Senin, 31 Juli 2023

2023 #22: Kisah Kehidupan Seon Yoonjae

Judul asli: Almond
Penulis: Sohn Won - Pyung
Penerjemah: Suci Anggunnisa Pertiwi
ISBN: 9786020519807
Cetakan: Kesepuluh-Juni 2022
Halaman: 220
Penerbit: Grasindo
Harga: Rp 88.000
Rating: 3.75/5

"Mungkin karena kau anak yang istimewa. Biasanya orang-orang tidak bisa menerima perbedaan dalam dirinya dan orang lain. Kau ini monsterku yang tampan."
-Almond, hal 10-

Buku setebal 220 halaman ini berkisah tentang kehidupan seorang  anak laki-laki bernama Seon Yoonjae. Ia menderita ketidakmampuan mengungkap emosi-alexithymia. Bagaimana kondisinya berdampak pada keluarga dan lingkungan. Serta bagaimana ia menjalin bersahabatan yang unik dengan "monster-monster" lain.

Keseluruhan kisah dalam buku ini terbagi dalam empat  episode ditambah dengan prolog, dan pastinya epilog. Pada episode pertama dikisahkan mengenai masa kecil tokoh utama kita.  Ibunya begitu cemas  akan kondisi sang anak yang tak pernah menunjukkan ekspresi. Ia dianggap aneh karena tidak menunjukkan simpati dan emosi di hadapan orang lain.

Para dokter yang merawatnya mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan oleh almond atau  amigdala yang ia miliki berukuran kecil, ditambah dengan jaringan komunikasi antar sistem limbik otak dan lobus frontal tidak lancar. Salah satu yang muncul adalah ia tak merasakan takut.

https://www.goodreads.com/book/
show/44927209-h-nh-nh-n
Sang ibu bahkan berusaha mengajari Yoonjae   tentang bagaimana bersikap sehingga tak ada lagi yang menganggapnya aneh. Yoonjae  juga mendapat  kacang almond sebagai tambahan makanan. Diharapkan dengan mengkomsumsi almond  berdampak pada perubahan kondisinya. 

Selain pandangan miring terhadap Yoonjae,  kehidupan mereka  berjalan  biasa saja seperti orang lain. Namun, sebuah peristiwa besar mengubah hidupnya. Yoonjae harus mampu bertahan hidup sendiri, entah untuk berapa lama.

Pada bagian kedua mengisahkan bagaimana Yoonjae menjalani kehidupan sendiri.  Termasuk perkenalannya dengan "monster" lain yang bernama Lee Soo-Gon.  Gon yang semula membencinya, perlahan menjadi teman. 

Semuanya dikarenakan Gon merasa ia tidak dianggap sebagai anak aneh oleh  Yoonjae. Persahabatan yang unik, Yoonjae merasakan  dirinya adalah anak yang lemah, sementara Gon selalu berpura-pura kuat dan menolak mengakui kelemahannya.

"Memahami perasaan yang belum kauketahui itu tidak selamanya baik. Perasaan adalah  hal yang menyebalkan. Dunia ini bisa terlihat berbeda dengan apa yang kau ketahui. Semua hal-hal kecil yang mengelilingimu bisa menjadi senjata tajam untukmu. Wajah tanpa ekspresi atau omongan-omongan tajam bisa datang menghampirimu.

-hal 134-

Bagian ketiga menceritakan bagaimana Yoonjae   bertemu dengan "monster" lain bernama Dora. Jika Gon memberikan pelajaran tentang rasa berdosa, rasa sakit, serta penderitaan, maka Dora mengajarkan kebalikannya.  Dunia Yoonjae terasa berbeda ketika ia bertemu Dora. Untuk pertama kali, ia bisa merasakan apa yang disebut jatuh cinta.

https://www.goodreads.com/
book/show/55338962-almond
Dan bagian keempat, sungguh luar biasa. Ini merupakan klimaks tentang bagaimana hubungan Yoonjae  dengan Gon, dan hubungannya dengan Dora. Bagaimana juga Yoonjae telah menganggap Gon adalah teman akrabnya, dan ia akan melakukan apa saja demi membela Gon. Termasuk menjadi tameng ketika Gon dianiaya orang.

Sedangkan dengan Dora, apa yang selama ini mereka jalani cukup mampu untuk membuat Yoonjae memandang hidup dengan cara yang berbeda. Salah satu kenalannya malah mengusulkan agar ia memeriksakan diri, siapa tahu almondnya mengalami perkembangan.

Dengan cara bercerita yang tak biasa, buku ini menawarkan kisah  tentang bagaimana bertahan hidup yang berbeda. Cara hidup di Jepang memang berbeda dengan kehidupan di Indonesia, namun setidaknya pembaca bisa mendapatkan gambaran bagaimana kehidupan yang dijalani oleh tokoh utama dalam kisah ini.

Jelas bukan hal mudah menjalani kehidupan menjadi anak yang berbeda dibandingkan dengan anak-anak lain.  Untung ibu dan neneknya selalu mendukung dan memberikan pelajaran bagaimana harus bersikap. Mengajarkan tentang emosi bukan hal mudah, tapi setidaknya sang anak sendiri, ibu dan nenek berusaha semaksimal mungkin untuk membuat kehidupan  menjadi lebih baik.

Tidak bisa juga menyalahkan orang yang menganggap Yoonjae aneh. Orang tua mana yang tak heran jika melihat ada anak kecil yang hanya menatap anak lain yang jatuh tanpa berusaha melakukan apa-apa. Minimal ada perubahan pada mimik wajahnya. Rasa heran, orang sekitar, perlahan menjadi rasa takut yang membuat ia dijauhi.

Andai mereka tahu, Yoonjae bukannya bersikap masa bodoh tapi ia tak tahu harus bersikap bagaimana, baginya anak lain yang jatuh bukanlah suatu hal yang perlu mendapat perhatian khusus dengan bertanya atau menunjukkan mimik khawatir. 

Bagian yang mengisahkan bagaimana sebuah peristiwa membuat ia harus hidup sendiri, sungguh menyentuh hati. Penulis memainkan emosi pembaca dengan baik. Selain mengasihani Yoonjae, sumpah serapah untuk pelaku kejahatan juga dilontarkan. Baca ya  supaya tahu peristiwa apa itu ^_^.

Sedih rasanya membayangkan seorang anak remaja penderita alexithymia  hidup sendiri. Selain ia harus mampu mengurus segala keperluan sendiri, tak ada sosok yang mengajarinya lagi bagaimana harus bersikap. Tak ada yang memberikan dukungan dan perlindungan jika ia mengalami perundungan. Mulai sekarang Yoonjae benar-benar sendiri.
https://www.blibli.com/friends/
blog/buku-yang-dibaca-suga-bts-0
5/

Tak heran jika  buku yang mendapat penghargaan  本屋大賞 for Translated Fiction (2020), 창비청소년문학상 (2016) ini menjadi pilihan bacaan Suga BTS. Selain memang mengajarkan tentang bagaimana kita harus kuat menghadapi kehidupan ini dengan segala perbedaan dan keterbatasan yang kita miliki, urusan persahabatan dan secuil kisah cinta, menjadi bumbu yang tak bisa diabaikan.

Gon bersahabat tanpa pamrih dengan Yoonjae. Dora memiliki rasa cinta pada Yoonjae. Selain ibu, nenek dan tetangga yang mengurusnya, kedua anak itu  yang menerima Yoonjae dengan segala perbedaannya.

Dalam situs berikut,  disebutkan bahwa amigdala (amygdala) adalah sebuah organ di dalam otak besar yang berfungsi dalam mengatur emosi dan ingatan yang berhubungan dengan rasa takut dan bahagia. Organ ini termasuk ke dalam sistem limbik atau sekumpulan organ yang berperan dalam pembentukan tingkah laku, emosi, dan memori.
https://hellosehat.com/saraf/fungsi-amigdala/

Lebih lanjut juga disebutkan bahwa amigdala juga berperan dalam keterampilan sosial karena perannya dalam proses pembelajaran, memori, dan emosi. Melansir laman GoodTherapy, beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang dengan amygdala yang lebih besar cenderung memiliki lingkaran sosial yang lebih besar dan aktif. Ambil contohnya, memiliki jumlah kontak dan kelompok sosial yang lebih banyak.

Membutuhkan waktu lama untuk bisa mendapatkan kesempatan membaca buku dengan nomor panggil 823 WON a, yang hanya satu ini. Padahal saya ikut merekomendasi dan melakukan proses pembelian. Begitulah, jodoh dengan buku memang unik.

Sumber Gambar:
https://hellosehat.com/saraf/fungsi-amigdala/

Jumat, 07 Juli 2023

2023 #21: Sedikit Informasi Tentang Perkumpulan Rahasia

Apalagi manfaat hari Sabtu dan Minggu, serta hari libur panjang bagi Penggila Buku seperti saya, selain urusan beres-beres rak dan timbunan yang tak akan pernah bisa selesai, Beres 1 area  timbunan, muncul area baru. Begitulah.

Kemarin, saya menemukan beberapa buku yang sudah saya baca sejak zaman dahulu namun belum saya input dalam Goodreads. Salah satunya buku ini. Sambil membaca sekilas guna menyegarkan ingatan, sekalian saja membuat coretan di sini. 

Judul Buku: Secret Societies
Editor: Norman Ian MacKenzie
Halaman:311
Terbit: Tahun 1971
Penerbit: Coller Books
Rating: 4/5

Saya lupa kapan tepatnya  menemukan dan membaca buku ini. Ketika menemukannya di antara timbunan, baru saya ingat pernah membacanya. Jika tidak salah ingat, ketika awal bergabung di kantor lawas, sekitar 2011-2012.

Buku ini tergeletak begitu saja di salah satu meja. Tidak ada nomor panggil dan stempel yang menandakan milik kantor. Seorang senior yang saya tanya, malah menyarankan saya membaca dan menyimpannya, jika tertarik. Karena tanpa ada nomor panggil dan stempel, maka buku ini bukan milik kantor dan bukan masuk dalam kategori "Barang Milik Negara", jadi bisa dimiliki siapa saja. Ih Penggila Buku mana yang menolak tawaran seperti itu.

Kata Secret Societies, membawa ingatan pada beberapa perkumpulan rahasia yang saya tahu. Buku yang ternyata milik salah satu profesor yang terkenal memiliki koleksi antik (ada tempelan nama beliau di halaman depan), berisi tentang kumpulan artikel yang dibuat oleh beberapa penulis terkait sejumlah perkumpulan rahasia yang sudah ada sejak zaman dahulu hingga buku ini terbit. Norman Ian MacKenzie bertindak sebagai editor.

Ada tentang Mau Mau, The Mysteries, lalu yang sudah sering disebut-sebut dalam aneka buku konspirasi Freemasonry, The Mavia, serta beberapa perkumpulan lagi, Total ada 11 perkumpulan yang diuraikan oleh para penulis.

Keberadaan Mau Mau mulai diketahui ketika ada laporan ke Pemerintah Inggris di Kenya (The Government of British Colony of  Kenya) pada tahun 1948. Inti kegiatan ini adalah melakukan protes akan kehadiran  petani kulit putih, dan pendatang di tanah mereka. Sepertinya, mereka berlawanan dengan The Ku Klux Klan yang membenci warga kulit berwarna.

Bagian yang mengisahkan tentang Chinese Secret Societies yang ditulis oleh Barbara E. Ward, membuat saya tanpa sadar membandingkan dengan Yakuza, kelompok, organisasi, atau sindikat yang terorganisasi dengan baik di Jepang.  Yakuza sering dianggap sebagai mafia Jepang. Mungkin karena sama-sama berasal dari Asia, jadi saya kepikiran mereka.

Begitulah, namanya manusia. Makin dirahasiakan, makin membuat penasaran untuk tahu. Demikian juga terkait perkumpulan rahasia. Semakin sedikit yang mengetahui, semakin banyak yang penasaran akan keberadaannya. 

Siapa saja anggotanya? Bagaimana seseorang bisa menjadi anggota? Apakah ada ritual yang harus dikerjakan untuk bisa menjadi anggota, atau persyaratan apa saja yang harus dipenuhi? Berbagai macam rasa  ingin tahu membuat perkumpulan rahasia terlihat "berbeda", bahkan bisa saja ada yang menganggap "keren".

Sejarawan Richard B. Spence dari Universitas Idaho,  menawarkan definisi tiga hal, yaitu:
1. Keberadaan kelompok biasanya tidak dirahasiakan, tetapi beberapa kepercayaan atau praktik disembunyikan dari publik dan membutuhkan sumpah kerahasiaan dan kesetiaan untuk dipelajari;
2.  Kelompok menjanjikan status atau pengetahuan superior kepada anggota;
3. Keanggotaan grup dalam beberapa hal terbatas, seperti berdasarkan ras, jenis kelamin, afiliasi agama, atau undangan saja.

Perkumpulan rahasia konon juga merambah perguruan tinggi, tidak hanya masyarakat semata. Contoh salah satu perkumpulan perguruan tinggi rahasia yang paling terkenal adalah Skull and Bones di Universitas Yale.  Perkumpulan  tersebut mempergunakan lambang tengkorak  dan tulisan 332 di bawahnya.   Setiap tahun, hanya 15 orang junior yang terpilih untuk bergabung. Keanggotaan bersifat seumur hidup.

Aneka gambar alias foto  yang ada dalam buku ini membuat ulasan yang disampaikan menjadi lebih nyata. Pembaca menjadi semakin memahami apa yang disampaikan oleh penulis.

Ingin sekali menyarankan para  penulis  kisah konpirasi untuk membaca buku ini. Supaya mereka bisa membuat kisah yang lebih menarik, tidak hanya terkait tentang Mafia, Kesatria Templar dan Freemasonry saja.

Mereka yang mendalami dan tertarik pada kehidupan masyarakat, juga disarankan untuk membaca buku ini. Sehingga mendapat pengetahuan bagaimana kehidupan sosial masyarakat dari sudut pandang yang berbeda.

Sayang, tidak ada versi terjemahannya, atau saya yang tidak tahu. Bakalan jadi bacaan yang menarik minat banyak pihak jika ada terjemahannya. Iseng mengintip lapak daring luar negeri, wah ternyata harganya lumayan, diluar ongkos kirim ke tanah air,

Hem.... Ternyata saya menemukan ada stempel "Dikeluarkan Dari Koleksi"  pada salah satu halaman. Wah padahal ini buku yang bagus, Mungkin ada yang juga tertarik, lalu mengambilnya, namun menggeletakkan sembarangan. Rezeki anak rajin datang pagi he hehe.



2023 #20: Kondensasi













Penulis: Poppy D. Chusfani
Editor: Vania Adinda
ISBN: 9786020669434
Halaman: 168
Cetakan: Pertama- April 2023
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 69.000
Rating: 3.5/5

Dari arah pantai, kabut putih bergulung-gulung merambah bukit, memecah kegelapan malam, dan kini sudah mencapai separuh perjalanan ke vila. Namun, kali ini dari setiap gumpalan kabut mencuat lengan-lengan asap putih yang merayap pada tanah lembab seraya menggerapai menjijikkan. Jemari mereka menggelepar dan menerjang mencari-cari mangsa. Tangan-tangan gaib tersebut mengelus dan melilit setiap ranting pohon yang dilaluinya,
-Kondensasi, hal 98-

Aislin, tokoh dalam kisah ini, bukan gadis biasa. Ia bisa  merasakan emosi yang timbul dari orang lain.  Untung menjaga kewarasan dirinya, Aislin harus menjaga jarak dengan orang lain. Tak sedikit orang yang menganggapnya sombong karena jarang mau bergaul atau hadir dalam suatu acara. Bukannya ia sombong. Andai mereka tahu yang sesungguhnya.

Pekerjaan yang ia pilih juga membuatnya tak perlu berinteraksi dengan banyak orang. Terbayang betapa kesalnya ia ketika mendadak harus  mengerjakan tugas menulis naskah untuk rumah produksi yang mengontraknya di sebuah pulau, bersama empat orang lain. Rekannya dan asisten, asisten Aislin, serta seorang aktor yang dianggap manja. 

Artinya selama sekian hari penuh ia akan berinteraksi dengan orang lain. Sungguh melelahkan, ditambah dengan kewajiban harus menyelesaikan naskah. Aislin harus berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kewarasannya.

Semua suasana bisa-biasa saja, hingga suatu  saat muncul aneka kejadian aneh menimpa mereka. Mulai dari suara  derit nyaring, badai yang mengamuk, daratan yang seakan hilang, warna sekitar yang kian memudar setiap saat, kabut yang tak biasa, jaringan  komunikasi yang mendadak terputus. Mereka benar-benar sendiri, terisolir di pulau itu.

Di dalam vila bukan berarti aman. Berbagai kejadian tak lazim juga terjadi, wajahnya yang berubah di cermin, hingga cermin yang mendadak pecah. Bagi beberapa orang, hal itu dianggap sebagai suatu pertanda akan ada kejadian buruk menimpa mereka semua. 
"Musibah, musibah, musibah," guman Latika dengan tubuh gemetar.
Mereka yang berada di sana bukan hanya diam saja. Berbagai upaya dilakukan untuk bisa mengirim kabar ke dunia luar. Termasuk menyelidiki apa yang terjadi di sekitar pulau.  Semuanya tak berhasil, malah mereka terancam bahaya lebih besar jika berada di luar.

Perlahan, tiap orang tanpa sengaja membuka rahasia kelam yang selama ini ditutupi. Ada yang ternyata adalah simpanan bos yang mengontrak mereka, karyawan yang ingin membalas dendam pada mantan pacar sepupunya yang dianggap telah membuat sepupunya gila, celakanya si mantan pacar juga ada di pulau dan selalu dihinggapi rasa bersalah. Bahkan Airin pun ternyata menutupi kepedihan hatinya selama sekian tahun.

Agar bisa mengatasi ketakutannya, selama berada di sana, Airin selalu ingat pesan papa kandungnya untuk selalu melawan rasa takut yang ia rasakan.  Jika tidak, maka segala hal akan menjadi lebih rumit lagi.
"..., kalau kita nggak mampu menguasai  ketakutan kita, maka ketakutan itu bakal terwujud."
Jadi, berhasilkah mereka keluar dari pulau itu? Bagaimana bisa telepon genggam mereka tidak bisa berfungsi tapi mesin fax bisa menerima pesan dari papa tiri Airin? Rahasia kelam apa yang disembunyikan Airin hingga membuat ibu dan ayah tirinya merasa selalu was-was? Dibaca saja ya he he he. Dijamin seru.
https://www.facebook.com/
pdchusfani/photos

Ada dua eh tiga alasan utama membeli buku yang semula tidak berada dalam daftar belanjaan saya. Pertama apalagi jika kovernya yang berwarna biru, langsung membuat langkah di antara rak berhenti dan mengamati buku yang dipajang lebih lanjut.

Kedua, nama sang penulis. Sejak lama mengenal Mbak Poppy sebagai penerjemah kisah-kisah fantasi yang luar biasa.  Karya J.R.R. Tolkien, Jonathan Stroud, Christopher Paolini,  Roald Dahl, dan masih banyak lagi pengarang, membuat terjemahan bermutu meramaikan dunia buku. Dan tentunya karya-karya sendiri yang tak kalah seru!

Ketiga, judul buku yang tak biasa. Kondensasi adalah kata yang jarang saya dengar, apalagi menjadi judul buku. Jadi penasaran dengan Maafkan pengetahuan saya yang kurang banyak. Jadi menambah ilmu dari buku ini ^_^.

Pada sebuah laman, disebutkan bahwa kondensasi adalah proses perubahan wujud dari gas ke cair. Proses alamiah ini terjadi karena dua hal, yaitu uap air melewati permukaan yang lebih dingin dan ketika uap air mengalami penekanan atau kompresi. Jadi apa hubungannya kondensasi dengan isi buku ini? Bacalah dan temukan dalam buku ini ^_^.

Selain menambah ilmu, pembaca juga bisa mendapatkan inspirasi bagaimana Aislin selalu menguatkan dirinya untuk selalu bisa menghadapi  ketakutan dan kondisi yang kurang nyaman baginya. Ia selalu teringat pesan ayahnya untuk  fight, not flight.

Bagaimana para tokoh yang ada dalam kisah ini berusaha untuk berkompromi dengan masa lalunya juga bisa diambil hikmah. Bahwa pada akhirnya, menjadikan masa lalu dan rasa sakit sebagai kekuatan lebih bermanfaat dibandingkan terus berada dalam kenangan yang menyakitkan tanpa berusaha untuk bangkit.

Siapa yang bisa mengira bahwa keanehan dan hal-hal yang menakutkan yang muncul di pulau itu diakibatkan oleh rasa ketakutan dan kepedihan yang dipendam oleh para tokoh. Terutama oleh Aislin.  Alam bawah sadar mereka begitu kuat memendam segala rasa. Begitu pemicu yang tepat muncul, mereka semua bagaikan kotak Pandora yang terbuka.

Inspiratif.
Setidaknya saya jadi merasa sudah waktunya saya menghadapi segala ketakutan yang ada dan berkompromi dengan keadaan yang munkin tidak sesuai dengan harapan. Begitulah hidup.

Sumber gambar:
https://www.facebook.com/pdchusfani


Senin, 03 Juli 2023

2023 # 19: Kastel Dewi Serigala dan 6 Anak

Judul asli: Kastel Terpencil Di Dalam Cermin
Penulis: Mizuki Tsujimura
Penerjemah: Mohammad Ali
Editor: Risma Megawati, Astri Pratiwi Wulandari
ISBN: 9786230305993  
Halaman: 496
Cetakan: Keempat-2022
Harga: Rp 110.000
Rating: 3.5/5

Meski kau merasa ini semua tidak ada hubungannya denganmu, kau juga sama! Padahal kalian semua sama denganku. Menjadi korban perundungan, dibenci semua orang, juga tidak punya teman. Ya, kan?
-Kastel Terpencil di Dalam Cermin, hal 169-

Sebagai pekerjaan kantoran yang harus masuk setiap Senin hingga Jumat, antara jam 8 pagi hingga jam 4 sore (atau sesuaikan saja dengan jam kantor masing-masing), pernahkah Anda merasa berat sekali untuk berangkat kerja?

Rasanya tubuh terasa pegal, perut mulas, kepala sakit, sebutlah segala macam rasa sakit yang bisa muncul begitu memikirkan bahwa pagi itu harus berangkat ke kantor untuk bekerja. Pernah?

Begitu juga yang dirasakan oleh Kokoro. Ia merasa tak nyaman jika harus pergi ke sekolah. Perutnya akan terasa sakit tak tertahankan. Kokoro merasa menjadi orang yang selalu mengalami perudungan. Bahkan sahabatnya mendadak juga ikut melakukan hal tersebut.

Guru di sekolah seakan tak paham perasaannya. Hanya kedua orang tua yang tetap selalu mendukungnya.  Walau mereka sering kali  berusaha membujuknya untuk mau sekolah,  mereka membiarkan Kokoro tetap berada di rumah, hingga siap untuk pergi ke sekolah. 

Suatu ketika, cermin yang ada dalam kamar Kokoro bersinar, ia merasa tertarik lalu mencoba menyelidiki lebih lanjut. Ia tersedot ke balik cermin dan bertemu dengan 5 orang anak lain dan seorang gadis yang memakai topeng serigala, ia memperkenalkan diri sebagai Dewi Serigala.
https://www.goodreads.com/book/
show/57339041-lonely-castle-in-the-mirror

Ternyata mereka semua memang anak-anak pilihan yang mendapat sebuah tugas dari Dewi Serigala. Tugas mereka semua adalah mencari sebuah kunci yang dapat membuka Kamar Permohonan. Siapa yang dapat membukanya, akan dikabulkan 1 permintaan. Tapi pencarian tersebut akan berakhir tanggal 30 Maret di tahun berikutnya. Jika sampai saat itu kunci belum ditemukan, maka kunci tersebut akan lenyap. Mereka tak akan bisa masuk ke dalam kastel lagi. 

Dewi Serigala selaku penguasa Kastel menjelaskan peraturan yang harus mereka patuhi. Jika melanggar, maka serigala besar yang hidup di Kastel akan memakan mereka semua.  Pertama,  Kastel akan dibuka antara bulan Mei hingga Maret tahun berikutnya. Kedua, mereka boleh berada dalam kastel mulai jam 9 pagi hingga 5 sore waktu Jepang.   

Awalnya saya merasa bosan dengan cerita yang disampaikan. Seakan hanya membahas tentang alasan kenapa setiap anak tidak pergi sekolah. Masing-masing anak, secara  perlahan mulai membuka diri dan menceritakan tentang dirinya. 
https://www.goodreads.com/book/
show/41964207
Selain itu, saya agak heran  juga, bagaimana bisa anak-anak tersebut tetap terdaftar sebagai murid sekolah sementara mereka jarang, bahkan ada yang sama sekali tidak masuk sekolah. Membayangkan jika itu anak saya, sudah pasti dikeluarkan dari sekolah. Tapi mungkin sistem pendidikan di Jepang (sebagai setting cerita)  berbeda dengan di sini.

Kisah mulai menarik ketika salah satu anak perempuan, Aki, muncul dengan seragam sekolahnya karena harus menghadiri pemakaman sang nenek. Seragam sekolah yang ia kenakan, ternyata menjadi penghubung mereka semua.

Seragam tersebut serupa dengan yang dipakai oleh anak-anak perempuan yang ada di sana. Anak laki-laki juga merasa pernah melihat teman sekolahnya mempergunakan seragam yang serupa. Jangan-jangan mereka semua berasal  dari satu sekolah yang sama, hanya karena mereka tak pernah masuk jadi tidak saling mengenal.  

Perlahan, alur kisah berubah menjadi sesuatu yang berbeda. Benang merah keenam anak tersebut adalah mereka terdaftar di sekolah yang sama. Salah satu anak, walau bersekolah di Hawai, namun sebenarnya memiliki keinginan untuk bisa bersekolah di sana juga. 
https://www.goodreads.com/book/
show/5674942
3

Ternyata ada banyak hal yang membuat seorang anak merasa tidak nyaman di sekolah, termasuk perihal perundungan. Dan hal ini terungkap dari pembicaraan anak-anak yang ada di sana. 

Perundungan umumnya dilakukan secara keroyokan alias berkelompok. Dilakukan atas dasar setia kawan kepada teman yang dianggap mengalami tekanan atau hal kurang nyaman lainnya. Sebagai bukti setia kawan, mereka melakukan perudungan pada sosok yang dianggap melakukan hal tersbut pada teman mereka.
Aku tidak memaksamu untuk bertengkar dengan mereka. Tapi, kalau nanti ada anak lain yang mendapat perlakuan serupa dari orang-orang seperti mereka, aku ingin menolong. Soalnya orang-orang seperti mereka selalu ada di sekolah mana pun, dan tidak akan mungkin hilang.
Para guru, dianggap selalu berpihak pada mereka yang melakukan perundungan. Korban justru tidak mendapatkan bantuan sebagaimana mestinya. Dalam beberapa kasus, hal ini terjadi karena perudungan dilakukan oleh mereka yang dianggap populer, sehingga dianggap aneh jika mereka melakukan perundungan. 
https://www.goodreads.com/
book/show/5674942
3

Dalam kisah ini, seorang pendamping wanita muncul dan selalu berusaha mendampingi Kokoro hingga ia mau mencoba untuk pergi sekolah. Ternyata beliau sebut juga mendampingi anak lain. Sungguh sosok yang patut diacungi jempol karena bisa sabar dan mau berusaha memahami kondisi anak-anak yang mengalami perundungan.

Baru pada bagian Penutupan Kastel segala hal terungkap. Ide yang menarik! Silakan saja baca sendiri untuk mengetahui bagaimana hubungan keenam anak tersebut dan Dewi Serigala.

Dalam buku ini juga disinggung tentang kisah The Wolf and the Seven Young Goats dari Grimm Bersaudara. Kisah tersebut pertama kali diterbitkan pada  tahun 1812. Terjemahannya di tanah air juga beragam, ada yang menyebutkan Serigala dan 7 Anak Domba, namun ada juga yang menyebutkan Serigala dan 7 Anak Kambing. Versi kartunnya bisa dilihat di bawah ini.

Ada tiga bagian dalam buku ini. Bagian pertama diberi judul Cawu Satu, Waktunya Memperhatikan. Bagian ini terdiri dari 4  sub bagian yaitu Mei, Juni, Juli, Agustus. Selanjutnya bagian kedua, Cawu Dua, Waktunya Menyadari, yang terdiri dari beberapa sub bagian lanjutan dari bulan Agustus hingga Desember. 

Terakhir adalah bagian ketiga, Cawu Tiga, Waktunya berpisah. Juga terdiri dari tiga sub bagian, yaitu Januari, Februari, Maret. Ditambah dengan Penutupan Kastel dan Epilog.
https://www.goodreads.com/book/
show/54633169-lonely-castle-in-the-mirror

Pada bagian belakang buku, tertera tulisan 15+ yang menandakan bahwa buku ini diperuntukan bagi pembaca dengan usia 15 tahun ke atas. Hem..., menimbang isi buku yang agak berat, sepertinya 15 tahun masih terlalu muda untuk memahami pesan yang disampaikan oleh penulis. Tapi ini hanya pendapat saya saja. Membayangkan saya ketika berusia 15 tahun, akan kurang bisa memahami isi buku dengan baik. Tapi mungkin saja remaja zaman sekarang berbeda.

Sebuah buku dengan tema yang unik, hingga memperoleh Mystery Writers of Japan Award (日本推理作家協会賞) Nominee for Best Novel (2018), 本屋大賞 (2018). Hanya saja, ukuran huruf yang lebih kecil membuat saya tak bisa menyelesaikan membaca dengan cepat. Pertimbangan panjangnya kisah sepertinya menjadikan penerbitkan memilih ukuran demikian. Dengan huruf seperti itu saja, buku ini sudah memiliki 495 halaman. Bayangkan jika ukurannya diperbesar. Halaman bertambah, harga jual juga.

Oh, ya, ada satu kalimat yang sangat berkesan. 
Ada orang yang mengajariku,  bahwa semua yang bisa kita pelajari dalam pelajaran tidak akan ada yang percuma nantinya.
Entah apa dan bagaimana, pastinya tak ada pelajaran sekolah-ilmu  yang sia-sia.

Sumber Film:
https://youtu.be