Jumat, 08 April 2011

The Blade of The Courtesans: Sepak Terjang Sang Anak Asuh

Penulis                     :  Keiichiro Ryu
Alih Bahasa              :  Miftahul   Jannah
Penyunting Bahasa    :  Raychana Assagaf
Koreksi                    :  Aishi Lilis & Musa Annaqi
Halaman                   : 447
Penerbit                   : Kantera

"Kau akan dibunuh oleh orang kepercayaanmu.”

Matsunaga Seiichiro  adalah seorang Ronin yang dilatih langsung dan diangkat anak oleh sang legenda samurai, Miyamoto Musashi. Dalam kehidupan sehari-hari, Seiichiro tidak hanya diajari seni bela diri serta seni pedang, namun juga seni membersihkan diri dan menenangkan jiwa. Hasilnya ia mampu membaca dan mematahkan gerakan  lawannya saat bertempur.

Setelah sang guru dan ayah angkatnya tiada. Seiichiro  dikirim ke Yoshiwara. Disanalah sesungguhnya kemampuanya diuji. Ia tidak hanya harus berhadapan pertarungan, keberanian di medan perangpeperangan, serta pengkhianatan. Tentunya nuansa  kisah kasih juga menjadi bumbu yang kuat dalam cerita ini. Ia terlibat dalam serangkaian pertarungan demi membela wargaYoshiwara

 Setelah melewati berbagai perjalanan pencarian makna yang panjang, akhirnya Seiichiro memutuskan untuk mewarisi Nishidaya. Hal ini berarti ia juga mewarisi kepemimpinan Yoshiwara Gocho-machi. keputusannya memang diasmbut hangat banyak pihak. Walau berarti ia harus memutuskan kisah kasihnya dengan  oiran. Telah terjadi kesepakatan bahwa seorang pemuka utama Gocho-mach tidak tidur dengan oiran.

Seperti juga buku-buku bertema Jepang yang lain, buku ini banyak mengandung unsur filosofi. Banyak ajaran-ajaran yang bisa kita temui di dalam buku ini. Kelebihan dari buku ini adalah penggambaran yang menarik mengenai kehidupan masyarakat Jepang saat itu. Kita jadi paham tatacara yang berlaku saat itu, kondisi sosial dan politik disana. Kita juga akan diperkenalkan dengan berbagai macam istilah dalam Bahasa Jepang. Bagi saya, ini justru menjadi kendala untuk menikmati buku ini. Saya sama sekali tidak mengerti Bahasa Jepang apalagi adat istiadatnya. Sehingga jika disebutkan suatu istilah namun tidak ada uraiannya, saya terpaksa berhenti membaca untuk mencari maksud atau arti kata-kata yang dimaksud.  Saya jadi menyambi memahami Jepang saat membaca buku ini. Otomasti kecepatan membaca saya jadi menurun.Memang ada pengertian ataumaksud untuk suatu sitilah, namun bagi saya yang sama sekali buta soal Jepang tetap saja kurang.

Keiichiro Ryu terlahir dengan nama  Ichiro Ikeda,  merupakan seorang Sarjana Literatur Budha (Buddhist Literature) dari Tokyo University. Ia dikenal sebagai penulis fiksi-sejarah terutama  literasi yang berkisah tentang Jepang klasik, periode Edo (antara 1600 - 1868) .  Namun karier cemerlangnya hanya bertahan selama 5 tahun karena meninggal dunia. The Blade Of The Courtesans adalah novel pertamanya, dengan latar belakang Yoshiwara, distrik- di Tokyo klasik. Ia dinominasikan untuk penghargaan Naoki Prize, yang setingkat dengan penghargaan Pulitzer Prize di Jepang.

Miyamoto Musashi (宮本 武蔵 ?), atau biasa disebut Musashi saja, adalah seorang samurai dan ronin yang sangat terkenal di pada abad pertengahan. Ia diperkirakan lahir pada sekitar 13 Juni 1584, dan meninggal 19 Mei  1645.  Pada tahun 1640,  Musashi resmi akan pengikut penguasa Hosokowa Kumamoto.  Nama aslinya adalah Shinmen Takezo. Kata Musashi merupakan lafal lain dari “Takezo” (huruf kanji bisa memiliki banyak lafal dan arti). Musashi memiliki nama lengkap Shinmen Musashi No Kami Fujiwara No Genshin.

Musashi  merupakan ahli  dalam bidang seni serta ilmu pedang. dia diceritakan mengalahkan ahli-ahli bela diri dan samurai yang terkenal pada masa itu seperti Yoshioka Seijuro, Yoshioka Denshichiro dari Yoshioka clan dari kyoto, Inshun dari kuil Hojoin, Yagyu clan, dan Sasaki Kojirou. Kisah hidupnya diabadiakn dalam novel yang  ditulis  oleh  Eiji Yoshikawa dan film karya sutradara Hiroshi Inagaki. Salah satu hasil karya tulisannya “the book of five rings” berisi filosofi dan strategi teknik bermain pedang  masih dipelajari sampai saat ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar