Selasa, 29 Maret 2011

Last Tango in Paris, sex dimana-mana...........!

Penulis            : Robert Alley
Penerjemah     : Rama R. Utomo
Editor              : M. Sidiq Nugraha
                        Anton Kurnia
ISBN               : 978-979-024-238-8
Halaman         : 256
Harga             : Rp  39.000 
Penerbit          : Serambi
                        Januari 2011


Kapan pertama kali kamu merasakan puncak kenikmatan seksual?” Tanya Paul
Hubungan sex terbaik hanya akan kamu dapatkan di apartemen ini. Sekarang ayo berdiri!” .

Buku  ini berkisah mengenai dua sosok manusia yang amat menyukai sex. Paul yang baru ditinggal bunuh diri istrinya,  seorang pengusaha hotel serta  Jeanne, perempuan asli Paris yang akan segera menikah dengan seorang sutradara film.  Pertemuan tak sengaja mereka di sebuah stasiun kereta api menghantarkan mereka ke dalam petualangan sex membara

Sejak buku ini mulai saya baca, beberapa kali kedua alis saya bertemu, mulut saya terbuka menandakan keheranan yang mendalam. Kisahnya sungguh membuat saya menggelengkan kepala. Pantas saja  Serambi menurunkan dua editor seniornya dalam buku ini guna menghindari kesalahpahaman pembaca. Tapi salut juga akan keberanian Serambi menerbitkan sesuatu yang tidak biasa.

Sebenarnya kisahnya cukup unik  tentang bagaimana pencarian cinta beberapa  manusia. Ratingnya saja di Goodreads cukup bagus 3.36 . Hanya saja buku ini penuh dengan kekerasan dan sex.  Sebut  saya kolot, norak atau kuno. Hanya saja bagi saya sex sepertinya tidak bisa  diumbar begitu saja seperti yang dilakukan oleh kedua tokoh  dalam kisah  ini. Begitu bertemu, langsung hajar....!

Sex dalam Wikipedia bisa berarti jenis kelamin serta kegiatan yang berkaitan dengan manipulasi organ kelamin, khususnya hubungan seksual; namun dapat juga sesuatu yang mengarah pada hal tersebut. Untuk buku ini jelas pengertian sex kedua yang dimaksud.

Bagi Paul dan Jeanne sex seakan bisa dilakukan dimana, saja, kapan saja, dan dengan siapa saja bak iklan sebuah minuman botol.  Simak saja ucapan Paul kepada Jeanne, “Aku suka seks,” ucapnya, “ karena itu olahraga yang menyehatkan. Seks membuat bentuk tubuh tetap fit sekaligus membermu satapan ragawi yang lezat.”

Selama berhubungan, mereka sama sekali tidak tahu siapa nama pasangannya. Paul menolak mengetahui apa pun mengenali perempuan yang digaulinya secara liar.  Bagi Paul, Jeanne hanyalah sesosok tubuh. Begitulah ide kesepakatan mereka. Sementara itu, sifat jorok Paul justru secara seksual menarik bagi Jeanne,  saat dia bersikap merendahkan dan marah, termasuk juga penghinaan darinya.

Tidak saja sex, unsur kekerasan juga mewarnai hubungan mereka. Simak saja kalimat berikut, ” Dia meraup mentega  lembut itu dengan jemari tangan yang lain. Dengan santainya dia menjejali mentega lembut itu ke dalam anus Jeanne, melumuri bokongnya bagai seekor babi utuh yang dihunuskan pada tusukan daging.”  Sepertinya tak salah jika saya terheran-heran saat membaca buku ini.

Sayangnya, Jeanne melanggar komitmen mereka dengan mulai jatuh cinta dan mencari tahu siapakah Paul sebenarnya. Hal ini membuat Paul ingin memutuskan hubungan mereka.  “Mungkin aku memang gila. Tapi aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang kamu. Aku tidak mau tahu dimana kamu tinggal, atau dari mana kamu berasal. Aku tidak tahu apa-apa soal dirimu! Kamu mengerti?” ungkap Paul dengan nada nyaris membentak.Semula yang ada diantara mereka hanyalah kebutuhan serta ketertarikan akan sex belaka! Paul ingin Jeanne tetap mengikuti komitmen awal mereka.

Saat Jeanne memutuskan untuk kembali ke tunangannya, Paul justru menyadari dirinya tertarik pada Jeanne. Sayangnya, semakin ia membuka diri, semakin Jeanne menolaknya. Bagi Jeanne urusan diantara mereka sudah selesai! Sementara bagi Paul ini baru dimulai seiring dengan Tango yang mereka tarikan bersama.

Kisah yang berakhir tragis ini merupakan  adaptasi dari film dengan judul Last Tango in Paris yang beredar tahun 1972. Sutradaranya adalah Bernardo Bertolucci., dengan pemain
  • Marlon Brando sebagai  Paul
  • Maria Schneider sebagai  Jeanne
  • Jean-Pierre Léaud sebagai Tom
Tari Tango  yang menjadi judul buku dan film merupakan tarian yang banyak mendapat pengaruh dari budaya Spanyol dan Afrika.  Tarian tersebut sebenarnya berasal dari masyarakat kelas bawah yang ada di daerah Buenos Aires, Argentina Kata Tango diperkirakan pertama kali disebut  pada tahun 1890an. Ada beberapa aliran dalam Tarian Tango, antara lain:
  • Tango argentino
  • Tango canyengue
  • Tango Oriental Uruguayan tango
  • Tango liso
  • Tango salon
  • Tango orillero
  • Tango camacupense (Angola)
  • Tango milonguero (Tango apilado)
  • Tango Nuevo (New Tango)
  • Show Tango (also known as fantasia)
  • Ballroom tango
  • Finnish tango
Bagaimana juga buku ini menawarkan sesuatu yang lain. Saya sempat penasaran dengan kata  kebanalannya, sayang tadi tidak sempat mengecek di KBBI  untuk mengecek apa  maknanya.

Sekedar saran, sebaiknya di tulis di kover depan batas usia minimal membaca buku ini. Mengingat banyak remaja yang belum pernah menonton filmya. Bayangkan jika mereka tertarik dengan kover yang seakan mengisyaratkan sebuah buku romantis, lalu saat membacanya terpesona dengan kelakukan Paul secara ngawur lalu mengikutinya... Serem ah...!

Dari pada sibuk merinding...
 Mendingan kita dance aja yuk....
*ssst yang ini memang bukan Tango, tp lumayan lah...*

1 komentar: