Kamis, 18 April 2019

2019#8: Kisah Setan Van Oyot


















Judul asli: Setan Van Oyot, Sebuah Roman Picisan
Penulis: Djokolelono
ISBN: 9789791260855
Halaman: 293
Cetakan: Pertama-2019
Penerbit: Marjin Kiri
Harga: Rp 89.000
Rating: 4/5

Rezeki itu sudah ditentukan dari atas sana.
Kalau sudah digariskan menjadi milik Anak Nederland, kenapa mesti dibuat iri, ingin dimiliki juga. Mungkin berhasil, tetapi akan membuat kesal si Pembuat Hidup, karena itu menyalahi garis-NYA. Teladani perilaku utama orang besar dari Ngeksiganda. Berusahalah selalu ngenaki tyasing sesama, mengenakkan perasaan orang lain. Perilaku andap asor, merendah, bukan hanya merendah terhadap sesama, tetapi merendah kepada Gusti, tunduk kepada semua kehendak-NYA.
~Setan Van Oyot, Sebuah Roman Picisan, halaman 171~

Eyang bikin buku dewasa, serius?
Ada keheranan yang timbul. Harap maklum, s
ejak pertama kali mengenal penulis yang satu ini, buku yang dibuat jika tidak bertema anak-anak pastilah remaja. Meski genrenya beragam, ada misteri, petualangan hingga silat.  Jadi bisa dikatakan ini merupakan buku dewasa pertama beliau, semoga bukan yang terakhir ya.

Kadang sebuah peritiwa yang terjadi bisa menjadi ide untuk munculnya sebuah novel, demikian juga buku ini. Sebuah peristiwa penyerangan terhadap salah satu tokoh masyarakat hingga mengakibatkan luka pada matanya, membuat kata Van Oyot muncul hingga berkembang menjadi sebuah kisah.  Bagi mereka yang berteman di FB dengan Eyang Djoko, Tentunya paham maksud saya.
 
Secara garis besar, pembaca akan menemukan beberapa kisah dalam buku ini. Tentang seorang Sinyo-tuan muda yang sengaja datang dari Belanda untuk mencari sang ayah. Sering ia melihat ibunya menangis pada malam hari, menahan rindu. Timbul keinginan untuk mencari sang ayah dan berupaya agar keduanya bisa  bersatu kembali.

Ada  juga kisah mengenai seorang wanita muda yang begitu berambisi untuk bisa menjadi istri orang Belanda. Baginya menjadi nyonya Belanda akan menjamin kehidupannya hingga akhir hayat.  Cinta terabaikan atas nama kemapanan hidup. 


Tak sengaja perkataan seorang pria yang dianggap mediator warga dengan Kiyai Oyot membuatnya galau. Padahal pria itu sendiri sedang menjalin kisahnya yang belum jelas bagaimana akhirnya.   Dilain sisi, seorang  nona Tionghoa pewaris usaha perkebunan cokelat  kaya raya yang baru merasakan cinta,  sedang menyusun kisahnya sendiri. 

Selanjutnya terdapat kisah tentang kehidupan seorang sinder (semacam pengawas perkebunan) yang begitu bersemangat memperkaya diri, hingga memanfaatkan acara Pesta  Ulang Tahun Ratu Belanda  untuk kepentingannya. Sungguh kebetulan, sang istri menyukai judi. Keduanya sama-sama membutuhkan uang namun dengan tujuan yang berbeda.

Sosok detektif partikelir misterius menjadi penambah ramai kisah. Keberadaannya yang serba misterius, jaringan mata-mata dan sumber informasi yang akurat membuatnya mampu menyelesaikan masalah dalam waktu singkat. Sebagai manusia, sifat tamak muncul menggodanya. Kehidupan memang penuh dengan banyak kejutan.

Beberapa tokoh dan kisah,  dengan apik direkat dengan keberadaan sebuah pohon beringin besar yang akarnya menjulur-julur panjang sekali hingga menutupi sekeliling pohon. Nyaris membentuk batang-batang baru. Konon bijinya dibawah oleh letusan Gunung Kelud. Kondisinya yang demikian membuat orang-orang menyebutnya sebagai Kiyai Oyot-oyot, akar. 

Keberadaan pohon tersebut dianggap keramat bagi warga setempat, namun pagi pemerintah dianggap menjadi krikil pengganjal bagi kesuksesan penyelenggaraan Pesta Ulang Tahun Ratu Belanda. Pohon tersebut dianggap membuat lahan  menjadi sempit serta memberikan kesan suram dan gelap.

Bagaimana pun caranya pohon tersebut harus disingkirkan.  Sayangnya berbagai usaha  untuk menumbangkannya selalu berakhir dengan kegagalan dan peristiwa misterius yang membuat warga semakin takut untuk menyingkirkannya. 

Pihak pemerintah semakin kelabakan! Waktu perayaan kian dekat. "Kita balas. Minta bantuan perkebunan, Minta mereka mengirimkan ahli tanaman mereka. Mereka biasa mematikan tetumbuhan yang tak dipakai. Kita racuni si Oyot itu. Pasti ada. Yang dalam tiga bukan bisa membuat pohon itu terguling."

Kisah bergulir.
Berakhir dengan begitu saja,  namun percayalah banyak hal-hal unik yang  sengaja diselipkan oleh penulis. Beberapa tokoh ternyata juga saling berhubungan. Terkesan serba kebetulan ala sinetron kita ^_^. 
Pembaca harus cermat membaca petunjuk yang ada, jangan tertipu dengan kisah yang seakan picisan.

Oh ya, pada awalnya, saya agak heran kenapa kisah ini diberikan kata picisan. Padahal jika membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia,  cerita roman yg rendah mutunya (hanya berisi cerita percintaan saja). Rasanya tak mungkin seorang Djokolelono membuat kisah yang kurang bermutu. Kembali, ternyata ada hal-hal lain yang disembunyikan. Dasar Bocah Tua Nakal!

Penulis banyak menyelipkan  petuah kehidupan  dalam kisah ini.  Dikemas dalam bentuk kisah yang menarik dan jauh dari kesan menggurui. Misalnya kalimat yang ada di halaman 159.
Kudu andap asor  
Wani ngalah duwur wekasane
Tumungkula yen dipun dukani
Bapang den simpangi
Ana catur mungkur
Pembaca diajak bersikap mawas diri agar bisa menjadi manusia unggulan. Caranya pertama dengan selalu merendah,  tapi bukan rendah diri. Kedua, berani mengalah, agar kelak mendapat tempat yang tinggi. Ketiga, tundukkan kepalamu jika sedang mendapat teguraan. Keempat, hindari pertentangan. Terakhir, jangan sampai diri terlibat desas-desus. Hal yang mudah dikatakan, namun susah dilakukan ya.

Melalui buku ini, pembaca juga bisa mengetahui mengenai berbagai kehidupan sosial masyarakat pada tahun 1930-an, tepatnya di  Wlingi, Jawa Timur. Misalnya mengenai Jemblem, sebuah makanan  dari singkong yang digoreng hingga berwarna coklat. Isinya  gula merah dan berbentuk bulat menyerupai telur. Atau mengenai bagaimana situasi perkebunan di sana.

Meski saya paham bahasa Jawa, namun  saya kurang bisa memahami beberapa kalimat  yang mempergunakan Bahasa Jawa. Hal ini membuat saya jadi berpikir, jangan-jangan pembaca yang bukan berasal dari Pulau Jawa  tidak paham dengan makna kalimat tersebut. 

Akan lebih membantu jika penulis membuatkan semacam terjemahan bebas dalam bentuk catatan kali. Bisa saja dibuatkan daftar tersendiri tapi kalau harus membolak-balik halaman agak merepotkan. Dibuat seperti yang ada di halaman 159 juga layak dilakukan. 

Beberapa guyunan yang ada dalam kisah mungkin kurang dipahami oleh anak zaman sekarang. Namun bagi mereka yang dahulu sering menikmati dagelan ala Srimulat, tentunya bisa menemukan kelucuan hingga tertawa lepas. Kadang lelucon sederhana justru lebih bisa membuat orang tertawa.

