Jumat, 08 April 2011

Putri Ong Tien

Judul                         : Putri Ong Tien,  Kisah Perjalanan
                                  Putri China  Menjadi Istri Ulama Besar Tanah Jawa
Pengarang                :  Hj Winny Gunarti Widya
Perwajahan Sampul  : Mila Hidajat
Perwajahan Isi          : Gekawe
Halaman                   : 200
ISBN                       : 978-979-22-6213-1
Penerbit                   : PT Gramedia Pustaka Utama

Bahagiakan hatimu, Puteri. Temukan perasaan cintamu. Cinta membuat dirimu hidup sebagai seorang perempuan....”
bisik Nona Mei Hua pelan.

Sebagai seorang putri kaisar, Putri Ong Tien menyerahkan nasibnya pada sang ayahanda. Dengan siapa ia akan menikah kelak merupakan keputusan sepenuhnya dari sang ayah. Ia tidak mengerti apa itu cinta, apa yang membuat Nona Mei Hua, selir ayahnya bersedia dihukum demi rasa cintanya.

Sosok Putri Ong Tien benar-benar mewakilli sosok perempuan China yang elegan dan cerdas. Ia juga merupakan kesayangan ayahnya.  Dibandingkan dengan  putra-putri yang lain, Putri Ong Tien terlihat lebih menonjol di bidang ilmu pelajaran dan kesenian. Ia paling senang jika mendapat kesempatan mendengarkan cerita tentang negeri seberang dari para pedagang atau penjelajah samudra yang menghadap kaisar.

Suatu saat,  Putri Ong Tien medengarkan cerita mengenai seorang ulama bernama Syarif Hidayatullah . Betapa hebat ilmu yang dimilikinya. Kemampuanya mengobati orang banyak telah telah sampai ke telinga kaisar. Sang Putra langit ingin bertemu untuk mengetahui seberapa besar kemampuannya.  Dibuatlah semacam tes guna menguji kemampua Syarif Hidayatullah

Kedatangan Syarif Hidayatullah ke istana ternyata mengakibatkan sebuah peristiwa yang menghebohkan. Peristiwa  Putri Ong Tien hamil bokor kuningan! Putra Langit yang marah mengusir Syarif Hidayatullah yang dianggap sebagai penyebab semua malapetaka. Alih-alih mendapat anugrah, Syarif Hidayatullah dipaksa meninggalkan China, juga Putri Ong Tien yang merana merendam rindu.
 "Aku merindukannya,  Nona Shu. Aku sangat merindukannya," kata Putri Ong Tien kepada pengasuhnya.

Walau harus menempuh banyak rintangan dan bahaya serta kondisinya, sang putri sudah berketa akan pergi ke Jawa. Tekatnya sudah bulat. Kelak ini membuahkan banyak hal. Badai laut yang menyebabkan kapal karam penuh muatan keramik dan harta berharga lainnya  kelak akan merupakan harta yang tak tenilai. Salah seorang menterinya malah menjadi penguasa disebuah kadipaten.
 Tekat sang putri untuk menjadi bagian dari Kesultanan Cirebon  membuatnya diterima baik di lingkungan kerajaan. Ia tidak saja membawa suasana baru bagi lingkungan, namun juga bagi perkembangan kehidupan bermasyarakat disana.  Wujud penerimaan pihak kerabat bisa  dilihat dari adanya makam sang putri di Kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati. Tidak semua istri Sunan Gunung Jati dimakamkan disana.

Kisah ini menurut pembuatnya Hj Winny Gunarti merupakan sebuah faksi, fakta dan fiksi. Kisah  seorang putri  Cina yang mengandung bokor kuningan sudah cukup dikenal dimasyarakat. Kegemaran membatik sang putri dengan gambar dan warna cerah juga dikenal sebagai batik Cirebonan.  Sebuah kisah yang didasari fakta sejarah  yang dibalut fantasi, sebuah faksi.

Sang tukang cerita berharap bisa  mempersembahkan karya sejarah yang ringan dan menyenangkan untuk dibaca oleh siapa saja. Bahkan mereka yang mungkin tidak menyukai sejarah. Untuk saya, itu betul. Saya yang tak begitu menyukai sejarah, bisa  menikmati buku ini.

Dari sisi fisik, buku ini menarik untuk dilihat. Mulai dari covernya yang menarik, ilustrasi di dalam yang indah.  Saya seakan membuka buku lama. Benar-benar buku yang indah untuk diletakkan diantara koleksi buku yang lain.

Disekian banyak cerita serius, ada bagian yang membuat saya tertawa lepas. Ada cerita mengenai kejernihan Sungai Ciliwung. Sang putri dalam perjalannya  mampir sebentar ke Sunda Kelapa dan menikmati pemandangan di sekitar  sungai. Waduh...... seperti apa yah jika sungai itu benar-benar bersih. Pasti sangat indah dilihat seperti yang digambarkan dalam buku ini.

Namun ada hal kecil yang mengganggu kenikmatan saya membaca. Ada pemenggalan kata yang salah serta paragraf yang kehilangan beberapa kata. Jika pemenggalan bisa dimaklumi, namun jika kata yang hilang, jelas mengurangi kenikmatan membaca. Misalnya pada halaman 30,   saat Ma Huan bercerita tentang kerjaaan Jawa. Ada kalimat yang tertulis, ” ..., setelah tiga hari menikah, pengantin perempuan akan d.... bunyikan berrbagai alat musik,....”  apa maksud  akan d  ? Dan hal tersebut berulang di bagian belakang.

 Sosok Hj Winny Gunarti lahir di  Jakarta, 6 Mei 1967. Sarjana Komunikasi dari FISIP Universitas Indonesia, meraih diploma Special Needs Management dari Council of Allied Educators, dan kini tengah menyelesaikan Program Magister Desain di FSRD Universitas Trisakti. Dua karya yang bertema Islam adalah Anak Punya Masalah, Al-Qur`an Menjawab dan 40 Keajaiban Naik Haji: Kisah Nyata Para Tamu Allah Di Tanah Suci.

1 komentar: