Senin, 16 Juli 2018

2018 #14: Petualangan Selembar Weselpos





















Judul asli: Wesel Pos 
Penulis: Ratih Kumala
Penyelia naskah: Mirna Yulistianti
Ilustrasi sampul: Orkha.id
Ilustrasi isi buku: Ratih Kumala
ISBN: 9786020387116
Halaman: 100
Cetakan: Pertama-Juni 2018
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 58.000
Rating: 3.25/5

Unik! 

Kata yang tepat untuk menggambarkan buku ini. keunikan buku ini bagi saya adalah dari sisi  tokoh utamanya yang berwujud selembar weselpos. Padahal jika melihat buku-buku yang baru terbit, umumnya tokoh utama adalah sosok manusia dengan beragam kondisi dan latar belakang kehidupan. Kisah mengenai keberadaan sebuah benda yang mendampingi kehidupan seorang manusia, pasti menawarkan sebuah kisah yang berbeda,  menurut saya lho.

Berbekal selembar weselpos yang setiap bulan diterima, seorang wanita lajang berupaya mencari keberadan sang kakak kandung yang sudah dua tahun tak pernah memberikan kabar. Jangankan pulang, telepon bahkan pesan singkat juga tak pernah diterima. Hanya keberadaan selembar weselpos yang membuat keduanya terhubung.


Semula,  ia dan ibu yang menerima manfaat dari weselpos tersebut, sekarang hanya dia. Sang ibu telah berpulang beberapa waktu lalu. Tekatnya kian bulat, mencari kakaknya yang mengirimi weselpos tiap bulan. Informasi yang ia punya hanyalah alamat kantor sang kakak yang tertera di weselpos. Petualangan sang weselpos pun dimulai. 


Bukan hal yang mudah mencari seseorang  di Jakarta. Sudah sering kali mereka yang nekat ke Jakarta justru mengalami nasib tragis. Belum apa-apa wanita lajang tersebut sudah tertipu. Sungguh berat "bertamu" di Jakarta. Seperti kata penulis, Ada dua jenis orang yang hidup di Jakarta. Pertama adalah orang sakti, mereka adalah orang yang akan bertahan hidup sebab 'ilmu' mereka sudah tinggi. Kedua adalah orang sakit, yang akan mati ditelan kekalahan di kota ini...."  

Nasib baik membuatnya bisa terhubung dengan seorang pria yang diharapkan mengetahui keberadaan sang kakak. Ternyata hidup tidaklah sesederhana yang ia kira. Ada saat ia berada dalam golongan orang sakti, tapi dilain waktu menjadi bagian dari orang sakit. Dan weselpos menjadi saksi berbagai peristiwa yang terjadi antara beberapa anak manusia.


Bagian ini kok saya merasa seperti sinetron lokal ya, seperti kebetulan sekali. Sungguh berutung nasib wanita muda itu. Bisa bertemu dengan pak Polisi yang baik hati,  pria tak dikenal yang bersedia menampungnya tanpa berbuat jahil.Tapi saya langsung teringat beberapa peristiwa yang sepertinya kebetulan, seakan diatur padahal tidak. Jadi apa saja bisa terjadi.


Oh ya, saya menuliskannya sebagai "weselpos" bukan "wesel pos" seperti yang ada di buku. Hal ini dikarenakan saya mengacu pada penulisan yang ada di situs resmi PT Pos Indonesia. Mungkin saja saya salah, tapi karena weselpos merupakan salah satu layanan yang ada di PT Pos Indonesia, maka saya memilih mengikuti penulisan yang ada pada situs tersebut.


Saat akan mulai membaca buku ini, mendadak saya teringat pada selembar weselpos yang sering saya jumpai di kantor pos dulu. Dengan warna abu-abu tua, ukuran yang lumayan besar dan tebal,  tentunya membuat weselpos menjadi barang yang mudah dikenali diantara produk pos lainnya.

Seiring perkembangan zaman, wesel juga mengalami perubahan. Tidak saja secara fisik namun juga mekanisme pelayanan. Ukuran kertas lebih ringan dengan warna putih sederhana. Pelayanan juga beragam,  penerima weselpos bisa langsung mencairkan uang yang ia terima dalam cepat. 

Jadi weselpos versi mana yang ada dalam kisah ini? Saya menemukan  jawabannya pada ilustrasi di halaman akhir kisah.   Sebenarnya saya sudah menduga, karena  beberapa bagian menyebutkan mengenai potongan weselpos yang disimpan oleh pengirim. Dan potongan weselpos hanya ada pada model lawas. 
Meski lumayan menghibur tapi menurut saya kisahnya serba tanggung. Memang menarik bagaimana sebuah weselpos bisa bergitu berpengaruh dalam kehidupan beberapa manusia. Namun akan lebih seru jika ada beberapa bagian yang lebih berkesan dramatis, jika perlu mempergunakan trik ala sinetron lokal he he he.

Sebagai contoh (duh maaf harus sedikit memberikan bocoran), tokoh utama wanita dalam kisah ini-Elisa, digambarkan mencari alamat kakaknya hanya berbekal wesel pos yang selama ini ia terima. Dibantu pak polisi yang baik hati (tentunya tidak sombong juga) ia berhasil menemukan alamat kantor sang kakak. Sedikit bertanya, mempertemukan dia dengan sosok Fahri. Konon Fahri merupakan orang yang paling kenal dengan seluruh karyawan yang ada di gedung  tersebut.

Tidak ada yang aneh memang, tapi kenapa dibuat begitu mudah? Hanya menunggu sebentar (lumayan lama sih dari pagi hingga sore) Elisa sudah bisa menemukan sosok Fahri. Kenapa tidak dibuat lebih kompleks lagi? Misalnya ternyata Fahri harus mendadak menemani bos yang sedang rapat di luar kota sehingga baru kembali besok. Kondisi Elisa selama menunggu bisa lebih memunculkan sesuatu yang berbeda.


Atau sebelum teringat untuk ke kantor pos Elisa sempat nyaris celaka karena bertemu dengan serigala berbulu domba, orang jahat yang pura-pura berniat baik membantu. Ia harus berusaha membebaskan diri dari bujuk rayu dari pria bermulut manis tersebut.Masih banyak hal lain yag bisa dibuat tergantung daya imajinasi penulis.


Terlepas dari segala kekurangan, kisah ini membuat kita sadar bahwa sesungguhnya yang disebut teman sejati bisa seseorang yang tak kita duga. Persahabatan adalah suatu hal yang unik. Bisa terjalin kapan saja, dan diantara siapa saja.


Mungkin Fahri tidak terlalu terlihat akrab dengan kakak Elisa,  tapi pada akhirnya ialah yang menjadi penolong ketika Elisa membutuhkan seseorang.  Demikian juga dengan  sosok tetangga sebelah Fahri. Meski sering dicibir karena profesinya, namun ia tak ragu membantu tanpa banyak bicara. 


Oh, ya pembaca  juga bisa mengetahui bagaimana suasana kehidupan di rumah susun melalui kisah ini. Ternyata lumayan beragam. 
Belum lagi sikap tidak usil pada tetangga.  Pastinya butuh kuping dan muka tebal jika membaca kisah ini.

Dan saya menemukan merek sebuah obat sakit kepala dalam kisah ini.Tidak ada yang salah sih dengan obat sakit kepala.Tapi dengan menuliskan merek bukan kategori, hal ini menunjukkan kekuatan merek tersebut. Sebuah kesuksesan tersendiri.

Menurut    situs resmi PT Pos Indonesia (http://www.posindonesia.co.id), Weselpos merupakan layanan pengiriman dan penerimaan uang yang memberikan solusi terhadap kecepatan, ketepatan dan keamanan kiriman uang Anda, secara domestik (nasional) maupun luar negeri (internasional). Terdapat dua jenis layanan Wesel pos., yaitu layanan domestik  (nasional) serta layanan luar  negeri (internasional)

Layanan Domestik (Nasional) terdiri dari:
  • Weselpos Instan
    adalah layanan Weselpos dengan waktu tempuh real time, pembayaran menggunakan PIN dan NTP yang dikirimkan langsung  oleh  Pengirim  kepada  Penerima.
  • Weselpos Prima
    adalah layanan Weselpos yang menggunakan surat pemberitahuan, diantar oleh Kantorpos Tujuan kepada Penerima
  • Weselpos Transfer Tunai (Cash To Account)
    adalah pengiriman uang secara tunai melalui Kantorpos dengan tujuan semua rekening bank secara real time.
  • Weselpos Kemitraan
    adalah layanan Weselpos hasil kerja sama dengan pihak lain, dilakukan dengan suatu perjanjian kerjasama dengan tarif dan layanan sesuai kesepakatan.

Sementara  yang termasuk dalam Layanan Luar Negeri (Internasional) adalah  Western Union, International Express Money Order (IEMO), BNI Wesel PIN, Wesel Instan BCA, Wesel Instan BSM, Wesel Instan CIMB Niaga, Wesel Instan Arsema (Moneygram), Wesel Instan Ebays, dan Wesel Instan Telkomsel .


Lumayanlah, gara-gara buku ini, saya jadi beberapa kali mampir ke kantor pos yang ada di area kantor sekedar untuk berbincang dengan ibu petugas di sana. Biasanya hanya mampir untuk kirim paket ^_^.

Penasaran, selanjutnya penulis akan membuat apa ya?
Semoga tak butuh waktu lama untuk menikmati karya terbarunya.





Senin, 25 Juni 2018

2018#13: Srimulat, Akan Selalu Dikenang

Judul asli: Srimulatism, Selamatkan Indonesia dengan Tawa
Penulis: Thrio Haryanto
Penyunting: Dyota Lakhsmi, Novikasari Eka S
Ilustrasi:Pinot dan Hari prast
ISBN: 9786023854011
Halaman: 188
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 49.000
Rating:3/5

Untung ada saya!

Kalimat tersebut cukup akrab dengan kita. Bahkan mereka yang sering disebut dengan kidz zaman now juga sering mengucapkan kalimat tersebut dengan gaya kekinian, "Untung ada gue!" Mungkin hanya sedikit yang ingat asal muasal kalimat legendaris tersebut. Kalimat yang berasal dari dialog salah seorang anggota Srimulat, Gepeng. Kalau saya tidak salah ingat, itu juga judul film Gapeng bersama Jujuk. Jika tertarik mendengarkan versi siaran radio ada  di sini.

Buku tipis tapi kaya nostalgia ini berisikan mengenai perjalanan Srimulat. Dari Srimulat sebagai nama  sosok seorang seniwati yang terkenal, hingga menjadi nama sebuah grup. Pembaca akan menemukan banyak hal yang mampu membuka ingatan pada masa kejayaan group ini. Plus terdapat beberapa lawakan dan naskah (entah sebaiknya disebut apa-tapi saya anggap saja naskah) yang pernah dipentaskan.
Sri Mulat dan Teguh

Raden Ayu Sri Mulat sejak kecil sudah menyukai aneka kesenian. Ia bahkan piawai menari dan nyinden. Bersama suaminya, Teguh Slamet Rahardjo, pada tahun 1951 mereka mendirikan kelompok kesenian keliling dengan nama Gema Malam Srimulat. 

Meski bisa dikatakan sudah meraih kesuksesan, Teguh selalu  berusha melalukan inovasi agar bisa menampilkan sesuatu yang membuat penonton ingin selalu kembali melihat pertunjukan  mereka. Maka tak heran jika sosoknya juga kerap terlihat duduk di bangku penonton untuk mendapatkan bahan evaluasi.  Perlahan, Teguh mulai melirik unsur komedi dengan pertimbangan setiap orang pelepas ketegangan, dan cara yang paling mudah adalah dengan tertawa. 

Perenungannya cukup mendalam, seperti yang tertera di halaman 101.  "Pertanyaannya adalah: apa yang membuat sesuatu itu lucu?  Mengapa orang terdorong untuk tertawa ketika mengalami-melihat, mendengar, merasakan sesuatu?" Aneka observasi dilakulan Teguh terhadap aneka.hiburan yang mengusung tema humor.Dari dagelan Mataram, Ludruk, punakawan dalam wayang, hingga menonton film Charlie Chaplin. 

Setiap pemain Srimulat harus memiliki ciri khusus untuk mendukung pementasan. Ciri tersebut bisa berupa gerakan tubuh atau kalimat lucu. Kalimat, "Hil yang Mustahal!"  sering diucapkan oleh Asmuni ketika berada di atas panggung Srimulat. Entah kenapa, jika yang mengucapkan pemain lain sepertinya kurang greget, tapi begitu Asmuni menucapkan kalimat tersebut langsung penonton tertawa. Seakan kalimat tersebut hanya cocok diucapkan oleh Asmuni. Padahal bukan Asmuni yang menciptakan kalimat tersebut. Kalimat tersebut bisa dikatakan sebagai ciri khas seorang Asmuni. 

Salah satu produsen obat tradisional sampai menjadikan Basuki dan kalimat Wes-ewes-ewes sebagai bagian dari promosi mereka. Kalimat Basuki yang terkenal tersebut diubah menjadi Wes-ewes-ewes  babalas angine. Kalimat langsung membuat pendengarnya teringat jamu tradisional yang dibuat ala moderen dengan manfaat untuk mengusir masuk angin.
 Ciri khas tersebut ternyata juga bisa menyebabkan bencana bagi sosok Tessy alias Kabul. Ketika televisi mengeluarkan kebijakan untuk melarang penampilan laki-laki dengan gaya kewanitaan, maka bisa dikatakan karier Kabul sebagai Tessy tamat sudah. Kejayaannya sebagai jago pengocok perut langsung pudar. Hingga sempat membuat sebuah kasus yang cukup ramai dibicarakan masyarakat. 

Saya ingat betul, setelah nyaris setengah pementasan berjalan, primadona Srimulat yaitu Jjujuk akan muncul dengan dandanan khasnya. Sanggul lebar dengan sasak tinggi, menggunakan kain dan kebaya yang bisa dikategorikan super singset. Kesan yang saya peroleh saat itu, betapa sulitnya ia.bernapas dan berjalan. Tapi itulah ciri khas Jujuk, tampil dengan bling-bling. Sering waktu, saya jadi paham jika Jujuk muncul maka sebentar lagi pertunjukan akan selesai. 

Perpaduan antara pertunjukan musik dan lawak, serta bumbu  keunikaan dari tiap anggotanya kemudian menjadi ciri khas bagi  kelompok ini. Penulis menyebutnya sebagai Srimulatism.  Ciri yang susah untuk ditiru. Meski beberapa pelawan mencoba meniru tetap saja efek yang disampaikan akan berbeda dengan yang dihasilkan oleh anggota Srimulat. 

Belakangan, kelompok ini berubah menjadi pertunjukan Aneka Ria Srimulat. Bisa dikatakan Ciri khas Aneka Ria Srimulat adalah adanya  pemain yang berperan  sebagai  pembantu rumah tangga dengan lap disampirkan pada bahu sebagai pembuka. Pemain tersebut akan memberikan semacam pengenalan mengenai siapa dirinya, dan kepada siapa ia bekerja. Kadang ada dua sosok yang menjadi pembuka. 

Lalu ciri lain adanya dua pintu di panggung. Satu untuk keluar-masuk mereka yang dianggap tinggal di sana,  misalnya tuan rumah, nyonya rumah dan lainnya. Sedangkan pintu satu lagi untuk keluar-masuk pemain yang bukan tinggal di sana. Jadi panggung diumpamakan sebuah ruang dalam rumah.

Satu hal yang bisa dianggap istimewa adalah para anggota Srimulat selalu bermain dengan improvisasi. Teguh selaku sutradara hanya memberikan pakem cerita. Butuh kreativitas tingkat tinggi untuk dapat  menciptakan kelucuan yang aneh dan keanehan yang lucu, yang mengalir secara spontan tentunya. 

Dan pastinya jiwa besar untuk berbagi panggung. Tak ada pemaian yang mendominasi panggung. Mereka sangat kompak. Jika ada yang sedang beradu lelucon, maka yang lain harus sabar menunggu waktu yang tepat untuk ikutan mengeluaran banyolan. Memotong lemparan humor yang sedang dilakukan oleh pemain lain pantang hukumnya. 

Oh ya, walau diberikan kebebasan tapi para pemain memiliki aturan  yang tetap harus dituruti. Mereka harus memegang prinsip Mikul Dhuwur, Mendhem Jero. Lalu harus menghormati dan memelihara akar, sadar diri, dan menghormati pemain wanita dengan tidak melakukan tindakan yang tak terpuji. Terpenting, mereka harus ingat bahwa puncak humor adalah menertawakan diri sendiri. 

Saya lupa sekitar tahun berapa, saat itu Srimulat muncul seminggu sekali di latar kaca. Guna mendongkrak rating, mereka menampilkan bintang tamu dari kalangan selebriti. Biasanya nama tokoh juga sama dengan nama asli bintang tamu. Dan sepertinya para selebriti tersebut menikmati peran yang mereka mainkan. Menjadi bintang tamu di panggung Srimulat seakan menaikkan "kelas keahlian" mereka. 

Ternyata belum lama ini salah satu televisi swasta mengangkat tema Srimulat dalam acara Q & A - Srimulat, Riwayatmu Kini? Jika tertarik, siaran yang dipecah menjadi 6 bagian  tersebut bisa diintip melalui tautan bagian 1bagian 2bagian 3bagian 4, bagian 5bagian 6.
Hampir semua pencinta Srimulat sangat hafal lagu pembuka. Biasanya lagu diputar bersama dengan nama pemain. Pastinya selain saya, banyak yang mengira bahwa lagu itu khusus diciptakan untuk kelompok Srimulat.


Kelak saya tahu bahwa  lagu tersebut sebenarnya berjudul  "Whiskey And Soda" dibawakan oleh Roberto Delgado and His Orchestra yang sangat kental dengan irama Musik Rasta.

Walau  bisa dikatakan sebagai pelipur lara kenangan masa lalu, namun.banyak juga yang tidak diungkapkan dalam buku ini. Misalnya bagaimana Teguh menentukan siapa menjadi apa dalam tiap pementasan. Pembagian peran diantara mereka seperti apa, bagaimana pemilihan kisah, bahkan kenapa lagu "Whiskey And Soda" yang dipilih.

Pemilihan judul buku ini membuat saya tercenung. Apakah yang menyebabkan sampa penulis mencantumkan kalimat bahwa negara kita perlu diselamatkan? Tapi saya teringat salah satu bagian dari buku ini yang menyatakan bahwa aneh itu lucu, lucu itu aneh. Jadi.... ^_^ begitulah pahami sendiri ya.
 
Tapi lumayanlah untuk hiburan. Sepertinya tak ada kelompok yang mampu menyangi ketenaran Srimulat. Bahkan ketika kelompok tersebut sudah bubar, anggotanya masih bisa dikatakan eksis dalam dunia hiburan.  Sungguh tepat jika mengatakan membicarakan tentang dunia lawak kita maka tak akan lepas dari membicarakan Srimulat.

Sekedar iseng, mari kita renungkan kalimat Teguh Srimulat dalam buku ini. Tepatnya ada di halaman 166, "Segala sesuatu dapat dikomedikan. Masalahnya adalah tega atau tidak, tepat atau tidak."

Sumber gambar:
Buku Srimulatism, Selamatkan Indonesia dengan Tawa