Rabu, 05 Desember 2018

2018#26: Berjuanglah Terus Tella

 Judul asli:  Caraval #2: Legendary
Penulis: Stephanie Garber
Penerjemah: Jia Effendi
Penyunting: Yuli Pritania
ISBN: 9786023855544
Halaman: 484
Cetakan: Pertama-Oktober 2018
Penerbit: Noura Publishing
Harga: Rp 94.000
Rating: 3.25/5

Aku membuat kesalahan, Scar. Aku tidak pernah ingin merasakan ini terhadap siapa pun, tetapi kurasa aku sudah jatuh cinta kepada Legend.
~halaman 450~

Bertemu lagi dengan dua gadis cantik, Scarlett dan Tella. 
Banyak yang terjadi sejak  mereka ikut menjadi pemain di Caraval yang lalu. Meski Scarlett  berhasil memenangkan Caraval,  dengan pengorbanan yang besar pastinya, ternyata mereka masih harus berurusan kembali dengan sang Legend  pemilik Caraval.

Memenangkan permainan, kadang membuat pemenang harus membayar sesuatu yang bukan tak mungkin akan ia sesali kelak.  Bukan mustahil jika imbalan tersebut bahkan bisa membahayakan jiwa si pemain. Harga yang dibayar bisa lebih berharga, dibandingkan dengan apa yang mereka kira sangat mereka inginkan.  Tella seharusnya ingat akan hal tersebut ketika memutuskan untuk kembali ikut bermain dalam Caraval

Pemenang Caraval bisa membuat keinginan seseorang terwujud. Keinginan Tella  adalah menemukan sang ibu. Meskipun sudah tujuh tahun berlalu sejak ibu mereka, Paloma,  menghilang, Tella tak pernah berhenti berharap bisa bertemu

Begitu inginnya ia bertemu dengan sang ibu hingga yakin bahwa desas-desus yang ia dengar adalah benar. Sang ibu masih hidup di suatu tempat. Hanya dengan memenangkan Caraval, maka ia bisa bertemu dengan sang ibu,  begitu menurut sosok misterius yang selalu menyebut dirinya sebagai "seorang teman".

Ternyata urusan berkembang menjadi makin membahayakan keselamatan kedua gadis tersebut. Dalam lima hari, Tella tidak saja harus  menang, tapi juga memberikan nama asli Legend sebagai ganti informasi keberadaan sang ibu.

Sungguh bukan hal yang mudah mengingat di Caraval semua ilusi nyaris nyata. Tella harus sangat waspada agar tidak terhanyut dalam permainan yang mampu membuatnya kehilangan akal sehat. Itulah alasan mengapa banyak yang menyukai Caraval, fantasi yang menjadi nyata. Pada akhirnya, semua hanyalah permainan semata.

Celakanya, Tella nyaris melupakan hal tersebut. Terjabak dalam kebohongan yang dibuat tanpa sengaja, membuatnya  mendapat ciuman yang sepadan dari kematian.   Segalanya berubah, ia harus menang tidak hanya demiinformasi tapi juga nyawanya. 
Versi Bahasa China

Begitulah Caraval. Jalannya Caraval ternyata mirip jalannya takdir yang sering kali tak terduga. Banyak kejutan ditiap malam. Kawan dan lawan bisa satu sosok yang sama, musuh dalam selimut. Atau lawan yang mendadak berbaik hati. Jangan percaya pada siapapun, bahkan pada bayanganmu sendiri. Tak ada yang gratis di sana, semua ada bayarannya.

Dibandingkan dengan kisah pertama, kisah dalam buku ini lebih terasa menantang.  Bisa dikatakan dalam buku ini perkembangan karakter Tella sangat terlihat. Sementara sang kakak bisa dikatakan pemegang peranan yang kecil dalam kisah kali ini. 

Mungkin karena sosok Tella  awalnya selalu digambarkan sebagai gadis yang lebih spontanitas dan sering bertindak tanpa berpikir panjang. Jangan tantang dia, karena apapun resikonya ia  akan menerima tantangan tersebut. Singkatnya, Tella sangat bertolak belakang dengan kakaknya. 

Sementara dalam kisah kali ini,  untuk bisa menang ia harus bertindak cerdik dan hati-hati. Menyelaraskan antara hati dan pikiran. Celakanya, beberapa kali ia berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan karena sifat cerobohnya. Dan pastinya ia perlu memperhitungkan siapa saja yang layak dijadikan sekutu, dan siapa yang harus menajdi musuhnya.  
Versi Bahasa Bulgaria

Mengikuti perkembangan psikologis Tella yang unik, membuat pembaca tidak menyadari bahwa penulis menyisipkan banyak petunjuk dalam kisah. Misalnya mengenai siapa sosok Legend sebenarnya, siapakah yang selama ini menjadi sahabat misterius Tella.

Caraval bisa dikatakan merupakan sebuah kisah fantasi yang mengambil seting kisah tidak biasa (jelaslah, makanya disebut kisah fantasi he he he). Tempat kejadian bisa di mana saja, berpindah sesuai  dengan kehendak Legend, kali ini bukan di kapal lagi ya (ups.. bocoran).  Oh ya guna memnajkana pembaca dalam menikmati kisah, pada halaman awal sudah tersedia peta lokasi dimana kisah ini berlangsung.

Keunikan  utama kisah ini (bagi saya) ada pada racikan unsur psikologis yang diramu dengan apik. Bahkan urusan percintaan juga tidak sekedar menjadi ksiah romantis biasa. Bacalah, maka Anda akan bisa memahami apa maksud saya.

Dan sepertinya sangat tepat jika saya menggantikan Sang Legend mengucapkan, “ Selamat, selamat datang di Caraval, pertunjukan paling agung di daratan maupun lautan. Di dalam, kau mungkin akan bertatap muka dengan Takdir, atau mencuri potongan-potongan takdir-"


Mari kita tunggu buku selanjutnya.

Sabtu, 03 November 2018

2018 #25: Ssst..., Ada Yang Membuat Lubang Di Kebun

Judul asli: The Hole
Penulis: Pyun Hye-Young
Penerjemah: Dwita Rizki
ISBN:9786026486219
Halaman: 241
Cetakan: Pertama-Juli 2018
Penerbit: Baca
Harga: Rp 75.000
Rating: 3.45/5

“Seperti ikan mas? Pasti Indah.”
“Memang yang hidup itu indah? Mereka menjijikkan. Mereka akan berusaha mati-matian untuk bertahan hidup di lubang sempit itu…”

Perempuan sering menjadi titik balik dalam kehidupan Oh Gi, begitu kalimat pembuka buku ini. Sebagai pembaca, saya seketika menebak urusannya mungkin terkait ibu dan kekasih. Entah bagaimana keduanya memegang peranan besar dalam kehidupan Oh Gi.

Mungkin saja keduanya bersekutu dalam banyak hal sehingga membuat Oh Gi merasa tersisih,  layaknya kisah kedekatan menantu-mertua. Atau sebaliknya.  Kurang begitu dugaan sok tahu saya he he he, maklum  saya bukan tipe pembaca  yang hobi membaca blurd.

Apa? Dari pada saya tahu buku ini bagus tanpa membaca blurd? Pastinya saya mengintip ratingnya di sini. Tempat yang terpercaya Selanjutnya saya melihat siapa yang merekomendasikan buku ini. Nama-nama yang memiliki selera bacaan canggih. Terakhir, saya selalu percaya pada naluri ketika pertama kali melihat judul di kover buku ini.

Ternyata dugaan saya tidak seluruhnya salah. Perempuan yang dimaksud dalam kisah ini adalah istri dan ibu mertuanya.  Memang ada bagian yang mengisahkan tentang ibu Oh Gi, tapi porsinya hanya sekedar memberikan gambaran mengenai latar belakang sosoknya, hingga kurang begitu berpengaruh pada kisah.

Tokoh utama kisah ini, Oh Gi adalah seorang pria yang bisa dikategorikan biasa-biasa saja.  Kariernya cenderung datar, demikian juga kehidupan sosialnya. Pertemuan dengan sang istri, hingga menikah bisa dikatakan merupakan hal yang paling baik yang pernah ia lakukan. Dalam beberapa bagian, terlihat sekali keduanya memiliki kepribadian yang  bertolak-belakang.
 
Istrinya  sebagai contoh, tahu persis apa yang diinginkan, dan ia yakin bahwa memang itu keinginannya. Hanya, meski begitu menginginkan ternyata ia tak dapat mewujudkan keinginan tersebut. Walau begitu, ia tetap bangkit. Perlahan, sang istri mulai berkompromi dengan diri sendiri sehingga paham mana yang keinginannya, dan mana yang hanya ambisi semata. Sementara Oh Gi berusaha keras tanpa henti untuk bisa menjadi pengajar biasa pada usia yang bisa dikategorikan sedang.

Suatu ketika, keduanya sepakat untuk membeli sebuah rumah yang  memiliki halaman lumayan luas. Sepertinya semula merupakan keinginan sang istri yang dengan terpaksa disetujui oleh Oh Gi. Belakangan, ia harus mengakui jika bukan karena sang istri, mereka tak akan bisa  memiliki rumah di kawasan mewah yang memiliki halaman luas  dengan harga terjangkau. Seketika, sang istri jadi memiliki hobi berkebun.

Dengan alur maju-mundur, pembaca akan dibawa pada kisah mengenai suatu peristiwa yang membuat Oh Gi hanya bisa berbaring di ranjang. Bukan sang istri yang merawatnya, tapi sang ibu mertua, satu-satunya keluarga yang sekarang ia punya. Semula memang ada perawat yang menjaga. Kadang sang ibu  mertua datang,  bertanya keadaannya. Tapi pada akhirnya hanya ada sang ibu mertua.

Dari tempatnya berbaring, Oh Gi  bisa melihat kebun yang sekarang menjadi tak terurus.  Padahal dulu ia dan sang istri berusaha menjadikan kebun tersebut sebagai tempat yang indah. Bahkan mereka beberapa kali mengadakan acara di sana. Betapa terkejutnya ia ketika melihat ada beberapa pekerja sedang membuat lubang di sana atas instruksi ibu mertuanya.

Beberapa waktu belakangan, sebenarnya Oh Gi mulai merasa ada yang aneh dengan sikap sang ibu mertua. Ia menemukan banyak barang milik sang ibu sudah berada di rumahnya. Belum lagi kadang sang ibu mertua masuk ke dalam kamar lalu menatapnya lama. Ia merasa khawatir. Timbul rasa was-was apakah sang ibu mertua menyimpan dendam padanya karena ia selamat, sementara sang istri yang merupakan anak tunggal justru meninggal.  Atau, semua hanya praduganya semata.

Berbagai upaya menyampaikan rasa keanehannya malah ditanggapi lain oleh banyak pihak. Mereka justru merasa seharusnya Oh Gi bersyukur ada ibu mertua yang merawatnya.  Rasa penasaran dan ketakutannya, menjadi sebuah kekuatan yang membuatnya mulai mampu bergerak walau sedikit.

Selanjutnya? Apa yang sebenarnya sedang diperbuat oleh para pekerja di halaman? Untuk apa lubang besar tersebut? Beli dan baca makanya he he he!

Secara garis besar, kisah ini cukup menegangkan. Pembaca diajak memandang dunia dari sisi seorang yang tak bisa bergerak. Dunia Oh Gi berubah hanya sebatas tempat tidurnya saja. Komunikasi yang ia lakukan hanyalah  melalui kedipan mata. Bayangkan betapa tersiksanya dia ketika ada hal yang butuh penjelasan, tidak cukup hanya dengan satu kedipan untuk iya dan dua kedipan untuk tidak.

Pesan moral yang bisa kita petik antara lain mengajak pembaca bersyukur akan kondisi diri yang dapat bergerak bebas. Masih dapat beraktivitas dengan leluasa dan berkomunikasi dengan baik. Baik melalui pembicaraan atau bahasa isyarat.  Dari yang bisa bergaul dengan leluasa, sekarang hanya bisa merasakan kesendirian. Kita lebih beruntung! Setidaknya  hidup tidak tergantung pada orang lain.

Akhir kisah bisa bermakna ganda, tergantung pada penafsiran dan imajinasi pembaca. Bagi saya, sosok ibu mertua Oh Gi justru yang membuat kisah menjadi seru! Sosoknya yang berkesan misterius, berpenampilan tenang sekaligus dingin ditambah keahliannya membuat orang tidak nyaman dengan ucapannya, jelas bukan tipe mertua yang diharapkan mengurus diri yang sedang lumpuh. Terbayangkan bagaimana perasaan Oh Gi.

Perihal akhir kisah, mungkin saya malah membayangkan sang ibu membuat lubang untuk menuntaskan urusan di halaman 214. Atau bisa juga memang punya niat jahat pada Oh Gi. Dendam karena anak semata wayangnya meninggal dan ia harus mengurus Oh Gi sendirian diusia yang tidak muda lagi. Siapa yang bisa menebak hati orang. Bagaimana akhir kisah ini menurut Anda?

Lalu kenapa saya memberikan bintang 3.45/5 untuk kisah yang sukses masuk dalam daftar 10 Novel Thriller Terbaik Versi Majalah Time tahun 2017, dan menjadi nominasi penerima pengharaagn Shirley Jakcson Award tahun 2017? Kekurangan buka pada alur cerita, atau pada alih bahasa yang kurang pas.  

Sebenarnya karena saya sebal ketika membaca blurb (untuk yang lupa apa itu blurb, bisa dilihat pada tautan berikut). Seakan sudah diberi tahu bocoran kisah. Keteganganya jadi agak berkurang, rasa penasaran menguap sebagian. Rasanya seperti ada yang orang yang bercerita mengenai akhir sebuah buku yang sedang kita baca. Atau akhir film yang sedang kita tonton. Menyebalkan rasanya!

Cukup menengangkan!


Sumber gambar:
http://goodreads.com




Senin, 29 Oktober 2018

2016#24: Kisah Tentang Menjadi Ibu


Judul asli: Hush Little Baby
Penulis: Anggun Prameswari
Penyunting: Jia Effendi
Penyelaras aksara: Nunung Wiyati
ISBN: 9786023853816
Halaman: 340
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 79.000
Rating: 4/5


Kukira semua perempuan ingin menjadi ibu
Aku tidak mau jadi ibu
Kenapa aku harus menjadi ibu?
Bagaimana aku tahu caranya jadi ibu, tanpa ada Ibu di sini
Aku butuh Ibu untuk mengalami bagaimana caranya menjadi ibu

Pertama kali melihat buku ini, langsung  jatuh hati. Padahal saya bukan penggemar  berat kisah urban thriller, bagaimana buku ini dikategorikan. Pastinya juga bukan penggemar warna merah, dominasi warna pada kover.

Ada dua hal yang membuat saya tertarik pada buku ini, eh tiga sebenarnya. Pertama kata “ibu” yang tercetak pada kover.  Segala sesuatu terkait ibu pastilah hal yang luar biasa. Kedua, nama  “Anggun Prameswari” entah bagaimana rasanya saya  akrab dengan nama itu. Semula saya mengira itu adalah salah satu sahabat buku saya di Blogger Buku Indonesia-BBI, ternyata salah. Hanya sama-sama berawalan Anggun saja. Ketiga, buku ini penerbit kesayangan saya, membaca nama yang ikut membidani buku ini, minimal sudah bintang tiga. Berarti masuk kategori buku yang terjamin mutunya.

Tokoh  dalam kisah ini jelas perempuan,hal ini terihat dari kalimat yang ada di kover. “…, bagaimana aku bisa menjadi seorang ibu?” Ada beberapa tokoh wanita dalam buku, tiga yang utama adalah Ruby, anaknya bernama  Gendhis,  dan Bibi Ka. Selain mereka masih ada ibu mertua Ruby, Bunda Alana, Rajata suami Ruby (yang ini jelas laki-laki ^_^), serta beberapa tokoh lain yang meskipun kurang mendapat peranan dalam kisah namun justru keberadaannya menjadi penghubung para tokoh.

Menjadi ibu ternyata tidaklah mudah, setidaknya begitu menurut Ruby. Trauma masa lalu membuatnya tidak ingin menjadi ibu. Ketika ia akan menikah dengan Rajasa,  ia sudah mengatakan bahwa ia tidak ingin memiliki anak, ia tak mau menjadi ibu. Suatu hal yang sangat aneh menurut Rajasa. Setiap perempuan pasti ingin menjadi ibu, begitu perkiraan Rajasa.

Meski sudah berusaha untuk tidak menjadi hamil dengan minum pil kontrasepsi, ternyata Ruby tetap hamil. Mungkin ada saatnya ia lupa atau mungkin pilihan untuk mengendalikan kehamilannya kurang tepat. Faktanya ia hamil dan akan segera menjadi ibu.

Masa  hamil, hingga melahirkan,  lalu membawa bayi perempuan yang diberi nama Gandhis, dilewati Ruby dengan berat. Karena berulang kali ia merasa tak layak menjadi ibu. Alam bawah sadarnya merasa takut jika ia tak cukup pantas menjadi ibu. Butuh  waktu dan proses yang melelahkan untuk akhirnya ia mulai bisa menerima sang anak perempuan.

Ternyata urusan tak selesai begitu saja. Tidak cukup dengan Ruby menerima kenyataan ia telah menjadi ibu. Beberapa peristiwa membuatnya dianggap membahayakan bagi sang bayi. Hingga dengan alasan demi keamanan sang bayi, Ruby diharapkan menjauh. Ia bahkan diminta tidur di kamar terpisah dengan sang suami dengan alasan guna menenangkan diri.

Mencermati bagaimana sikap Ruby setelah  melahirkan, bukan tidak mungkin ia mengalami apa yang disebut dengan Baby blues. Pada  https://www.cussonsbaby.co.id disebutkan bahwa  Baby blues  juga dikenal sebagai postpartum blues atau postpartum distress syndrome, ini adalah perasaan emosional yang dirasakan Bunda setelah melahirkan. Jika Bunda baru saja melahirkan dan merasa mudah menangis, mudah tersinggung, dan sedikit tertekan, kemungkinan Bunda mengalami sindrom “baby blues”

Selanjutnya juga disebutkan bahwa perbedaannya ialah, jika postpartum depression akan berlangsung lebih lama, lebih kuat, dan lebih keras gejalanya. Bunda akan merasakan rasa sedih yang berlebih, cemas yang sangat dalam dari biasanya.  Mungkin ada ibu yang mengalaminya, namun ada juga yang tidak.  Ruby bisa dikategorikan berada dalam kondisi mengalaminya. 

Lalu bagaimana Ruby mengatasinya?
Makanya beli dan baca sendiri kisah ini he he he.

Sedikit  bocoran, saya kira ini kisah tentang Riby semata, ternyata bukan! Harusnya Saya mulai curiga ketika membaca uraian di halaman 300-an.Bodoh! Petunjuk sejelas itu bisa terlewatkan.

Jika Anda menyebut Ruby merupakan sosok  yang jahat karena tidak ingin memiliki anak, maka tunggu hingga Anda membaca tuntas kisah ini.  Ada yang lebih jahat! Meski pada kahirnya tetap kebaikanlah yang meneng (begitulah salah satu pesan moral dari kisah ini, kebaikan bagaimana juga akan selalu menang).

Umumnya kisah terkait ibu adalah bagaimana seorang ibu berjuang demi anaknya. Buku ini kurang lebih sama, hanya perbedaannya adalah kondisi traumatik Ruby yang membuatnya menolak menjadi ibu pada mulanya. Namun kasih sayang dan naluri keibuannya jugalah yang membuatnya mampu bangkit dari bayang masa lalu dan berusaha menjadi ibu terbaik. Ini kisah tentang anak perempuan yang berusaha menjadi ibu terbaik bagi anak perempuannya.

Cara penulis bercerita cukup unik. Tiap awal bab baru, pasti akan dimulai dengan kalimat”-Aku, xx tahun.” Polanya maju-mundur. Dimulai ketika tokoh utama berusia 30 tahun lalu mundur pada usia 12, 15, terus bergantian. Hingga penghujung kisah memunculkan kisah ketika tokoh berusia 16 tahun.

Saat tegang membaca kisah, mendadak muncul kalimat yang membuat saya tertawa. Batal deh tegangnya. Kalimat  pada halaman 241 bertuliskan, ".... Yang kamu lakukan kepadaku, benar-benar jahat." Paham dong maksud saya.

Sementara uraian di halaman 74, lumayan membuat kembali ingatan pada kondisi ketika saya hamil. Bagian ini perlu dibaca oleh para calon ibu dan bapak agar mereka bisa mengetahui kondisi seperti apa yang akan dihadapi kelak.

Satu yang masih membuat saya menasaran, kenapa penulis mengambil judul Hush Little Baby untuk buku ini.  Judul tersebut mirip dengan salah satu satu lagi pengantar tidur tradisional dari Inggris. Juga sama dengan judul film yang diputar pada tahun 2007.

Secara garis besar, buku ini layak dibaca oleh semua golongan. Anak muda diharapkan makin mencintai dan menghormati ibunya selesai membaca buku ini. Mereka yang  merupakan warga senior dan masih memiliki ibu, akan makin menghormati dan mencintainya. 

Ada baiknya penulis juga menyelipkan pesan agar kaum muda tidak bersikap sembarangan dan bersikap ekstra hati-hati pada alat reproduksi mereka. Kisah ini bisa dijadikan contoh.

Sekedar pesan, jangan bersikap sok tahu pada akhir kisah. Karena penulis dengan cerdik membuat seakan-akan kita hanya terpaku pada sebuah kisah saja. Padahal ada beberapa kisah yang muncul dalam buku ini. Saya harus mengulang membaca beberapa bagian akhir karena  terlalu tegang hingga melewatkan beberapa hal. Seru! 

Selesai membaca kisah ini, saya jadi ingat pada buku bertema Harry Potter yang belum lama saya baca.  Disebutkan bahwa salah satu ketakutan Herry adalah ia tak bisa menjadi ayah yang baik, karena ia tak  tahu bagaimana melakukannya. Ia tak memiliki semacam role model untuk ditiru.  Demikian juga yang dialami oleh tokoh kita Ruby, ia hanya merasakan betapa sang ibu sangat membencinya.

Jika ingin mengenai lebih lengkap mengenai buku ini, serta tertarik memiliki namun mager keluar rumah saat musim hujan begini,  silakan berkunjung ke situs resmi penerbit di sini.   Ayo kita menyanyi lagu bertema ibu.