Ilustrasi buku ini jelas sangat memanjakan mata.  Sosok perempuan dan wajah pada keempat sudut halaman kover, secara tak langsung memberikan informasi pada pembaca mengenai tokoh seperti apa yang akan mereka temui dalam buku ini. Sementara ilustrasi tanaman-daun,  yang memenuhi kover membuat saya langsung teringat pada Kiyai Oyot. Setidaknya bagi saya begitu.


Warna merah muda lembut, sangat cocok dengan kata roman picisan. Biasanya kisah roman selalu berisikan hal yang  terkait dengan urusan percintaan yang sering dianalogikan dengan warna merah muda. Mungkin karena kisahnya terjadi pada masa lampau makanya dipilih warna merah muda pudar he he he.

Mantap jaya Eyang Djokolelono!

Sabtu, 06 April 2019

2019#7: Mengenal Tokoh Inspiratif Ala Dahlan Iskan

Judul asli" DI's Way, Pribadi-pribadi yang Menginspirasi
Penyunting: Joko Intarto & Novikasari Eka S
ISBN: 9786023857654
Halaman: 199
Cetakan: Pertama-2019
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 54.000
Rating: 3/5


Koran  boleh mati. Tapi jurnalistik akan tetap hidup.
Hidup jurnalistik!
~DI's Way,  Pribadi-pribadi yang Menginspirasi, hal 12~

Keren!
Setidaknya menurut saya ungkapan tersebut sungguh mengesankan. Walau sebenarnya kalimat tersebut bisa dikatakan kurang bersinggungan dengan isi buku ini. Namun jika ditelaah lebih dalam, ada hubungan secara tak langsung antara buku ini dan pernyataan tersebut.

Meski Dahlan Iskan sudah  sudah tidak berkantor di Jawa Pos lagi, banyak yang merindukan tulsian beliau. Salah satunya sang penyunting. Maka tercetus ide membuat semacam media secara digital untuk memuaskan kerinduan para pembaca tulisan Dahlan Iskan, lahirlah DI's Way. 

Bisa dikatakan bahwa buku ini diterbitkan dalam rangka mengenang 1 tahun  DI's Way tempat pada Hari Pers, 9 Februari 2018. Sambutannya sungguh menggembirakan, membuat beliau semakin bersemangat untuk menulis.

Sudah banyak artikel atau buku yang mengisahkan tentang sosok yang dianggap  menginspirasi bagi orang lain. Beberapa diganjar penghargaan bersama nasional bagian internasional. Namun ada pula yang cukup bahagia dengan melihat perubahan yang ia ciptakan. Bukan penghargaan yang dicari, tapi ketenangan dan karya dalam kehidupan.

Buku ini juga memuat mengenai beberapa tokoh inspiratif. Bedanya adalah mereka merupakan orang-orang yang ditemui Dahlan Iskan.  Dengan sudut pandang sendiri, beliau  menemukan sisi inspiratif dari sosok yang ia temui. Kemudian menuliskan mengenai sosok tersebut dalam DI’s Way.

Terdapat lebih dari 20 tokoh dengan aneka kiprah bisa ditemui dalam buku ini. Ada sosok profesor yang menciptakan inkubator  murah dan hemat listrik hingga mampu menolong bayi primatur dari keluarga kurang beruntung yang kebetulan berasal dari UI he he he. Ikutan bangga sebagai warga UI.

Sosok religi terwakili dalam kisah Tiga Rumah Tuhan Gershom. Terlahir dengan nama Poo Guan Sien, Gershom Soetopo merupakan pendiri Gereja Bethel Tabernakel di Surabaya.  Kelima anaknya juga menjadi pendeta, 2 cucunya juga menjadi pendeta.

Juga dalam kisah Tafsir Baru Usep yang konon dikhususkan untuk kalangan sarjana atau intelektual Muslim. Dibuat seperti itu agar mudah dibawa. Juga untuk memudahkan membaca terjemahannya. Suatu hal yang perlu diacungi jempol.

Kisah yang paling saya sukai adalah mengenai sosok William Wongso dalam kisah Rendang Unta William Wongso. Tak ada yang meragukan kepiawaian beliau dalam hal memasak. Salah satu niatnya adalah menjadi rendang sebagai masakan yang paling dijagokan di dunia. Anggaplah sebagai perwakilan kita di dunia internasional. Bukankah kuliner selalu mendapat tempat yang istimewa.

Menu yang dibahas dalam kesempatan kali ini adalah rendang. Berbagai daging telah dicoba diolah menjadi rendang oleh William Wongso. Beberapa membuat saya meringis, ada daging kelinci.

Tapi ternyata ada juga binatang yang gagal dibuat rendang dagingnya. Ini sepertinya karena masalah teknis, jika ada kesempatan tentunya beliau akan bersemangat bereksperimen membuat rendang dari daging gajah.

Membaca bagian ini sepertinya memasak bukan hal yang susah. Malah jika Anda seorang yang kreatif, maka bisa saja Anda menciptakan berbagai masakan dari bahan yang tak biasa, atau diolah dengan racikan bumbu yang tak biasa. Memodifikasi sesuatu yang sudah ada menjadi makanan yang berbeda, merupakan tantangan tersendiri.

Selain menemukan banyak tokoh inspiratif, pembaca juga mendapat tambahan pengetahuan. Misalnya kenapa orang gemuk justru kurang berenergi.    Pada artikel Karena Orang Gemuk Lemaknya Berwarna Putih, disebutkan bahwa orang yang memiliki lemak banyak menyebabkan insulin tidak bisa mencapai sasaran dengan baik.

Orang gemuk sedikit mengandung mithocondria yang dibutuhkan bagi sumber energi. Hingga mereke cenderung kurang  bugar berenergi. Sementara yang tidak gemuk, lemaknya berwarna coklat karena banyak mengandung mithocondria, mereka bisa dikatakan cukup energik. 

Jadi mulai saat ini Anda tentunya paham kenapa orang yang memiliki berat badan berlebih Anda  mulai stop berkome sering terlihat tidak bugar dan malas bergerak.  Kelebihan berat badan dan lemak tentunya berpengaruh pada kesehatan juga aktivitas.

Pada akhir tiap tulisan, terdapat komentar yang  berisi tanggapan pembaca yang diambil dari DI's Way. Hal ini sepertinya dilakukan guna menambahkan beberapa informasi terkait tulisan tersebut serta  membuat tulisan menjadi makin berbobot. Tentunya tidak semua komentar ada yang baik, pemilihan dilakukan secara berimbang.

Untuk beberapa poin yang dianggap penting, sengaja dibuatkan tata letak khusus dalam buku ini. Dalam tiap tulisan jumlahnya beragam, terganting pada makna yang akan disampaikan dalam tulisan itu. Pembaca bisa menemukannya dengan mudah.

Jadi saya betul kan?
Seorang Dahlan Iskan bisa saja tidak memiliki koran cetak sebagai wadah memuat karya jurnalistiknya, ada media tidak tercetak yang keberadaannya selalu dinantikan banyak pembaca. Jurnalistik tetap memiliki media untuk bereksresi.

Junalistik tidak ada matinya!

Sumber foto:
Buku DI's Way, Pribadi-pribadi yang Menginspirasi

Kamis, 28 Maret 2019

2019 #6: Menyibak Tabir Rahasia Alam Semesta


Penulis: Gregg Braden
Penerjemah: Aulia Ardista Wiradarmo
ISBN: 9786026799418
Halaman: 367
Cetakan: Pertama-Oktober 2019
Penerbit: Javanica
Harga: Rp 95.000
Rating: 3.25/5
  
Kunci untuk bertahan hidup di masa sekarang adalah dengan menciptakan pola pikir baru pada saat kita masih hidup dalam kondisi yang mengancam eksistensi kita
~The Divine Matrix, hal 34~

Membahas perihal alam semesta tak akan pernah selesai. Misalnya tentang perdebatan  mengenai bentuk bumi, apakah bundar atau datar masih saja terus berlangsung. Satu hal baru yang layak mendapat perhatian adalah mengenai The Divine matrix.

Bisa dikatakan buku ini merupakan hasil penelitian penulis selama lebih dari 20 tahun. Termasuk juga perjalanan pencarian jati diri dalam memaknai rahasia besar yang terdapat dalam tradisi-tradisi paling kuno, mistis serta kaya.   Tentunya wajar jika penulis mampu  menghasilkan sebuah karya  luar biasa, hingga diganjar  Nautilius Book Awards. Info lengkap tentang perhargaan tersebut ada di sini.

Pembaca akan menemukan  penjelasan mengenai eksistensi medan energi-Matriks Ilahi (the Divine Matrik) yang berfungsi sebagai wadah, jembatan, juga cermin dari segala hal yang terjadi di antara manusia, dunia di dalam diri kita, serta dunia di luar tubuh kita.

Pada dasarnya, buku ini bisa dianggap sebagai panduan, alat bantu, yang dapat diapliaksikan guna menguak misteri kehidupan sehari-hari. Menjadi jembatan antara misteri dunia quantum dengan pengalaman hidup sehari-hari. Kita akan dibawa lebih jauh untuk memahami makna bagaimana penemuan-penemuan saintifik bisa membantu kita menjadi sosok yang lebih baik dan bersama membangun dunia menjadi lebih indah.

Menurut penulis,  seperti kehidupan  yang dibentuk dari empat bagian dasar yang menciptakan DNA, alam semesta pun terdiri dari empat karakteristik matriks Ilahi yang membuat segala sesuatu bsia bekerja dengan seharusnya. Kunci memahaminya adalah kemapuan kita dalam merengkuh 4 penemuan penting yang terkoneksi dengan kehidupan kita melalui cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. 
 Cara paling sederhana untuk memberikan definisi bagi Matrik Ilahi, seperti yang diuraikan pada halaman 119, adalah dengan membayangkannya sebagai tiga hal dasar. Pertama merupakan wadah bagi alam semesta. Kedua, jembatan antara dunia di dalam serta di luar diri kita. Terakhir, bayangkan sebagai cermin yang memantulkan pikiran, rasa, emosi dan keuakinan kita.

Terdiri dari 3 bagian dan 8 bab, dimana dalam tiap bab terdapat uraian mengenai 20 Kunci Penciptaan Berkesadaran dalam tata letak yang sengaja dibuat berbeda sehingga tak mungkin luput dari bacaan.  Guna memudahkan memahami,  pada halaman belakang, membaca bisa  menemukan daftar 20 Kunci Penciptaan Berkesadaran  dalam satu halaman langsung.

Oh ya, pada halaman belakangan juga disediakan bagian untuk mencatata hal-hal  yang dirasa penting dari isi buku ini. Pembaca tidak perlu repot-repot mencari kertas untuk mencatat, atau merasa khawatir catatannya tersebut hilang. Silakan tulis pada bagian yang disediakan, dan dibaca kapan pun dirasa perlu.

Saya percaya setiap buku memiliki pembacanya masing-masing, begitu juga buku ini. Butuh sedikit lama bagi saya untuk memuntaskannya. Isi buku ini membutuhkan pemahaman mendalam, bukan tipe buku yang bisa dibabat habis dalam waktu singkat. Apa yang diuraikan penulis, layak untuk dijadikan bahan perenungan diri.

Guna bisa menyerap inti buku ini, saya sangat menyarankan pembaca meluangkan waktu khusus. Cari waktu yang tepat, carilah me time Anda. Siapkan secangkir teh, kopi atau minuman hangat lainnya. Baca tiap lembar dengan niat untuk mendapat tambahan pengetahuan dan rasa bersyukur pada karuniaNYA selama ini. Bukan sekedar untuk menambah jumlah buku yang sudah dibaca semata.

Kesalahan saya ketika membaca buku ini adalah waktu dan tempat yang tidak tepat. Awalnya ketikaberada dalam kondisi kurang nyaman, menyambar buku ini untuk dibaca. Butuh hiburan. Ternyata buku ini adalah buku yang sebaiknya dibaca ketika hati  dan pikiran tenang. Jika tidak, saya harus mengulang halaman yang saya baca beberapa kali untuk paham apa maksud penulis.

Keras kepala saya masih juga ada. Sudah tahu isi buku ini spesial, saya tetap nekat membaca dengan seenaknya. Saya membacanya dalam perjalanan ke dan dari kantor, di kereta api misalnya. Hasilnya sama, saya harus mengulang bacaan untuk bisa mendapatkan intinya. karena ketika bacaan terputus secara tiba-tiba, dan konsentrasi terganggu, menjadi susah untuk menemukan dan memahami apa yang menjadi inti uraian. 

Sebenarnya akan lebih membantu jika penerbit berinisiatif membuatkan semacam alur atau ilustrasi bagaimana sebaiknya cara yang ditempuh guna memahami isi buku ini. Kadang, gambar lebih mudah dipahami dari pada rangkaian kata.

Walau demikian tak perlu khawatir, waktu yang Anda luangkan untuk membaca dan memahami isi buku ini teramat sangat sebanding dengan makna yang Anda temukan.  

Bagi Anda yang ingin menjembatani realitas masa lalu dengan harapan masa depan, maka buku ini sangat tepat untuk Anda baca.

Sumber gambar:
https://www.goodreads.com




Sabtu, 16 Februari 2019

2019 #5: Mari Belajar tentang Sistem Keuangan yang Benar





















Judul asli: Delusi Moneter, Paradigma yang Berbeda tentang Uang, Sistem Keuangan, dan Permasalahannya
Penulis: Joseph Pangaribuan
Editor: Moh. Sidiq Nugraha
ISBN: 9786237022336
Halaman: 257
Cetakan: Pertama- Desember 2018
Penerbit: Deepublish
Harga: Rp 90.000
Rating:3.5 /5

 "Bagaimana kita mengharapkan utang turun jika penambahan pendapatan memerlukan penambahan uang dan untuk penambahan uang memerlukan penambahan utang? Uang adalah utang! Penambahan uang adalah penambahan utang.
~Delusi Moneter, hal 92-93~

Seberapa jauh  pemahaman Anda mengenai uang dan sistem keuangan? Yakin sudah tahu bagaimana sesungguhnya sistem keuangan itu berlangsung? Baiklah, jadi menurut Anda, siapakah pencipta uang? 

Jika Anda menjawab pemerintah dan bank sentral, maka saya sarankan (seperti saya) Anda membaca buku ini. Bisa jadi Anda merupakan bagian dari 50% responden survei Motivaction Internasional and the Sustainnable Finance Lab pada Desember 2013-Januari 2014 yang kurang paham mengenai sistem keuangan ^_^.

Gagasan utama penulisan ini adalah untuk meluruskan kesalahpahaman mengenai sistem keuangan. Terutama pemahaman bahwa uang berasal dari pemerintahan ataupun bank sentral.  Dengan demikian maka pemerintahan atau bank sentral mampu mengendalikan perputaran uang melalui suka bunga dan operasi pasar terbuka.  Setidaknya begitu yang diketahui umum, padahal tidak begitu adanya.

Buku ini memberikan penjelasan bagaimana sebenarnya sistem keuangan bekerja serta konsekuensinya terhadap ekonomi dalam perpektif yang berbeda. Menurut  penulis banyak hal yang diyakini masyarakat tentang ekonomi, terutama moneter yang sesungguhnya tidak terjadi di dunia nyata. 

Terdiri dalam delapan bagian, pembaca diajak untuk memahami bagaimana sesungguhnya sistem keuangan itu berjalan.  Mulai dari sejarah uang, bank dan bank sentral, bagaimana sistem ekonomi bekerja, hingga konsekuensi dari sistem ekonomi saat ini. Tiap bagian, terdiri dari beberapa sub bagian yang akan memberikan penjelasan secara gamblang terkait topik.

Jika diperhatikan, saat mengajukan kredit atau pinjaman pada bank, nasabah diharapkan memiliki rekening di bank tersebut, jika belum ada maka dianjurkan untuk membuka rekening baru. Sebuah pemaksaan terselubung he he he. Alasan yang sering saya dengar (ketahuan sering mengajukan kredit nih ^_^) adalah guna memudahkan urusan adminstrasi dan transfer dana yang dipinjamkan oleh bank. 

Disebutkan dalam buku ini, bahwa ketika bank menyalurkan kredit, maka sang peminjam akan menerima simpanan dalam jumlah yang sama dengan kredit yang ia ajukan dalam rekeningnya. Dengan kata lain kredit yang diajukan nasabah berubah menjadi simpanannya.  Bisa dikatakan uang nasabah bertambah karena memiliki hutang, seperti yang diuraikan di atas, uang adalah utang! 

Saya masih ingat definisi  ilmu ekonomi yang saya terima ketika SMA, dengan modal sekecilnya mendapat untung sebesar-besarnya. Kesannya kejam sekali ya. Ketika kuliah, pengertian tersebut berubah,   dengan modal sedikit mendapatkan untung dalam jumlah tertentu.  Tetap saja kesannya sungguh kecam urusan ekonomi.

Padahal menurut buku ini, tujuan ilmu ekonomi adalah memberikan kehidupan yang lebih baik (penulis menyebutnya kesejahteraan) kepada seluruh masyarakat. Sementara apa yang selama ini saya peroleh, tentunya juga saya yakini bukanlah pengertian ilmu ekonomi melainkan tujuan dari manajemen keuangan.

Bagi manajemen keuangan, tujuan yang ingin diperoleh adalah mendapatkan keuntungan dan kekayaan bagi segelintir orang. Perbedaan tujuan yang sering dimaknai salah oleh masyarakat menyebabkan terjadinya ketimpangan ekonomi. 

Dan tanpa sadar, saya pastinya juga pernah berperan aktif dalam menimbulkan ketimpangan tersebut. Ketimpangan ini yang bisa menimbulkan aneka permasalahan dalam masyarakat. Ngeri juga jadinya.

Bagian yang menguraikan perihal krisis keuangan global memberikan pencerahan tersendiri bagi pembaca. Bahkan kondisi ekonomi yang stabil pun dapat mengakibatkan ketidakstabilan. Ketidakstabilan yang muncul dari kestabilan ekonomi, ironi sekali.

Tindakan spekulasi yang membutuhkan uang berujung pada timbulnya utang. Dan para spekulan akan terus berupaya mencari uang walau harus memiliki utang selama masih ada harapan keuntungan. Kembali, uang adalah utang!

Masih banyak lagi uraian yang membuat saya menjadi malu. Jelas malu, banyak pemahaman tentang ekonomi yang selama ini saya yakini benar ternyata salah total. Kalau pemahamannya saja sudah salah, lalu bagaimana bisa membangun perekonomian negara menjadi lebih baik? Pahami dengan benar dulu, baru bertindak.

Selesai membaca buku ini, mendadak saya ingat saran beberapa rekan kantor.  Menurut mereka jika kami sebagai anggota koperasi rajin meminjam uang, maka uang kita di koperasi akan bertambah. Kenapa bisa bertambah? Karena dari uang yang kita pinjam akan dikenakan semacam bunga.  Bunga tersebut sebagian akan masuk dalam SHU anggota yang meminjam. 
 
Mungkin saya salah, tapi bagi saya uang saya justru berkurang. Karena dari bunga yang saya bayarkan hanya sebagian yang menjadi SHU saya. Sisanya untuk operasional koperasi. Selain itu uang saya memang bertambah, tapi karena utang.

Beberapa hari yang lalu, salah satu teman saya pamer mobil barunya. Dia bercerita dengan semangat mengenai proses memperoleh mobil tersebut. Konon itu mobil idamannya. Sebagai teman, tentunya saya ikut senang. 

Maafkan reflek emak-emak yang dengan spontan mengatakan betapa beruntungnya ia memperoleh rezeki lebih hingga bisa membeli mobil dan beberapa barang elektronik lainnya.

Dan..., jawabannya membuat saya tertawa tiada henti sampai ia merasa sebal. Bisa tebak apa jawabannya? Katanya, "Iya dong, baru dapat pinjaman uang dari Bank XXX nih, jadi bisa beli mobil idaman." 

Dasar emak-emak jahil, saya katakan bahwa itu namanya ia mendapat tambahan utang bukan uang. Wajahnya langsung masam, mungkin sebal karena saya mengatakan apa adanya, dan ia jadi teringat  berapa cicilan utang terbarunya. Bagaimana lagi memang ia menambah jumlah utang kok, kecuali uang membeli mobil ia peroleh dari hadiah.

Tapi mengubah apa yang diyakini orang merupakan suatu hal yang tidak mudah. Diharapkan setelah membaca buku ini, mereka yang memiliki persepsi salah mengenai sistem keuangan bisa berbesar hati untuk mengakuinya dan mengubah pandangannya. Minimal  berpikir panjang sebelum mencari utang^_^.

Meski judulnya berkesan berat, namun ternyata untuk memahami isi buku ini sangatlah mudah. Penulis sudah berupaya semaksimal mungkin membuat pembaca paham akan uraian yang ada, meski tidak memiliki pemahaman mengenai uang, sistem keuangan dan hal-hal terkait ekonomi. 

Penulis sudah meletakkan dasar pemahanan mulai dari Kata Pengantar hingga Pendahuluan. Sayangnya tidak tersedia semacam glosarium. Padahal hal tersebut berguna untuk menyamakan perfektif antara penulis dan pembaca. Juga untuk sekedar mengingatkan pembaca pada beberapa istilah ekonomi. Dari pada harus membolak-balik halaman he he he.

Cara lainnya,  dengan memberikan uraian singkat mengenai pembahasan yang ada dalam tiap bab. Sebagai contoh,  pada halaman 9 tercetak, " BAB VI: Pada bab ini, kita akan membahas bagaimana ketimpangan ekonomi dapat terjadi. Kita akan melihat bagaimana sistem ekonomi yang kita miliki sekarang yang telah dibahas pada bab-bab sebelumnya, berperan dalam meningkatkan ketimpangan."

Selain  memberikan informasi mengenai isi bab yang dimaksud, penulis juga mencoba menggugah rasa ingin tahu pembaca dengan memberikan beberapa kata pancingan, misalnya dengan, "Kita akan melihat..." Ilustrasi yang ada pada tiap awal bagian menjadi penyejuk mata dan menjadikan daya tarik tersendiri bagi buku ini.

Saya menemukan contoh yang bisa dikatakan unik. Saya sebut unik karena jarang ada buku ekonomi yang mengambil contoh kasus dari daerah yang bukan termasuk kota besar.  Pada kesempatan kali ini, mengambil Pasar Barter Wulandoni di Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur sebagai contoh. Hal ini membuktikan bahwa apa yang diuraikan penulis memang benar terjadi pada masyarakat kita di mana pun.

Buku ini layak dibaca bagi mereka yang berkecimpung dalam sektor ekonomi. Juga bagi dosen dan mahasiswa fakultas ekonomi dan bisnis. Dan tentunya bagi masyarakat umum sebagai tambahan wawasan.
 
Seandainya penulis mau membuat versi singkat, entah dengan model infografis atau komik, tentunya buku ini akan lebih mudah dipahami  bagi murid sekolah menengah. Agar kelak dalam memilih jurusan kuliah atau memilih profesi pekerjaan, paham apa berbedaan ekonomi dan keuangan.

Sang penulis, Joseph Pangaribuan, merupakan seorang analis investasi di pasar modal yang sehari-hari melakukan analisa perusahaan, industri, dan ekonomi. Buku ini lahir dari keinginannya mempelajari kembali ekonomi karena selama ini banyak hal yang dia rasa janggal dari ilmu ekonomi yang pernah dipelajari dan diyakininya. Pembelajaran yang awalnya untuk diri sendiri berubah menjadi buku karena dia melihat banyak orang mengalami kekeliruan tentang ekonomi khusus moneter seperti yang pernah dialaminya.

Saat ini bekerja sebagai Analis Investasi Senior di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya pernah menjadi Kepala Riset Analis di Samuel Sekuritas Indonesia dan Pratama Capital Assets Management.


Sumber gambar:
1. Delusi Moneter, Paradigma yang Berbeda tentang Uang, Sistem Keuangan, dan Permasalahannya

2. Koleksi pribadi penulis