Selasa, 26 September 2023

2023 #27: Siapakah yang Datang ke Pemakamanku? Sebuah Perenungan

Penulis: Kim Sang-hyun
Penerjemah: Dewi Ayu Ambar Rani 
Penyunting: Andry Setiawan
ISBN: 9786237351542
Halaman: 168
Penerbit: Penerbit Haru
Harga: Rp 82.500
Rating: 3.75/5

"Siapa yang mengurus buku-bukumu kalau kau meninggal nanti?"

Kalimat tanpa basa-basi tersebut dilontarkan salah satu sahabat saya ketika reuni. Mulainya kami hanya bersendau gurau tentang masa lalu. Kemudian, saling mengajukan pertanyaan tentang hobi mengoleksi. Ada yang mengoleksi tas, helm, asesoris, korek dan lainnya. Saya jelas menyebutkan buku ^_^.

Entah bagaimana seorang sahabat mengajukan pertanyaan unik. "Jika kalian  nanti meninggal, siapa yang mengurus koleksimu?" Jawaban beragam. Pengoleksi tas  menjawab anak perempuannya dan menantunya kelak. Pemilik helm menjawab anak laki-laki, menantu. dan cucu. Jika tidak ada mereka, ia punya keponakan yang memiliki hobi sama. 

Hem..., saya bingung harus menjawab apa. Anak satu-satunya tak suka membaca, jangan-jangan koleksi saya habis dijual dalam hitungan bulan. Belahan Jiwa? Nanti dulu. Sepertinya si yayang juga punya masalah yang sama. Jadi ke siapa koleksi harus diserahkan?

Sebuah pertanyaan iseng yang membuat kehidupan saya berubah total! Jadi, saya harus mulai memikirkan siapa yang bakalan mendapat limpahan tugas untuk menjaga koleksi buku. Terutama koleksi Little Women yang saat ini sudah menyentuh angka 270-an.

Mendadak jadi teringat akan sebuah buku yang mengajukan pertanyaan serupa. kebetulan ada acara Patjar Merah yang menggelar aneka buku dengan potongan menarik. Plus ada kegiatan berbincang dengan penulisnya. Langsung cap-cus meluncur.

Buku ini, kurang lebih membahas hal-hal yang sepertinya sepela namun sebaiknya menjadi bahan perenungan. Terdiri dari 4 bab, dan sekitar 40-an sub bagian.  Hanya ada satu judul tulisan terkait kematian, yaitu  Kenangan dan Kematian di halaman 82.

Menjadi bagian Bab 02 Hati yang Hilang,  Kenangan dan Kematian, mengisahkan tentang perenungan penulis akan kematian. Bermula dari menonton film animasi Coco saat baru keluar dari rumah sakit, penulis jadi berpikir banyak hal. Apa yang akan dilakukan ketika kematian tiba? Bagaimana pemakaman dijalankan? Apakah orang akan ingat akan dirinya ketika ia sudah meninggal? 

Kemudian penulis teringat akan kakeknya yang sudah meninggal, suatu kematian yang mendadak akibat kelalaian orang lain. Ia teringat bagaimana sang kakek menunjukkan kasih sayang pada anak dan cucunya melalui perbuatan sederhana. Nama penulis juga pemberian sang kakek, yang merupakan harapan agar ia dapat bersikap penyabar, baik, dan bijaksana. 

Padahal, sebagai seorang penulis, Kim Sang-hyun sudah meninggalkan buku sebagai bukti keberadaan dirinya. Buku tentunya akan bermanfaat bagi banyak orang dengan cara yang unik. Maka, akan ada orang(-orang) yang mengenang dan mengucapkan terima kasih kepadanya.
Banyak pengetahuan yang diajarkan kepada penulis. Banyak hal yang diberitahukan. Namun, sang kakek tak bisa memberitahukan kapan dan bagaimana beliau meninggal. Tak ada yang bisa tahu perihal kematian, misteri dunia. 

Saya menjadi ingat buku Psikologi Kematian 2 Menjemput Ajal dengan Optimisme dari Komaruddin Hidayat. Mendengar kata kematian saja sudah membuat tidak nyaman, tak terbayang  harus mempersiapkan diri dengan optimisme. 

Jika bisa, tentunya setiap manusia ingin hidup selamanya. Sayangnya, tak bisa begitu.  Yang perlu kita siapkan selain bekal kebaikan, adalah menjaga segala tingkah laku kita agar segalanya memudahkan kita kelak. 

Buku  tersebut membuat saya merenung, apakah sudah benar "jalan" saya. Apakah ada yang harus diubah, diperbaiki, atau bahkan dhilangkan jika salah. Silakan berkunjung ke laman ini  untuk mengetahui lebih lanjut tentang buku tersebut.

Tulisan Apa pun Kata Orang, Aku Harus Hidup sebagai Diriku Sendiri, menguraikan tentang seseorang yang mendapat gangguan melalui media sosial. Gangguan yang  dapat dikategorikan dalam pencemaran nama baik, memang pada akhirnya dapat diselesaikan melalu jalur hukum. 

Sebelum kasus selesai, kondisi korban patut mendapat perhatian. Aktivitasnya jelas terganggu, kejiwaannya juga. Untunglah kehadiran penulis sebagai seorang sahabat mampu membuat korban kuat menghadapi cobaan tersebut. 

Pembaca bisa mengambil hikmah dalam kisah ini. Bahwa seseorang dalam kehidupan ini, kadang membutuhkan keberadaan orang lain. Tak ada mungkin menyenangkan semua orang, jika ada yang tak menyukai kita, abaikan saja. Karena kita hidup bukan untuk membuat senang orang lain.

Judul buku ini memang mengundang perhatian, seperti yang disebut di atas, urusan kematian sepertinya malah mendapat porsi yang tak banyak.  Sebagian besar isi buku ini memuat bagaimana kita menjalani kehidupan dengan lebih makna. Sehingga, jika memang sudah waktunya, kematian kita tidak sia-sia. Apa yang kita pernah kerjakan selama hidup akan membawa manfaat bagi banyak orang. 

Walau bahasa yang dipergunakan dalam buku ini mudah dipahami, tapi untuk buku setebal 164 halaman ini, tidak disarankan untuk dibaca dengan sistem kebut. Baca satu tulisan, renungkan sejenak, ambil hikmahnya, kemudian baru lanjutkan membaca bagian yang lain.
https://www.goodreads.com/
book/show/48563456

Beberapa tulisan bisa saja sesuai dengan kondisi pembaca, atau pernah menjadi bahan renungan kehidupan. Jika sependapat, merupakan sebuah kebaikan, tapi jika tidak setuju dengan pendapat penulis, anggaplah sebagai hal yang wajar. Karena setiap individu memiliki pandangan masing-masing dalam menyikapi kehidupan ini.

Untuk urusan kover, ilustrasi seorang pria yang seakan-akan berada dalam gelas, dimana ternyata rumput tempat ia berbaring terdiri dari beberapa lapisan, membuat imajinasi pembaca berkembang. Saya jadi membayangkan sosok seseorang yang berada dalam peti mati. Sendiri, tak ada yang mengingat apalagi mengunjunginya. Tapi, dalam kematian ia terlihat tentram.

Kembali teringat sebuah buku, The Things You Can See Only When You Slow Down: Cara untuk Tetap Tenang dan Berkesadaran di Tengah Dunia yang Serba Cepat (bisa dilihat di sini). Banyak hal-hal penting yang terlewatkan tanpa kita sadari. Entah berapa banyak momen menarik yang kita abaikan tanpa sengaja. 

Ada waktu untuk kita sejenak menarik diri dari dunia dan merenungkan apa yang sudah kita capai, dan bagaimana upaya untuk mencapai keinginan yang belum bisa kita raih. Pertimbangkan potensi diri yang belum dikembangkan secara optimal, pikirkan upaya menekan kekurangan diri. 

Kembali, jadi bagaimana nasib buku-buku saya nanti? Pasrah, karena setelah saya tiada nanti, setidaknya jika anak tak bisa mengurus, ia bisa menjualnya untuk menyambung kehidupan. Anggap saya saya berinvestasi. terutama jika melihat harga buku koleksi saya dijual dengan harga fantastis pada beberapa situs daring.

Kalimat favorit saya dalam buku ini.
Lebih baik hidup dengan sukacita hari ini daripada hidup memikirkan kesalahan yang telah berlalu.
Buku yang akan membuat kita memandang dan menjalani kehidupan dengan cara yang berbeda 

Sumber Gambar:
https://www.goodreads.com
Koleksi pribadi


Senin, 18 September 2023

2023 #26: Hiruk-Pikuk Dunia Penerbitan Ala R.F Kuang

Judul asli: Yellowface
Penulis: R.F Kuang
Alih bahasa: Poppy D. Chusfani
Editor: Dini Pandia
ISBN: 9786020672793
Hal:  336
Cetakan: Pertama-2023
Harga: Rp 119.000
Rating: 5/5

Tetapi,  sekarang aku tahu bahwa usaha penulis sama sekali tidak berhubungan  dengan keberhasilan buku. Buku-buku bestseller dipilih. Segala hal yang kita lakukan tidaklah berarti. Kita cuma perlu menikmati perjalanannya.
-Yellowface, hal 84-

Ide merupakan hal yang paling berharga, tak jarang ide muncul dari hal yang terduga. Beberapa penulis mengaku terinspirasi dari suatu kisah kemudian mengembangkannya menjadi kisah yang lain. 

Misalnya Serial Aru Shah  sering juga disebut Kuintet Pandawa yang merupakan proyek dari Rick Riordon. Seri tersebut bukan retelling kisah Mahabharata, hanya terinspirasi dari kisah para Pandawa,  Kemudian kisah Tutur Dedes: Doa dan Kutukan dari Amalia Yunus yang terinspirasi dari Pararaton.

Masalahnya, jika seseorang mengubah ide cerita orang lain yang masih mentah  menjadi sebuah kisah yang menarik lengkap dengan data hasil riset yang mumpuni, kemudian mengakui  sebagai karyanya, apakah ia bisa dikatakan sebagai plagiator?

Athena Ling En Liu dan June Hayward merupakan dua teman sesama penulis. Sahabat, sepertinya bukan kata yang tepat. Mereka memang menghabiskan waktu bersama, namun tak pernah membahas masalah pribadi.  Walau ada suatu masa ketika June menceritakan kegelisahannya akibat pesta liar pada Athena.

Suatu hari keduanya menghabiskan malam di bar hingga mabuk, dan memutuskan meneruskan minum-minum di apartemen Athena. Suasana riang pada esok paginya berubah menjadi menakutkan karena suatu peristiwa yang tak terduga. June menghubungi 911, sayangnya ambulans yang dikirim ke sana tak berguna. Athena sudah meninggal. 

Dalam kondisi  baru sadar dari semalaman mabuk dan ketakutan karena menyaksikan langsung kematian Athena, entah bagaimana  June ternyata membawa manuskrip yang sempat diperlihatkan Athena pada malam naas itu. Menurut Athena, belum ada yang pernah melihat manuskrip tersebut.

Mulanya Jane sekedar iseng  mengisi bagian-bagian yang bolong dari karya Athena, sekedar sebagai bahan latihan menulis. Belakangan ia menjadi terobsesi untuk menuntaskannya menjadi sebuah karya atas namanya. 

Berbagai riset literatur dilakukan Jane hingga manuskrip yang diberi judul The Front menjadi sebuah karya utuh dan siap dikirim ke agennya. Ia bahkan sempat belajar bahasa China sekedar memastikan istilah yang digunakan oleh Athena sudah benar.

Bisa ditebak, kisah tersebut sukses, laris manis menjadi rebutan penerbit besar. June menjadi populer dan banyak mendapat undangan untuk memberikan pelatihan dan membahas bukunya. Ada kemungkinan bukunya akan diangkat ke layar lebar.

Kepopuleran ibarat mata pisau, ada yang memuja dan ada yang menghujat. Pembaca karya June banyak yang tak bisa menerima jika kisah tentang kontribusi dan pengalaman Korps Buruh China pada Perang Dunia I  justru ditulis oleh seorang wanita kulit putih yang dianggap sama sekali tak tahu perihal kehidupan warga Asia-Amerika.Ternyata urusan rasis juga sampai ke rana literasi. 
Membaca membuat kita berada dalam di posisi orang lain. Literatur membangun jembatan membuat dunia kita semakin luas, bukan mempersempitnya.
-hal 116-

Banyak pembaca yang mempertanyakan kedekatan June dan Athena, ada juga yang membandingkan karya keduanya, walau June sudah menyebutkan berulang kali Athena sebagai sumber inspirasinya guna menghindari berbagai pertanyaan lebih lanjut.

Segala upaya untuk lepas dari bayang-bayang Athena telah dilakukan oleh June. Athena selalu menampilkan ciri eksentrik, sulit ditangkap, dan terpelajar. Athena merupakan Asia-Amerika. Sedangkan Jane memilih  gaya komersial dan memukau, namun tetap berupa karya sastra yang indah.

June berusaha mengabaikan semua kritik pedas,  perundungan, bahkan ancaman yang ia terima. Hingga suatu saat, ia melihat ada seseorang yang memberikan bintang satu di Goodreads. Memang hak seseorang untuk memberikan bintang, hanya saja pemberi bintang kali ini ternyata terkait dengan penerbit buku June. Hal yang dianggap tidak profesional dalam oleh pihak penerbitan.

Terpenting, bagi June adalah menjaga agar tidak ada seorang pun yang tahu bahwa The Front semula adalah manuskrip awal karya Athena, ia mengolah dan melengkapinya hingga menjadi utuh.


Seiring waktu, June menemukan banyak hal yang mengejutkan tentang Athena. Ternyata ia tidak sepolos yang diduga orang. Karyanya ada  yang bukan ide orisinil, melainkan kisah orang-orang yang ia kenal. Termasuk kisah June yang seharusnya dirahasiakan!
https://www.goodreads.com/book/show
59357120-yellowface?ac=1&from_search=true&
qid=5KaDj2mZiC&rank=1

Jadi, apakah rahasia June terungkap? Bagaimana ia bisa menjalani kehidupan dalam bayang-bayang Athena? Bagaimana tanggapan pembaca buku-bukunya terhadap tuduhan dia plagiator? Dibaca yaaa ^_^.

Semula saya mengira ini adalah buku yang bisa dibaca dengan santai, sambil tiduran dan menikmati segelas teh hangat. Tentang seorang penulis yang mencuri manuskrip penulis lain dan sibuk menjaga rahasia tersebut disamping menikmati ketenaran yang ada. Ketika buku ini tiba, sambil menunggu efek obat flu bekerja, atur posisi untuk membaca. 

Astaga! Saya salah telak! Buku ini menawarkan kisah yang  lebih dalam tentang dunia penulisan dan penerbitan. Bagaimana perlakuan dan hubungan penerbit pada penulis, upaya penulis untuk menerbitkan karya, dan pengaruh sosial media pada sebuah karya.

Ternyata, topik yang menjadi pilihan penulis juga ternyata sering dijadikan bahan untuk perundungan. Selama ini saya mengira yang menjadi bahan perundungan hanyalah cara menulis saja, bukan sampai topik tulisan yang dianggap hanya boleh ditulis oleh orang tertentu.

Pada bagian awal, pembaca akan disuguhi berbagai hal tentang kehidupan June. Mulai dari ia berusaha menerbitkan buku kedua hingga  menerima berbagai keuntungan dari karya Athena yang ia kembangkan (saya menyebutkan begitu).   Baru pada bab kesebelas aneka keriuhan berlangsung.

Dampak media sosial dijelaskan dengan terinci dalam buku ini. Bagaimana twitter bisa membuat seorang penulis menjadi terkenal dalam waktu singkat. Namun juga menjadi ajang perundungan tanpa ampun. Padahal seharusnya kegiatan membaca dan menulis merupakan kegiatan yang bermanfaat.

Tak hanya June, bahkan Athena yang sudah lebih dulu terkenal merasakan dampak twitter yang luar biasa dalam kehidupan. Penulis senior menyarankan pada June untuk tidak mengambil pusing dan mengabaikan semua komentar. Bahkan jika perlu non aktifkan akun media sosial, dan konsentrasi pada proyek selanjutnya.

R. F. Kuang bahkan menyebutkan bahwa di sanalah dunia tempat sosial ekonomi perbukuan berada, dikarenakan industri tersebut tidak punya alternatif. Bahkan reputasi bisa dibangun dan dihancurkan secara terus-menerus dengan mudah.


Selama ini ternyata saya hanya tahu sedikit tentang dunia penerbitan. Buku ini memberikan tambahan ilmu. Misalnya saja tentang  pembaca sensitif  yang ada di halaman 72. Disebutkan bahwa pembaca sensitif adalah pembaca yang dibayar untuk menjadi konsultan kultural pada manuskrip.  Entah apakah ada yang seperti ini di Indonesia.

Menemukan berbagai  kata unik seperti "anjay", "girang parah", "ngiler"  saya tak bisa membayangkan bagaimana Mbak Poppy memilih kata-kata tersebut untuk  mengartikan kata aslinya.

Kata Yellowface yang menjadi judul buku ini menurut dictionary.cambridge adalah the practice of white actors changing their appearance with make-up in order to play East Asian characters in films, plays, etc.:

Sementara https://www.dictionary.com, mengartikan sebagai facial makeup used by a white, non-Asian actor or entertainer when portraying an East Asian.

Julukan ini diberikan kepada June yang dianggap mengubah citra dirinya menjadi Asia-Eropa demi kesuksesan bukunya. Apalagi ia sampai mengubah namanya menjadi Juniper Song agar terlihat  memiliki kesesuaian dengan karyanya.

Pertama kali melihat kover buku ini, langsung teringat para putri berkulit tidak putih dalam poster Disney. Seperti Mulan, Jasmine dan Pocahontas. Bagian mata, membuat teringat pada Rin, tokoh utama dalam trilogi The Poppy War.

Buku ini sangat cocok dibaca oleh mereka yang tertarik dengan dunia penerbitan, baik menjadi penulis atau pekerja di dunia penerbitan (editor, bagian marketing, humas, dan lainnya). Agar bisa mendapat gambaran mengenai bagaimana dunia penerbitan bekerja. Mungkin yang ada dalam buku ini berbeda dengan yang terjadi di Indonesia tapi setidaknya bisa menjadi tambahan informasi.

Demikian juga bagi mereka yang ingin menjadi penulis. Tidak cukup hanya mampu menghasilkan karya baik saja untuk menjadi penulis terkenal. Ada banyak  invisible hand yang harus diperhatikan.

Saya jadi teringat seorang penulis muda yang karyanya luar biasa. Ia memilih rehat untuk sementara karena merasa tak mendapatkan apa yang ia harapkan dari dunia penerbit. Padahal karyanya telah memenangkan lomba bergengsi. Mungkin, dia tak sendiri.

Secara keseluruhan, buku ini sukses membuat saya memandang penerbitan dari perspektif yang berbeda. Itu juga yang membuat saya hanya melihat rating di Goodread dan tidak membaca reviu orang lain sebelum membeli sebuah buku. 

Rating yang ada juga hanya sebagai bahan pertimbangan, bukan untuk keputusan final membeli buku. Karena banyak hal yang bisa membuat  sebuah buku memiliki rating spesial. Sementara reviu,  sifatnya subyektif dari sisi pembaca.

Meski tetap mampu membuat pembaca terpesona, dibandingkan dengan karya sebelumnya, buku ini memainkan emosi pembaca dengan cara yang berbeda. Saya nyaris merasa kasihan dengan beberapa tokoh dalam buku ini. Menjadi penulis tidaklah mudah.

Jadi, apakah yang dilakukan June merupakan tindakan plagiat?  Saya jadi membandingkan dengan apa yang dilakukan oleh ghost writer.  Beberapa yang saya kenal, membuat tulisan dengan mengikuti arahan dari pemilik ide. Umumnya untuk autobiografi. 

Namanya tercantum sebagai editor atau penulis kedua. Tapi ada juga yang tidak.  Apakah mereka seperti June? Hem... Bedanya June tidak mengakui bahwa karyanya merupakan ide awal Athena. 

Kembali, semua tergantung pada persepsi pembaca masing-masing saja. 

Sumber gambar:
https://www.goodreads.com
Buku Yellowface

Selasa, 12 September 2023

2023#25: Petualangan Giovanni dan Campanella di Kereta Bima Sakti

Judul asli: Semalam di Kereta Bima Sakti
Penulis: Miyazawa Kenji
Penerjemah: Armenia Bawon Kresnamurti
Penyunting: Reda Gaudiamo
Ilustrator: Pola
ISBN: 9781800750081
Hal: 116
Cetakan: Kedua-Desember 2023
Penerbit: Penerbit Mei
Harga: Rp 64.000
Rating: 3.75/5

"Kita sudah tak perlu bersedih tentang apa pun. Kita sedang dalam perjalanan ke tempat yang lebih indah dan akan segera berada di rumah Tuhan, tempat yang sangat terang, wanginya manis, tempat orang-oramgnya benar-benar agung. Lalu, semua orang yang naik sekoci sebagai ganti kita pasti akan terselamatkan dari bisa pulang kepada ibu dan ayah masing-masing yang sangat mengkhawatirkan mereka atau ke rumah mereka sendiri...."
-Semalam di Kereta Bima Sakti, hal 68-

Akhirnya bisa membaca buku ini! Sesuai janji pada diri sendiri, setelah tugas negara selesai pada bulan September-Oktober 2023, waktunya menambah timbunan sesuai dengan daftar buku incaran (yang terus bertambah sementara pendapatan stabil^_^). Buku ini pastinya ada dalam daftar sejak cetakan awal.

Giovanni  dan Campanella merupakan teman sekelas juga sahabat.  Mereka sering menghabiskan waktu bersama, misalnya dengan membuka buku milik  ayah Campanella sambil membahas tentang Bima Sakti. Ayah Campanella adalah seorang profesor sehingga banyak majalah dan buku di rumahnya. Ayah keduanya juga bersahabat sejak kecil.

Ayah Giovanni adalah pelaut. Ia berjanji akan membawakan mantel kulit berang-berang laut saat pulang melaut. Sayangnya, sang ayah tak jua kembali. Sekarang, ia sering menjadi bahan olok-olok anak lain karena ayahnya tak (belum?) kembali dengan mantel kulit berang-berang. 

Giovanni menjadi anak yang kesepian. Ia cenderung menjauh dari teman-temannya agar tidak menjadi sasaran celaan. Meski demikian, ia tak bisa membenci sahabatnya yang sering berada di antara mereka yang mengoloknya. Campanella memang tidak melontarkan kata-kata yang dapat menyinggung Giovanni, namun ia tersenyum mendengar celaan yang dilontarkan untuk Giovanni.  Giovanni menjadi mempertanyakan makna kebahagian.
https://www.goodreads.com/book/show/
62915247-night-on-the-galactic-railroad

Suatu keajaiban terjadi pada malam Festival Bima Sakti. Pilar stasiun cuaca yang berada di  atas bukit berubah menjadi Stasiun Galaksi Bima Sakti. Tanpa Giovanni sadari, ia sudah berada dalam sebuah gerbong kereta api kecil yang sedang melaju.

Ternyata, ada Campanella duduk di pojok dalam keadaan basah. Wajahnya agak pucat. Namun Giovanni enggan bertanya mengenai keadaannya, menimbang sikap Campanella yang seolah-olah enggan ditanyai dan ingin menyendiri.

Petualangan mereka dimulai. Banyak pemandangan menakjubkan mereka lihat selama perjalanan. Mereka juga bertemu dengan berbagai manusia. Ada Pemburu Burung yang tak sungkan membagikan hasil buruannya, Penjaga Mercuasuar yang membagikan apel berwarna emas dan merah, mahasiswa yang menjaga sepasang anak kecil, dan beberapa penumpang lain. 

Semula saya mengira buku ini berisi tentang perjalanan Giovanni dan Campanella, dengan kereta ajaib mengelilingi Galaksi Bima Sakti.  Bagaimana pemandangan yang mereka nikmati selama perjalanan, siapa saja yang mereka temui, serta kejadian menarik apa yang mereka  alami, bisa pembaca temui dalam buku ini. 

Ternyata isinya lebih dari sekedar perjalanan keduanya. Banyak pesan-pesan yang disampaikan secara samar untuk direnungkan oleh pembaca. Kesalahan saya adalah membaca buku ini dalam perjalanan pulang di kereta api. Dalam kondisi berdiri, bisingnya gurauan penumpang sekitar, membuat saya kurang konsentrasi membaca. Menyerah! Tutup buku, baca ulang nanti di rumah saja.
https://www.goodreads.com/book/show/
54286011-night-on-the-milky-way-trai
n

Baiklah, mari kita lanjut. Secara mudah, pembaca akan menemukan hal-hal yang menjadi bahan renungan Giovanni  dengan cara melihat kalimat yang dicetak miring dalam buku ini. Misalnya yang ada di halaman 79,"Mengapa aku sedih? Aku harus menjadi orang yang lebih tulus, yang lebih murah hati. Aku melihat nyala api biru kecil, terlihat seperti asap, jauh di sebelah sana. Api itu terlihat tenang dan dingin. Aku harus melihatnya baik-baik untuk menenangkan jiwaku."

Ketika masinis meminta tiket, keduanya memberikan tiket yang berbeda.  Campanella mengeluarkan tiket abu-abu kecil, sementara Giovanni menyerahkan selembar kertas hijau berukuran kartus pos yang dilipat empat. Sebuah keanehan yang bisa saja diabaikan oleh pembaca.

"Astaga," seru Pemburu Burung dengan gelagapan  setelah sekilas melihat dari samping. " Ini luar biasa. Tiket ini bisa membawa Anda bahkan lebih tinggi dari dunia di atas langit! Bukan hanya itu. Dengan tiket ini, Anda bisa ke mana saja sesuka hati! Tentu saja, di Ilusi Empat Dimensi yang tak sempurna ini, Anda bisa pergi ke seluruh penjuru dunia dalam jalur Kereta Galaksi Bima Sakti. Kalian benar-benar spesial!'

Ternyata perbedaan tiket tersebut berpengaruh pada kondisi keduanya di dunia nyata. Giovanni kembali menemui ibunya yang sedang sakit sambil membawa khabar ayahnya yang (mungkin) akan segera kembali. Sedangkan Campanella memilih mengikuti ibunya. Hidup memang pilihan.

Demikian juga dengan kakak mahasiswa yang mendapat tugas menjaga sepasang kakak-adik. alih-alih berusaha menyelamatkan mereka dengan membawa ke sekoci, ia justru memutuskan bahwa cara menyelamatkan mereka adalah dengan langsung membawa ke hadapan Tuhan. Karena menurutnya itulah  kebahagian yang sesungguhnya.
https://www.goodreads.com/book/
show/54670114-ginga-tetsudo-no-yoru

Ia bisa saja menyerobot antrian demi anak-anak yang ia asuh. Ia bisa saja memilih mengabaikan para ibu yang meletakkan anak di sekoci dengan berlinang air mata, asal kedua anak asuhannya selamat. Ia justru memilih untuk bertahan tidak tenggelam selama mungkin di kapal dengan kedua anak tersebut.

Apakah keputusan yang ia ambil benar? Apakah dengan begitu ia sudah memutuskan memberikan kebahagiannya dan kedua anak asuh untuk orang lain? Bukan hak kita untuk menilainya. Kedua anak tersebut hanya mengetahui bahwa  mereka akan bertemu ibu di surga. Adapun perdebatan tentang Tuhan antara Giovanni dengan kakak mahasiswa bisa dibaca di halaman 94.

Saat para penumpang melihat rasi Salib Selatan, terdengar kumandang Haluleya. Semula saya pikir ada kesalahan cetak, namun ternyata memang dicetak begitu. Penjelasannya ada pada ulasan yang berada di halaman 111


Dunia imajinasi yang dibangun oleh penulis memang luar biasa. Saya membayangkan jika draf naskah yang ditemukan sudah lengkap, maka kisah yang ada bakalan menjadi kisah yang sangat menawarik dan dinikmati banyak orang. Tengok aja film animasi yang dikembangkan dari kisah ini,  Galaxy Express 999 yang muncul pada tahun 1979. 

Adegan yang mengisahkan para penumpang terkejut melihat orang Indian di halaman 83, membuat kedua alis saya bertemu. Seolah-oleh mereka adalah orang yang menyeramkan. Kisah ini memang ditulis sekitar tahun 1930-an, namun sepertinya kata Indian bisa disesuaikan dengan kondisi saat ini. 
https://www.goodreads.com/book/show/
53798384-the-night-of-the-milky-way-train

Untuk urusan kover, jelas tiada komen he he he. Dominasi warna biru  sebagai ilustrasi Gugusan Bima Sakti sungguh luar biasa. Hanya dengan melihat kover, pembaca sudah bisa mendapat informasi mengenai kisah dalam buku ini. 

Buku ini kaya dengan ilustrasi. Sosok kedua anak juga digambarkan menarik. Hanya saya sempat bingung karena Giovanni digambarkan tidak menggunakan kaca mata, lalu kenapa di halaman 12, bagian Percetakan, ada yang menyapanya dengan Adik Mata Empat? 

Bagi mereka yang menyukai astronomi, buku ini layak menjadi pilihan bacaan. Demikian juga dengan penikmat kisah fantasi. Buku ini menawarkan kisah yang berbeda. 

Agak penasaran juga menemukan ada tulisan angka 7 (tujuh) di bagian belakang buku. Apakah maksudnya buku ini ditujukan untuk anak usia 7 tahun, terutama di Jepang sana? Sungguh luar biasa jika demikian! 

Anak-anak di sana sudah diajar untuk mengenal konsep kesepian, persahabatan, meninggal, berkorban, dan harapan. Suatu hal yang akan menjadi bekal dalam menghadapi kehidupan ini.

Sosok Giovanni dengan segala kelebihan dan kekurangannya, bisa dijadikan contoh bagaimana seorang anak bersikap dalam menghadapi kehidupan. Tetap membantu merawat sang ibu yang sakit, tak putus harapan sang ayah akan kembali, serta menghindari perselihan yang tak perlu walau ia yang menjadi korbannya.

Sejauh ini, saya baru mengetahui sahabat penggila buku yang membeli dan membacanya untuk diri sendiri, belum ada yang menyampaikan bahwa buku ini dibeli untuk anaknya. Semoga ada ya.

Sumber Gambar:
https://www.goodreads.com/


Selasa, 05 September 2023

2023#24: Misi Menyelamatkan Buku

Judul asli:The Cat Who Saved Books: Kucing Penyelamat Buku 
Penulis: Sosuke Natsukawa
ISBN: 9786020671659
Halaman: 200
Cetakan: Pertama- Juli 2023
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp79.000
Rating: 4.25/5

Buku  yang duduk saja di rak hanyalah setumpuk kertas. Bila tidak dibuka, buku yang memiliki kuasa  besar atau kisah epik hanyalah secarik kertas. Tetapi buku yang dikagumi dan dicintai, dipenuhi pikiran-pikiran manusia, akan dianugerahi jiwa
The Cat Who Saved Books: Kucing Penyelamat Buku, hal 156)

Kucing  belakangan menjadi hewan yang dekat dengan dunia literasi. Mulai dari buku Dewey: The Small-Town Library Cat Who Touched the World (Vicki Myron),  Save the Cat: The Last Book on Screenwriting You'll Ever Need (Blake Snyde), Jika Kucing Lenyap dari Dunia (Genki Kawamura),  Jika Aku Jadi Kucing (Benny Rhamdani), lalu buku ini. 

Belum lama, saya temukan toko buku sebagai bagian dari kisah dalam buku karangan penulis Asia. Di buku Almond besutan Sohn Won-Pyung, dikisahkan ibu tokoh utama memiliki toko buku bekas. 

Demikian juga dengan buku ini, kakek tokoh utama cerita, Rintaro meninggal dan mewariskan sebuah toko buku bekas. Kedua orang tua Rintaro sudah meninggal, hingga ia tinggal bersama kakeknya. Sayangnya, sang kakek juga tak berumur panjang. 
https://www.goodreads.com/
book/show/54251153

Toko Buku Natsuki yang ia terima sebagai warisan ternyata bukan toko buku biasa. Selain buku-buku yang dijual menarik, ada kucing bisa bicara yang sering mampir, melalui toko buku tersebut Rintaro bisa menuju ke labirin misterius guna menyelamatkan buku tertentu. 

Kucing yang bisa bicara-Tiger, meminta bantuan dari Rintaro untuk menyelamatkan buku-buku. Untuk itu, mereka harus  bisa melalui 4 labirin, dimana tiap labirin memiliki tantangan tersendiri. 

Labirin pertama-Pemenjara Buku.  Rintaro akan berurusan dengan orang yang hobi menyimpan buku. Koleksinya tak kurang dari 50-an ribu judul.  Buku yang ada bak dipenjara, tidak bisa dinikmati oleh orang lain.

Duh, jadi merasa tersindir nih. Ada koleksi saya yang memang tidak akan pernah boleh dibaca serta dipinjam orang lain. Silakan melihat dan membaca sambil lalu di tempat, tapi jangan harap bisa membawa pulang untuk dipinjam koleksi Little Women saya.

Kemudian pada labirin kedua-Pencincang Buku,⁣⁣ dikisahkan tentang orang yang merasa sudah berhasil menemukan metode cepat untuk  bisa mengetahui isi  buku, dengan cara "memotong" buku. Sehingga banyak buku bisa dibaca dalam waktu singkat. Ia sering mendengarkan Ode to Joy  dari  Ludwig van Beethoven, saat memotong-motong buku.
https://www.goodreads.com/
book/show/59747343

Teknik membaca cepat yang belakangan gencar dipromosikan, juga dibahas dalam buku ini.  Rintaro menyebutkan tidak semua buku bisa dibaca dengan metode membaca cepat, sepertinya halnya musik yang tak bisa didengarkan dengan baik jika diputar dengan metode cepat. 

Setuju! Untuk membaca fiksi, tentunya tak bisa dilakukan dengan membaca cepat. Banyak hal-hal menarik yang bisa terlewat, tidak terbaca jika mempergunakan metode membaca cepat. 

Dimana keseruan membaca kisah detektif jika sudah tahu siapa pelaku kejahatan dan bagaimana cara kerja penjahat? Menerka-nerka siapa penjahatnya merupakan keseruan tersendiri. Andai penulis memang sengaja membocorkan pelaku dari awal, menebak bagaimana ia bertindak juga menjadi keseruan tersendiri.

Memahami hal baru, tidak bisa dilakukan dengan membaca cepat buku non fiksi. Penjelasan yang penting guna memudahkan memahami buku, bisa terlewatkan. Bisa-bisa malah tak paham apa yang dibaca.
https://www.goodreads.com/book/
show/68050427-o-kocie-kt-ry-ratowa-ksi-k
i

Jika ada yang menyukai membaca dengan metode membaca cepat, silakan saja. Tapi, secara pribadi saya tak menyukai metode ini. Jika sudah memutuskan untuk membaca, maka bacalah dengan cara yang benar, dari awal hingga akhir.

Kisah yang ada pada labirin ketiga-Penjual Buku. Pada labirin ini keduanya bertemu dengan penerbit hanya mau menerbitkan buku yang sesuai dengan selera pasar.  Buku-buku yang tidak sesuai tidak akan diterbitkan.

Bagian ini membuat saya teringat pada sebuah drama korea dimana setting kisahnya adalah sebuah penerbitan. Di perusahaan tersebut, mereka akan menerbitkan buku yang dianggap laris, setelah mendapatkan buku yang menjadi best seller, baru mereka menerbitkan buku yang berbobot namun nilai jualnya kurang.

Labirin terakhir, agak berbeda dan tentunya merupakan labirin yang paling berat dibandingkan 3 terdahulu. Rintaro harus berhadapan dengan sosok yang berbeda. Ia bisa saja kehilangan sahabat (walau saya menduga diam-diam dia naksir). Namun seberat apapun, ia yakin bahwa buku-buku akan menyelamatkan dirinya.
Buku yang disayangi akan selalu memiliki jiwa. Jiwa itu akan datang menolong pembacanya pada saat-saat berat
-hal 158-
Ah! Beberapa kali saya juga sudah "diselematkan" oleh koleksi buku saya. Tanpa mereka, saya tak akan kuat menghadapi banyak gempuran dalam hidup. 

Dalam 4 bab plus prolog dan epilog, pembaca akan disuguhi aneka hal terkait dengan dunia buku.  Unik sekali bagian yang menyebutkan bahwa membaca buku banyak  memang hal yang bagus, namun tidak cukup hanya dibaca saja. Apa yang dibaca harus diolah, kemudian diterapkan dalam kehidupan.

Padahal, selama ini yang sering digaungkan bahwa membaca buku dapat membuat seseorang menjadi pintar dan bijaksana. Ternyata, jika hanya  ilmu yang ada dalam buku hanya dibaca tanpa diterapkan dalam kehidupan, adalah hal yang sia-sia.
Boleh-boleh saja membaca buku, tapi setelah selesai membaca, kau harus menapakkan kaki di dunia
-hal 45-
Aneka judul buku serta penulis juga bertebaran, bisa menjadi tambahan referensi bacaan. Terutama karya klasik. Dengan demikian, pembaca juga bisa mendapatkan aneka referensi bacaan serta penambah wawasan terkait buku.

Selain soal buku, penulis juga menyinggung sebaiknya seseorang menjalani kehidupan. Rintaro yang berusaha membuka diri pada bibi jauh, sosok yang jarang ia temui sebelum kakek meninggal. Atau bagaimana ia mulai mau akrab dengan gadis ketua kelas yang belakangan menjadi suka membaca.
https://www.goodreads.com/book/
show/58322877-the-cat-who-saved-books

Bagaimana beratnya kehidupan,  Rintaro beruntung memiliki teman dengan rasa humor tinggi. Karena dengan humor ia bisa merasakanan  tekanan yang berkurang walau hanya sedikit. 

Seperti yang disebutkan oleh penulis di halaman 23, "Dunia ini mendatangkan bermacam rintangan untuk kita, kita terpaksa menanggung begitu banyak masalah berat. Senjata terbaik kita untuk melawan segala kepedihan dan kesulitan di dunia ini bukanlah logika atas kekerasan. Senjata terbaik kita adalah humor."

Hubungan antara Rintaro dan Tiger merupakan sebuah hubungan yang unik. Selama ini Rintaro tidak memiliki keterikatan dengan hewan. Baginya kucing hanyalah sekedar hewan saja. Hingga suatu saat, Tiger datang menemuinya dan meminta bantuan. Tanpa disadari, Rintaro kerap merindukan kunjungan Tiger. 

Dalam buku ini,  Rintaro menggambarkan dirinya sebagai seorangHikikomoro.  Kata tersebut belakangan sering disebut-sebut sebagai gaya hidup di Jepang.   Istilah tersebut  diciptakan Tamaki Saito, seorang psikolog Jepang dalam bukunya Social Withdrawal- Adolescence Without End yang terbit pada tahun 1988.

Dalam laman CNN berikut, disebutkan bahwa Hikikomori didiagnosis sebagai perilaku yang ditunjukkan oleh seseorang saat mereka mulai menghindari kehidupan sosial. Tapi, penghindaran yang mereka lakukan cukup parah, yakni dilakukan setidaknya dalam kurun waktu enam bulan.

Secara keseluruhan, buku ini bisa menjadi pilihan bacaan bagi penggila buku serta penyuka kucing. Menambah rasa cinta pada buku bagi yang membacanya. Buku yang menarik. Direkomendasikan untuk mereka yang membutuhkan bacaan ringan.

Jadi pingin menikmati buku Ode to Joy setelah membaca buku ini ^_^.

Sumber Gambar:
https://www.goodreads.com

Sumber video:
https://www.youtube.com