Jumat, 08 April 2011

Mari Berenang di "Lautan Biru"

Sebuah percakapan via media elektronik kemarin sore

Mr X   : Hai…
Saya    : Hai juga!
……
……
……
Mr X  : Kamu bantu bikin marketing plan buat novel bla..bla…bla ya?
Saya   : yup!
Mr X  : Kok bisa? Kontrak freelance sama penerbitnya  buat bagian marketing ya?
Saya   : Sotoy deh! Enggak kok
Mr X  : Beli lepas?
Saya   : Kian error.com deh
Mr X  : Free? Yang bener………….! Tumben berbaik hati
Saya   : Lah itu khan enggak butuh keahlian khusus
            Yg bikin  novel juga teman, anggap aja bantuin dia
            Lumayan dapet buku gratis he he he
Mr X  : Hem……………penasaran
            Sebenarnya strategi marketing apa sih yang u bikinin buat dia?
            Apa istimewanya dia?  Kok enggak mau bantuin aku sih!
Saya  : Enggak salah nih! Lah yang kemarin itu apa?
            Buka tuh buku-buku jaman kuliah
            Ada  Buku Blue Ocean Strategi. Baca itu aja
            Ketahuan kuliah cuman copas sana sini doang
Mr X  : Masih ada kok! Ak malah punya  edisi yang berhadiah
Saya   : Bukannya cuman buat dipajang dikantor doang?
Mr X  : Sadis ih! Gimana mau bantuin aku enggak?
Saya   : NO!
Mr X  : Kok pilih kasih sih…………..!
            Ayo dung, dikontrak khusus deh
Saya  : Hem…………………
Mr X  : Dari pada sama dia free,sama kita-kita khan jelas
Saya  : OK
Mr X  : Serius…..? ASYIKKKKKKKKKKK!
            Kapan bisa meeting? Lunch? Dinner?
Saya  : Just call 0818061686XXX (sensor)
Mr X : No sapa tuh? No khusus yah?
Saya  : Bukan! My beloved Manager! Urusan kontrak de el el sama dia
           Kalo dia udah kasih kode ok, baru  ak mau bikinin
Mr X : Hah? Ampun deh…..! Gile punya manager sekarang!
Saya  : BYE……………….!

Si Mr X bukan orang yang pertama!
Entah kenapa, beberapa orang sahabat  merasa saya ngelmu  khusus di sebuah lembaga pendidikan seputar urusan penjualan buku mereka. Padahal ilmu yang saya punya hanyalah hasil pembelajaran di zaman kuliah dulu. Plus buku-buku andalan saya. Salah satunya Blue Ocean Strategy.
Buku ini memang sudah cukup lama malang melintang, namun buat saya isinya tetap sangat membantu.
Kalau  saja si Mr X, teman saya yang juga manager pemasaran disebuah perusahaan mau meluangkan sedikit waktunya untuk membaca buku ini, dia tidak  akan pusing memasarkan novelnya.

Jadi mencomot paper yang dibuat semasa kuliah.
Siapa tahu berguna ^_^

------------------------------------------------------------------------------------------------
Penulis                : W Chang Kim - Renee Mauborgne
Penerjemah         :  Satrio Wahono
Halaman              : 320
Penerbit               : Serambi

Bayangkan ada dua mangkuk bangso di depan Anda.
Keduanya mengeluarkan aroma harum yang menggoda selera
Apalagi saat itu cuaca sedang mendung.
Siapa yang kuasa menolak jika diberi

Namun sebelum memilih salah satu mangkuk,
perhatikan dengan lebih teliti isi mangkuk tersebut.
Mangkuk pertama berisi bakso berbentuk bulat,
dengan mie telur berwarna kuning dan mihun berwarna putih.

Mangkuk kedua, menawarkan bakso dengan bentuk KOTAK.
Mie telurnya berwarna HITAM karena pengaruh tinta cumi-cumi agar terasa gurih,
sedangkan mihunnya berwarna Hijau karena direndam dengan sari sayuran.

Tidak perlu dijawab!
Semua sudah bisa menebak mangkuk mana yang dipilih

Mangkuk yang ditolak adalah mangkuk yang menawarkan bakso dengan bentuk STD alias standart. Manfaatnya juga STD, untuk mengenyangkan perut saja. Sedangkan satunya,  merupakan penerapan dari Blue Ocean Strategy. Bakso satunya menawarkan bentuk kotak, bentuk yang tidak biasa. Lalu dari mie telur yang berwarna hitam, diperoleh rasa gurih dan tambahan gizi. Sedangkan dari mihun hijau, diperoleh aneka ragam manfaat sayuran.

Inti utama dari  Blue Ocean  adalah konsep inovasi, tentunya bukan sekedar inovisi biasa.  Pendekatan inovasi yang bernilai adalah dengan mengidentifikasi parameter-parameter yang dianggap paling bernilai oleh pelanggan dan mampu memberi pelanggan gabungan antara sesuatu yang efektif secara biaya dan sekaligus mampu memberikan sesuatu yang bernilai tinggi. Tentunya itu bukan pekerjaan yang mudah.

Lalu kenapa lautan biru? Jika buat saya yang menyukai warna biru, tentunya hal ini bukan masalah. Namun bagi yang tidak suka akan lain ceritanya.  Dalam buku ini sebenarnya ada dua  strategi lautan. Pertama adalah  strategi laut  merah. Strategi ini bisa diumpamakan kondisi persaingan usaha yang umum dilakukan. Batas-batas industri telah diterima dan didefinisikan dengan jelas. Untuk memenangi persaingan, perusahaan hanya berusaha mengungguli apa yang dilakukan oleh pesaing. Persaingan hanya terjadi di dalam pasar itu saja. Misalnya dalam contoh kali ini hanya terjadi persaingan disesama  restoran yang menyediakan bakso

Kian lama pasar kian menjadi jenuh. Belum lagi banyak pesaing baru yang ikut memperebutkan”kue”  yang tak seberapa. Persaingan yang kian  ketat membuat laba serta tingkat petumbuhan perusahaan menurun.Persaingan yang terlalu sengit atau berdarah-darah (meminjam istilah dalam buku ini) seringnya tidak membawa keuntungan bagi banyak pihak. Malah menimbulkan model persaingan zero sum game, di mana pihak yang kalah tidak memperoleh apa-apa. Itu mengapa strategi ini disebut strategi laut  merah

Para CEO  cenderung berfokus pada strategi lautan merah. Hal ini dikarenakan mereka terlanjur percaya bahwa bisnis merupakan masalah bagaimana memenangi "peperangan", di mana arena perang dan lawan telah didefinisikan dengan jelas. Strateginya berdasarkan pada kompetisi yang akan menentukan keberhasilan atau kegagalan perusahaan. Keunggulan dalam mengatasi kompetisi akan menentukan nilai kinerja perusahaan. Semakin banyak yang dikalahkan akan semakin bagus perusahaan itu, bukan pada suatu penciptaan nilai baru. Jadi intinya pada kemampuan mengungguli produk yang sejenis.

Sementara laut biru, lebih mengarah pada pasar yang masih harus ditemukan atau diciptakan lebih dulu, sehingga belum sempat dijamah oleh persaingan. Laut biru diumpamakan sebagai  potensi pasar atau permintaan yang sangat besar, luas dan mendalam, yang belum dieksplorasi.  Dalam strategi ini, permintaan diciptakan bukan diperebutkan! Dalam arena ini, persaingan belum ada, karena memang belum ada pemain yang memasuki arena. Karena belum diciptakan, maka besarnya pasar dan permintaan di pasar bisa tak terbatas.

Dalam strategi laut merah,  lama kelamaan perbedaan antarproduk makin memudar, karena produk yang unggul akan semakin cepat muncul penirunya. Produk akhirnya cenderung homogen, dan persaingan hanya akan berbasis pada harga. Pertumbuhan perusahaan kian menurun. Jika persaingan sampai pada tahap ini, akhirnya mendorong perusahaan beralih pada strategi menciptakan inovasi yang bernilai. Hal itu berarti dari strategi laut merah beralih ke strategi persaingan lautan biru seperti yang ditawarkan dalam buku ini.

Perusahaan harus bergerak maju melampaui strategi yang berorientasi persaingan. Jangan melihat pesaing sebagai musuh, melainkan sebagai mitra untuk dapat secara bersama-sama menciptakan inovasi yang bernilai bagi pelanggan.  Memenangi persaingan saja tidak mencukupi untuk jangka panjang, yang penting adalah kemampuan untuk selalu dapat menghadirkan inovasi yang memiliki nilai tinggi bagi pelanggan, baik sendiri maupun secara bersama-sama.

Selalu menjadi yang pertama berani masuk ke arena persaingan baru yang belum dimasuki perusahaan lain, merupakan inti utamanya. Dibutuhkan sebuah inovasi agar bisa masuk ke arena persaingan baru. Salahnya, para pengusaha sering mengartikan inovasi sebagai sesuatu yang membutuhkan biasa besar. Dari pada melakukan inovasi yang belum tentu juga hasilnya, sering perusahaan kembali bertahan dengan strategi lautan merah

Padahal inovasi disini tidak selalu diartikan  dengan sesuatu  penemuan yang mahal. Sesuatu yang berbeda namun memberikan manfaat. Contoh sederhananya, tengok saja inovasi panganan singkong keju. Pada dasarnya sang pengusaha  hanya menhubah singkong goreng yang biasa menjadi panganan yang lebih berkelas dan nikmat dengan menambahkan parutan keju serta sedikit gula .

Untuk novel
 Untuk novel para sahabat, biasanya saya memadukan dengan Purple Cow Strategy.
Yaitu sebuah sebuah strategi pemasaran dengan menggunakan unsur promosi yang tidak biasa.

Namanya juga novel, kadang kala isi sering memiliki kesamaan dengan yang lain.
Biasanya saya menyiasati dengan mencari sebuah point yang berbeda, itu yang "dijual"

Jadi, cuman dibutuhkan  kreatifitas serta ide-ide orisinil saja khan.....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar