Penulis: Naomi Midori
ISBN: 9786235467443
Halaman: 250
Cetakan: Pertama-Mei 2026
Penerbit: Haru
Harga: Rp 97.000
Harga: Rp 97.000
Rating: 3.5/5
Matikan indra.
Matikan indra
-hal 94-
Di sebuah pulau dengan akses sangat terbatas, kehidupan penghuni di sana sangat berbeda dengan pulau lain pada umumnya. Seluruh penghuni pulau memeluk agama X. Mereka harus tunduk secara mutlak pada Pamasa, pemuka agama X tertinggi. Konon Pamasa merupakan titisan Sang Agung.
Tak ada pertanyaan atau alasan melanggar. Berani bertanya, berarti siap untuk menerima hukuman bahkan kematian. Punya alasan untuk tidak mematuhi aturannya, mati menjadi hal yang paling diinginkan dibandingkan menerima siksa. Bahkan mencintai orang lain pun harus dengan izin Pamasa.
Sebagai gambaran betapa Panama dikultuskan, air bekas ia gunakan, termasuk mencuci hal kotor yang keluar dari tubuhnya, dijadikan sebagai komoditi tak ternilai. Penduduk percaya air tersebut membuat mereka hidup lebih lama dan bersih dari dosa.
Meski demikian, ada saja orang yang nekat memiliki padangan berbeda. Kedal, misalnya. Ia pernah menyampaikan agar memercayai sesuati harus dengan mempergunakan otak. " Jangan mabuk agama. Percaya sih percaya, tapi pakai otak jugalah. Belum tentu yang kau yakini itu adalah kebenaran" katanya pada Ale yang sangat mematuhi Pamasa.
Begitulah. Pamor Pamasa sangat kuat, ia bisa mengubah aturan semaunya. Tak ada yang pernah tahu bagaimana wujud Kitab Sasar, kitab suci agama X. Mereka hanya tahu apa yang disampaikan Pemasa. Jika ada perubahan, disebutkan dilakukan Pamasa atas petunjuk Sang Agung. Tak ada yang berani membantah.
Selesai membaca, saya merasa unsur kultus kurang banyak disampaikan. Peristiwa di bab Bukan Agamaku, Bukan Tuhanku, alih-alih menggambarkan sidang terhadap ketaatan pada Pamasa, bagian tersebut seakan menunjukkan bagaimana seorang diktaktor sedang menghukum pemberontak atau warga yang tak setia.
Pada bagian awal, pembaca bisa menemukan peta Pulau X, sehingga bisa lebih membayangkan tempat terjadinya suatu peristiwa. Tapi setelah selesai membaca, sepertinya seluruh peristiwa hanya terjadi di beberapa tempat tertentu saja.
Bagaimana kehidupan penduduk di sana disampaikan penulis dari sudut pandang Ale dan Dhatya secara bergantian. Pada tiap bagian awal, juga dicantumkan sesuatu yang dianggap sesuai dengan isi kisah dalam bab tersebut. Kisahnya seperti apa? Siapakah sesungguhnya Ale dan Dhatya? Silakan baca sendiri he he he.
Secara keseluruhan, buku ini cukup menarik. Kalau ada kekurangan, untuk saya, masih bisa dikoreksi pada cetakan ulang nanti. Tanpa mengubah alur cerita hanya mempertegas beberapa hal saja. Konon penulis mendapat ide dari peristiwa yang dialami sendiri, tentunya akan mudah untuk "menambal" bolong yang ada.
Selain urusan ilustrasi yang sangat menarik, sayang jumlahnya terbatas, bagian kuis yang hasilnya menentukan apakah seseorang layak menjadi umat di Pulau X, layak dicoba. Minimal untuk menguji diri bagaimana bersikap jika menjadi salah satu tokoh dalam kisah (buat saya lho).
Dan...,saya bukan masuk dalam golongan yang ideal buat jadi penghuni Pulau X, walau nyaris masuk kategori orang yang dibutuhkan Pulau X. Ternyata, selisih 1 pilihan bisa mempengaruhi banyak hal.
Batas toleransi setiap individu pada sesuatu yang dianggap menakutkan atau menjijikkan tidaklah sama. Ada yang menganggap ilustrasi wajah pada kover sangat menakutkan, seram setiap kali melihat. Lainnya menyebutkan menjijikkan, setiap memandang akan merasa mual. Tapi, ada juga yang menganggap menarik, karena sesuai dengan apa yang digambarkan dalam kisah.
Cara penerbit menempelkan semacam stiker pada wajah yang dianggap menyeramkan atau menjijikkan, merupakan cara marketing yang menarik. Pertama, calon pembeli akan merasa penasaran dengan apa yang ada di balik stiker.
Nekat berusaha mencabut stiker, merupakan hal yang bisa dikatakan sia-sia, karena stiker ditempel pada plastik pembungkus buku yang rasanya akan susah untuk dilepas. Memaksa sama saja merusak, artinya harus membeli. Setidaknya bagi saya yang berusaha mencoba beberapa kali namun gagal. Penasaran? Beli dan copot stikernya untuk tahu apa yang ada di baliknya.
Kedua, cara ini juga membuat penjual buku secara daring tidak terkena sanksi memasang sesuatu yang dianggap mengganggu atau tidak sesuai dengan ketentuan. Jika sampai ada yang dianggap melanggar ketentuan, toko bisa dilarang beroperasi beberapa waktu, bayangkan kerugian yang muncul. Bukan untung, malah rugi gara-gara kover yang tak biasa.
Ketiga, dengan memberikan semacam penutup tambahan, bisa membuat orang yang melihat merasa penasaran, bahkan bisa saja bertanya. Saya mengalami wkwkwk. Beberapa kali saya ditanya sedang membaca apa ketika terlihat memegang buku ini di perjalanan ke kantor dengan kereta api.
Dan kesekian kalinya, orang yang bertanya akan menunjukkan ekspresi terkejut setelah melihat kover sesungguhnya. Percaya atau tidak, beberapa kemudian menganggap lucu karena menyamarkan wajah sesuatu yang menyeramkan atau menjijikkan di balik sosok binatang yang dianggap imut.
Jika diperhatikan, pada pojok kanan atas tertera kata Iyamisu yang disusun secara unik. Sebagai pengingat diri, Iyamisu merupakan sub-genre misteri Jepang dengan fokus pada psikologi gelap manusia. Yang dibahas bukan bagaimana sebuah peristiwa terjadi, tapi mitos kejam dan kelam yang menjadi dasar kejahatan dalam sebuah peristiwa.
Pembaca akan merasa tidak nyaman, gelisah, merinding, namun tetap ada rasa penasaran untuk terus membaca genre ini. Itu sebabnya, pada bagian awal buku, penerbit sudah mencantumkan "Penafian" bagi pembaca. Jadi, pastikan mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum membaca buku genre ini.
Saya? Biasa saja rasanya. Bukan karena mati rasa, namun setiap selesai membaca buku, biasanya saya "menetralkan" diri dengan melakukan hal-hal lain sehingga seluruh kisah menguap. Sangat jarang kisah yang masih melekat dalam ingatan setelah selesai dibaca.
Itu sebabnya, ketika akan membuat komentar, saya perlu membaca ulang halaman yang diberi tanda sebagai pemanggil memori. Itu juga yang membuat saya tidak bisa selalu ingat nama tokoh dan alur dari buku yang pernah saya baca.
Ketika sedang menyiapkan komentar ini, saya berusaha mencari informasi terkait buku yang biasanya ada di halaman awal, seperti ISBN, nama editor, dan sejenisnya. Ternyata tidak ada. Agak heran juga, biasanya data terkait buku adalah hal yang penting untuk dicantumkan.
Jadi, berani mencoba bacaan yang berbeda?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar