Jumat, 31 Juli 2020

2020 #29: Mengenal Risk Management BUMN

Penulis: Wawan Zulmawan
ISBN: 9786232180994
Halaman: 340
Cetakan: Pertama-Mei 2019
Penerbit: Prenadamedia Group
Harga: Rp 106.000
Rating: 3.5/5

Akibat ketiban tugas mengurusi manajemen risiko di kantor, serta efek mengikuti beberapa pelatihan terkait manajemen risiko, membuat saya jadi tertarik dengan berbagai hal terkait dengan manajemen risiko. Salah satunya yang terkait dengan penerapan manajemen risiko pada BUMN.

Kebetulan, secara tak sengaja saya menemukan buku ini. Dilihat dari judul dan isinya sepertinya menarik. Mengintip blurd juga menawarkan sesuatu yang menarik,  harga juga terjangkau. Jadi sesekali boleh dung belanja buku yang agak beda he he he.

Terdiri dari 6 bab, buku ini  menelaah perihal aspek hukum manajemen risiko di BUMN menggunakan teknik analisis  berupa metode content analysis. Tinjauan dan analisis yuridis atas buku ini disesuaikan dengan teori Nilai Hukum oleh Gustav Radbruch dan Efektivitas Hukum oleh Lawrence M. Friedman dianalisis dengan metode Economic Analysis of Law berupa Regulatory Impact Assassment (RIA) dan Cost and Benefit Analysis (CBA).

Diuraikan mengenai manajemen risiko untuk dunia usaha, termasuk ISI 31000-2018 serta manajemen risiko perbankan yang diatur dalam based system.  Juga terlihat bagaimana penerapan manajemen risiko di BUMN di tanah air, termasuk  substansi hukum dan struktur hukum manajemen risiko di BUMN.

Terdapat juga perihal penerapan manajemen risiko pada kegiatan usaha BUMN untuk meminimalisasi risiko hukum. Termasuk menguraikan tentang faktor-faktor yang memengaruhi penerapan manajemen bagi BUMN ditinjau dari teori  efektivitas Lawrence M. Friedman, dan kegiatan usaha BUMN dan risiko hukumnya.

Tak ketinggalan terdapat konsep aturan hukum manajemen risiko di BUMN yang cocok  dalam mengatur manajemen risiko pada kegiatan usaha BUMN. Menguraikan  perihal konsep aturan baru manajemen risiko bagi BUMN seta pentingnya makna aturan tersebut dalam pengoperasian BUMN. 

Manajemen risiko di Indonesia, pertama kali diterapkan oleh Bank Indonesia melalui Peraturan Bank Indonesia  (PBI) Nomor: 5/8/PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bank Umum. Peraturan tersebut belakangan diubah menjadi PBI  Nomor  11/25/PBI/2009. Sedangkan untuk BUMN disinggung pertama kali dalam Keputusan Mentri BUMN Nomor: Kep-117/M-MBU/2002 tentang Penerapan Praktik Good  Corporate Governance (GCG), pada Pasal 14 ayat (3) yang berbunyi, " Komisaris/Dewan Pengawas BUMN dapat mempertimbangkan untuk membentuk Komite lain yang terdiri dari Komite Nominasi, Komite Remunerasi, serta Komite Asuransi dan Resiko Usaha guna menunjang pelaksanaan tugas Komisaris/Dewan Pengawas."

Risiko tentu saja dapat muncul dari berbagai macam sumber, ketidakpastian pasar keuangan, ancaman dari kegagalan proyek (selama desain, pengembangan, atau produksi), kewajiban hukum, risiko kredit, kecelakaan, ataupun bencana alam. Risiko-risiko tersebut tentu saja juga dapat memakan korban dengan jumlah besar dari sisi keuangan. Maka bersandingan dengan Peraturan Mentri Negara BUMN Nomor: Per-01/MBU/2011, munculah ISO  31000-2009, kemudian diperbaharui dengan ISO 31000-2018.

Isi dari  ISO 31000:2018 memuat  bahwa penciptaan dan perlindungan terhadap nilai organisasi menjadi maksud dari keseluruhan penerapan manajemen risiko di lingkungan organisasi. Penerapan manajemen risiko dimulai dan menjadi bagian dari tata kelola organisasi. Praktik manajemen risiko harus diintegrasikan dengan proses-proses organisasi. Keberadaan kerangka kerja manajemen risiko ditujukan agar organisasi dapat melaksanakan integrasi tersebut.

Meski sudah menerapkan manajemen risko sebagai bagian dari Good  Corporate Governance, tidak membuat Direksi begitu saja bisa bebas ketika muncul suatu masalah hukum. Butuh banyak sumber daya untuk bisa menjelaskan dan membuktikan bahwa kepailitan tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya; telah melakukan pengurusan dengan itikad baik, kehati-hatian, dan penuh tanggungjawab untuk kepentingan Perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan; tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan yang dilakukan; dan telah mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kepailitan.

Sementara, pandangan tiap orang mengenai itikad baik, kehati-hatian, dan penuh tanggungjawab, benturan kepentingan, serta tindakan untuk mencegah terjadinya kepailitan tidaklah sama. Bagi seorang Direksi  mungkin yang ia lakukan telah memenuhi semua kriteria apalagi dengan masukan dari unit manajemen risiko yang ada. Tapi bagi pihak lain, bisa saja bermakna beda.

Harus ada kesamaan persepsi untuk penafsiran hal tersebut, jika tidak, tak akan ada orang yang mau menjadi Direksi. Karena dalam menjalankan tugasnya akan selalu berada dalam kondisi yang tidak nyaman, selalu merasa khawatir apakah tindakannya benar atau salah, apakah akan merugikan negara yang  bisa berdampak bagi diri dan keluarganya. Jika sudah demikian, tentunya akan mempengaruhi kinerja.

Bidang hukum dan ekonomi berasal  subdisiplin sendiri, namun terlah bergabung menjadi paradigma baru yang bersal   dari akar yang berbeda. Tapi tetap harus ada kesamaan pemahaman dalam hal perlindungan seorang Direksi dalam menjalankan tugasnya guna menambah

Secara garis besar, buku ini memberikan tambahan wawasan tentang bagaimana manajemen risiko pada BUMN.  Walau saya tidak memiliki latar belakan pendidikan dalam bidang hukum, namun buku ini  mudah dipahami. Apalagi dengan pemberian beberapa contoh kasus.

Sangat direkomendasikan bagi mereka yang ingin mengetahui bagaimana pelaksanaan manajemen risiko di BUMN. Cocok bagi ASN terutama pada level direksi, para pelaku usaha di tanah air serta mereka yang berkecipimpung dalam bidang hukum.






2020 #28: Diplomasi Cinta Ala Ngadiyo

Penulis: Ngadiyo
ISBN: 9786027498525
Desain Sampul: Na'imatur R
Halaman: 144
Cetakan: Pertama-2016
Penerbit: Diomedia
Rating: 3/5

Salah satu cara mendukung sahabat dunia buku adalah dengan cara membeli karyanya dan membuat ulasannya. Beli ya bukan minta ^_^. Persoalan saya dikasih itu lain cerita, tapi saya berprinsip dengan membeli juga sudah membantu yang bersangkutan.

Selanjutnya, dukungan dilakukan dalam ulasan yang berimbang, apa adanya tanpa memandang pertemanan. Teman yang baik akan saling memberikan kritik dan menerimanya dengan lapang hati. Ulasan tersebut akan menjadi cambuk bagi dirinya untuk selalu mengasah kemampuan diri. 

Salah satunya adalah buku karangan Ngadiyo ini. Saya yang teledor! Dengan ukuran  yang tak seberapa besar, serupa dengan  ukuran buku Agatha Christie (kira-kira 11 X 18 cm) halaman yang 144, membuat buku ini dengan mudah tertindih aneka buku lainnya. Baru ketika sedang beres-beres total semua rak buku, saya menemukan buku ini nyaris berada di bawah timbunan buku bantal. Maafkan saya ya. 

Dalam buku  Diploma Cinta ini   terdapat sebelas kisah, mulai dari  Burung Kenari di Malam Hari; Runtah; Jarak; Obsesi; Diploma Cinta; dan Sakum dan Nasilah. Tiap kisah dibuat  dengan latar belakang dan tokoh yang unik. 

Membaca kisah Runtah, membuat emosi saya teraduk-aduk. Kisahnya cukup mengharukan, apa lagi saya membacanya dikesunyian malam. Dua orang wanita, Runtah dan si Mbok, menempuh perjalanan  dengan berjalan kaki dari pengunungan Baturaden, ujung utara Purwokerto demi sedikit uang yang mereka butuhkan untuk membeli baju Lebaran, serta harapan  mendapatkan uang dari upah cuci. 

Keduanya harus menahan malu, mau bagaimana lagi mereka butuh uang.  Harapannya mereka hanyalah belas kasihan dari Bu Carik, mantan majikan  Mbok.  Kelelahan sepanjang perjalanan dikalahkan dengan harapan dan keyakinan si Mbok bahwa Bu Carik akan membantu mereka. 

      "Nanti aku akan bilang Bu Carik, minta uang."
      "Memang akan diberi, Mbok?"
      "Pasti. Bu Carik orangnya baik. Priyayi seperti  
       beliau selalu memberi."

Kita butuh banyak sosok seperti Bu Carik!
Mereka disambut dengan hangat. Dibiarkan mengisi perut terlebih dahulu, memulihkan tenaga yang dihabiskan selama perjalanan. Dengan santun mereka mengambil makan sendiri. Seperlunya, tidak aji mumpung bisa makan.

Selain mendapatkan uang, Runtah juga berhasil mendapat kesempatan untuk mencucikan pakaian anak-anak kost  Bu Carik.  Bahkan Bu Carik sendiri yang menanyakan langsung pada mereka apakah ada pakaian yang hendak dicuci. Untuk sabun cuci dan lainnya, Runtah dipersilakan mempergunakan milik Bu Carik. 

Tak butuh lama, terkumpul beberapa ember cucian. Sekian ember kali lima ribu rupiah! Banyak nilainya bagi Runtah tapi tak seberapa bagi orang lain. Saya mendadak jadi melow, melirik buku yang baru saya beli, setara dengan sekian puluh ember cucian bagi Runtah. Semprul Ngadiyo!Kenapa saya jadi merasa bersalah pada sosok ciptaannya ini.

Kedua harapan Mbok dan Runtah dengan memenuhi Bu Carik memang terpenuhi. Mereka bisa mendapatkan uang untuk membeli baju Lebaran dan upah mencuci baju anak kost bahkan tetangga Bu Carik.

Namun Runtah tetap merasa orang memandangnya dengan jijik. Saya jadi berpikir, sekejam inikah masyarakat kita? Lahir dari korban pemerkosaan membuat  Runtah sering merasa rendah hati. Sang Mbok yang sebelumnya bekerja di rumah Carik juga menjadi korban cibiran masyarakat. Padahal ia yang dihamili, kenapa dia yang dianggap sampah?

Sementara sosok pembantu yang bertugas memanjat pohon kelapa-yang menghamili Mbok Runtah malah bebas berkeliaran. Sungguh tidak elok menimpakan kesalahan semuanya hanya pada Si Mbok semata. 

Sungguh, kita memang  butuh banyak sosok berhati mulia seperti Bu Carik. Agar makin banyak Runtah-Runtah lain yang bisa memiliki baju baru saat Lebaran tiba. Keingan sederhana seorang anak yang menjadi mewah jika menilik keadaan mereka.

Kisah Diploma Cinta yang dijadikan judul buku, sebenarnya sederhana saja tapi mengandung pesan yang dalam. Mengisahkan tentang rasa kagum seorang wanita pada seseorang pria bernama Morizon. Dari gambaran penulis, sosok pria tersebut memang layak dijadikan idola banyak wanita. Tapi begitulah kisah cinta, tak selalu berakhir bahagia bukan?

“Kita lebih baik berteman. Sangat diplomatis kan jawabanku? Karena kita sama-sama satu komunitas sastra. Tidak perlu suka-sukaan begitu ya? Bisa saja seperti kamu berteman dengan yang lain

Kisah ini unik.  karena penulis yang merupakan pria  menuliskan kisah dari sudut pandang sang tokoh yang berjenis kelamin perempuan. Unsur serta rasa "perempuan" sangat pas. Tidak berkesan berlebihan juga memaksa. Bagaimana sang gadis tertarik dan berusaha melirik Morizin ketika berada dalam suatu cara, mengingatkan saya akan tingkah beberapa sahabat ketika sedang tertarik pada seorang pria.  

Meski  begitu, bagian yang memuat bagaimana sang gadis menyatakan cintanya langsung membuat kedua alis saya bertemu. Entah. Mungkin zaman sudah berubah. Namun sebagai orang yang dididik dengan adat Jawa, saya selalu diingatkan untuk lebih bisa memendam rasa, terutama pada lawan jenis. Silakan memberikan sinyal-sinyal namun jangan terlalu terus terang. Mungkin, saat ini   bukan hal yang aneh jika seorang gadis menyatakan rasa cinta pada seorang pria. Mungkin saja.

Bagian yang mengisahkan tentang aktivitas Komunitas Sastra di Solo, seakan akrab bagi saya. Beberapa nama, meski berbeda seakan merujuk pada para sahabat yang sangat saya kenal. Bisa dikatakan bahwa kisah ini terinspirasi dari kegiatan menonton film yang diadakan oleh komunitas tersebut. Ide memang bisa berasal dari mana saja.

Untuk kover buku, bisa dikatakan sesuai dengan selera pembaca remaja, target pembaca buku ini. Ditambah dengan nuansa merah muda yang sering dianggap mewakili nuansa cinta, buku ini akan menarik perhatian calon pembaca jika dipasang di toko buku. harganya juga seingat saya cukup bersahabat bagi kantong. 

Saya agak bingung dengan model kover yang sekan dibuat dengan model jaket. Pada halaman belakang, ada informasi tentang dirimu penulis. Namun jaket pada bagian awal hanya berupa halaman kosong. Lalu kenapa tidak data penulis saja yang diletakkan di bagian depan? Bagian belakang,  biarlah dibuat seperti kover biasa tanpa jaket.

Bagi teman-teman yang merasa memiliki naskah menarik atau ingin membuat buku, bisa langsung menghubungi Ngadiyo di 0856 4376 2005 atau ke  pustakadiomedia@gmail.com. Bakalan ada solusi seru yang diberikan olehnya. 

Sumber gambar:
Fb Ngadiyo



Selasa, 21 Juli 2020

2020 #27: Menikmati Kisah Jlitheng Dan Kawan-Kawannya

Judul asli: Si Jlitheng: Dongeng Bocah Abasa Jawa
Penulis:Impian Nopitasari
Ilustrasi : Nai Rinaket
ISBN: 9786237721215
Halaman: 52
Cetakan: Pertama-2020
Penerbit: Babon
Harga: Rp 75.000
Rating:4/5

"Dhuh Gusti, nelangsa temen awak mami. Becik kulo pejah kemawon Gusti, tinimbang urip nggih mboten semangat, dados sanggane liyan,"

~ Si Jlitheng, halaman 42 ~

 Sebuah buku anak dengan mempergunakan bahasa Jawa, Menarik! Menurut saya, salah satu cara melestarikan bahasa lokal adalah mengajarkan bahasa tersebut pada generasi muda (iya... saya sudah mulai agak menua wkwkwk). Tentunya diperlukan cara mengenalkan dan media pembelajaran yang sesuai dengan minat generasi muda saat ini.

Buku karya Jeng Impian, merupakan salah satu cara unik yang bisa ditiru. Dalam buku setebal 52 halaman ini, pembaca akan diajak menikmati 4 kisah fabel dalam bahasa Jawa. Ada kisah Dongenge Pitik karo Bebek; Kodhok lan Bekicot; Ndara Anyar;  dan Si Jlitheng. 

 Kisah yang ada merupakan kisah fabel.  Sebuah kisah yang menampilkan tokoh binatang sebagai tokoh utama. Binatang tersebut memiliki karakter seperti manusia. Ada yang mendapat peran antagonis serta prontagonis. Meski demikian tidak ada penjelasan terperinci mengenai sifat para tokoh dalam kisah fabel.

 Tujuan penulisan fabel biasanya untuk  menggambarkan situasi sosial di masyarakat. Kisah dibuat untuk memberikan pesan moral kepada pembaca mengenai bagaimana sebaiknya bersikap dalam kehidupan, terutama dalam hubungan sosial dalam  masyarakat.

Kisah ini menjadi cerminkan kehidupan masyarakat yang sering merasa iri dengan orang lain.  Tidak puas dengan kondisinya. Ada orang yang merasa iri dengan tetangga yang bisa berbelanja aneka daging. Nyaris tiap hari  tetangga mereka makan daging. Ia lupa jika kondisi keluarganya yang sering makan sayuran bergantian dengan daging membuat tubuh mereka lebih bugar.

Kisah Ndara Anyar, mengajarkan kita untuk selalu bisa beradaptasi dengan lingkungan di manapun kita berada.  Mimi dititipkan  majikannya kepada sebuah keluarga terpercaya untuk beberapa hari. Kesalahan utama si pemilik (menurut saya) karena ia hanya menitipkan Mini saja, ia lupa membawakan makanan yang  biasa dimakan Mimi sejak kecil.

Bagian ini mengajarkan kita untuk bisa memandang segala peristiwa dari banyak sisi, tidak hanya dari satu sisi saja.Yang dipikirkannya adalah siapa yang harus menjaga Mimi, tak terpikirkan bagaimana Mimi makan.

Terbiasa makan dengan makanan kucing kemasan membuat Mimi tak terbiasa diberikan makanan rumah. Perlahan ia memang bisa beradaptasi hingga akhirnya malah merasa sedih ketika pemiliknya menjemput.

Sang pemilik rumah yang dititipi Mimi juga mengajarkan kita bahwa menyayangi sesama makhluk hidup adalah hal yang mulia. Mereka rela ikan lauk makannya disantap Mimi yang sudah sekian lama tidak mau makan. Walau untuk itu mereka hanya bisa makan dengan sayur dan sambal saja. Mengharukan.

Selain menikmati kisah yang walau sederhana namun penuh dengan karifaan, pembaca juga diajak menikmati ilustrasi yang menawan dalam buku ini. Gambar yang ada seakan hidup. Anak-anak pasti menyukai ilustrasi yang ada, bahkan orang dewasa mustahil tidak meliriknya.

Sayangnya, buku ini hanya memberikan tulisan dalam bahasa Jawa, tidak ada huruf Jawa-nya. padahal kalau sekalian kan seru! Usul bolehkan, siapa tahu bakalan cetak ulang. Untuk selanjutnya dibuat dengan mempergunakan aksara Jawa, kemudian di bawahnya ada tulisan dalam bahasa Jawa. Terdapat juga tulisan dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Tujuannya agak mereka yang bukan berasal dari suku Jawa tetap bisa menikmati kisah karena tersedia  bacaan dalam bahasa Indonesia. Dengan adanya bahas Inggris tentunya buku ini bisa dijadikan semacam tanda kasih bagi tamu-tamu asing. Plus memperkenalkan budaya Jawa   ke seluruh penjuru dunia.

Bangga rasanya jika menemukan buku ini berada dalam katalog salah satu perpustakaan yang ada di luar negeri. Ditambah ketika melihat banyak yang meminjamnya. Buku ini  menjadi  representatif kebudayaan kita di luar negeri. Duh ya, saya kan jadi menghayal.

Pembeli adalah raja. Tentunya sudah sering kali kita mendengar kalimat seperti itu. Bagi penjual, pesan yang terkandung adalah untuk bersabar jika menghadapi pembeli. Secerewet apapun tetaplah bersabar mendengarkannya, selalu tersenyum. Layanan dia layaknya seorang raja.


Dari sisi pembeli, kalimat tersebut sering disalah artikan menjadi kebebasan untuk bertindak semena-mena pada pejual. Mereka raja, wajib dilayani. Sering kali ada yang bertindak diluar kewajaran, misalnya dengan minta ditunjukan aneka  warna dan motif di toko kain, namun batal membeli dengan alasan tidak ada yang cocok.

Karena saya pembeli buku ini, maka saya adalah raja. Dengan begitu, saya bisa meminta Jeng Impian selaku penulis untuk menorehkan cap bibir dan jempol di halaman depan. Kenapa tidak tanda-tangan? Sudah biasa itu, sudah satu lemari penuh saya memiliki buku dengan tanda tangan penulis. Cap bibir dan jempol lebih otentik bagi saya.

Jahil? Sedikit sih.
Tapi untuk buku seperti ini, layak kok dibeli untuk dikoleksi dan dibagikan sebagai tanda kasih.









Jumat, 10 Juli 2020

2020 #26: Ketika Seseorang dari Surga Menelponmu














Penulis: Mitch Albom
Alih bahasa: Julanda Tantani
ISBN: 9786020311418
Halaman: 424
Cetakan: Kedua-Agustus 2019
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Rating:4/5

Sampai hari ini aku tak tahu alasannya. Itulah yang terjadi ketika orang-orang terlalu cepat meninggalkan kita, bukan?  Kita selalu mempunyai begitu banyak pertanyaan.

~Telepon Pertama Dari Surga, halaman 408~

Sebuah buku menarik  versi saya, jika mampu membuat penasaran dan  bersemangat membaca. Rasa penasaran tersebut terus bertahan hingga nyaris setengah buku. Itu versi saya, mungkin orang lain memiliki  versi yang berbeda. Tak ada ketentuan pasti mengenai sebuah buku yang patut dianggap menarik.

Demikian juga buku ini. Judul memang alasan awal saya tertarik membacanya. Saya membayangkan (dasar tukang ngayal) ada satu atau beberapa orang yang beruntung bisa berhubungan dengan sosok tercinta yang sudah berpulang, entah bagaimana caranya. Dari ilustrasi pada kover, saya berasumsi telepon yang menjadi perantara.

Perlu diingat, hal tersebut muncul begitu saja dalam kepala saya sebelum sempat membaca blurd. Ternyata kisahnya tak berbeda jauh dengan apa yang saya bayangkan. Beberapa orang yang dianggap terpilih bisa berbicara dengan kerabat yang telah meninggal melalui telepon. Baik telepon genggam atau telepon rumah biasa.

Bagaimana perasaan Anda ketika seseorang yang sudah meninggal mendadak menghubungi melalui telepon dan mengatakan bahwa ia berada di surga? Aneka perasaan campur anduk bermunculan, setidaknya bagi Tess Rafferty, Jack Sellers, Katherine Yellin, Eddie Douke, Anesh Barua, Jay James,  Elias Rowe,  serta Elwood Jupes

Setiap Jumat,  telepon-telepon tersebut  berdering. Hanya pada hari Jumat, tidak akan berbunyi di hari lain. Dering telepon menjadi hal yang sangat mereka nantikan.  Apalagi pembicaraan cenderung berlangsut singkat, sering mendadak sambungan telepon putus begitu saja. 

Pesawat telepon atau telepon genggam menjadi barang yang sangat berarti. Penjualan telepon genggam tipe tertentu meningkat tajam! Bahkan ketika terjadi kebakaran pada salah satu rumah penerima telepon, ia berteriak histeris meminta pemadam kebakaran menyelamatkan telepon rumah. Bukan rumah ya, hanya TELEPON RUMAH.

Mereka yang bisa berhubungan, merasa mendapat kesempatan  emas untuk menyelesaikan hal-hal yang belum tuntas. Minimal menyatakan betapa mereka sangat menyayangi sosok yang telah berpulang. Bahwa kepergian mereka sangat memukul keluarga, hal seperti itulah.

Beberapa dari mereka, memanfaatkan kesempatan untuk bertanya lebih lanjut mengenai kehidupan di "sana". Bagaimana rasanya tinggal di sana,  bagaimana perasaaan kerabat yang sudah meninggal ketika menemukan diri mereka berada di "sana". Pembicaran sentimentil berubah menjadi pemuas rasa penasaran.

Nyaris seluruh warga kota percaya akan  hal tesebut  kecuali Sullivan Harding- Sully. Baginya sangat tidak masuk akal sang istri bisa mengubungi dirinya. Pasti ada sesuatu hal yang bisa dijelaskan dengan logika kenapa hal tersebut bisa terjadi.  

Singkatnya, walau ia yakin suara yang ia dengar adalah suara sang istri, namun ia menolak berbicara.  Kepada sang anak ia juga mengatakan bahwa hal itu bohong belaka, Meski demi kebahagian sang anak ia terpaksa membiarkannya membawa ponsel mainan dengan harapan sang ibu akan menghubunginya juga.

Ia mulai menemukan titik terang  di halaman 251. Untuk bisa menperoleh informasi yang diinginkan, ternyata tak mudah. Terlalu banyak warga yang begitu meyakini keberadaan hubungan dengan Surga. Ia justru dianggap aneh ketika menolak menerima hal tersebut.
https://www.ilmusiana.com

Segala hal makin menjadi rumit ketika media juga ikut berperan. Pada bagian ini, pembaca akan diberikan gambaran bagaimana peran sebuah media dalam kehidupan masyarakat. Tak heran jika media, pers tepatnya,  dinggap sebagai salah satu kekuatan. Apalagi dizaman internet saat ini. Kisah dalam buku ini contohnya.

Senang juga mengetahui bahwa  pada akhirnya Sully menemukan pemecahan kasus ini dengan melakukan penyelidikan di perpustakaan. Dengan bantuan pustakawan yang handal, bisa dikatakan ialah yang menjadi kunci mengungkap seluruh kisah ini.  Keseruannya bisa dibaca di halamana 14x he he he.

Sebenarnya saya agak kurang suka dengan pemaran bagian cara Sully menemukan penyebab dari peristiwa yang menggegerkan kota. Digarap dengan sangat sederhana, terlalu simpel. Berlawan dengen kehebohan kisah tentang efek telepon tersebut bagi warga. Diumpakan sebuah hal besar ternyata hanya disebabkan suatu hal sepele saja.

Secara garis besar, buku ini menawarkan kisah yang unik. Tentang bagaimana warga sebuah kota meyakini adanya kehidupan setelah kematian. Penulis dengan apik membuatnya sebagai suatu hal yang diyakini bersama, tanpa menyinggung agama atau kepercayaan warga.

Untuk memperjelas keragaman tokoh, beberapa tokoh  dibuat dengan memiliki latar belakang budaya yang sengaja dibuat berbeda. Mereka menjadi satu karena percaya akan kehadiran telepon dari surga. Telepon tersebut membuang segala perbedaan yang ada.

Pembaca juga akan mendapat informasi mengenai bagaiman perkembangan telepon. Sejak mulai diciptakan oleh Alexander Graham Bell, usahanya meyakinkan orang untuk mendengarkan paparan dan mencoba penemuannya, hingga akhirnya telepon dipatenkan. Sebuah selingan yang digarap dengan apik. 

Mari kita abaikan berbagai informasi yang menyebutkan bahwa Alexander Graham Bell bukanlah orang pertama yang menemukan telepon. Agar bisa lebih menikmati kisah, mari kita setuju saja dengan hal tersebut ^_^. 

Kisah ini membuat saya jadi paham kenapa banyak orang yang was-was data pribadinya  bisa dicuri melalui telepon. Sepertinya sudah tidak ada yang rahasia lagi di zaman internet. Teknologi ternyata juga membuat celaka jika tidak dipergunakan dengan bijak. 

Pada bagian belakang buku, saya menemukan ada cetakan yang agak aneh. Selama ini cetakan selalu dibuat dengan posisi ada di tengah halaman. Tapi  pada buku ini seakan batas area dilanggar. Agak tidak biasa. Entah ini untuk seluruh buku atau hanya pada buku yang saya miliki.

Begitulah, penulis yang satu ini cukup pandai mengaduk-aduk emosi saya ketika membaca karyanya. Ikut menangis ketika terbayang seorang anak sibuk memeriksa telepon genggam mainannya, berharap sang ibu menghubunginya di sana. Ikut tersenyum puas ketika penjahat mendapat hukumannya.

Mari mencari buku lainnya di perpustakaan ^_^.







Kamis, 02 Juli 2020

2020 #25: Menikmati Mahakarya S, Mara Gd (Mengandung Spoiler)

Penulis: S. Mara Gd
Penyunting: Ramayanti
Buku Kedua:
ISBN: 9786020637129
Halaman:  480
Harga: Rp 103.000
Buku Ketiga:
ISBN: 9786020637136
Halaman: 424
Harga: Rp 95.000
Cetakan: Pertama-April 2020
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Ada hari baik di mana semua keinginan kita terpenuhi. Ada hari buruk di mana semuanya tidak ada yang kena. Begitulah hidup. Ngak ada yang bisa enak terus. 

~ Misteri Terakhir, Buku kedua, halaman 363 ~

Akhirnya buku pesanan saya tiba juga!
Buku kedua dan ketiga dari kisah  penutup rangkaian misteri  Kapten Kosasih dan Gozali. Sedih juga berpisah dengan kedua tokoh tersebut. 

Membacanya cepat, membuat komentarnya yang lama, bingung musti komentar seperti apa. Rasanya seperti membaca buku perpisahan dengan Miss Marple,  Sleeping Murder (Pembunuhan Terpendam). Serta membaca The Curtain (Tirai) dan mengetahui bahwa itu kisah terakhir Poirot.

Buku ini mempergunakan setting tahun 1990-an. Dugaan saya tahun 1997, karena pada satu bagian kisah menyebutkan tentang  peritiwa meninggalnya Lady Diana.  Bagi mereka yang lahir  tahun 2000-an mungkin kurang begitu mengenal sosok ibu dari Pangeran Willian dan Pangeran Harry, tapi mereka yang mengalami masa remaja tahun 1990-an pasti mengenalnya.  Lebih lanjut mengenai Lady Diana bisa dilihat di sini.

Kisahnya mengenai pembunuhan seorang yang terjadi pada sebuah kamar hotel. Pada pipinya tertinggal bekas lisptik. Kasus tersebut belum terungkap telah muncul usaha pembunuhan tokoh yang lain. Hal tersebut membuat bingung Kapten Kosasih dan Gozali. Untuk lebih jelas mengenai  buku pertama, buku kedua, dan buku ketiga langsung klik saja ya. 

Para tokoh yang sudah dikenalkan pada buku pertama, semakin banyak bermunculan pada buku kedua. Pembaca bisa mulai menemukan hubungan beberapa hal yang semula kabur pada buku pertama. Semuanya semakin terlibat jelas hubungannya pada buku ketiga. 

Bisa dikatakan semua pertanyaan, rasa penasaran saya terjawab pada buku ketiga. Bocoran sedikit,  saya menemukan jawabannya pada halaman tiga ratus tujuh puluh satu. Mungkin pembaca yang lain pada halaman yang berbeda, siapa tahu?

Tapi untuk bisa merasakan kepuasan membaca sebuah mahakarya seorang S. Mara Gd, tetaplah membaca dari  buku pertama hingga ketiga. Jangan langsung membaca buku ketiga.  Perasaan penasaran, sensasi membaca buku ini tidak akan kalian temukan jika langsung membaca buku terakhir. Seninya adalah membaca secara berurutan, dan tersenyum puas  ketika dugaan terbukti benar, serta bahagia menemukan akhir kisah yang tak terduga.

Kembali, saya bingung bagaimana harus membuat catatan buku ini. Kita diajak menikmati bacaan yang terlihat sekali dipersiapkan dengan maksimal oleh penulis. Tiap hal dipersiapkan dengan rinci. Rasanya berbeda dengan membaca buku-buku karyanya yang lain. 

Meski demikian, karena sudah lumayan akrab dengan karya beliau, saya makin bersemangat ketika beberapa petunjuk bermunculan.  Misalnya ketika membaca di buku kedua halaman 255, " Aku diajak bapak itu mengelola rumah makannya." Ketika salah satu tokoh mengaku berasal dari sekolah yang sama dengan anggota keluarga Viliandra di buku kedua halaman 422. Makin jelas  terlihat hubungannya pada halaman tiga puluh dan empat puluh sembilan di buku ketiga.

Demikian juga rasa penasaran pada salah satu adegan di buku pertama,  yaitu ketika   Viliandra yang menyamar sebagai sekretaris Adwin Saran meminta resepsionis untuk menghubungi kamar suaminya, saya memiki banyak pertanyaan dan dugaan pastinya. Namun semuanya terjawab melalui percakapan antara Kosasih dan Gozali di halaman 356 baris ketiga dan keempat buku kedua. Hore! Dugaan saya tepat!

Tokoh yang semula digambarkan kurang beruntung mulai saya rasakan berubah. Terutama ketika terjadi adegan ajakan makan malam pada halaman 281. Kemudian ketika Bambang menanyakan pekerjaan bagi adiknya di  233. Akhir kisah bahagia bagi diraih tokoh tersebut. Hidup memang penuh dengan misteri.

https://www.goodreads.com/
Selain menawarkan kisah misteri, buku ini juga memberikan kisah mengenai kehidupan keluarga Kapten Kosasih yang sederhana namun bahagia. Jauh dari urusan harta. Meski kondisi keluarga bisa dikatakan sekedar cukup, sang kapten tetap bekerja secara profesionalisme. 

Hal ini tercermin dari penolakan jamuan yang akan diberikan salah satu rumah makan ketika ia melakukan penyelidikan ke sana. Menolak jamuan di  270-271  merupakan tanda profesionalisme. Ia tak mau menerima sesuai walau hal sepele, khawatir kemudian hari muncul permintaan timbal-balik karenanya.

Pada buku ketiga, saya memenukan beberapa kata yang sangat akrab terdengar. Ada  mencep di halaman 39, nggelundung di halaman 43, wong di halaman 59. Ada juga kata yang belakangan baru saya sadari maknanya, seperti  bontotin di halaman 153, serta mengoroki di 230.

Secara tak langsung, penulis mengenalkan tentang bahasa lokal-bahasa Surabaya-an bagi pembacanya di seluruh tanah air. Salah satu cara merawat dan melestarikan budaya lokal. Hanya saja, sebaiknya juga diberikan catatan kaki makna kata tersebut. Sehingga semua pembaca jugabisa paham maknanya.

Saya merasa lega karena akhirnya Gozali dan Dessy menemukan kebahagiaannya. Sempat ada rasa khawatir juga mengingat beberapa tokoh mengalami kegagalan dalam urusan cinta. Belum lagi komentar miring yang dilontarkan mengenai perilaku tokoh yang bercinta dalam kisah ini.

"Seorang ibu memang jarang bisa melihat kekurangan pada anak-anaknya sendiri, Kos. Di mata seorang ibu, semua anaknya itu pasti baik-baik seperti malaikat, " kata Gozali.

Ternyata Kapten Kosasih masih "ada" hingga akhir kisah. Pembicaraannya dengan sang istri pada buku pertama hanyalah pembicaraan sepasang suami istri sebelum tidur semata. Saya sempat khawatir, mengira kalau.... Beginilah kalau pembaca sok tahu ^_^.

Kalimat yang paling saya sukai ada di buku ketiga, halaman  170, " Mungkin tidak semua perlu dimengerti. Mungkin ada hal-hal yang hanya perlu diterima saja." Jawaban diplomasi Dessy ketika Gozali bertanya kenapa ia yang dipilih untuk menjadi pasangan hidup.

Bagian Epilog diawali dengan paragraf yang menyentuh. Sungguh penutup kisah yang manis dan dipersiapkan dengan maksimal. Saya jadi melo membaca salam perpisahannya.

Semoga, dengan selesainya kisah ini tidak membuat penulis berhenti berkarya. Siapa tahu muncul tokoh baru dalam bentuk cerpen. 

=====

Curhatan hati ^_^
Saya menemukan buku S. Mara Gd secara tak sengaja. Cetakan yang saya miliki dengan ciri khas latar hitam dan ilustrasi, sekilas mirip dengan buku Agatha Christie. Penasaran saya kenapa ada buku serupa namun pengarangnya berbeda.

Godaan memiliki makin besar terutama ketika itu sedang ada obralan buku terbitan G. Dengan bermodal uang simpanan, saya beli beberapa buku tersebut. Belakangan malah jadi keterusan berburu.

Ternyata, S. Mara Gd dahulu adalah penerjemah kisah Agatha Christie.  Tentunya hal ini mmbentuk cara berpikir hingga mampu menciptakan novel misteri versinya sendiri. Strategi marketing yang cerdik dengan mencetaknya mirip buku AC.

Semoga ada cetak ulang buku-bulu karyanya yang lain kelak.