Minggu, 28 Januari 2024

2024 #2: Misteri Rumah Aneh

Judul asli: Teka-Teki Rumah Aneh
Penulis: Uketsu
Alih bahasa: Eri Pramestiningtyas
Editor: Juliana Tan
ISBN: 9786020669960
Halaman: 224
Cetakan: Pertama-2023
Penerbit: PT Gramedia Pustaka
Harga: Rp79.000
Rating: 3.25/5

Apakah kau menyadari ada yang aneh pada pada rumah ini?
-Teka-Reki Rumah Aneh-

Dalam rangka menyambut kehadiran anak pertama, sepasang suami-istri memutuskan untuk membeli sebuah rumah.  Ketika melihat-lihat rumah yang ditawarkan, semula mereka menyukainya.

Namun yang menjadi ganjalan, bukan kondisi rumah maupun lingkungan, tapi tata letak ruang yang ada dalam rumah dua lantai tersebut. Terdapat ruang misterius di lantai satu, letaknya antara dapur dan ruang tamu.  B
elakangan malah ditemukan potongan mayat tanpa tangan kiri di dekat rumah tersebut. Seram!

Pasangan yang semula merasa tertarik membeli, meminta bantuan salah satu sahabatnya-dalam kisah ini menjadi narator,  untuk menyelidiki keanehan rumah tersebut. Karena merasa kurang paham  dunai arsitektur, ia meminta bantuan seorang arsitek bernama Kurihara-san, yang juga menyukai hal-hal berbau horor. 
https://www.goodreads.com/
book/show/199172713

Desain rumah yang aneh serta ditemukannya potongan tubuh manusia, menjadi inti kisah dalam buku ini. Kenapa desain rumah dibuat seperti itu? Apa manfaatnya? Kenapa penghuni rumah sebelumnya pergi begitu saja tanpa pemberitahuan? Siapa sosok anak laki-laki berwajah pucat yang dilihat tetangga  berdiri di jendela rumah?

Buku yang terdiri dari  4 bab ini menawarkan kisah yang disampaikan dengan cara unik. Bab pertama berjudul Rumah Aneh serta kedua-Denah Tak Lazim,  berkisah tentang desain rumah yang tak lazim.

Bab ketiga-Tata Letak Ruang dalam Ingatan, serta bab keempat, Keluarga yang Tebelenggu, mengisahkan tentang alasan mengapa desain rumah tersebut aneh, Termasuk jawaban misteri terkait kehidupan penghuni rumah tersebut.

Nyaris pada tiap halamannya tertera denah rumah, sehingga pembaca bisa berimajinasi.  Ditambah dengan semacam dialog antara narator-disebut aku,  dengan beberapa tokoh, membuat buku ini menjadi lebih cepat selesai dibaca dari yang saya perkirakan. 
https://www.goodreads.com/
book/show/62898936

Obrolan antara Aku dan Kurihara-san, misalnya, membuat pembaca berimajinasi tentang apa sebenarnya manfaat ruangan yang tak lazim dalam rumah itu, serta alasannya dibuat. 

Rasanya seru juga jika dalam dunia nyata ada 2 orang yang bisa dengan santai asyik bercakap-cakap tentang misteri seperti mereka berdua.

Dari awal, jika dicermati, penulis sudah memberikan petunjuk mengenai kegunaan ruang misterius yang ada di rumah itu. Sayangnya, saya malah mengira itu hanyalah imajinasi liar dari percakapan Aku dan Aku dan Kurihara-san.

Secara keseluruhan, buku ini menarik untuk dibaca, terutama bagi para menikmat kisah misteri. Jika teman-teman menyukai Conan dan Kindaichi, anggap saja ini salah satu modifikasi kisah mereka. Entah kenapa, saya menganggapnya sebagai Misteri Pembunuhan Ruangan tertutup, padahal tidak ada yang dibunuh di dalam ruangan he he he. 

Meski demikian,  gabungan antara cara penulis merangkai kata, dan imajinasi yang ditawarkan membuat pembaca mengharapkan jawaban atas misteri yang tidak biasa. 

Apalagi ketika terjadi ditemukan sebuah rumah dengan disain yang nyaris serupa, memiliki ruangan misterius. Misteri semakin berkembang, apakah kedua rumah tersebut berkaitan sama dengan lainnya?

https://www.goodreads.com/
book/show/156723825
Sayangnya jawaban atas semua misteri terlalu sederhana dan agak tak masuk akal. Tapi mungkin saja di Jepang-tempat novel ini berasal, hal tersebut umum terjadi. Padahal imajinasi saya terkait rumah yang dibuat dengan tata letak tak lazim ini sudah berkembang liar. 

Pada beberapa bagian, sepertinya misteri yang ada belum dipecahkan secara tuntas. Entah karena penulis sengaja membiarkan pembaca menemukan jawaban berdasarkan imajinasinya sendiri, atau memang dianggap tidak perlu untuk dibahas kembali.

Kadang, kepercayaan pada suatu hal melekat begitu kuat dalam benak seseorang. Jika sudah begitu, ia akan melakukan hal apa saja yang dirasa perlu atas nama keyakinan. Meski hal tersebut membahayakan nyawa orang lain, dan sangat tidak masuk akal. Begitukah kehidupan.

Sumber gambar:
https://www.goodreads.com




























Selasa, 16 Januari 2024

2024:#1: Kisah Pak Tua Pengantar Buku Dan Gadis Kecil Bermantel Kuning

Judul asli: Door-to-Door Bookstore
Penulis: Carsten Henn
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Penyunting: Jia Effendie
ISBN: 9786026486998
Halaman: 302
Cetakan: Pertama-Oktober 2023
Penerbit: BACA
Harga: Rp 99.000
Rating: 4.5/5

Juru Antar Buku tanpa buku yang diantar dan kaki berjalan sungguh tidak bermakna
-Door to Door Bookstore, hal 270-

Para penikmat buku dari sebuah  kota yang terletak di selatan Jerman, mengenal sosok Carl Kollhoff, pria berusia 72 tahun yang mengenakan pakaian hijau dan topi kain, sebagai seorang Juru Antar Buku.

Setiap pukul 7 malam, setelah Toko Buku Gerbang Kota tutup, ia akan memulai patroli mengantarkan buku-buku pesanan dengan berjalan kaki mengelilingi kota.

Para pelanggan yang memesan buku sangat menikmati buku yang direkomendasikan oleh Carl. Mereka juga orang-orang yang dengan berbagai alasan tidak ingin meninggalkan rumahnya. Kehadiran Carl merupakan satu-satunya penghubung dengan dunia luar. 
Tanpa ada yang tahu, Carl memberi nama julukan bagi tiap pelanggannya sesuai dengan nama tokoh dari buku yang ia anggap sesuai karakter pelanggannya.

Suster Maria Hildegard merupakan salah satu pelanggannya. Ia adalah penghuni terakhir di biara. Setelah 519 tahun berdiri, Vatikan memutuskan agar  Ordo Benediktin dibubarkan, Suster Maria menolak untuk meninggalkan biara.  

Pihak  keuskupan telah melakukan berbagai upaya. Undang-undang gerejawi melarang adanya gusuran secara paksa, namun jika Suster Maria keluar atas kemauannya sendiri, ia tak bisa masuk kembali. Karena tak berani menanggung risiko,  alih-alih pergi ke toko buku,  Suster Maria memesan buku dengan mempergunakan jasa carl.
https://www.goodreads.com/
book/show/62016445

Carl bisa dikatakan menjalani kehidupan dengan bahagia. Ia menjalani hari-hari dengan melakukan hal-hal yang ia sukai. Bagi banyak orang, mungkin apa yang ia kerjakan tidaklah penting, layanan yang ia berikan dianggap tidak berguna dan sudah ketinggalan zaman, setidaknya begitu menurut Sabine Gruber-pemilik toko buku tempat Carl bekerja.

Begitulah  kehidupan, kadang terjadi perubahan yang tak terduga membawa perubahan dalam kehidupan. Suatu ketika, saat sedang menjalankan rutinitas mengantar buku, Carl bertemu dengan seorang anak perempuan berusia 9 tahun yang mengaku bernama Schascha, Tanpa alasan yang jelas, ia  bersikeras menemani Carl dalam mengantar buku.

Sepanjang perjalanan, Schascha banyak bertanya, sehingga membuat Carl mulai memikirkan banyak hal yang selama ini tak pernah ia pikirkan. Semula  ia merasa khawatir pelanggannya akan terganggu dengan kehadiran Schascha. Sekarang  Carl justru  merindukan keberadaan Schascha. 
Aku juga mengantarkan buku-buku yang tidak kusukai, atau yang tidak berkesan bagiku. Kau tahu, tidak semua buku cocok untuk semua orang. Tapi bahkan buku terbodoh pun bisa mematik pemikiran. Sedikit kebodohan tidak akan  membahayakan. Kau hanya perlu memastikan bahwa kebodohan iti tidak lepas kendali dan tersebar
-hal 160-
Pada akhirnya, Carl memang harus kehilangan banyak hal. Sahabatnya sekaligus mantan pemilik buku tempat ia bekerja, koleksi bukunya, hingga tugas  sebagai Jasa Antar buku.  Bahkan Schascha juga sempat mengilang sehingga membuat Carl kebingungan mencarinya.  Sebagai penggila buku, membaca bagian ini sungguh membuat hati terasa pedih.

Saya teringat ketika memutuskan keluar dari perpustakaan tempat saya bekerja lebih dari 10 tahun. Meninggalkan tempat kerja impian walau untuk sebuah mimpi yang lebih besar, tetap saja menorehkan luka di hati.

Syukurlah, semuanya berakhir baik bagi Carl. Ia mendapatkan banyak dukungan dari banyak pihak untuk dapat melakukan sesuatu yang membuatnya kembali bersemangat hidup. Dan semuanya berkat campur tangan Schascha.
https://www.goodreads.com/
book/show/59593827

Buku setebal 302 halaman ini tak hanya berkisah tentang bagaimana Carl menjalani hari-hari sebagai seorang Juru Antar Buku, namun juga menceritakan perkembangan karakter tokoh lain. Serta banyak yang bisa dijadikan bahan diskusi dengan sesama penggila buku.

Misalnya bagaimana Suster Maria pada akhirnya memutuskan meninggalkan biara atas nama kemanusian demi menolong seorang istri yang berulang kali mengalami KDRT, atau tentang seorang pemalu  bersuara merdu yang mendadak menjadi mampu bicara di hadapan khalayak ramai.

Bahkan pembaca juga bisa mengetahui mengapa Sabine Gruber selama ini selalu bersikap seolah-olah berusaha menjauhkan Carl dari ayahnya, hingga tidak memberi izin Carl untuk datang ke pemakaman sang ayah. 

Seandainya saya adalah Sabine Gruber, mungkin saja saya akan berbuat hal serupa setelah mengetahui dan mencoba memahami alasannya berbuat demikian pada Carl. Kadang kita bisa terkejut jika mengetahui bagaimana sesungguhnya isi hati seseorang.

Membaca kalimat yang tertera di halaman 19, membuat saya teringat perdebatan yang lumayan sering terjadi antara penggemar buku fisik dengan buku digital.
Buku cetak adalah sarana terbaik untuk mengabadikan pikiran dan cerita, menjaganya agar tetap segar hingga berabad-abad.
Bagi saya pribadi, semuanya tergantung pada individu masing-masing. Saya lebih memilih buku cetak karena merasa lebih nyaman, terutama ketika harus memberi tanda pada hal-hal yang dirasa penting.

Seperti yang dirasakan oleh Carl, dia mendapatkan kenyamanan dengan menyapukan ujung jemarinya di kertas dan dengan lembut membolak-balik lembarannya. Mungkin suatu saat saya juga akan sama sukanya dengan buku digital, siapa tahu? 

Atau percakapan antara Carl dengan Gustav  Gruber,  mantan atasannya. Menurut Gustav, banyak membaca tidak akan membuat seseorang menjadi intelektual. Banyak yang menganggap bahwa membaca buku tertentu akan memingkatkan intelektual seseorang. 

Bagi saya, membaca apa saja akan membawa dampak baik bagi diri kita. Bahkan membaca komik dan novel sekalipun. Karena dalam setiap bacaan pasti ada hal positif yang bisa kita ambil hikmahnya.

Dalam buku ini, Carl  menggolongkan pembaca  menjadi 3 golongan,  kelinci, kura-kura, dan ikan.  Golongan ikan adalah pembaca yang membiarkan dirinya terseret arus buku, dengan laju cepat dan santai. 

Kelinci adalah pembaca cepat, sigap melalap isi buku, namun dalam waktu singkat melupakan apa yang mereka baca beberapa halaman sebelumnya dan terus-menerus membalik halaman ke belakang untuk mengingat apa yang telah dibaca sebelumnya.

Sementara kura-kura juga membaca ulang halaman yang sudah lewat karena mereka membaca begitu lambat, dan membutuhkan waktu bulanan untuk menamatkan sebuah buku
https://www.goodreads.com/
book/show/62016445

Hem..., saya sepertinya adalah pembaca ikan. Namun jika buku yang saya baca ternyata kurang menarik (padahal awalnya saya begitu antusias membaca), saya bisa berubah menjadi kelinci atau ikan. Bagaimana dengan Anda?

Penulis kisah ini, memasukan Trio Detektif dan Lima sekawan dalam sebuah paragraf di halaman 272. Hanya sebuah paragraf namun mampu membangkitan memori masa kecil. Dalam situasi seperti yang  dialami Schascha, saya sepertinya juga akan bertindak hal yang sama.

Agak terkejut juga menemukan kalimat ini di halaman 30, "Saya membawakan buku barAndatuk Anda."  Saya menyakini ini adalah kesalahan ketika melakukan setting untuk dicetak, maafkan saya kurang tahu apa istilahnya. Karena tak mungkin sekelas Mbak Ian dan Sis Jia bisa melewatkan hal seperti ini. Terpaksa menurunkan 0,5 poin. 

Buku ini sangat cocok untuk dibaca dan menjadi koleksi mereka yang menyukai buku dengan tema buku, juga para penggila buku. Cocok juga dihadiahkan bagi mereka yang baru mulai tertarik untuk membaca. 

Untuk urusan kover, saya agak kurang suka dengan jaket buku. karena sosok Carl digambarkan menggunakan baju biru (entah kalau itu dianggap hijau). Pada kover, lebih mendekati imajinasi saya tentang Carl dan Schascha, terpenting lebih mendekati narasi yang ada dalam buku.

Saya sangat sepakat dengan kalimat pembuka dan juga yang tertera pada akhir buku, karena buku memerlukan seseorang untuk menunjukkan jalan. Mari berterima kasih pada mereka yang sudah membuat buku ini bisa berada dalam rak buku kita.

Sumber Gambar:
https://www.goodreads.com