Jumat, 08 April 2011

Kisah Pedih di Balik Kehidupan Wanita bercadar




Judul             : Perempuan Terpasung, Gejolak CInta di Balik Cadar
Penulis           : Hani Naqshabandi
Penerjemah  : Taufik Damas
Penyunting    : M. Irfan dan Anton Kurnia
Halaman        :479
penerbit        : Serambi

Menulis memang merupakan suatu cara terbaik untuk melepaskan beban hati.Sudah banyak kisah yang memuat kegiatan menulis tokohnya sebagai salah satu cara bertahan hidup. Sebuah kisah  cinta, menyebutkan dalam pencarian suaminya yang hilang selama puluhan tahun, sang tokoh menulis di buku cetak yang dibawanya. Ia menulis diantara kalimat-kalimat yang dicetak. Kadang jika udah tak ada halaman yang bisa ditulisi, ia akan menghapus tulisan bisa  bertahan selama puluhan tahun.

Demikian juga dengan Sarah, seorang wanita bersuami dengan dua anak  Pernikahan dengan Khalid  semula dianggapnya merupakan sebuah ibadah. Namun apa jadinya jika sebuah pernikahan malah menyakiti salah satu  pihak? Pihak perempuan misalnya. Apakah ia harus diam saja menerima semuanya dengan mengatas namakan takdir? Ataukah ia harus berbuat sesuatu, tapi apa?

Mengisi hari-hari dengan membaca membuat Sarah cukup memiliki wawasan yang luas. Apa lagi yang bisa dilakukannya selain membaca? Sarah juga sering mengisi hari-harinya dengan menulis catatan harian. Ia banyak menuliskan tentang perasaan, pandangan serta harapannya dalam kehidupan ini.”Hidup adalah perjuangan melawan keadilan”, ” Mengapa aku tidak seperti perempuan lain”, Merupakan penggalan kalimat yang bisa  ditemui di catatan hariannya. Buku catatannya penuh dengan aneka pertanyaan  yang tak bisa ia dapat jawabannya.

Sebaris kalimat dari  majalah yang dibacanya seakan membuatnya tersadar dari lamunan panjang. ” Pengkhianatan keluarga sebenarnya bukan kebiasaan masyarakat kita yang muslim, yaitu masyarakat arab saudi yang berpegang teguh pada keyakinannya. Tapi kami menghadirkannya kepada pembaca sekalian untuk menjadi perhatian dan peringatan tentang sesuatu yang sudah lazim terjadi dalam masyarakat Barat”  Sarah segera memutuskan membuat sebuah surat untuk  Pemimpin Redaksi.

Surat Sarah diterima oleh Hisyam, sang Pemimpin Redaksi yang berada di belahan dunia lain. Sebagai seorang pria, ia hidup dalam dua dunia yang sangat bertolak belakang! Di suatu saat, ia memuji seorang wanita setinggi langit, memberikan penghormatan dan penghargaan pada wanita serta bersikap santun. Namun di lain waktu, wanita baginya hanya seonggok daging! Sungguh Ironi!

Surat pertama Sarah, sempat mengusik perhatiannya. Ingatannya pada kampung halaman serta pandangan masyarakat yang berlaku di sana membuatnya menerbitkan surat yang Sarah kirim, tentunya setelah mengalami pengeditan.Namun surat kedua, ketiga dan seterusnya benar-benar mengusik perhatian Hisyam. Sarah menulis tentang banyak hal. Mulai dari pernikahannya, kejadian di malam pertama hingga penceraian sahabatnya.

Sarah menuliskan hal-hal yang selama ini tersimpan rapat seakan merupakan rahasia besar dari kehidupan para wanita bercadar. Ia bercerita mengenai  alasannya menolak memakai cadar saat keluar rumah, suami sahabat yang menggoda dirinya, hasrat terpendamnya sebagai wanita hingga ketaatannya pada Sang Kuasa, sumber kekuatannya menghadapi  dilema hidup.    Ia terpasung antara keinginan dan sesuatu yang disebut tradisi serta  mengatasnamakan agama. Ia hidup namun ia seakan tidak memiliki ruh.

Dalam salah satu suratnya, Sarah menulis, " ... Saat itu aku baru mengerti bahwa ada perbedaan antara hubungan seksual dan hasrat seksual. Hasrat seksual adalah keniscayaan hewani, sementara hubungan seksual adalah hadiah dari langit"   Seperti umunya setiap gadis yang menjadi pengantin, Sarah memimpikan malam pengantin yang romantis. Alih-alih mendapatkannya, ia malah merasa ketakutan dan berakhir dengan kepedihan.  "... Akhirnya dia berhasil menindihku. Apa kamu tahu apa yang dia katakan kepadaku?  'AKu menginginkan haku...' Demikianlah, aku bukan menjadi istrinya, melainkan sapi yang baru saja dia beli yang ingin segera dia isap susunya dan dilahap dagingnya!"

Sarah menceritakan dengan lugas sisi kehidupan rumah tangga para wanita bercadar yang selama ini terkubur.
Mereka ternyata mengalami hal-hal yang sungguh luar biasa. Banyak hal yang membuat hati ini teriris membacanya. Sekaligus kagum akan ketegaran hati mereka. Hidup memang pilihan, untuku pilihannya sudah jelas. Sementara Sarah....., ia masih harus menimbang-nimbang pilihan hidupnya

Sang penulis, Hani Naqashabandi  juga seorang penyair dan kolumnis terkemuka  di Arab Saudi.Sehari-harinya ia adalah Pemimpin Redaksi Majalah Al-Sayyidati, sebuah majalah keluarga berbahasa Arab yang berkantor di London.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar