Jumat, 08 April 2011

Rp 2 Juta keliling China Selatan dalam 16 hari


Penulis              : Ariyanto
Penyunting        : Ikhdah Henny
Halaman            : 168
Penerbit            : B-First

Tanpa malu-malu terpaksa mengakui, faktor 2U membuatku memandang sebuah perjalanan dari kaca mata yang berbeda. 2U adalah Uang dan Usia he hehe. Dahulu............,semakin menderita, semakin banyak cerita yang dikenang, plus berarti kian irit. Daripada naik pesawat, marilah naik bus, walau harus menempuh sekian lama perjalanan. Namun bisa dipastikan banyak pemandangan yang bisa dilihat, banyak cerita yang bisa  dibagi. Belakangan, mulai memikirkan kenyamanan, selain faktor usia yang kadang tak mau kompromi. Sudah merasa sekali-kali bolehlah menikmati hasil keringat sendiri. Semakin nyaman semakin muantap.......! Walau berarti menipis pula pundi-pundi di kantong ^_^

Tertarik membeli buku ini bukan karena tulisan Rp 2. Juta. Namun pada kalimat Keliling China Selatan. Sejak pertama kali melihat rangkaian huruf pinyin di salah satu buku tentang Akupunktur, saya sudah tergelitik untuk mulai mempelajarinya. Ada sesuatu di huruf itu yang membuat saya kagum. Bayangkan, setiap huruf mempunyai sejarah, bunyi, pengucapan dan makna yang berbeda. Mereka tidak mengenak abjad seperti A,B,C dan seterusnya.

Menurut Wikipedia, Hànyǔ Pīnyīn (汉语拼音, arti harafiah: "bunyi bersama bahasa") atau sering disingkat Pinyin (拼音, Pīnyīn) yang berarti "bunyi bersama" dalam bahasa Tionghoa adalah sistem romanisasi (notasi fonetis dan alihaksara ke tulisan Latin) untuk bahasa Mandarin Baku yang digunakan di Republik Rakyat Cina. Pinyin disetujui penggunaannya pada 1958 dan diadopsi pada 1979 oleh pihak pemerintah Tiongkok. Ia menggantikan sistem alihaksara lama.   Sejak saat itu, Hanyu Pinyin telah diterima sebagai sistem alihaksara utama untuk bahasa Mandarin di dunia. Pada 1979 Organisasi Internasional untuk Standarisasi (ISO) mengadopsi hanyu pinyin sebagai standar romanisasi untuk bahasa Tionghoa Modern.

Saat hendak belajar, sang Laoshi   alias guru, sudah mengingatkan saya bahwa dibutuhkan ketekunan extra guna mempelajari Bahasa Cina. Namanya juga saya, semakin sulit semakin ego tertantang untuk membuktikan kalau bisa melakukan hal itu. Kian lama belajar, membuat saya tertarik untuk mendatangi negara tempat huruf-huruf cantik itu berasal. Berdasarkan pengalaman, belajar sendiri kurang membuahkan hasil, apalagi saya kesukaran mendapat teman berlatih. Dari sekian huruf yang saya  hafal, nyaris sebagian besar terlupa karena tidak pernah dipakai lagi. Padahal waktu itu level kemampuan saya sudah cukup lumayan. Timbul ide iseng, tinggal di sana 1-2 minggu seperti cukup untuk mengembalikan ingatan saya.

Sang tukang jalan-jalan merangkap tukang cerita, memberikan gambaran yang teramat sangat jelas mengenai situasi dan kondisi disana.  Makanan yang menggugah selera, pemandangan yang indah menawan, kondisi sekitar,  saya serasa berada disana. Termasuk ikut panik saat rencana meleset.

Buku ini kian membulatkan saya untuk pergi melancong ke sana, tentunya ala saya yah.... Soal makanan, penginapan dan trasnportasi sudah cukup mendapat pencerahan dari buku ini. Semua hal-hal penting sudah diperhatikan. Termasuk  soal harga, perlu diingat soal kenaikan harga yang mungkin terjadi. Tinggal mencari waktu yang tepat.

Ilustrasi yang ada... membuat  saya tertawa lepas. Ada beberapa gambar yang mengingatkan pada kisah di masa lalu. Ya ampun................., ternyata memalukan juga hi  hi  hi

Satu yang membuat saya heran, penulis yang tukang jalan-jalan kok tidak membekali diri dengan kamus elektronik sekian bahasa,  walau tidak semurah dalam wujud buku. Untuk ke China, sebaiknya ini disiapkan.  Karena salah ucap bisa  berarti salah makna. Misalnya, kata tanya diucapkan wen, cium juga wen tentunya dengan perbedaan nada pengucapan.  Bayangkan jika ingin bertanya jadi diucapkan ingin cium. Tahukan mendapat apa................ Atau mangkuk disebut wan, sementara, puluhan ribu juga wan Lalu  jika pergi ke restoran meminta mangkuk, namun menyebutkannya dengan uang! Bisa dikira mau merampok! Belum lagi  pelafalan huruf B menjadi P, P menjadi Ph, lalu D menjadi T ribet...................!

Kamus sih boleh-boleh saja untuk keadaan mendesak. Masalahnya, menurut sumber terpecaya, di sana masih banyak yang buta huruf. Selain itu, perubahan penulisan huruf demi penyederhanaan kadang membingungkan. Angkatan sepuh mungkin tidak mengenali sebuah aksara yang disederhanakan. Demikian juga sebaliknya, angkatan muda belum tentu mengenal asal muasal huruf yang sekarang.   Dengan membawa  kamus elektronik, tinggal ketik kata yang ingin diucapkan, alihkan ke bahasa negara tujuan, lalu tekan tombol suara. Pas benar pengucapannya.

Seperti sudah musti kian mengetatkan  ikat pinggang eh belanja buku supaya bisa terwujud.....
Plus ngatur jadwal cuti nih!

C
oleh Truly Rudiono pada 21 September 2010 jam 22:01
Penulis              : Ariyanto
Penyunting        : Ikhdah Henny
Halaman            : 168
Penerbit            : B-First

Tanpa malu-malu terpaksa mengakui, faktor 2U membuatku memandang sebuah perjalanan dari kaca mata yang berbeda. 2U adalah Uang dan Usia he hehe. Dahulu..........................,semakin menderita, semakin banyak cerita yang dikenang, plus berarti kian irit. Daripada naik pesawat, marilah naik bus, walau harus menempuh sekian lama perjalanan. Namun bisa dipastikan banyak pemandangan yang bisa dilihat, banyak cerita yang bisa  dibagi. Belakangan, mulai memikirkan kenyamanan, selain faktor usia yang kadang tak mau kompromi. Sudah merasa sekali-kali bolehlah menikmati hasil keringat sendiri. Semakin nyaman semakin muantap.......! Walau berarti menipis pula pundi-pundi di kantong ^_^

Tertarik membeli buku ini bukan karena tulisan Rp 2. Juta. Namun pada kalimat Keliling China Selatan. Sejak pertama kali melihat rangkaian huruf pinyin di salah satu buku tentang Akupunktur, saya sudah tergelitik untuk mulai mempelajarinya. Ada sesuatu di huruf itu yang membuat saya kagum. Bayangkan, setiap huruf mempunyai sejarah, bunyi, pengucapan dan makna yang berbeda. Mereka tidak mengenak abjad seperti A,B,C dan seterusnya.

Menurut Wikipedia, Hànyǔ Pīnyīn (汉语拼音, arti harafiah: "bunyi bersama bahasa") atau sering disingkat Pinyin (拼音, Pīnyīn) yang berarti "bunyi bersama" dalam bahasa Tionghoa adalah sistem romanisasi (notasi fonetis dan alihaksara ke tulisan Latin) untuk bahasa Mandarin Baku yang digunakan di Republik Rakyat Cina. Pinyin disetujui penggunaannya pada 1958 dan diadopsi pada 1979 oleh pihak pemerintah Tiongkok. Ia menggantikan sistem alihaksara lama.   Sejak saat itu, Hanyu Pinyin telah diterima sebagai sistem alihaksara utama untuk bahasa Mandarin di dunia. Pada 1979 Organisasi Internasional untuk Standarisasi (ISO) mengadopsi hanyu pinyin sebagai standar romanisasi untuk bahasa Tionghoa Modern.

Saat hendak belajar, sang Laoshi   alias guru, sudah mengingatkan saya bahwa dibutukan ketekunan extra guna mempelajari Bahasa Cina. Namanya juga saya, semakin sulit semakin ego tertantang untuk membuktikan kalau bisa melakukan hal itu. Kian lama belajar, membuat saya tertarik untuk mendatangi negara tempat huruf-huruf cantik itu berasal. Berdasarkan pengalaman, belajar sendiri kurang membuahkan hasil, apalagi saya kesukaran mendapat teman berlatih. Dari sekian huruf yang saya  hafal, nyaris sebagian besar terlupa karena tidak pernah dipakai lagi. Padahal waktu itu level kemampuan saya sudah cukup lumayan. Timbul ide iseng, tinggal di sana 1-2 minggu seperti cukup untuk mengembalikan ingatan saya.

Sang tukang jalan-jalan merangkap tukang cerita, memberikan gambaran yang teramat sangat jelas mengenai situasi dan kondisi disana.  Makanan yang menggugah selera, pemandangan yang indah menawan, kondisi sekitar,  saya serasa berada disana. Termasuk ikut panik saat rencana meleset.

Bisa buku ini kian membulatkan saya untuk pergi melancong ke sana, tentunya ala saya yah.... Soal makanan, penginapan dan trasnportasi sudah cukup mendapat pencerahan dari buku ini. Semua hal-hal penting sudah diperhatikan. Termasuk  soal harga, perlu diingat soal kenaikan harga yang mungkin terjadi. Tinggal mencari waktu yang tepat.

Ilustrasi yang ada... membuat  saya tertawa lepas. Ada beberapa gambar yang mengingatkan pada kisah di masa lalu. Ya ampun................., ternyata memalukan juga hi  hi  hi

Satu yang membuat saya heran, penulis yang tukang jalan-jalan kok tidak membekali diri dengan kamus elektronik sekian bahasa,  walau tidak semurah dalam wujud buku. Untuk ke China, sebaiknya ini disiapkan.  Karena salah ucap bisa  berarti salah makna. Misalnya, kata tanya diucapkan wen, cium juga wen tentunya dengan perbedaan nada pengucapan.  Bayangkan jika ingin bertanya jadi diucapkan ingin cium. Tahukan mendapat apa................ Atau mangkuk disebut wan, sementara, puluhan ribu juga wan Lalu  jika pergi ke restoran meminta mangkuk, namun menyebutkannya dengan uang! Bisa dikira mau merampok! Belum lagi  pelafalan huruf B menjadi P, P menjadi Ph, lalu D menjadi T ribet...................!

Kamus sih boleh-boleh saja untuk keadaan mendesak. Masalahnya, menurut sumber terpecaya, di sana masih banyak yang buta huruf. Selain itu, perubahan penulisan huruf demi penyederhanaan kadang membingungkan. Angkatan sepuh mungkin tidak mengenali sebuah aksara yang disederhanakan. Demikian juga sebaliknya, angkatan muda belum tentu mengenal asal muasal huruf yang sekarang.   Dengan membawa  kamus elektronik, tinggal ketik kata yang ingin diucapkan, alihkan ke bahasa negara tujuan, lalu tekan tombol suara. Pas benar pengucapannya.

Seperti sudah musti kian mengetatkan  ikat pinggang eh belanja buku supaya bisa terwujud.....
Plus ngatur jadwal cuti nih!
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar