayuh nyanyi dulu....












Selasa, 29 November 2016

2016 #126: Ayo dismurf Buku Tentang Smurf


















Judul asli: Smurf Bind Up 14
Penulis: Peyo
ISBN: 9786020295077
Halaman: 143
Cetakan: Pertama- Oktober 2016
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Harga: Rp 70.000
Rating: 3.5/5

Cukup, jangan mensmurf pikiran smurfmu lagi!

Untuk mensmurfmu pelajaran, kau harus mensmurf kenari sampai musim dingin.

Pernah mendengar tentang smurf?
Makhluk mungil dengan tubuh berwarna biru.  Secara umum kecuali keadaan tertentu, mereka digambarkan mempergunakan celana panjang dan topi berwarna putih. Satu-satunya perempuan yang ada, smurfin juga mempergunakan topi biru. Sementara sang pemimpin, Papa smurf mempegunakan warna merah.

Kita akan menemukan berbagai karakter Smurf yang beragam. Ada  Smurf kekar yang kekuatannya tiada tandingan diantara para Smurf, Smurf  Pemalas yang suka bersantai, Smurf Gembul yang doyan makan, Smurf Pesolek yang teramat memperhatikan penampilannya dan cenderung genit. Masih ada yang lain, ada Smurf  Badut yang suka memberikan hadiah dan meledak ketika dibuka,  Smurf Gerutu yang selalu menggerutu, dan masih banyak lagi. Dikisahkan mereka tinggal di Desa Smurf yang letaknya dalam hutan di Eropa.
 
Salah satu cara menikmati kisah para Smurf adalah dengan membaca Smurf Bind Up Titles. Menurut saya ini bisa disebut sebagai bundel Smurf. Berdasarkan informasi yang ada di belakang buku, disebutkan bahwa sudah tersedia  hingga Smurf Bind Up Title 15. Lumayan banyak juga.   Saya membaca Smurf Bind Up Title 14.

Buku yang saya  baca terdiri dari gabungan tiga buku. Pertama Smurf dan Pohon Emas yang mengisahkan upaya para Smurf mencari pengganti pohon emas mereka yang rusak terbakar akibat tersambar petir. Para Smurf merasa mereka akan mengalami kesialan jika tidak segera menemukan pengganti pohon tersebut. Berbagai upaya mereka lakukan, termasuk melakukan perjalanan berbahaya. Sekali lagi berkat kecerdikan Papa Smuf, situasi kembali seperti semula. Pesan moral  yang bisa diambil adalah agar setiap individu menyadari dalam  kehidupan situasi bisa silih berganti. Kadang beruntung, kadang ada saat kurang beruntung. Semuanya harus dicarikan solusi, jangan terlalu percaya pada tahayul.


Pada kisah Smurf Polisi, pembaca akan diajak untuk ikut menciptakan ketertiban dan keteraturan hidup d Desa Smurf. Peraturan telah dibuat, untuk itu perlu dipilih petugas untuk mengawasi peraturan dijalankan dengan benar. Tidak salah lagi, yang dipilih untuk tugas itu adalah Smurf Kacamata  yang terkenal sebagai sosok yang paling taat peraturan. Tapi tidak semua berjalan dengan baik, ada pihak-pihak yang melakukan sabotase. Penyelidikan segera dilakukan. Hasilnya sungguh di luar dugaan. Kadang kita justru tidak mengenali sosok yang berperan dalam suksesnya sebuah kegiatan. Padahal, tiap orang eh smurf memiliki perannya masing-masing dalam kehidupan.

Bagian terakhir adalah Natal di Negeri Smurf. Bagian ini terdiri dari lima bagian kisah. Sesuai dengan  judulnya, kisahnya seputar Natal.  Ada tentang  peri yang disihir menjadi pohon cemara kecil yang pandai bernyanyi, Gargamel yang menyamar menjadi Sinterklas agar bisa menangkap para Smurf, hingga bantuan yang diberikan para Smurf untuk salah seorang anak yang sedang merawat ibunya saat sakit di malam Natal.

Meski bisa dikatakan merupakan bundel tiga buku, namun tiap bagian tidak mengusung kovernya masing-masing. Tiap bagian dibedakan dengan kover yang ada di halaman kedua masing-masing buku, kover kedua bisa dikatakan begitu. Sementara untuk buku ini, kover yang dipergunakan adalah kover dari kisah Smurf Polisi.

Kisah para Smurf  selain menghibur mampu memberikan petuah dengan cara yang unik. Sosok Papa Smurf yang selalu menjadi panutan, dapat dijadikan inspirasi saat mengalami berbagai kesulitan dalam hidup.  Kita juga bisa mendapatkan berbagai tambahan pengetahuan dengan membaca kisah ini.

Sosok Smurf merupakan ciptaan penulis Belgia bernama Peyo. Awalnya mereka menjadi semacam bintang tamu dalam kisah Johan dan Pirlouit, belakangan mereka justru menjadi komik sendiri.

Ciri khas kisah ini selain bentuk fisik mereka, adalah bahasa yang digunakan. Mereka sering mempergunakan kata Smurf dalam dialognya. Meski begitu, pembaca bisa memahami apa yang dimaksud meski ada kata yang diubah. Seru!


Iseng mencari, ternyata ada juga  situs resminya. Silahkan klik di sini untuk situs resminya. 
Hayuh silahkan dismurf ya.