Senin, 15 Juni 2026

2026 #7: Kisah kehidupan Perempun di Desa

Penulis: Marie Ovink-Soer
Penerjemah Titik Andarwati
QRCBN: 62-1677-3366-623
Cetakan: Pertama-2026 
Halaman: 132 
Penerbit: BukuKatta
Harga: Rp 65.000
Rating: 4/5
Sabarlah, jangan putus asa; yang hilang bisa kembali, dari kematian akan lahir kehidupan baru.
-hal 105-
Terkadang, ketika sedang berada di sebuah desa dimana terdapat  makan keluarga di Jawa Tengah, ada rasa penasaran untuk tahu bagaimana kehidupan masyarakat di sana dahulu. Seiring dengan perkembangan zaman, tentunya terdapat perbedaan dengan kehidupan saat ini.

Dahulu, ada semacam sungai kecil dengan air jernih. Senang rasaya main air sambil melihat ibu-ibu melakukan aktivitas di sana. Sekarang, sungai itu sudah kering, tak ada lagi aktivitas di sana. Mungkin, banyak penduduk yang sudah lupa pernah ada sungai di sana.

Salah satu cara  untuk bisa mengetahui bagaimana kehidupan di suatu tempat atau pada suatu waktu, adalah dengan membaca catatan yang ditulis oleh seseorang yang hidup di sana atau pada suatu waktu. Seperti juga buku ini, Kehidupan Perempuan di Desa. Mengingat tempat tinggal penulis, kemungkinan besar desa yang dimaksud adalah Jepara dan sekitarnya.

Sesuai dengan judulnya, buku setebal 132 halaman ini dibagi dalam 9 kisah tentang bagaimana kehidupan masyarakat di Hindia Belanda-sebutan untuk Indonesia dulu  pada tahun 1901-an di Indonesia. Mulai dari Kehidupan Perempuan di Desa; Istri seorang Zendeling; Anak Gembala Kerbau; Jalan-jalan Senja; Sebuah Proefsnit (Pemotongan Percobaan); Hujan Pertama; Sendiri di Rumah; Kebakaran di Kampung; dan Keberanian Margo.

Pada kisah pertama yang juga menjadi judul buku ini, Kehidupan Perempuan di Desa, pembaca akan mengikuti kisah kehidupan seorang wanita bernama Wagini. Ibunya meninggal ketika melahirkannya, sang ayah meninggalkan Wagini ke kota besar ketika berusia 2 tahun. Wagini hidup bersama sang nenek. 

Mengingat usia nenek, Wagini diharapkan segera menikah. Calon sudah ada, hari baik sesuai dengan kelahiran kedua calon pengantin sudah dihitung, tinggal memanggil ayah Wagini untuk pulang dan menikahkan anaknya. Nenek bisa menghabiskan hari-hari dengan tenang.

Wagini menikah dengan lelaki yang usianya dua kali lebih tua. Wajah suaminya baru ia ketahui ketika bersanding. Setiap kali melihat suaminya mendekat, Wagini langsung lari bahkan bersembunyi, Sebagai gadis belia yang dipaksa menikah, begitulah keadaan rumah tangganya. Untung sang suami bersabar dan tidak memaksakan kehendak. 

Beruntung, mertua Wagini bisa memahami kondisi dirinya. Tak terhitung berapa kali ia menasehati anaknya untuk sabar dalam menghadapi Wagini yang terbilang anak-anak. Wagini seakan menemukan kasih ibu pada mertuanya.

Suatu peristiwa tak terduga membuat suami Wagini meninggal. Ia hanya bisa menghibur mertua dan saudaranya, sementara tak ada air mata yang keluar. Begitulah, bagaimana ia bisa mencintai sosok yang ditakuti dan selalu dihindari?

Waktu berjalan, hingga suatu saat Wagini mulai tumbuh menjadi wanita yang bisa merasakan cinta. Tak takut untuk bertegur sapa dengan lelaki yang menarik hatinya. Wagini dewasa tak takut menjalani komitmen pernikahan.
Jantung Wagini berdegup kencang. Andai ia berani melarikan diri, menjauh dari nasib yang menantikannya! Tetapi ke mana ia harus pergi, siapa yang akan menolongnya?
-hal 18-
Rasanya gemas membaca kisah Wagini, tapi begitulah kehidupan saat itu. Perempuan yang belum menikah pada usia tertentu  dianggap membawa malu. Selain itu, menikah seorang anak dianggap "memindahkan" tanggung jawab pada suami.    Bayangkan anak kecil dipaksa menikahi pria dewasa!  Kalau terjadi sekarang, bisa-bisa keluarga wanita dilaporkan ke KPAI. 

Jadi ingat kisah Nujood, gadis yang dipaksa menikah dan menjadi janda pada usia 10! Untung Wagini tidak mengalami KDRT seperti Nujood. Atau ada namun tidak ada yang mengetahui? Entahlah! Penulis tidak menceritakan hal tersebut. Kisah Nujood bisa dibaca di  sini

Semula, saya mengira isi buku ini mengambil sosok perempuan sebagai tokoh, namun ternyata 9 kisah yang ada tidak semua mengambil perempuan sebagai tokoh utama. Kisah Anak Gembala Kerbau mengangkat kehidupan seorang anak laki-laki bernama Kacong. Penulis menceritan kehidupan Kacong mulai sejak usia 4 tahun hingga ia berkeluarga dan memiliki anak. 

Secara garis besar, jumlah halaman tiap kisah tidaklah sama. Kisah paling panjang adalah Anak Gembala Kerbau, sementara Kebakaran di Kampung menjadi kisah yang paling  pendek. berkisah teorang gadis kecil tak sengaja menyalakan api dekat dinding bambu yang segera terbakar begitu lidah api menyentuh.

Bagaimana orang berusaha menyelamatkan barang yang dipergunakan untuk bertahan hidup dan kebutuhan pokok, menjadi bagian yang menyentuh. Pada kisah ini juga disebutkan tentang nelayan yang baru pulang melaut dan menemukan rumahnya hangus terbakar. 

Selesai membaca buku ini, saya jadi membayangkan kehidupan di desa yang saya sebutkan di atas.  Zaman boleh berubah, namun ada beberapa hal yang tak akan berubah dalam kehidupan. 
https://www.instagram.com/bukukatta/

Seluruh isi buku disampaikan dari sudut pandang seorang wanita belanda yang merupakan salah satu sahabat R.A Kartini- Marie Ovink-Soer. Sebagai istri  Asisten Residen Jepara, Marie tinggal dekat dengan kediaman orang tua Kartini. Ia sering menghabiskan waktu bersama dengan Kartini dan kedua adiknya.  Melalui Marie, Kartini mengenal feminis Belanda. 

Buku yang menarik dibaca bagi mereka yang tertarik untuk mengetahui tentang perkembangan kehidupan masyarakat di desa, terutama pada tahun 1901.

Sumber gambar:
https://www.instagram.com/bukukatta