Sabtu, 09 April 2011

Cerita yang Membuat Pembacanya Jadi Lebih Bijaksana

Jakarta, 20XY

Tahun baru baru saja lewat beberapa hari, namun  wanita paruh baya yang biasa dipanggil Grandnie , terlihat mulai sibuk melakukan aktivitas di perpustakaan pribadinya yang terletak di sisi lain dari rumah induk. Setelah ritual pemberian buku yang dilakukan awal tahun bagi cucunya, ia memang sama sekali belum mengunjungi daerah kekuasannya itu.

Biasanya  minggu pertama setiap awal tahun selain melakukan ritual pemberian buku,  ia akan melakukan inspeksi terhadap koleksinya. Berhubung ritual sudah dilakukan saat tahun baru, maka kali ini ia hanya melakukan inspeks. Ia akan mengecek buku  mana yang sampulnya sudah harus diganti, mana yang dipinjam namun belum kembali, mana yang rusak dan butuh penanganan serius. Sesekali ia juga mengintip kataloq buku antik yang diterimanya.Dengan dana tak terbatas yang diberikan anak tunggalnya, ia berniat menjadikan perpustakan itu  sebagai warisan berharga bagi cucu kesayangannya yang juga gemar membaca.

Sebuah ketukan singkat di pintu mengalihkan keasyikannya membolak-balikan halaman sebuah buku. Wajah cucu tersayang tampak di pintu memohon ijin untuk masuk. Wanita paruh baya itu memberikan isyarat untuk masuk setelah sebelumnya menunjuk tempat sampah yang ada di dekat pintu masuk. Peraturan utama yang ia terapkan adalah dilarang makan dan minum dalam perpustakaan. Untuk keperluan itu, disediakan sebuah ruang kecil di samping perpustakaan Sang cucu terlihat membawa sebotol minuman ringan.

Sang cucu terseyum sambil memberikan tanda mengerti, Dihabiskannya minuman yang tersisa sebelum membuang botol dalam tempat sampah.  Sungguh ia tidak keberatan dengan peraturan yang diterapkan oleh sang grandnie, sebuah kecelakaan kecil akibat makan dan minum bisa membuat koleksi buku yang berharga menjadi tidak bernilai.

"Grand, ada pesan masuk dari Opa Sil . Ada permintaan mendesak dari  club pembaca karyawan perusahaan Korea.  Minggu depan diminta membahas buku tentang moivasi, kebijakan hidup yang sejenis itulah. Terserah Grandnie mau mengajukan buku yang mana"  papar cucunya sambil memberikan sebuah alat kecil yang berguna untuk menerima semua pesan masuk. Seperti pejer di jaman dahulu. Dengan alat itu, jutaan pohon sebagai bahan baku kertas surat bisa terselamatkan, walau berarti mengalih tugaskan sekian banyak petugas pos.

Wanita paruh baya itu membaca sekilas  sambil terseyum. Sudah sekian lama, namun Silvero tetap saja menjadi manajernya  Bekerja dengan orang yang sudah sangat ia kenal membuatnya lebih nyaman. Wanita paruh baya itu belakangan juga menjadi tutor bagi anak terkecil Silvero yang baru saja dinobatkan sebagai penulis cilik berbakat..

"Grandnie mau mengusulkan buku apa?"  tanya cucu kesayangannya penasaran. Setiap kali berada di perpustakaan itu, ia selalu mendapat banyak kejutan dari sang nenek.

"Ada usul?" Wanita paruh baya itu balik bertanya. Perlahan tapi pasti ia sudah mulai melibatkan cucunya dalam urusan perpustakaan dan  club bukunya.

"Hem....... kalau buku  101 Cerita Bijak dari Korea bagaimana Grand?" usulnya dengan sedikit takut. Maklum sebagai anak ABG, ia sadar kadang pilihannya lebih didasari akan suka atau tidak suka bukan pesan moral yang disisipkan dalam buku.

"Kenapa buku itu?" kembali wanita paruh baya itu bertanya. Dalam hati ia memuji pilihan sang cucu, hanya saja ia ingin tahu dasar pertimbanagnnya.i

Sang cucu  nampak berpikir keras. Ia sangat memahami bahwa sang Grandnie selalu berpikiran terbuka, ia akan menerima segala macam usul dan kritikan asal masuk akal dan jelas logikanya.  Untuk itu ia harus memberikan argumentasi yang kuat mengapa ia mengusulkan buku itu.

" Menurutku  Buku 101 Cerita Bijak dari Korea memuat cerita sebanyak 101  yang tersusun dengan menawan. Setiap cerita mengandung pesan moral yang diulas dengan kalimat singkat namun sangat bermakna. Mungkin ada beberapa cerita yang disajikan mirip dengan yang lain, tapi jika diperhatikan dengan lebih teliti, setiap cerita menawarkan kisah yang berbeda" paparmya panjang lebar

Sesaat terlihat  seyum di wajah wanita paruh baya itu. Sang cucu memang sudah pernah membaca buku itu. Seperti juga dirinya, sang cucu memiliiki kecepatan membaca yang menakjubkan, malah dengan kondisi makanan yang serba berkecupan gizi, sang cucu juga bisa mebuat repiu dalam waktu singkat dan tidak gampang melupakan apa yang pernah dibacanya. Ingatannya lumayan kuat.

"Cerita apa misalnya?" pancing wanita paruh baya itu, ia ingin mengetahui sampai sejauh mana ingatan cucunya akan isi buku  101 Cerita Bijak dari Korea

"Banyak Grand!" sahut sang cucu dengan cepat. "Ada kisah mengenai  seorang anak yang terpacu bekerja keras akibat mendapat hadiah semangkuk kue beras dari orang tuanya sementara saudaranya yang lain mendapat harta benda berlimpah. Lalu kisah  anak malas yang menjadi sapi mengajarkan kita agar rajin bekerja jika ingin sukses.  Dalam kehidpan ini, kita juga diajari bahwa hidup menawarkan banyak pilihan  dan kita harus berhati-hati menentukan pilihan mana yang terbaik dan cocok untuk kita, itu inti dari kisah Mangkuk Nasi Bertuah" lanjut sang cucu dengan semangat.


"Aku juga tahu, kata-kata yang dibingkai di ruang kerja papi dan mami diambil dari buku itu" pamer sang cucu dengan bangga.Memang benar, di ruang kerja anak dan menantunya, wanita paruh baya itu meletakkan beberapa kata-kata mutiara yang dibingkai cantik, demikian juga di ruang baca yang ada di rumah induk.

"Hem............ alasan yang masuk akal. Lalu ada tips untuk membuat orang mau membaca buku ini sampai tuntas?" tanya wanita paruh baya itu lagi. Ia sadar buku ini memiliki ketebalan yang lumayan. Seperti juga buku motivasi lainnya, sering kali pembaca hanya semangat membaca awanya saja, makin kebelakang ia merasa makin digurui dan malas membaca.

"Gampang kok. Buku ini khan memuat banyak kisah, pembaca bisa  memilih mana yang ia sukai terlebih dahulu.  Jika tersisa cerita yang dirasa  kurang menarik atau ingin membaca tapi memiliki waktu yang terbatas, jangan khawatir, langsung saja membaca pesan moral yang dicetak secara mencolok pada akhir cerita. Walau cara ini sebenarnya tidak direkomendasikan, namun sekedar mengantisipasi mereka yang beralasan malas membaca karena cerita kurang menarik serta tak punya banyak waktu" sang cucu kian bersemangat memberikan jawaban.


Wanita paruh baya itu tertawa lepas. Dalam hati ia memuji argumentasi yang diajukan oleh sang cucu. Dahulu, ia pernah meminta  anak tunggalnya untuk mewajibkan setiap karyawan membaca beberapa  buku, salah satunya  ini. Maksudnya agar mereka termotivasi untuk  bekerja dengan jujur,bersemangat dan mengerti filosofi sesungguhnya yang dianut perusahaan. Satu keburukan kecil akan membawa keburukan yang lebih besar, satu karyawan merasa tidak puas dan tertekan akan berdampak bagi kinerja perusahaan.

"Kamu tahu dimana Negeri Korea itu? kalau kamu bisa menerangkan kepada Grandnie, buku pilihanmu akan Grandnie ajukan ke Opa Sil" tantang wanita paruh baya itu sekaligus sebagai ujian terakhir bagi ingatan sang cucu.

"Gampang Grand!" sang cucu menjawab dengan berseri-seri. Ia merasa bangga usulannya diterima.
"Korea terletak di semenanjung Korea di Asia timur laut. Di barat lautnya dipisahkan Sungai Amnok (Yalu) dengan Republik Rakyat Cina. Sungai Duman di timur lautnya memisahkan Korea dengan Rusia dan RRT. Beberapa pulau-pulau penting antara lain Jeju, Ganghwa, Ulleung, Dokdo, Jindo, Geoje, dan sebagainya.  Bagian selatan dan barat Korea adalah dataran rendah dan sebelah timur dan utara memanjang rangkaian pegunungan Baekdu Daegan sepanjang semenanjung" lanjutnya dengan bersemangat

Sesaat sang cucu terlihat  mengatur napas. Wanita paruh baya itu sengaja tidak berkata apa-apa dahulu, iua menunggu dengan tenang. Tak lama sang cucu melanjutkan uraiannya, " Korea terbagi menjadi dua negara, yakni Republik Korea (Korea Selatan) dan Republik Rakyat Demokratik Korea (Korea Utara) setelah Perang Dunia II pada tahun 1945.Korea Selatan kemudian berkembang menjadi negara demokratis sementara Korea Utara berhaluan komunis. Walau berbeda, Bendera Persatuan Korea sering digunakan untuk merepresentasikan Korea pada ajang olahraga internasional, namun bendera tersebut bukan merupakan bendera resmi kedua negara"

Wanita paruh baya itu bertepuk tangan sambil tertawa.
Keputusan sudah diambil secara penuh, buku rekomendasi sang cucu yang akan dibahasnya

"Ok, tolong hubungi Opa Sil, sebutkan nama buku yang Grandnie rekomendasikan" kata wanita paruh baya itu sambil berjalan menuju sebuah rak buku. Sepertinya ia harus membuka ulang buku itu sekedar untuk mengingatkan memorinya.

"Siap Grand!" sahut sang cucu sambil tertawa lega. Rasa bangga terpancar di wajahnya. Mendadak saat berjalan keluar ia membalikkan badan dan memandang ke arah wanita paruh baya yang terlihat sedang membalik-balikan halaman buku 101 Cerita Bijak dari Korea

"Ada apa?" tanpa mengangkat wajahnya, wanita paruh baya itu tahu ada sesuatu yang ingin disampaikan sang cucu

" Grand, Korea juga dijuluki  The Land of The Morning Calm, negeri setenang pagi. Apa karena belakangan ini di perusahaan itu sering terjadi demo makanya Grandnie mengusulkan buku ini? agar para karyawan bsia bersikap lebih bijak dan tenang, serta ada saling pengertian antara pihak pemilik dan pekerja?" tanya sang cucu dengan hati-hati. Maklum ia hanyalah seorang ABG yang gemar membaca bukan ahli ekonomi. Ia takut kesimpulan yang diambilnya salah.

Wanita paruh baya itu menatap wajah sang cucu lekat-lekat. Suasana menjadi tegang, sang cucu merasa ia melakukan kesalahan dengan mengajukan pertanyaan seperti tadi.

"Wah, Gradnie tak mengira kamu sudah mulai mengerti urusan perusahaan walau hanya dari luar" tiba-tiba wanita paruh baya itu tertawa lebar. Sang cucu ikut tertawa, rasa takutnya sekejab hilang.

"Ada lagi? Kamu khan tidak khusus datang ke sini menyampaikan pesan dari Opa Sil. Itu bisa dilakukan orang lain" tanya wanita paruh baya itu masih sambil tertawa. Ia sangat mengenal cucu kesayangannya, pasti ada sesuatu yang ingin disampaikannya sehingga ia mau bagun pagi dan menyampaikan pesan yang biasanya dilakukan oleh asisten wanita paruh baya itu

"Oh..eh... aku minta ijin untuk tidak ikut acara club buku minggu ini. Opung Boni berjanji mengajakku ke Acara Malam Anugrah XV bagi Penulis  Fantasi Berbakat. Disana aku bisa bertemu dengan penulis-penulis yang aku kagumi. Kami  juga akan tidur di studio dan perpustakaan Opung di Sentul. Opung berjanji akan mengajariku beberapa tips dance guna acara malam amal saat valentine nanti" ucap sang cucu panjang lebar

"Hah? Opung Boni mau mengajarimu dance!" Wanita paruh baya itu seakan terkejut, ia seakan tidak yakin akan pendengarannya. Namun melihat anggukan sang cucu dan wajah penuh harap mau tak mau ia tersenyum.

"Ok, asal papi mami mengijinkan, kau boleh bolos kali ini. Jangan lupa senin kamu tetap harus memberikan repiu buku yang dibaca  bersama teman-temanmu" kata  wanita paruh baya itu.

"hen duo Xiexien Grand!" sang cucu bergegas keluar sambil memberikan pelukan sekilas.

'Tunggu!" mendadak wanita paruh baya itu berkata

"Jangan lupa rekam adegan Opung berlatih yah, bisa jadi nontonan yang seru nih" lanjut wanita paruh baya itu sambil tersenyum jahil

"Beres Grand, ada alat perekam baru yang super kecil. Opung tidak akan tahu semua gerakannya direkam" jawab sang cucu sambil ikut tertawa. Selain buku, urusan jahil adalah hal yang membuatnya terlihat kompak dengan sang nenek.

Sepeninggalnya sang cucu, wanita paruh baya itu mulai membaca ulang repiu buku 101 Cerita Bijak dari Korea sambil sesekali membuat catatan tambahan. Namun tampaknya ia tak bisa membaca dengan serius karena pikirannya tidak tertuju pada buku yang berada di hadapannya. Ia membayangkan adegan Opung Boni melatih sang cucu kesayangannya,alih-alih berkonsentrasi pada buku.

Pasti lelaki itu  lupa umurnya sudah paruh baya sehingga saat melakukan beberapa gerakan yang atraktif, bakalan ada adegan seru! Senyum lebar menghiasi wajah wanita paruh baya itu
 
------------------------------

Judul                   : 101 Cerita Bijak dari Korea 
Penulis                 : Rinurbad
Penyunting           : fLo
Penata letak         : Techno
Desain Sampul     : Ellina Wu
ISBN                  : 978-602-8260-83-1
Halaman              : 376
Penerbit              : Gradien Mediatama
                              www.gradienmediatama.com 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar