Jumat, 08 April 2011

Ternyata Bahtera Nabi Nuh adalah....


Judul                        : The Ark
Pengarang               : Boyd Morrison
Penerjemah             :  Istiani  Prajoko
Penyunting              : Wijdan FR
Penyunting Aksara  : N.N Ananta
ISBN                      : 978-602-96413-6-3
Halaman                  : 631
Penerbit                   : Imania

Tyler Locke. Gordian Engineering. Minta bantuannya. Dia tahu…Coleman
Riset ayahmu… mulai segalanya.  Kau harus menemukan …Bahtera

Dilara Kenner berusaha  menangkap penggalan kata-kata Sam Watson  yang  sedang sekarat.  Baginya Sam sudah menjadi bagian dari keluarga. Saat Sam menghubungi dan memintanya bertemu segera, ia mengira ini hanya pertemuan biasa. Alih-alin temu kangen, Dilara malah melihat Sam meregang nyawa di hadapannya. Sejak saat itu kehidupannya sebagai arkeolog tidak sama lagi.

Ayah Dilara, Hasad Arvadi  adalah seorang Turki yang beragama Kristen. Ia mengabdikan seluruh hidupnya untuk mencari bukti-bukti peninggalan Bahtera Nabi Nuh. Sebagai besar komunitas arkeolog menganggapnya tidak waras. Namun dari apa yang diucapkan Sam, sepertinya ia berhasil membuktikan mereka salah.

Sesuai instruksi Sam, Dilara menghubungi Tyler Locke tukang insinyur  pengguji mobil yang sama sekali tidak  mengerti apa yang  sedang diocehkan Dilara. Belakangan , berbagai  peristiwa membuatnya mulai mempercayai  Dilara. Dari sekedar percobaan pembunuhan ala penembak jitu, penyusup hingga penculikan

Serangkaian petunjuk membawa  mereka berdua  mendatangi Gunung Ararat. Gunung Ararat merupakan gunung berapi yang  berada di  timur laut Turki ini berada pada  garis lintang  39° 42′ 0″ U dan garis bujur  44° 17′ 0″ T  termasuk dalam rangkaian  Pegunungan Kaukasus, tinggi adalah 5.165 meter. Aktivitas terakhir adalah pada tahun 1840

 Secara keluruhan, buku ini bisa  dibilang menghibur. Menyajikan tidak saja sejarah namun juga hiburan.  Kekurangannya seperti penulisan nama yang tidak konsisten.  Kadang Tyler dilain waktu Locke. Lalu cetakannya beragam ukuran, kadang besar, kadang kecil pada halaman yang sama, tidak mengurangi kenikmatan  membaca buku ini. Namun kesalahan pada halaman    246  yang tertulis, “ kata Tyler said” seharusnya tidak terjadi.

Sempat terjadi perdebatan sengit saat Bahtera Nabi  Nuh sedikit lagi ditemukan. Dilara beranggapan penemuan Bahtera Nabi Nuh akan mendukung Alkitab bukan merusaknya. Akhirnya akan menyediakan bukti fisik bahwa Kitab Kejadian memiliki landasan sejarah, bahwa kitab tersebut bukan sekedar buku agama atau sastra.

Mau tak mau Dilara menjadi terpesona memandang sesuatu dari  kayu setinggi tiga lantai
Selama 6.000 tahun  orang mencari kapal raksaksa.  Bahtera Nuh ternyata adalah…..

--------------------------------------------------------------------------------------------------
Sebuah amplop coklat mendarat di meja saya. pasti dari sesama penggemar buku di kantor. Memo yang ada membuat saya meringis, " Sudah baca? Pasti belum. Tukar pinjam dengan XXX. Dijamin suka, kala tidak boleh di swap" Duh.. yakin sekali  dia saya bakalan terpesona dengan buku ini

Begitu membuka amplop dan membaca judulnya,  kedua alis saya bertemu. Novel misteri kontemporer tentang Bahtera Nabi Nuh. Cerita  soal Nabi Nuh dan perahunya memang sudah melekat di masyarakat. Sudah banyak yang mengangkatnya. Saya langsung teringat pada buku  Misteri Puncak Ararat karangan Mahardhika Zifana.Keduanya mengambil setting Gunung Ararat sebagai tempat dimana diduga Bahtera Nuh itu berlabuh.

Dalam kedua buku tersebut, Bahtera Nabi Nuh dipandang dari dua sisi agama. Namun perlu diingat, bukan sisi mana yang lebih baik, mana yang benar, namun sekedar sebagai landasan cerita agar pembaca mudah memahami keseluruhan isi buku.


Klaim mengejutkan dikeluarkan peneliti ‘Noah’s Ark Ministries International’ dari China dan Turki. Mereka mengaku menemukan Bahtera Nabi Nuh. Sisa-sisa Bahtera Nabi  Nuh ditemukan berada di ketinggian 4.000 meter di Gunung Ararat,. Mereka  juga menampilkan foto dan membawa spesimen dari kapal sebagai bukti penguat

Saya menikmati keduanya, sebenarnya…. nyaris sama nikmat. Namun memori akan  Misteri Puncak Ararat  terlalu kuat ada di benak saya. Sehingga tanpa sadar saya jadi membandingkan kedua. Padahal keduanya sama-sama seru! Teknologi yang ditawarkan dalam The Ark sungguh luar biasa, beberapa nyata,  sisanya bukannya  tak mungkin sedang dirancang. Adegan serunya bertebaran dimana-mana, menegangkan. Dari sekedar hanya  memasang bom hingga adu tembak dalam lift! Muantap…………………!

Tak ketinggalan merasa terpesona  membaca sebuah Boing 747 yang kehilangan daya setelah menembus kepulan abu dari letusan gunung di Indonesia (hal 78). Bisa menimbulkan insiden internasional jika pesawat itu benar-benar jatuh.

Wajah sang tukang cerita
Tapi saya terpaksa memberi bintang berbeda. Entah karena kedekatan emosi, saya merasa Misteri Puncak Ararat  lebih “Hidup” Buku itu merupakan produksi anak negeri, dimana tokohnya juga orang kita.Cukup bintang 4 saja yah..

Acuhkan saja omongan saya!
Buku ini sangat menghibur
Misteri yang ditawarkan sungguh menawan

Catatan :
Tidak cocok untuk pembaca dengan kecenderungan cepat gugup,penakut apalagi memiliki kelainan pada jantung

Foto- foto dari wikipedia dan http://mindararistanto.dagdigdug.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar