Jumat, 08 April 2011

Pangeran Yamato Take

Penyusun      : Yei Ozaki
Penerjemah  : Fanny Chotimah
Editor          : Bandung Mawardi
Ilustrasi        : Istic Comic
Halaman      : 136
Penerbit       :   Katta

Buku ini merupakan "saudara" dari  buku Putri Hase. Keduanya masih bercerita tentang aneka dongeng klasik dari Negeri Jerpang.
Entah apa yang  mendasari pihak penerbit untuk tidak menjadikan kedua buku ini menjadi satu buku saja, namun memilahnya menjadi dua buku. Mungkinkah karena yang satu memiliki tema dan cover anak laki-laki sementara yang lain menggunakan anak perempuan. Jika benar, sebuah strategi pemasaran yang  cerdik!

Buku ini juga memuat 11 kisah, yaitu:
1. Pangeran Yamato Take
2. Cermin Matsuyama
3. Kisah seorang Pria yang Tak Mau Mati
4. Burung Gereja yang Lidahnya Terpotong
5. Petani dan Luak
6. Petualangan Kintaro Si Anak Emas
7. Pemburu Hebat dan Pemancing Mahir
8. Si Raksasa dari Rashomon
9. Kisah Lelaki Tua Kehilangan Kutil di Pipinya
10. Perselisihan Kera Pemarah dan Si Kepiting
11.Kelinci Putih dan Buaya

Sebenarnya, saya sedikit ragu, apakah bacaan ini cocok untuk anak-anak. Terutama karena unsur bahasanya yang terlalu serius dan pemilihan kalimatnya panjang-panjang. Misalnya pada cerita  Cermin Matsuyama, ada kalimat yang berbunyi, " Saat itu usianya tujuh tahun. Dia sudah belajar berbicara dan menggoda orang tuanya dengan berbagai cara yang manis untuk bisa mengambil hati orang tuanya. Cangkir kebahagiaan orang tuanya menjadi penuh...." Kalimat puitis  yang mungkin bakalan sulit dmengerti anak-anak.
 Saya sempat meringis membaca cerita tentang  Cermin Matsuyama. Kenapa ya dongeng yang ada ibu tirinya,    pasti sang ibu tiri digambarkan sebagai sosok yang  buruk  dan kejam. Jelas ini memberikan pengaruh yang tidak baik bagi anak-anak. Mereka akan selalu menganggap ibu tiri adalah monster yang perlu ditakuti. Padahal banyak juga ibu tiri yang berhati mulia.

Lalu pada cerita Petani dan Luak,  sepertinya terlalu kejam untuk dibaca anak-anak. Bagaimana  luak jahat membunuh dan merebus istri petani untuk dijadikan sup. Bagian yang menggambarkan betapa sedihnya sang petani dan betapa puasnya ketika dendamnya terbalaskan, sungguh bukan bacaan untuk anak-anak.

Dari sisi cerita,  beberapa cerita cukup menarik serta memberikan pesan moral yang mendidik. Pada kisah  Kisah seorang Pria yang Tak Mau Mati, kita mendapat pesan moral bahwa hidup abadi bisa membosankan.  Si pria merasa bosan akan kehidupan abadi yang dijalaninya . Seberapa lama pun ia hidup, hidup selamanya menjadi sebuah permainan.  Tugas sang lelaki tua di kehidupan yang fana ini adalah menyediakan masa depan bagi anak cucunya, dengan demikian  ia akan menjalani kehidupan berbahagia hingga tua.
Beberapa cerita seperti Lelaki Tua Kehilangan Kutil di Pipinya, Perselisihan Kera Pemarah dan Si Kepiting serta Kelinci Putih dan Buaya sudah bukan kisah yang asing lagi di telinga kita.Namun cerita yang paling menarik buat saya adalah Si Raksasa dari Rashomon. Kisah ini mengingatkan  paada sebuah cerita bertema detektif yang menjadikan legenda ini  sebagai bumbu penyedap. Diceritakan seorang wanita muda terbunuh di dekat Gerbang Rashomon. Masyarakat sekitar heboh dan percaya bahwa kematiannya  disebabkan oleh raksasa penunggu pintu gerbang. Belakangan sang detektif berhasil membuktikan bahwa peristiwa itu tidak ada hubungannya dengan legenda.

Penggunaan ilustrasi  ala manga mampu membuat pembaca kian meresapi cerita yang termuat didalamnya. Imajinasi dalam memahami cerita kian terbantu. Sayangnya masih terdapat kesalahan penulisan kata  dalam buku ini. Misalnya pada halaman 66, tertulis ”... lalu ia pergi keluar untuk melihat apa yang terjadi, berokir jika ada sesuatu yang bisa dilakukannya...” Apa yah yang dimaksud dengan berokir

Secara keseluruhan buku ini cukup  menghibur.
Hem... sosok pangeran Yamato Take mendadak mengingatkan pada siapa yah.....


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar