Jumat, 08 April 2011

Misteri-Misteri Terbesar Indonesia


Penulis           : Haris Firdaus
Halaman       : 164
Penerbit        : Katta

Seperti saudaranya, buku ini berkisah mengenai hal-hal  yang dianggap misterius di bumi kita tercinta ini.  Dalam buku ini, akan  dibahas    antara lain      
     1.  Krakatau yang meledakkan Dunia
      2.  Hobbit Flores dan Kontroversi  Genus Homo
      3.  Tambora, Kekalahan Napoleon, dan  Tahun Tanpa Musim Panas
      4.  Sangiran : “Tambang” Fosil Manusia Purba
      5. Dieng, Anak Bajang, dan Segepok Misteri Lainnya
      6.  Kelimutu dan Warna-warni yang Misterius
      7. Candi Borobudur : Bunga  Teratai di Tengah Telaga?
      8.  Senggama “ Ngalap Berkah” di Gunung Kemukus
      9.  Pulau Komodo: Rumah Satwa Purba yang Tersisa
    10.  Jalan Raya Pos: Jalan Darah, Jalan Air Mata
    11.  Perbudakan dan Pemenggalan Kepala : Masa lalu yang Getir di Nias
    12. Fiksi dan Fakta Laut Selatan Jawa
Seru khan! Dari  12 misteri yang ada, ada dua yang sangat menarik perhatian saya, yaitu   Gunung Krakatau dan Candi Borobudur.

Gunung Krakatau atau  istilah asingnyaKrakatoa merupakan  kepulauan vulkanik yang masih aktif hingga saat ini. Gunung ini berada di Selat Sunda antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatra.  Letusan  yang pernah terjadi pada tahun 1883 tercatat dalam Guinees Book of Record sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam sejarah, dan menurut catatan para peneliti, bersama ledakan Gunung Tambora (1815), Krakatau mencatatkan Nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern.

Satu-satunya kesaksian tentang kedahsyatan dan dampak dari letusan Gunung Krakatau ditulis dalam Judul Syair Lampung Karam yang ditulis oleh Mohammad Saleh.  Tetapi pada edisi-edisi berikutnya terdapat variasi pada judul tersebut. Kemunculan Gunung Krakatau bisa dibilang cukup unik . Seiring waktu, Pulau Rakata, yang merupakan satu dari tiga pulau sisa Gunung Krakatau Purba tumbuh sesuai dengan dorongan vulkanik dari dalam perut bumi.  Gunung Rakata terbuat dari batuan basaltik.  Kemudian, dua gunung api muncul dari tengah kawah, yaitu  Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan yang kemudian menyatu dengan Gunung Rakata yang muncul terlebih dahulu. Persatuan ketiga gunung api inilah yang disebut Gunung Krakatau.

Salah satu buku fantasi besutan pengarang luar mengambil setting lokasi di Gunung Krakatau. Sayangnya buku kedua yang menjelaskan kejadian seru di sana hingga saat ini belum atau malah tidak jadi diterjemahkan. Mungkin penerbitnya menganggap  buku pertama tidak sesuai dengan target  penjualan yah…sehingga nasib buku selanjutnya nanti dulu………..

Sempat masuk dalam 7 keajaiban dunia, keberadaan Candi Borobudur di  tanah air patut kita banggakan. Betapa tidak dengan luas 15.192 meter persegi, disusun dari 55.000 meter kubik batu dari sekitar 2 juta potong, candi ini masih bisa bertahan dari alam dan manusia. Berat keseluruhan candi mencapai 3,5 juta ton.  Tinggi candi dari permukaan tanah sampai ujung stupa induk adalah 42 meter namun setelah tersambar petir, saat ini tingginya  hanya  tinggal 34,5 meter.

Candi Borobudur  diperkirakan dibangun sekitar Abad VIII atau tahun 824 Masehi. Sejarah candi ini terekam  pada Prasasti Karang Tengah zaman Raja Samaratungga dari wangsa Syailendra. Candi ini terletak  di atas perbukitan di Desa Borobudur, Mungkid, Magelang atau 42 km sebelah laut kota Yogyakarta. Dikelilingi Bukit Manoreh yang membujur dari arah timur ke barat. Sementara di sebelah timur terdapat Gunung Merapi dan Merbau, serta disebelah barat ada Gunumg Sindoro dan Gunung Sumbing.
 
Nama  Candi Borobudur berasal dari gabungan kata Boro dan Budur.  Boro berarti “Vihara”  komples candi atau Bihaar atau asrama dalam Bahasa Sansekerta ( Menurut Purwacaraka Dan Stuten Herm ) Adapun Budur  berasal dari kata “ Bedudur” yang artinya di atas dalam Bahasa Bali. Maka  nama Borobudur bisa diartikan sebagai asrama atau Komplek Candi  yang terletak di atas Bukit

Sir Thomas Stamford Raffles  , Letnan Gubernur Jendral  Inggris yang berkuasa pada tahun 1811 M – 1816 M, patut diberi ucapan terima kasih. Karena berkat jasanya, candi ini bisa ditemukan kembali pada tahun 1814.  Namun baru tahun 1834 Residen Kedu melakukan pembersihan  rumput liar dan ilalang disekitar  candi sehingga memperlihatkan wujud aslinya.

 Candi Borobudur tidak hanya  diperindah dengan relief dan ukiran namun juga dengan patung-patung yang bermutu tinggi. Patung-patung tersebut menggambarkan Dhayani-Budha yang terdapat pada bagian Rupadhatu dan Arupadhatu. Semakin tinggi tingkatannya, maka semakin kecil ukurannya.

Candi Borobudur merupakan tiruan dari kehidupan pada alam semesta yang terbagi ke dalam tiga bagian besar yaitu :
1. Kamadhatu, mewakili  alam bawah atau dunia hasrat dalam dunia ini manusia terikat pada hasrat bahkan di kusai oleh hasrat kemauan 
    dan hawa nafsu, Relief – relief ini terdapat pada bagian kaki candi asli yang menggambarkan adegan – adegan Karmawibangga ialah
    yang melukiskan hukum sebab akibat.
2. Rupadhatu, mewakili  alam semesta antara dunia rupa dalam hal manusia telah meninggalkan segala urusan keduniawian dan
    meninggalkan hasrat dan kemauan bagian ini terdapat pada lorong satu sampai lorong empat
3. Arupadhatu, mewakili  alam atas atau dunia tanpa rupa yaitu tempat para dewa bagian ini terdapat pada teras bundar ingkat I, II, dan
    III beserta Stupa Induk.

Sekilas patung-patung Budha yang ada nampak serupa. Namun sesungguhnya ada perbedaan pada sikap tangan atau disebut Mudra. Dalam candi ini, ada 6 macam , namun  karena kedua macam Mudra yang dimiliki oleh patung menghadap semua arah maka pada umumnya menggambarkan maksud-maksud yang sama.  Maka Mudra yang pokok adalah:
1. Bhumispara Mudra
    Melambangkan saat Budha memanggil Dewi Bumi guna menjadi saksi saat menangkis semua serangan 
    iblis  Mara
2. Wara Mudra
    Melambangkan  amal, memberi anugrah. Patung ini umumnya menghadap ke Selatan
3. Dyana Mudra
     Melambangkan  sikap sedang semedi.  Patung ini umumnya menghadap ke barat
4. Abhaya Mudra
    Melambangkan sikap menenangkan. Patung ini umumnya menghadap ke utara
5. Dharma cakra Mudra
    Melambangkan gerakan memutar roda dharma.

Buku ini menyebutkan bahwa W.O.J Nieuwenkamp seorang pelukis berkebangsaan Belanda menyatakan bahwa candi Borobudur bukan dimaksud sebagai bagunan stupa melainkan sebagai bunga teratai yang mengapung di atas danau.  Saya jadi teringat akan sebuah buku fiksi yang mengisahkan hal serupa. Bahwa di dalam candi ada sebuah danau yang luas namun hampa udara.

Buku ini memberikan saya banyak tambahan wawasan. Saya ternyata belum cukup mengenal tanah air tercinta ini. Sayangnya kualitas gambar yang ada dalam buku ini kurang baik. Tidak perlu berwarna asal enak dilihat. Saya masih punya beberapa pertanyaan seputar tanah air tercinta ini, semoga di buku-buku yang lain saya bisa menemukan jawabannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar