Selasa, 31 Desember 2019

2019 #40: Mahakurawa 2: Kaliyuga


Penulis: Anand Neelakantan
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penyunting: Shalahuddin Gh
ISBN: 9786026799470
Halaman: 561
Cetakan: Pertama- Agustus 2019
Penerbit: Javanic
Harga: Rp 120.000
Rating: 4/5

"Suyudana telah terbukti sebagai manusia yang lebih baik melalui banyak tindakannya, mungkin sebagian tidak kalian sadari. Pengangkatan putra seorang suta menjadi raja Awangga, perlakuannya pada Ekalaya, perbuatannya serampangan tapi berniat baik untuk  menyetarakan kaum lelaki dan perempuan di negeri ini, kesiapannya menentang apa yang dianggapnya tak adil, itu semua bukti kebaikan hatinya. Jika dia mau, aku akan mengajarinya seluk-beluk pemerintahan. Aku tak perlu mengajarinya tentang kasih sayang pada kaum tertindas, keadilan, dan kesetaraan."
~Mahakurawa 2: Kaliyuga, halaman 331~

Parwa 2, merupakan sambungan dari kisah sebelumnya, Mahakurawa 1:  Cakra Manggilingan. Sebenarnya untuk bisa menikmati kisah ini secara utuh  sebaiknya pembaca menikmati buku pertama terlebih dahulu. 

Namun jika sudah terlanjur langsung ingin membaca buku kedua, silakan membaca Purwaka pada halaman 18-25 guna mendapat rangkuman isi buku sebelumnya.   Lebih baik mendapat informasi awal walau tak lengkap dari pada tak mendapat gambaran mengenai kisah sebelumnya. Komentar tentang buku yang lalu ada di sini.

Terdapat 85 bagian dalam buku ini. Dimulai dengan kisah Drupadi yang ditelenjangi pada bagian Rasa Malu, berlanjut pada bagian lain seperti  Guru dan Murid, Samba, Kresna Duta, Aturan Perang, Suryaputra, Suling Kematian, dan ditutup dengan Kaliyuga.

Secara garis besar, buku ini mengisahkan tentang perperangan yang terjadi antara Pandawa dan Kurawa. Bagaimana situasi pertempuran, taktik yang dilakukan, dan tentunya pengorbanan yang harus dilakukan dari kedua belah pihak untuk bisa memperoleh kemenangan.

Agar peperangan berjalan dengan baik, maka Bhisma mengundang Yudhistira sebagai perwakilan Pandawa serta Suyudana sebagai perwakilan Kurawa untuk merundingkan aturan perang. 

Jika memang perang tidak bisa dihindari lagi, Bhisma ingin setidaknya perang dilakukan sesuai aturan yang berlaku. Seperti yang tertera di halaman 359, "Hanya manusia yang melanggar aturan, Binatang tidak.

Salah satu aturan  perang yang ditetapkan oleh Bhisma adalah  larangan   untuk tidak menyerang perempuan, aturan nomor 9. Aturan ini membuat Bhisma tak bisa melawan Srikandi. Sungguh miris, pahlawan besar seperti Bhisma harus kalah ditangan seorang wandu. 

Seperti kisah perang pada umumnya, tentu ada bagian yang menggambarkan bagaimana keluarga bersedih kehilangan salah satu anggota keluarga. Demikian juga dalam kisah ini. Meski kematian beberapa orang dianggap sebagai dharma seorang satria, tetap ada sosok yang menangis.

Istri Suyudana misalnya, ia tak ingin anak laki-lakinya ikut berperang karena dianggap tak memiliki kemampuan yang cukup. Sementara sang anak merasa apapun yang terjadi sudah menjadi dharmanya ikut  berperang mendampingi sang ayah. Kematiannya tentu membuat sang ibu menangis sedih. Baginya kematian adalah dharma.

Dalam kisah kedua ini, peran Krisna terlihat lebih banyak. Tidak saja sebagai duta dari pihak Panawa, ia juga mengatur siasat. Keterlibatannya  dalam perang membuat Gandari mengeluarkan kutukan. Tapi begitulah perang banyak pihak yang tersakiti.

Meski dalam kisah ini tak banyak bagian yang menceritakan tentang Gandari, namun pada akhir kisah justru terlihat betapa besar peranannya dalam kehidupan Kurawa dan Hastinapura. Bisa dikatakan ia banyak memberikan masukan pada sang raja. Ucapannya  penuh pertimbangan, bagaikan titah bagi semua orang.

Seperti yang tercantum pada kalimat di halaman 207 ketika sedang berbicara dengan Suyudana, "Seseorang ahli kenegaraan yang mumpuni tahu kapan harus bersikap lembut dan kapan bersikap keras. Siasat kekuasaan adalah seni menggunakan orang lain untuk mencapai tujuan!"

Penulis  kembali sukses memainkan emosi  saya selaku pembaca. Bagaimana mereka yang sepertinya lelah mendadak muncul dengan kekuatan penuh untuk membalaskan dendam. Amarah memang terbukti bisa menjadi kekuatan yang maha dasyat.

Bagian yang paling membuat saya harus menahan air mata adalah ketika anak-anak tak diaku Pandawa (ibunya bukan berasal dari Kasta yang sama),  merelakan diri untuk membantu  meraih kemenangan. Padahal jangankan diakui secara resmi,  ada yang tak pernah ditengok. Namun bagi mereka itu adalah kesempatan berbakti, menunjukkan dharma. Miris rasanya membaca bagian ini.

Banyak pesan moral yang bisa dipetik dalam kisah ini. Tergantung dari sudut mana pembaca memandangnya. Saya mendapat pencerahan bahwa memenangkan suatu "peperangan" bisa dilakukan dengan banyak cara, dan tanpa menimbulkan banyak korban.

Bahwa musuh terbesar kita bisa saja berada dekat dengan kita, hanya kita tak menyadarinya. Bahkan orang yang kita cintai juga bisa menjadi musuh dalam peperangan. Seperti Suyudana dan Abimanyu.

Persahabatan bagaikan dua mata pisau, jika tak hati-hati bisa menyakiti, seperti Abimanyu dan Leksmana Kumara. Tapi jika  saling mendukung dan membina persahabatan atas dasar kebaikan hati, seperti layaknya Suyudana yang menganggkat Karna menjadi raja.

Salah satu teman saya mengatakan bahwa baginya Pandawa terlalu "bersih" kurang manusiawi kesannya sehingga ia lebih menyukai Kurawa yang baginya lebih terlihat wajar. Kembali, bagaimana seseorang menikmati kisah tergantung dari mana ia memandang.

Akhir kisah yang tak terduga justru menimbulkan pertanyaan baru bagi saya, bagaimana selanjutnya nasib tokoh yang berhasil lolos dari perang besar tersebut?  Mengenaskan sekali kondisinya, tak akan ada yang percaya siapa dia sesungguhnya pada masa lalu.

Buku ini cocok dibaca untuk mereka yang menggemari kisah Mahabharata. Menikmati dari berbagai versi akan membuat pembaca bisa mendapat banyak hal.  
Mungkin  akan ada dalang lagi yang mementaskan kisah Mahakurawa ini, siapa tahu!

Mengingat beberapa adegan dalam perang digambarkan penuh dengan kekerasan, buku ini tidak dianjurkan bagi mereka yang usianya dibawah 18 tahun. 

Saya perlu menenangkan diri dulu setelah membaca buku ini. Energi terasa terkuras habis. Lelah tapi bahagia.




















Tidak ada komentar:

Posting Komentar