Sabtu, 16 Februari 2019

2019 #5: Mari Belajar tentang Sistem Keuangan yang Benar





















Judul asli: Delusi Moneter, Paradigma yang Berbeda tentang Uang, Sistem Keuangan, dan Permasalahannya
Penulis: Joseph Pangaribuan
Editor: Moh. Sidiq Nugraha
ISBN: 9786237022336
Halaman: 257
Cetakan: Pertama- Desember 2018
Penerbit: Deepublish
Harga: Rp 90.000
Rating:3.5 /5

 "Bagaimana kita mengharapkan utang turun jika penambahan pendapatan memerlukan penambahan uang dan untuk penambahan uang memerlukan penambahan utang? Uang adalah utang! Penambahan uang adalah penambahan utang.
~Delusi Moneter, hal 92-93~

Seberapa jauh  pemahaman Anda mengenai uang dan sistem keuangan? Yakin sudah tahu bagaimana sesungguhnya sistem keuangan itu berlangsung? Baiklah, jadi menurut Anda, siapakah pencipta uang? 

Jika Anda menjawab pemerintah dan bank sentral, maka saya sarankan (seperti saya) Anda membaca buku ini. Bisa jadi Anda merupakan bagian dari 50% responden survei Motivaction Internasional and the Sustainnable Finance Lab pada Desember 2013-Januari 2014 yang kurang paham mengenai sistem keuangan ^_^.

Gagasan utama penulisan ini adalah untuk meluruskan kesalahpahaman mengenai sistem keuangan. Terutama pemahaman bahwa uang berasal dari pemerintahan ataupun bank sentral.  Dengan demikian maka pemerintahan atau bank sentral mampu mengendalikan perputaran uang melalui suka bunga dan operasi pasar terbuka.  Setidaknya begitu yang diketahui umum, padahal tidak begitu adanya.

Buku ini memberikan penjelasan bagaimana sebenarnya sistem keuangan bekerja serta konsekuensinya terhadap ekonomi dalam perpektif yang berbeda. Menurut  penulis banyak hal yang diyakini masyarakat tentang ekonomi, terutama moneter yang sesungguhnya tidak terjadi di dunia nyata. 

Terdiri dalam delapan bagian, pembaca diajak untuk memahami bagaimana sesungguhnya sistem keuangan itu berjalan.  Mulai dari sejarah uang, bank dan bank sentral, bagaimana sistem ekonomi bekerja, hingga konsekuensi dari sistem ekonomi saat ini. Tiap bagian, terdiri dari beberapa sub bagian yang akan memberikan penjelasan secara gamblang terkait topik.

Jika diperhatikan, saat mengajukan kredit atau pinjaman pada bank, nasabah diharapkan memiliki rekening di bank tersebut, jika belum ada maka dianjurkan untuk membuka rekening baru. Sebuah pemaksaan terselubung he he he. Alasan yang sering saya dengar (ketahuan sering mengajukan kredit nih ^_^) adalah guna memudahkan urusan adminstrasi dan transfer dana yang dipinjamkan oleh bank. 

Disebutkan dalam buku ini, bahwa ketika bank menyalurkan kredit, maka sang peminjam akan menerima simpanan dalam jumlah yang sama dengan kredit yang ia ajukan dalam rekeningnya. Dengan kata lain kredit yang diajukan nasabah berubah menjadi simpanannya.  Bisa dikatakan uang nasabah bertambah karena memiliki hutang, seperti yang diuraikan di atas, uang adalah utang! 

Saya masih ingat definisi  ilmu ekonomi yang saya terima ketika SMA, dengan modal sekecilnya mendapat untung sebesar-besarnya. Kesannya kejam sekali ya. Ketika kuliah, pengertian tersebut berubah,   dengan modal sedikit mendapatkan untung dalam jumlah tertentu.  Tetap saja kesannya sungguh kecam urusan ekonomi.

Padahal menurut buku ini, tujuan ilmu ekonomi adalah memberikan kehidupan yang lebih baik (penulis menyebutnya kesejahteraan) kepada seluruh masyarakat. Sementara apa yang selama ini saya peroleh, tentunya juga saya yakini bukanlah pengertian ilmu ekonomi melainkan tujuan dari manajemen keuangan.

Bagi manajemen keuangan, tujuan yang ingin diperoleh adalah mendapatkan keuntungan dan kekayaan bagi segelintir orang. Perbedaan tujuan yang sering dimaknai salah oleh masyarakat menyebabkan terjadinya ketimpangan ekonomi. 

Dan tanpa sadar, saya pastinya juga pernah berperan aktif dalam menimbulkan ketimpangan tersebut. Ketimpangan ini yang bisa menimbulkan aneka permasalahan dalam masyarakat. Ngeri juga jadinya.

Bagian yang menguraikan perihal krisis keuangan global memberikan pencerahan tersendiri bagi pembaca. Bahkan kondisi ekonomi yang stabil pun dapat mengakibatkan ketidakstabilan. Ketidakstabilan yang muncul dari kestabilan ekonomi, ironi sekali.

Tindakan spekulasi yang membutuhkan uang berujung pada timbulnya utang. Dan para spekulan akan terus berupaya mencari uang walau harus memiliki utang selama masih ada harapan keuntungan. Kembali, uang adalah utang!

Masih banyak lagi uraian yang membuat saya menjadi malu. Jelas malu, banyak pemahaman tentang ekonomi yang selama ini saya yakini benar ternyata salah total. Kalau pemahamannya saja sudah salah, lalu bagaimana bisa membangun perekonomian negara menjadi lebih baik? Pahami dengan benar dulu, baru bertindak.

Selesai membaca buku ini, mendadak saya ingat saran beberapa rekan kantor.  Menurut mereka jika kami sebagai anggota koperasi rajin meminjam uang, maka uang kita di koperasi akan bertambah. Kenapa bisa bertambah? Karena dari uang yang kita pinjam akan dikenakan semacam bunga.  Bunga tersebut sebagian akan masuk dalam SHU anggota yang meminjam. 
 
Mungkin saya salah, tapi bagi saya uang saya justru berkurang. Karena dari bunga yang saya bayarkan hanya sebagian yang menjadi SHU saya. Sisanya untuk operasional koperasi. Selain itu uang saya memang bertambah, tapi karena utang.

Beberapa hari yang lalu, salah satu teman saya pamer mobil barunya. Dia bercerita dengan semangat mengenai proses memperoleh mobil tersebut. Konon itu mobil idamannya. Sebagai teman, tentunya saya ikut senang. 

Maafkan reflek emak-emak yang dengan spontan mengatakan betapa beruntungnya ia memperoleh rezeki lebih hingga bisa membeli mobil dan beberapa barang elektronik lainnya.

Dan..., jawabannya membuat saya tertawa tiada henti sampai ia merasa sebal. Bisa tebak apa jawabannya? Katanya, "Iya dong, baru dapat pinjaman uang dari Bank XXX nih, jadi bisa beli mobil idaman." 

Dasar emak-emak jahil, saya katakan bahwa itu namanya ia mendapat tambahan utang bukan uang. Wajahnya langsung masam, mungkin sebal karena saya mengatakan apa adanya, dan ia jadi teringat  berapa cicilan utang terbarunya. Bagaimana lagi memang ia menambah jumlah utang kok, kecuali uang membeli mobil ia peroleh dari hadiah.

Tapi mengubah apa yang diyakini orang merupakan suatu hal yang tidak mudah. Diharapkan setelah membaca buku ini, mereka yang memiliki persepsi salah mengenai sistem keuangan bisa berbesar hati untuk mengakuinya dan mengubah pandangannya. Minimal  berpikir panjang sebelum mencari utang^_^.

Meski judulnya berkesan berat, namun ternyata untuk memahami isi buku ini sangatlah mudah. Penulis sudah berupaya semaksimal mungkin membuat pembaca paham akan uraian yang ada, meski tidak memiliki pemahaman mengenai uang, sistem keuangan dan hal-hal terkait ekonomi. 

Penulis sudah meletakkan dasar pemahanan mulai dari Kata Pengantar hingga Pendahuluan. Sayangnya tidak tersedia semacam glosarium. Padahal hal tersebut berguna untuk menyamakan perfektif antara penulis dan pembaca. Juga untuk sekedar mengingatkan pembaca pada beberapa istilah ekonomi. Dari pada harus membolak-balik halaman he he he.

Cara lainnya,  dengan memberikan uraian singkat mengenai pembahasan yang ada dalam tiap bab. Sebagai contoh,  pada halaman 9 tercetak, " BAB VI: Pada bab ini, kita akan membahas bagaimana ketimpangan ekonomi dapat terjadi. Kita akan melihat bagaimana sistem ekonomi yang kita miliki sekarang yang telah dibahas pada bab-bab sebelumnya, berperan dalam meningkatkan ketimpangan."

Selain  memberikan informasi mengenai isi bab yang dimaksud, penulis juga mencoba menggugah rasa ingin tahu pembaca dengan memberikan beberapa kata pancingan, misalnya dengan, "Kita akan melihat..." Ilustrasi yang ada pada tiap awal bagian menjadi penyejuk mata dan menjadikan daya tarik tersendiri bagi buku ini.

Saya menemukan contoh yang bisa dikatakan unik. Saya sebut unik karena jarang ada buku ekonomi yang mengambil contoh kasus dari daerah yang bukan termasuk kota besar.  Pada kesempatan kali ini, mengambil Pasar Barter Wulandoni di Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur sebagai contoh. Hal ini membuktikan bahwa apa yang diuraikan penulis memang benar terjadi pada masyarakat kita di mana pun.

Buku ini layak dibaca bagi mereka yang berkecimpung dalam sektor ekonomi. Juga bagi dosen dan mahasiswa fakultas ekonomi dan bisnis. Dan tentunya bagi masyarakat umum sebagai tambahan wawasan.
 
Seandainya penulis mau membuat versi singkat, entah dengan model infografis atau komik, tentunya buku ini akan lebih mudah dipahami  bagi murid sekolah menengah. Agar kelak dalam memilih jurusan kuliah atau memilih profesi pekerjaan, paham apa berbedaan ekonomi dan keuangan.

Sang penulis, Joseph Pangaribuan, merupakan seorang analis investasi di pasar modal yang sehari-hari melakukan analisa perusahaan, industri, dan ekonomi. Buku ini lahir dari keinginannya mempelajari kembali ekonomi karena selama ini banyak hal yang dia rasa janggal dari ilmu ekonomi yang pernah dipelajari dan diyakininya. Pembelajaran yang awalnya untuk diri sendiri berubah menjadi buku karena dia melihat banyak orang mengalami kekeliruan tentang ekonomi khusus moneter seperti yang pernah dialaminya.

Saat ini bekerja sebagai Analis Investasi Senior di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya pernah menjadi Kepala Riset Analis di Samuel Sekuritas Indonesia dan Pratama Capital Assets Management.


Sumber gambar:
1. Delusi Moneter, Paradigma yang Berbeda tentang Uang, Sistem Keuangan, dan Permasalahannya

2. Koleksi pribadi penulis





































Senin, 04 Februari 2019

2019#4: Tumbuh Dan Berkembang Bersama Alibaba

Judul asli: Alibaba's World, Perjalanan Luar Biasa Jack Ma Membangun Perusahaan E-Commerce Terbesar di Dunia
Penulis: Porter Erisman
Penerjemah:  Aswita Fitriani
Penyunting: Benedicta  & Novitasari S
ISBN: 9786023856046
Halaman:
Cetakan: Pertama-November 2019
Penerbit: Noura  Books
Harga: Rp 98.000
Rating: 3.25/5

"Saya bergabung dengan Alibaba agar saya mungkin dapat belajar sesuatu tentang bisnis. Namun, justru hal paling berharga yang saya pelajari dari Jack adalah tentang kehidupan."
~ Alibaba's World, Perjalanan Luar Biasa Jack Ma Membangun Perusahaan E-Commerce Terbesar di Dunia, hal 230~

Pertama menemukan buku ini, saya agak ragu untuk membacanya. Belakangan ini sosok Jack Ma sebagai pendiri Alibaba bisa dikatakan sedang mengalami masa kejayaan. Berbagai buku mengenai dirinya atau Alibaba juga banyak beredar. Sebelumnya saya  juga sudah membaca sebuah buku yang mengulas mengenai sosok Jack Ma.

Oh ya buku yang saya baca judulnya  Jack Ma, Sisi-sisi Tak Terduga Sang Godfather Bisnis China.    Hal-hal umum seperti  Jack Ma yang semula adalah guru,  memulai usaha dari  sebuah apartmen,  mengajar Bahasa Inggris, menjadikan istri sebagai rekan kerja hingga kegemarannya akan Taichi sudah diuraikan dalam buku itu. Review lengkapnya di sini.

Kembali, kenapa saya juga harus membaca buku yang ini? Apa bedanya dengan buku yang sudah saya baca sebelumnya? Seseorang berusaha keras meyakinkan saya bahwa buku ini menawarkan sesuatu yang sangat berbeda dengan buku tentang Jack Ma yang sebelumnya saya baca. Baiklah, mari kita coba membaca. Bagi saya tak ada buku yang buruk, yang ada hanyalah buku itu belum berjodoh dengan selera saya.

Penulis buku ini, Porter Erisman merupakan mantan  Vice President Alibaba, dan bisa dikatakan termasuk jajaran orang Amerika pertama yang bergabung dalam Alibaba. Perbedaan utama dengan buku lainnya mulai terlihat.  Buku  Jack Ma, Sisi-sisi Tak Terduga Sang Godfather Bisnis China, ditulis oleh sahabat sekaligus asisten pribadiJack Ma, Chen Wei.   Bukan mau membedakan orang, namun pandangan orang Asia umumnya berbeda dengan orang Amerika. Sehingga cara mereka menyampaikan sebuah hal tentunya akan berbeda.

Dalam lebih dari 300 halaman, pembaca akan diajak untuk mengikuti bagaimana Jack Ma merintis Alibaba hingga menjadikan perusahaan yang besar seperti saat ini. Termasuk bagaimana proses merekrut karyawan, melakukan promosi, ekspansi, memberhentikan karyawan ketika situasi sulit hingga mampu bertahan menghadapi pertempuran dengan eBay.

Jack Ma merupakan seorang yang membuat keputusan cepat  berdasarkan insting dan keberanian. Rasa antusiasnya menyebar dengan cepat.  Ketika berbicara di depan umum, kadang Jack Ma tak terdengat sepertinya layaknya seorang CEO perusahaan yang sedang berkembang pesat. Tapi, hal tersebut yang justru menjadi dirinya begitu dikagumi orang. 

Beberapa trik bisnis yang dilakukan oleh Jack Ma juga diuraikan di sini. Misalnya saja mengenai pemasaran gratis selama tiga tahun oleh Taobao, Lalu startegi membagikan tas Alibaba di area publik bagi para pengunjung yang menghadiri acara eBay Live! Uraian strategi di halaman 161 sungguh luar biasa. Efeknya sungguh luar biasa. Bagaimana saya bisa tahu? Kurang lebih kantor saya juga pernah melakukan ide yang nyaris sama ^_^. Membagikan tas dari bahan blacu untuk banyak kegiatan.

Tapi strategi di halaman 165 menurut saya adalah hal yang paling brilian.  Jika kita berada di rumah orang, tentunya kita harus berusaha menyesuaiakan diri dengan kondisi serta tata cara yang berlaku di rumah tersebut. 

Demikian juga jika kita ingin berusaha menjadi sukses di negara lain, maka kita harus mulai mengadaptasi berbagai kondisi  dan tradisi terkait situasi setempat. Termasuk berbicara dengan bahasa yang sama, dalam artian harafiah tentunya.

"Kami bukan perusahaan internet, kami adalah perusahaan jasa." Begitulah yang sering disampaikan Jack Ma ketika sedang berurusan dengan banyak pihak. Secara tak langsung, Jack Ma sudah mulai menerapkan yang dewasa ini dikenal dengan Blue Ocean Strategy. Alibaba menawarkan sesuatu yang berbeda sementara perusahaan lain sedang berebut pasar.

Tak hanya membahas tentang trik bisnis, beberapa sifat Jack Ma yang dianggap membawa pengaruh positif pada perusahaan juga diuraikan dalam buku ini. Termasuk filosofi hidup yang ia peroleh dari film Forrest Gump

Guna dapat memperoleh gambaran lebih luas mengenai bagaimana Alibaba sesungguhnya, penulis memberikan uraian berdasarkan hasil pengamatan secara dekat ke bisnis inti Alibaba. Uraian tersebut berada dalam bab yang berjudul Dunia Alibaba

Ketika perusahaan lain justru tak ingin membagikan rahasia kesuksesannya secara gamblang, Alibaba justru membuka diri selebar mungkin bagi siapa saja yang ingin lebih mengenalnya. Ini merupakan salah satu kunci kekuatan buku ini, hal yang terlalu sayang untuk tidak dibaca.

Hal lain yang juga menjadi kelebihan buku ini adalah bab yang berjudul Alibaba dan Empat Puluh Pelajaran Berharga. Mungkin penulis terinspirasi dengan kisah Alibaba dan 40 penyamun sehingga mengambil judul tersebut. Bisa dikatakan ini merupakan hasil perenungan Porter Erisman akan pengalaman selama bekerja di Alibaba. 

Salah satu pelajaran yang paling saya sukai ada dalam poin Membangun Tim yang sukses. Dikatakan bahwa Pastikan untuk Merekrut Orang-orang yang Tepat pada Waktu yang Tepat. Kadang, ada faktor lain yang harus menjadi pertimbangan dalam merekrut orang dalam kasus Alibaba, merekrut staf yang memiliki kemampuan berbahasa Mandarin dan pemahaman terhadap budaya  China, lebih cocok dibandingkan dengan merekrut staf yang memiliki segudang pengalaman industri tapi di luar China.

Alibaba juga sudah merambah ke tanah air. Mungkin masih ada yang ingat sosok Jack Ma hadir pada menjelang penutupan Sea Games 2018  beberapa waktu yang lalu. Bagi yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai hal tersebut, bisa dilihat di sini.

Sepertinya saya harus berhutang ucapan terima kasih kepada sosok yang telah berhasil membuat saya berkenan membaca buku ini. Selain mendapat tambahan pengetahuan bagaimana cara memulai usaha hingga mempertahankan kesuksesan, banyak pelajaran kehidupan yang juga bisa diambil.

Para mahasiswa bidang bisnis, mereka yang ingin mulai membuat sebuah usaha, dan para pelaku bisnis sangat disarankan untuk membaca buku ini. Banyak hal yang bisa membuat Anda merasa takjub. 

INSPIRATIF


Selasa, 29 Januari 2019

2019 #3: Kisah Marie, Nutcracker dan Raja Tikus

Judul asli: The Nutcracker And The Mouse King
Penulis: E.T.A Hoffmann
Penerjemah: Intan Nurina Haryadi
Penyunting: Dyah Agustine
ISBN: 9786024021344
Halaman: 172
Cetakan: Pertama-Januari 2019
Penerbit: Qanita
Harga: Rp 45.000
Rating: 3.5/5


"Jam, jam, jam, semuanya  mendengkurlah dengan pelan.
Raja Tikus memiliki pendengaran yang tajam-purrpurr-pum pum.
Bernyanyilah, nyanyikanlah sebuah lagu klasik.
Purr purr-pum pum pukul lonceng yang kecil.
Pukullah, segera lakukanlah!"

~The Nutcracker and The Mouse King, hal 48~

Perayaan Natal kali ini agak berbeda bagi keluarga dr. Stahlbaum. Louise, Fritz dan Marie Stahlbaum mendapatkan hadiah tak terduga berupa boneka Nutcracker-pemecah kacang. Walau boneka  tersebut bisa dipergunakan oleh siapa saja, tapi sepertinya hanya Marie yang paling menyukainya. Hingga ia diberikan tugas untuk melindungi dan mengawasinya.

Begitu senangnya Marie, ia meminta untuk diizinkan tidur lebih larut malam itu.  Ia ingin menikmati lebih lama bermain dan memandangi aneka mainan serta boneka yang ada di sana.  Terutama boneka Nutcracker.  Ketika sang ibu mematikan cahaya hingga hanya meninggalkan sebuah cahaya di tengah  kamar, berbagai keanehan mulai muncul.

Sekilas ia seperti melihat boneka Nutcracker menunjukkan  wajah kesal, meski ia selanjutnya berusaha menyakinkan diri bahwa itu akibat pantulan cahaya. Namun ketika ia mendengar nyanyian, suara tertawa dan mencicit di sekitarnya, sadarlah Marie bahwa ia tidak bermimpi. Sedang yang aneh sedang terjadi!

Dan selanjutnya pembaca akan mengikuti kisah petualangan Marie yang luar biasa. Pengamatan penulis akan sifat  dan psikologi manusia, lalu memasukkan gambaran tersebut dalam makhluk ciptaannya, membuat tokoh begitu nyata.  Setiap sifat manusia seakan diwakili oleh makhluk ciptaannya.
Penampakan Nutcracker di Swalayan

Berbagai gambaran fantasi yang begitu nyata, membawa pembaca akan dibawa menuju sebuah dunia lain, yang sangat berbeda dengan kehidupan sehari-hari.  Seolah-olah kisah ini benar adanya, terjadi di sekitar kita. 

Entah kenapa, mendadak saya jadi teringat kisah Alice in Wonderland. Meski ditujukan untuk anak-anak,  versi kisah aslinya kurang cocok untuk anak-anak, setidaknya menurut saya. Adegan memenggal kepala,  makan berlebihan, sifat semaunya, jelas bukan teladan yang baik. 

Tak heran ,seperti kisah Alice, kisah ini juga mengalami adaptasi untuk menghilangkan kesan suram. Alexander Dumas bisa dikatakan sosok pertama yang melakukan adaptasi.  Tidak hanya itu, kisah ini juga diadaptasi menjadi pertunjukan balet pada tahun 1892. Seorang komposer Rusia bernama Tchaikovsky, merupakan tokoh dibalik adaptasi tersebut. 

Belakangan, ada versi Barbie untuk anak-anak. Sebuah upaya untuk melestarikan kisah klasik yang layak diacungi jempol. Cuplikannya bisa  dilihat di sini.  Saya sempat melihat sebentar, menghibur tapi ada sisipan pendidikan.

Tak berlebihan rasanya jika dikatakan bahwa  karya ini telah menginspirasi berbagai karya seni di dunia. Membaca  apa yang tertera di halaman 138, saya langsung teringat pada sebuah kisah tentang empat saudara yang menemukan dunia lain di balik lemari pakaian besar, versi layar lebar juga sudah sering diputar di televisi. Tahu kan kisah apa yang saya maksud?

Meski demikian, saya agak ragu memberikan buku ini bagi anak-anak. Bagian yang menyebutkan  demi menyelamatkan nyawa Nutcracker, Marie  harus mengorbankan banyak hal yang ia sayangi-mengutip blurd buku ini, lumayan memberikan aura suram.

Kisah seorang gadis kecil yang begitu ketakutan akan ancaman Raja Tikus hingga mau memberikan apa saja yang diminta, sementara orang sekitarnya malah mengira ia hanya berkhayal, bukan hal layak dibagikan menurut saya. Apa lagi jika pembacanya anak-anak.


Mungkin karena penggambarannya yang begitu mencekam. Sementara saya merasa  kisah dengan tokoh anak-anak tidak layak jika digambarkan dalam kondisi yang tertekan atau sangat ketakutan. 

Kesan agak muran juga muncul dalam kover buku ini. Wajah Raja Tikus dibuat lebih besar dibandingkan dengan  Marie, apalagi Nutcracker. Satu-satunay nuansa ceria adalah dari sosok Marie yang  seolah sedang menari dengan membawa Nutcracker.  

Walau begitu, dengan bimbingan  dan pendampingan orang tua saat membaca atau menonton film versi asli, tentunya banyak hal positif yang bisa  diambil dari kisah ini. Salah satunya adalah sifat menolong dan menghormati yang lain bagaimana juga penampilannya.

Karya hebat memang abadi.


Jumat, 25 Januari 2019

2019#2: Kisah Sari Gadis Bersampur Merah


Penulis: Intan Andaru
Penyunting: Dwi Ratih
ISBN: 9786020621951
ISBN Digital: 9786020621968
Halaman: 216
Penerbit: PT Gramedia  Pustaka Utama
Harga: Rp 70.000
Rating: 3/5

Podo nonton, pudak sempal ring lelurung Ya, pendite pudak sempal, lambeyane para putra Para putra, kejalan ring kedung Lewung Ya, jalang jala sutra, tampange tampang kencana

Kembang Menur, melik-melik ring bebentur Ya, sun siram alum, sun petik nyirat ati Lare angon, gumuk iku paculana Tandurana kacang lanjaran, sak unting ulih perawan

Kembang Gadung, sak bulung ditawa sewu Nora murah nora larang, kang nowo wong adol kembang Wong adol kembang sun barisno ring Temenggungan Sun iring Payung Agung, labeyane mebat manyun

Kembang Abang, selebrang tiba ring kasur Mbah Teji balenana, sun enteni ning paseban Paseban Agung, kidemang mangan nginum Sleregan wong ngunus keris, gendam gendis kurang abyur

~Lagu Podo Nonton~ 
Sumber: Kanal3.wordpress.com

Walau dikatakan berulang kali jangan menilai buku dari kover, tetap saja kover merupakan hal pertama yang membuat saya tergoda membaca buku ini. Selain gambar yang menawan perpaduan merah dan biru, judul kisah ini membuat saya berimajinasi sebelum mulai membacanya.  Tepatnya pada kata Sampur  Merah.

Sari bukan  sekedar anak perempuan biasa.  Bapak Sari merupakan dukun suwuk yang lumayan terkenal di kampung.   Ia juga sering diajak bapaknya mencari kodok guna menambah penghasilan keluarga.  Meski penghasilan mereka tak menentu, tapi masih bisa dikategorikan lumayan.

Berulang kali ia  melihat wajah gembira tamu yang berhasil mendapatkan bantuan bapak,  wajahnya ikut ceria, karena bakal ada tambahan uang untuk jajan.  Meski demikian tak selalu warga yang mempergunakan jasa  bapak meninggalkan amplop.  Kadang bapak juga menolak amplop yang diberikan.  Sering pula ia  menemukan wajah kecewa warga yang gagal mendapat bantuan bapak, nyaris sama dengan  wajah kecewanya karena gagal mendapatkan tambahan uang jajan. 

Semula kehidupan mereka penuh warna ceria. Namun kebahagian direnggut paksa. Berbagai isu tentang adanya dukun santet mulai meresahkan warga. Belum lama, seorang  dukun suwuk kenalan bapak dihabisi secara brutal oleh warga. Istri paman Sari juga sudah mengusulkan pada suaminya  agar mau membujuk untuk bapak  pindah demi keselamatan dirinya dan keluarga. 

"Suruhlah kakangmu pergi dari kampung. Kemarin Pak Muhidin dibunuh. Kalau seorang dukun suwuk sepertinya dianggap dukun santet, bisa jadi kakangmu kayak  gitu juga," demikian ucapnya.  Sebuah ketakutan yang menjadi kenyataan menakutkan!

Warga membawa paksa bapak. Sari tak bisa melupakan tatapan terakhir bapak. Ia terus berontak dalam gendongan paman, ia hanya ingin menolong  Bapak yang dibawa paksa warga. Bagian ini mampu membuat saya merasa pilu.

Seberapa ngilu? Simak kalimat  ungkapan rasa pedih anak yang melihat bapaknya disiksa warga  berikut ini," Aku berteriak sekencang-kencangnya memanggil Bapak hingga kurasakan tenggorokanku serak. Kulepas rengkuhan ibu. Kukejar Bapak sebisaku. Kutarik pakaian orang-orang yang mengambilnya. Kupukuli kaki mereka."

Belum merasa pilu? Lanjutannya masih ada, "Yang dapat kutangkap dari Bapak adalah tatapan mata terakhirnya-seperti penuh ketakutan, penuh kesedihan, penuh ketidakberdayaan, dan entah apa lagi arti tatapan matanya yang dapat membuat dadaku terasa ngilu."

Meski sang bapak sudah tiada, dan situasi mulai berangsur normal, Sari tetap penasaran siapa sosok yang bertanggung jawab pada kematian bapak. Ia membuat daftar nama-nama yang ia anggap berperan serta pada pengeroyokan bapak. 

Daftar tersebut ia bagikan kepada kedua sahabatnya Rama dan Ahmad. Ahmad selalu bersedia membantu mencari informasi perihal nama-nama yang ada dalam daftar tersebut. Sementara Rama, seakan tidak peduli. Sari bahkan pernah menemukan sobekan daftar milik Rama di tempat sampah. Pedih hatinya ketika melihat sobekan itu.

Mengambil lokasi Banyuwangi serta tahun peristiwa dari 1994-2012, pembaca akan diajak mengikuti perjalanan hidup Sari. Dari seorang anak SD hingga menjadi seorang penari gandrung. Tentunya juga mendapat gambaran mengenai bagaimana kehidupan masyarakat saat itu dengan berbagai masalah sosial yang menggelitik rasa kemanusiaan.

Kisah persahabatan yang kemudian menjadi kisah cinta, menjadi bumbu penyedap karya ini.  Dari tiga anak kecil berkembang menjadi dua pria dewasa dan satu wanita muda. Segala kecerian, duka, amarah dan pengorbanan menjadi satu. Tak selamanya cinta  masa kecil berarti terus memiliki saat dewasa. Demikian juga sikap diam, bisa menjadi cinta yang mengubah banyak hal.

Pembaca juga bisa mendapatkan informasi mengenai seni gandrung yang berasal dari Banyuwangi.  Pada hal 131 misalnya, pembaca diberikan pemahaman mengenai beda antara penari gandrung dengan gandrung. Walau bisa dikatakan seorang gandrung pastilah penari gandrung juga. Tapi penari gandrung belum tentu gandrung. Tak mudah menjadi seorang gandrung. Ada ritual yang harus ditempuh. Untuk informasi  lebih lanjut mengenai seni gandrung, bisa dilihat di sini.

Jika menilik judul, seharusnya bagian tentang sampur mendapat porsi lebih. Namun saya justru hanya menemukan bagian yang bisa dikatakan relatif kecil. Sebagian besar kisah malah ditekankan pada upaya Sari mencari informasi mengenai orang yang berada dalam daftar nama orang yang terkait penganiayan bapak. Meski memang ada keterkaitan upaya tersebut dengan sampur merah.  Dalam upaya memecahkan misteri penyebab bapaknya terbunuh, Sari mendapatkan sampur merah. Mungkin karena itu, penulis memberikan judul "Perempuan Bersampur Merah."

Seperti yang saya sebut sebelumnya, kata Sampur Merah menggelitik rasa ingin tahu saya. Sampur seingat saya   (sewaktu masih kena wajib menari ketika kecil),   merupakan selendang yang dililitkan di pinggang atau disampirkan di bahu dan dipergunakan untuk menari. Sementara kata "merah" mungkin hanya penyebutan warna semata.

Sepertinya imajinasi saya yang terlalu liar, tapi membaca blurd serta judul, saya mengira akan ada unsur mistis yang diangkat penulis. Dalam artian ada suatu ritual yang harus ditempuh Sari untuk bisa mendapatkan sampur tersebut. Meski sempat dikatakan bahwa Sari dianggap layak mewarisi sampur merah milik seorang  gandrung senior karena bakat terpendamnya.

Konon sampur itu yang memilih pemiliknya, dan yang memilikinya dianggap akan menjadi gandrung yang mumpuni.  Namun dalam kisah, hanya sesekali disinggung mengenai kemampuan Sari menari dengan mempergunakan sampur merah tersebut.   Saya mengira bakalan ada kejadian-kejadin tidak biasa yang muncul ketika ia mempergunakan sampur tersebut. Meski buntutnya nanti sekedar kebetulan, tapi bisa membuat kisah lebih menggigit.  Penulis seharusnya bisa menambahkan kesan dramatis dengan memberikan kesuksesan Sari sebagai penari gandrung.

Bagian ini bisa lebih diracik lagi.  Sampur  merah tidak hanya diserahkan begitu saja, atau kebetulan berada di lemari bajunya, juga tidak hanya dipergunakan untuk beberapa kali menari saja mengingat asalnya yang spesial.

Seperti umumnya penulis, pasti memiliki rasa cinta pada buku. Kecintaan penulis akan buku terlihat pada kalimat di halaman 179," Kudengar Ahmad sedang merantau demi mempelajari bisnis penyewaan buku. Ia datang dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari ide. Karena di kota sana banyak penyewaan buku yang kadang-kadang digabung dengan kafe atau warung kopi." Sebuah upaya pengembangan usaha yang dirintas Ahmad.

Sari, Rama dan Ahmad, semula mereka hanyalah tigga anak kecil yang mengisi hari dengan banyak canda dan tawa. Justru para orang tua yang membuat kehidupan mereka berubah. Membuat tawa menjadi tangis, membuat rasa iba menyaru dengan cinta, dan membuat hidup damai menjadi kenangan.


Sebagai wacana tambahan, mari disimak tari gandrung berikut ini.