Selasa, 29 Maret 2011

Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda

Penulis: Reggie Baay
Penyunting: Dahlia Isnani
Penerjemah: Siti Hertini Adiwoso
ISBN: 979-3731-78-8
Halaman: 300
Penerbit: Komunitas Bambu
Rating:4/5

….
Bahwa ia dijual dari tangan ke tangan
Hingga dijauhi oleh semua orang, Ia pun meninggal di dalam kota
Anak kampung berambut pirang

Sering kali kita ingin tahu dari manakah sejarah keluarga kita berawal. Siapa moyang kita, dari mana asalnya, jika bisa diketahui dimana tempat peristirahatannya terakhir. 

Demikian juga dengan sosok Reggie Baay. Ia penasaran dengan sosok nenek dari pihak ayahnya. Sang ayah selalu menolak membicarakannya. Setelah sang ayah tiada, baru ia menemukan banyak fakta yang disimpan rapat-rapat seputar neneknya yang ternyata hanya seorang gundik di Hinda Belanda.

Entah kenapa, istilah gundik rasanya membuat telinga yang mendengarnya menjadi panas. Gundik bisa disebut juga istri tak resmi, perempuan simpanan. Jika mau lebih diperjelas perempuan yang difungsikan sebagai pelepasan nafsu birahi, atau istilah keren adalah WIL. Dalam http://www.artikata.com/arti-329304-gundik.php, gundik atau mistress diantikan sebagai :

. 1 istri tidak resmi; selir; 2 perempuan piaraan (bini gelap);
-- candik berbagai-bagai gundik;
mem·per·gun·dik v mengambil sbg gundik; menjadikan gundik: pd zaman dulu banyak raja ~ wanita-wanita desa yg cantik;
mem·per·gun·dik·kan v mengambil gundik; menjadikan gundik;
per·gun·dik·an n perihal gundik; perihal pemiaraan


Namun saat ini Gundik juga bisa berarti positif. Gundik merupakan nama sebuah desa. Desa Gundik merupakan salah satu desa di Kecamatan slahung yang paling utara, yang berbatasan dengan kecamatan Balong. Di desa ini penduduknya sebagian besar bertani, walau sebagian ada yang berprofesi lain. Ada salah satu pesantren yang berdiri di desa ini, yaitu Pondok Modern Arrisalah.

Sementara itu, dalam Wikipedia, Nyai adalah sebutan umum di Jawa Barat, khususnya bagi wanita dewasa. Namun, kata ini memiliki konotasinya lain pada zaman kolonial Hindia Belanda. Ketika itu Nyai berarti gundik, selir, atau wanita piaraan para pejabat dan serdadu Belanda. Nyai bersinonim dengan gundik dan selir.

Baik nyai, gundik maupun selir, dalam KBBI, diartikan sebagai bini gelap, perempuan piaraan, dan istri yang tidak pernah dikawini resmi. Bini Selir malah berarti istri yang kedudukannya lebih rendah dari pasa istri terhormat (istri utama)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Nyai berarti
1 panggilan untuk orang perempuan yg belum atau sudah kawin; 2 panggilan untuk orang perempuan yg usianya lebih tua dp orang yg memanggil; 3 gundik orang asing (terutama orang Eropa);
  1. nyai-nyai n sebutan kpd wanita piaraan orang asing
Sedangkan “Nyai” yang digunakan oleh Reggie Bay, berasal dari bahasa Bali. Penggunaan kata tersebut bersamaan dengan kemunculan perempuan Bali yang menjadi budak dan gundik orang-orang Eropa di wilayah pendudukan VOC pada abad ke-17. 

Di perkebunan Deliu, kita akan menjumpai Deli Kartina, perempuan pribumi yang menjadi nyai atau gundik lelaki Eropa. Beda nama namun sama jelas satusnya, WIL.

Nyai juga berarti isteri (nyonya) dari Kyai (gelar ulama di Jawa) seperti yang disebutkan dalam wikipedia. Tetapi Kiai di Kalimantan merupakan gelar menteri kerajaan dan gelar kepala distrik (Lalawangan) yang bukan keturunan bangsawan (Tutus Raja), sedangkan Nyai berarti gelar untuk wanita terhormat yang bukan keturunan bangsawan, Ratu Komalasari adalah permaisuri Sultan Adam dari Kesultanan Banjar, penambahan gelar Nyai di depan gelar 'Ratu' menunjukan bahwa dia bukan berasal dari kalangan bangsawan.

Pada zaman kolonial, nasib Nyai jauh lebih beruntung dari budak. Di masa awal kolonisasi Hindia Belanda, para pejabat Belanda datang tanpa  disertai istri, keberadaan nyai sepenuhnya karena kepentingan s3ksual dan status sosial pejabat kolonial di tanah Hindia. 

Dari sisi ekonomi, seorang Nyai berada diatas rata-rata. Tengok saja aneka baju berenda indah yang mereka kenakan, tusuk konde emas dan lainnya. Tapi dari sisi moral, mereka dianggap rendah. Jika sang Nyai pandai, ia bisa mengangkat keluarganya dari kemiskinan. Dari mempekerjakan saudaranya hingga mendapat kepercayaan penuh seputar uang.

Gubenur Jenderal Belanda Jan Pieterszoon Coen merasa kehidupan bersama lelaki Eropa dengan budak perempuan pribumi mengarah kepada perilaku janggal, tidak terkendali dan membahayakan kepentingan kolonial. 

Untuk itu ia mengeluarkan larangan untuk memelihara seorang gundik di rumah, tempat tinggal, atau tempat lainnya dengan penjagaan apapun yang terjadi. Pelarangan ini mulai berlaku pada 11 Desember 1620.

Sebenarnya guna mengatasi soal pergundikan, pemerintah Belanda mengirim wanita yang berasal dari rumah yatim piatu dengan reputasi sempurna. Ternyata peraturan untuk mengirim para perempuan yatim piatu dari Belanda tersebut tidak terlalu efektif.

Jumlah pergundikan di wilayah pendudukan tidak berkurang secara signifikan. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1622. Tapi namanya urusan arus bawah, tetap saja banyak yang mencari celah untuk melanggar.

Hanya ada empat kemungkinan bagi nasib seorang nyai dan anak-anaknya jika seorang anggota militer yang diikutinya berpindah. Pertama Nyai dan anak-anaknya semuanya mengikuti ke lokasi baru. Kedua sang anggota militer pergi begitu saja dan membiarkan nasib yang menentukan. Ketiga Nyai dan anak-anaknya dialihkan, keempat sang lelaki membawa anak-anaknya ke suatu tempat dan sang Nyai bisa kembali ke kampung tanpa anak-anaknya atau menjadi gundik lelaki lain.

Dari buku ini, saya jadi lebih memahami bagaimana situasi dan kondisi masyarakat di saat itu. Banyak hal yang membuat miris hati. “ …. Orang Jawa duduk berjongkok di atas jembatan bambu yang kecil dan reyot sambil tidak sadar menghirup uap dari selokan, saluran dan sekaligus jamban….Demi rasa yang enak dan lezat, dengan banyak harap salah satu anaknya yang lain pun sibuk menyapu lantai sehingga debu beterbangan dan jatuh di wadah di dalam pembakaran. Ini penting! Nanti ujung bawah bajunya diangkat dan dengan itulah wadah dibersihkan…

Kisah Nyai Dasimah yang bercerita bagaimana seorang nyai berselingkuh sungguh kontras dengan seluruh untaian dalam buku ini. Dalam buku ini nasib para Nyai justru merana. Ada beberapa yang beruntung. Pasangannya mengajak menikah dan memberikan status hukum yang jelas. 

Ada juga yang mendapat ”hadiah” menikah setelah lelaki itu pensiun. Biasanya hadiah itu diberikan jika sang nyai dianggap sangat berjasa terhadap si lelaki. Pernikahan baru dilangsungkan saat sang lelaki pensiun karena dengan menikah seorang Nyai dianggap akan menghambat karier politiknya, tanpa peduli nyawanya telah diselamatkan sang Nyai.

Sungguh kuat perempuan-prempuan pribumi saat itu. Mereka harus menjadi Nyai karena faktor ekonomi. Setelah menjadi Nyai, setiap hari harus berhadapan dengan rasa was-was kapankah gilirannya di”buang”, belum lagi saat harus dipisahkan dengan sang anak.

Mereka yang lebih memilih cinta dari pada pundi-pundi uang lelaki Eropa akan mendapat siksa. Mereka akan di salin dibawah terik mataharti, agar tidak pingsan, daerah kemaluannya dilumuri cabai spanyol yang telah di tumbuk. Kejamnya...............!

Membaca buku ini membuat saya ingat pada dua hal yang sangat bertolak belakang. Salah satu teman kuliah saya sangat ingin menikah dengan orang Eropa. berbagai cara ditempuhnya, dari menjadi penjaga anak-anak turis yang berlibur hingga hal-hal yang membuat saya terheran-heran. 

Belakangan setahu saya ia berhasil menikah dengan seorang Perancis dan telah memiliki satu orang putra. Alasannya memilih pria Eropa, menurutnya pria Eropa lebih romantis. Sementara teman saya yang lain sangat tidak mau mendapat jodoh pria Eropa walau dia bekerja di bidang yang berurusan dengan pria-pria Eropa. Menurutnya pria Eropa lebih egois dan keras kepala. Kontras sekali khan mereka berdua. Nah.............. membaca buku ini membuat saya bisa menarik sebuah garis pembatas.

Dengan segala perlakuan mereka yang begitu kelewatan, tidak ada satupun perkataan maaf keluar . Bandingkan dengan ”Saudara Tua” kita, Jepang yang menyadari kesalahannya, meminta maaf dan memberikan ganti rugi. 

Nasib anak-anak yang dilahirkan dari pergundikan juga tidak lebih baik dari ibunya. Mereka berada di tengah-tengah. Bukan orang Eropa, dan bukan pribumi. Jika sang ayah cukup bertanggung jawab, mereka akan mendapat pendidikan dengan dengan cara menjadi anak angkat sebuah keluarga Eropa. 

Ada yang mengirim anak-anak hasil pergundikan di Belanda lalu dititipkan dengan membayar di sebuah keluarga yang akan mengawasi segalanya dengan ketat. Tapi tidak sedikit yang membiarkan anak-anaknya bergantung pada nasib. Ibu dan anak sangat kecil kemungkinannya bertemu kembali.

Reggie Baay merupakan seorang penulis sekaligus publisis. Ia dilahirkan di Leiden pada tahun 1955, sementara kedua orangtuanya yang dilahirkan di Indonesia. Sampai tahun 2005 merupakan redaktur majalah Indische Letteren dan telah mempublikasikan banyak artikel di bidang sejarah dan sastera kolonial. Roman otobiografi Reggie Baay yang berjudul De Ogen van Solo diterbitkan pada 2006 di Belanda.

Roman ini berkisah mengenai sejarah seorang ayah Indies dilihat dari kacamata sang anak. Hingga 2010 roman tersebut telah dicetak sebanyak tiga kali . Jika ingin mengenal lebih jauh Reggie Baay silahkan kunjungi http://www.reggiebaay.nl/

Terima kasih buat Sis Lita Soerjadinata yang telah memberikan buku yang sangat hebat.....
*peluk-peluk*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar