Sabtu, 27 Juni 2026

2026 #8: Sesesat Apakah Kamu?

Judul asli: Sesat
Penulis: Naomi Midori
ISBN: 9786235467443
Halaman: 250
Cetakan: Pertama-Mei 2026
Penerbit: Haru
Harga: Rp 97.000
Rating: 3.5/5

Matikan indra.
Matikan indra
-hal 94-

Di sebuah pulau dengan akses sangat  terbatas, kehidupan penghuni di sana sangat berbeda dengan pulau lain pada umumnya.  Seluruh penghuni pulau memeluk agama X. Mereka harus tunduk secara mutlak pada Pamasa, pemuka agama X tertinggi. Konon Pamasa merupakan titisan Sang Agung.

Tak ada pertanyaan atau alasan melanggar. Berani bertanya, berarti siap untuk menerima hukuman bahkan kematian. Punya alasan untuk tidak mematuhi aturannya, mati menjadi hal yang paling diinginkan dibandingkan menerima siksa. Bahkan mencintai orang lain pun harus dengan izin Pamasa. 

Sebagai gambaran betapa Panama dikultuskan,  air bekas ia gunakan, termasuk mencuci hal kotor yang keluar dari tubuhnya, dijadikan sebagai komoditi tak ternilai. Penduduk percaya air tersebut membuat mereka hidup lebih lama dan bersih dari dosa.

Meski demikian, ada saja orang yang nekat memiliki padangan berbeda. Kedal, misalnya. Ia pernah menyampaikan agar memercayai sesuati harus dengan mempergunakan otak. " Jangan mabuk agama. Percaya  sih percaya, tapi pakai otak jugalah. Belum tentu yang kau yakini itu adalah kebenaran" katanya pada Ale yang sangat mematuhi Pamasa. 

Begitulah. Pamor Pamasa sangat kuat,  ia bisa mengubah aturan semaunya. Tak ada yang pernah tahu bagaimana wujud Kitab Sasar, kitab suci agama X. Mereka hanya tahu apa yang disampaikan Pemasa.  Jika ada perubahan, disebutkan dilakukan Pamasa atas petunjuk Sang Agung. Tak ada yang berani membantah.

Selesai membaca, saya merasa unsur kultus kurang banyak disampaikan. Peristiwa di bab  Bukan Agamaku, Bukan Tuhanku, alih-alih menggambarkan sidang terhadap ketaatan pada Pamasa, bagian tersebut seakan menunjukkan bagaimana seorang diktaktor sedang menghukum pemberontak atau warga yang tak setia.

Pada bagian awal, pembaca bisa menemukan peta Pulau X, sehingga bisa lebih membayangkan tempat terjadinya suatu peristiwa. Tapi setelah selesai membaca, sepertinya  seluruh peristiwa hanya terjadi di beberapa tempat tertentu saja. 

Bagaimana kehidupan penduduk di sana disampaikan penulis dari sudut pandang  Ale dan Dhatya secara bergantian. Pada tiap bagian awal, juga dicantumkan sesuatu yang dianggap sesuai dengan isi kisah dalam bab tersebut.  Kisahnya seperti apa? Siapakah sesungguhnya Ale dan Dhatya? Silakan baca sendiri he he he.

Secara keseluruhan, buku ini cukup menarik. Kalau ada kekurangan, untuk saya, masih bisa dikoreksi pada cetakan ulang nanti. Tanpa mengubah alur cerita hanya mempertegas beberapa hal saja. Konon penulis mendapat ide dari peristiwa yang dialami sendiri,  tentunya akan mudah untuk "menambal"  bolong yang ada. 

Selain urusan ilustrasi yang sangat menarik, sayang jumlahnya terbatas, bagian kuis yang hasilnya menentukan apakah seseorang layak menjadi umat di Pulau X, layak dicoba. Minimal untuk menguji diri  bagaimana bersikap jika menjadi salah satu tokoh dalam kisah  (buat saya lho).

Dan...,saya bukan masuk dalam golongan yang ideal buat jadi penghuni Pulau X, walau nyaris masuk kategori  orang yang dibutuhkan Pulau X. Ternyata, selisih 1 pilihan bisa mempengaruhi banyak hal. 

Batas toleransi setiap individu pada sesuatu yang dianggap menakutkan atau menjijikkan tidaklah sama. Ada yang menganggap ilustrasi wajah pada kover sangat menakutkan, seram setiap kali melihat.  Lainnya menyebutkan menjijikkan,  setiap memandang akan merasa mual.  Tapi, ada juga yang menganggap menarik, karena sesuai dengan apa yang digambarkan dalam kisah.

Cara penerbit  menempelkan semacam stiker pada wajah yang dianggap menyeramkan atau menjijikkan, merupakan cara marketing yang menarik. Pertama, calon pembeli akan merasa penasaran dengan apa yang ada di balik stiker. 

Nekat berusaha mencabut stiker, merupakan hal yang bisa dikatakan sia-sia, karena stiker ditempel pada plastik pembungkus buku yang rasanya akan susah untuk dilepas. Memaksa sama saja merusak, artinya harus membeli. Setidaknya bagi saya yang berusaha mencoba beberapa kali namun gagal. Penasaran? Beli dan copot stikernya untuk tahu apa yang ada di baliknya.

Kedua, cara ini juga membuat penjual buku secara daring tidak terkena sanksi memasang sesuatu yang dianggap mengganggu atau tidak sesuai dengan ketentuan. Jika sampai ada yang dianggap melanggar ketentuan, toko bisa dilarang beroperasi beberapa waktu, bayangkan kerugian yang muncul. Bukan untung, malah rugi gara-gara kover yang tak biasa.

Ketiga, dengan memberikan semacam penutup tambahan, bisa membuat orang yang melihat merasa penasaran, bahkan bisa saja bertanya. Saya  mengalami wkwkwk. Beberapa kali saya ditanya sedang membaca apa ketika terlihat memegang buku ini di perjalanan ke kantor dengan kereta api. 

Dan kesekian kalinya,  orang yang bertanya akan menunjukkan ekspresi terkejut setelah melihat kover sesungguhnya. Percaya atau tidak, beberapa kemudian menganggap lucu karena menyamarkan wajah sesuatu yang menyeramkan  atau menjijikkan  di balik sosok binatang yang dianggap imut.

Jika diperhatikan, pada pojok kanan atas tertera kata Iyamisu yang disusun secara unik. Sebagai pengingat diri, Iyamisu merupakan  sub-genre misteri Jepang dengan fokus pada psikologi gelap manusia. Yang dibahas bukan bagaimana sebuah peristiwa terjadi, tapi mitos kejam dan kelam yang menjadi dasar kejahatan dalam sebuah peristiwa.

Pembaca akan merasa tidak nyaman, gelisah, merinding, namun tetap ada rasa penasaran untuk terus membaca genre ini. Itu sebabnya, pada bagian awal buku, penerbit sudah mencantumkan "Penafian" bagi pembaca. Jadi, pastikan mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum membaca buku genre ini.

Saya? Biasa saja rasanya. Bukan karena mati rasa, namun setiap selesai membaca buku, biasanya saya "menetralkan" diri dengan melakukan hal-hal lain sehingga seluruh kisah menguap.  Sangat jarang kisah yang masih melekat dalam ingatan setelah selesai dibaca.

Itu sebabnya, ketika akan membuat komentar, saya perlu membaca ulang halaman yang diberi tanda sebagai pemanggil memori. Itu juga yang membuat saya tidak bisa selalu ingat nama  tokoh dan alur dari buku yang pernah saya baca.

Ketika sedang menyiapkan komentar ini, saya berusaha mencari informasi terkait buku yang biasanya ada di halaman awal, seperti ISBN, nama editor, dan sejenisnya. Ternyata tidak ada. Agak heran juga, biasanya data terkait buku adalah hal yang penting untuk dicantumkan. 

Jadi, berani mencoba bacaan yang berbeda?



Senin, 15 Juni 2026

2026 #7: Kisah kehidupan Perempun di Desa

Penulis: Marie Ovink-Soer
Penerjemah Titik Andarwati
QRCBN: 62-1677-3366-623
Cetakan: Pertama-2026 
Halaman: 132 
Penerbit: BukuKatta
Harga: Rp 65.000
Rating: 4/5
Sabarlah, jangan putus asa; yang hilang bisa kembali, dari kematian akan lahir kehidupan baru.
-hal 105-
Terkadang, ketika sedang berada di sebuah desa dimana terdapat  makan keluarga di Jawa Tengah, ada rasa penasaran untuk tahu bagaimana kehidupan masyarakat di sana dahulu. Seiring dengan perkembangan zaman, tentunya terdapat perbedaan dengan kehidupan saat ini.

Dahulu, ada semacam sungai kecil dengan air jernih. Senang rasaya main air sambil melihat ibu-ibu melakukan aktivitas di sana. Sekarang, sungai itu sudah kering, tak ada lagi aktivitas di sana. Mungkin, banyak penduduk yang sudah lupa pernah ada sungai di sana.

Salah satu cara  untuk bisa mengetahui bagaimana kehidupan di suatu tempat atau pada suatu waktu, adalah dengan membaca catatan yang ditulis oleh seseorang yang hidup di sana atau pada suatu waktu. Seperti juga buku ini, Kehidupan Perempuan di Desa. Mengingat tempat tinggal penulis, kemungkinan besar desa yang dimaksud adalah Jepara dan sekitarnya.

Sesuai dengan judulnya, buku setebal 132 halaman ini dibagi dalam 9 kisah tentang bagaimana kehidupan masyarakat di Hindia Belanda-sebutan untuk Indonesia dulu  pada tahun 1901-an di Indonesia. Mulai dari Kehidupan Perempuan di Desa; Istri seorang Zendeling; Anak Gembala Kerbau; Jalan-jalan Senja; Sebuah Proefsnit (Pemotongan Percobaan); Hujan Pertama; Sendiri di Rumah; Kebakaran di Kampung; dan Keberanian Margo.

Pada kisah pertama yang juga menjadi judul buku ini, Kehidupan Perempuan di Desa, pembaca akan mengikuti kisah kehidupan seorang wanita bernama Wagini. Ibunya meninggal ketika melahirkannya, sang ayah meninggalkan Wagini ke kota besar ketika berusia 2 tahun. Wagini hidup bersama sang nenek. 

Mengingat usia nenek, Wagini diharapkan segera menikah. Calon sudah ada, hari baik sesuai dengan kelahiran kedua calon pengantin sudah dihitung, tinggal memanggil ayah Wagini untuk pulang dan menikahkan anaknya. Nenek bisa menghabiskan hari-hari dengan tenang.

Wagini menikah dengan lelaki yang usianya dua kali lebih tua. Wajah suaminya baru ia ketahui ketika bersanding. Setiap kali melihat suaminya mendekat, Wagini langsung lari bahkan bersembunyi, Sebagai gadis belia yang dipaksa menikah, begitulah keadaan rumah tangganya. Untung sang suami bersabar dan tidak memaksakan kehendak. 

Beruntung, mertua Wagini bisa memahami kondisi dirinya. Tak terhitung berapa kali ia menasehati anaknya untuk sabar dalam menghadapi Wagini yang terbilang anak-anak. Wagini seakan menemukan kasih ibu pada mertuanya.

Suatu peristiwa tak terduga membuat suami Wagini meninggal. Ia hanya bisa menghibur mertua dan saudaranya, sementara tak ada air mata yang keluar. Begitulah, bagaimana ia bisa mencintai sosok yang ditakuti dan selalu dihindari?

Waktu berjalan, hingga suatu saat Wagini mulai tumbuh menjadi wanita yang bisa merasakan cinta. Tak takut untuk bertegur sapa dengan lelaki yang menarik hatinya. Wagini dewasa tak takut menjalani komitmen pernikahan.
Jantung Wagini berdegup kencang. Andai ia berani melarikan diri, menjauh dari nasib yang menantikannya! Tetapi ke mana ia harus pergi, siapa yang akan menolongnya?
-hal 18-
Rasanya gemas membaca kisah Wagini, tapi begitulah kehidupan saat itu. Perempuan yang belum menikah pada usia tertentu  dianggap membawa malu. Selain itu, menikah seorang anak dianggap "memindahkan" tanggung jawab pada suami.    Bayangkan anak kecil dipaksa menikahi pria dewasa!  Kalau terjadi sekarang, bisa-bisa keluarga wanita dilaporkan ke KPAI. 

Jadi ingat kisah Nujood, gadis yang dipaksa menikah dan menjadi janda pada usia 10! Untung Wagini tidak mengalami KDRT seperti Nujood. Atau ada namun tidak ada yang mengetahui? Entahlah! Penulis tidak menceritakan hal tersebut. Kisah Nujood bisa dibaca di  sini

Semula, saya mengira isi buku ini mengambil sosok perempuan sebagai tokoh, namun ternyata 9 kisah yang ada tidak semua mengambil perempuan sebagai tokoh utama. Kisah Anak Gembala Kerbau mengangkat kehidupan seorang anak laki-laki bernama Kacong. Penulis menceritan kehidupan Kacong mulai sejak usia 4 tahun hingga ia berkeluarga dan memiliki anak. 

Secara garis besar, jumlah halaman tiap kisah tidaklah sama. Kisah paling panjang adalah Anak Gembala Kerbau, sementara Kebakaran di Kampung menjadi kisah yang paling  pendek. berkisah teorang gadis kecil tak sengaja menyalakan api dekat dinding bambu yang segera terbakar begitu lidah api menyentuh.

Bagaimana orang berusaha menyelamatkan barang yang dipergunakan untuk bertahan hidup dan kebutuhan pokok, menjadi bagian yang menyentuh. Pada kisah ini juga disebutkan tentang nelayan yang baru pulang melaut dan menemukan rumahnya hangus terbakar. 

Selesai membaca buku ini, saya jadi membayangkan kehidupan di desa yang saya sebutkan di atas.  Zaman boleh berubah, namun ada beberapa hal yang tak akan berubah dalam kehidupan. 
https://www.instagram.com/bukukatta/

Seluruh isi buku disampaikan dari sudut pandang seorang wanita belanda yang merupakan salah satu sahabat R.A Kartini- Marie Ovink-Soer. Sebagai istri  Asisten Residen Jepara, Marie tinggal dekat dengan kediaman orang tua Kartini. Ia sering menghabiskan waktu bersama dengan Kartini dan kedua adiknya.  Melalui Marie, Kartini mengenal feminis Belanda. 

Buku yang menarik dibaca bagi mereka yang tertarik untuk mengetahui tentang perkembangan kehidupan masyarakat di desa, terutama pada tahun 1901.

Sumber gambar:
https://www.instagram.com/bukukatta