Rabu, 30 Maret 2011

Kemamang

Pengarang : Koen Setyawan
Editor : Nita Taufik
Penerbit : Goodfaith Production
Halaman : 318

”Rumah! Lihat cahaya lampu di sana! ”Seru Panji. Telunjuknya kaku mengarah ke sumber cahaya di kejauhan

”Kita selamat. Aku tahu pasti” seru Panji penuh keyakinan

Itu bukan fatamorgana, Lampu itu bergerak!

Lima belas menit lamanya mereka mematung dalam gelap ketika cahaya itu mendatangi mereka. Dalam keremangan, mereka bisa mendengar bunyi dengungan yang lemah, cahaya itu berpendar seperti berdenyut-denyut. Nyalanya berubah dari putih menjadi hijau Cahaya itu mengambang! Lalu bergerak dengan gemulai sebelum akhirnya menghilang. Saat akhirnya pulih dari ketakutan, ternyata mereka sudah berada di pinggir danau Bakalan, yang terletak di pinggiran desa Sumberwulih pada pukul 05.30 WIB

Keinginan untuk meneliti Harimau Jawa, membuat Hari dan Panji terseret dalam pengalaman yang tak akan terlupakan seumur hidup! Setelah pengalaman bertemu Kemamang, mereka seakan kehilangan waktu, mengalami kelelahan serta menderita insomnia, tanda-tanda psikologi dan mental bagi mereka yang pernah bertemu UFO

Panji merasakan penasaran dan kengerian misterius yang belum pernah dialaminya.Perasaan aneh itu memberinya energi berlebihan. Sementara Hari merasa menggali kembali ”bakat” yang dimilikinya.

Setelah dua bulan peristiwa yang menakutkan itu, Panji dan Hari memutuskan untuk kembali ke Danau Bakalan yang terletak di pinggiran Desa Sumberwulih. Mereka menginap di rumah Pak kades.
Menurut Pak Kades, belakangan ditemukan hewan yang mati mengenaskan dan yang hilang hanya isi perut, dan kepala tepatnya otak di dekat danau. Ditambah mitos mengenai Kemamang, bisa dibilang penduduk desa menjauhi danau tersebut.

Suatu hari, seorang anak perempuan dikatakan hilang dari rumahnya. Ia kabur melalui jendela. Seluruh warga desa, termasuk Panji dan Hari berusaha mencarinya. Dalam pencarian mereka berhadapan dengan Kemamang yang membuat mereka kocar-kacir terpisah satu dengan lainnya.

Panji dan Hari jatuh ke sebuah jurang yang dalam. Setiap usaha Panji untuk keluar ke atas selalu gagal, sementara Hari lebih memilih berdiam diri. Saat malam hari tiba, Hari melihat sekumpulan cahaya, kemamang yang menghampiri mereka. Jarak antara Heri dan Panji dengan Kemamang yang mengambang setinggi 1 meter hanya 2 meter!

Hari dengan berani menatap cahaya yang ada di depannya. ”Aku bukan musuhmu. Kau tidak berbahaya”, katanya dalam hati.Terjadi dialog secara telepati antara Heri dan Kemamang

”Jangan takut. Kamu tidak akan disakiti”

”Siapa kamu?”

” Patroli ke-16 Kemamang”

Kemamang ternyata diciptakan untuk menghalau mereka yang mendekati danau! Di dekat danau hidup hewan yang kabur dari laboratorium milik pencipta Kemamang. Hewan itu mengalami mutasi. Kontaminasi pada benih bekunya membuat ia tidak terkendali. beradaptasi dengan cepat

Fakta-fakta yang diperoleh oleh Heri dan Panji adalah ; pertama bertemu Kemamang dan kehilangan waktu, kedua, kejadian ternak yang hilang dengan jeroan yang terkuras habis, ketiga serangan ternak ditepi danau, keempat anak yang hilang. Fakta-fakta tersebut malah membuat mereka makin bingung menghadapi misteri yang ada dihadpan mereka.

Saat desa sedang heboh dengan penemuan mayat di tepi danau, datang 2 orang yang mengaku dari LIPI dan tertarik untuk meneliti keanehan yang terjadi di desa tersebut. Wajah dan bentuk tubuh yang terlalu sempurna, membuat Heri mearsa curiga. Belakangan salah satu dari mereka, Budiman memberitahukan banyak hal. Telunjuk Budiman menyentuh keningnya, sentuhannya sedingin es. Jari-jari Budiman memanjang. Ia seakan melihat pemutaran film mengenai hewan yang diburunya

Hari mendapat alat komunikasi berbentuk kalung persegi enam. Di bagian tengahnya terdapat lingkaran dengan permukaan yang terdiri dari segi 6 kecil-kecil. Untuk menggunakannya cukup menekan bagian tangah.

Hewan-hewan tersebut ternyata evolusi dengan cepat. Hewan itu menitipkan telurnya dalam tubuh manusia. Orang yang dititipi telurnya akan merasa lemas. Salah satu korbannya adalah Budi. Yang terkena saat sedang ikut mencari anak-anak yang hilang menuju danau.

Budi tiba-tiba menggelepar, kejang-kejang dan bergetar hebat. Perutnya menggelembung, giginya gemeretuk menahan sakit. Terdengar suara sobekan, ternyata berasal dari perutnya! Sobekan semakin besar, darah mengucur dengan deras . Dari perut yang terkoyak menggelinding seonggok benda lunak dengan lapisan tembus pandang. Wujud aslinya segera nampak, bayi-bayi Augupta Chezeni.

Bertempuran kian menegangkan! Apalagi hewan buas raksaksa bermulut buaya ternyata mengembangkan alat-alat tambahan di atas kepalanya persis seperti ikan yang hidup di dasar laut yang gelap saat memancing ikan-ikan kecil mendekati antenenya. Jumpa-jumpai tentakel yang panjang dengan ujungnya yang dapat berpendar dalam kegelapan

Membaca buku ini mengingatkan pada penggalan Film Allien, ET, dan Contact yang digabung menjadi satu dan diramu dengan mitos yang sudah mendarah daging di beberapa kota. Kita juga seakan diajak membaca buku ensiklopedia mengenai dinasaurus dan rekan-rekannya . Ilustrasi yang disajikan benar-benar memikat! Walau saya sempat mengucapkan kata "semprul" yang secara hafiah menandakan rasa kesal saat membaca penjelasan bagaimana cara Heri dan Panji mengalahkan makhluk tersebut.

Jadi penasaran, yang saya lihat di Desa Tirip itu apa yah....?

Diantara persaingan Tante Kunti dan Om Ponco di rana industri buku dan film, Koen Setiawan menghadirkan Kemamang, yang menurut catatan masih berada dalam lingkup keluarga besar makhluk lainnya. Koen Setiawan benar-benar meninggalkan rana anak-anak dalam meramu Kemamang.

Jadi siapa yang menciptakan Kemamang?
Bagaimana cara menyalahkan hewan yang berevolusi dengan cepat?
Silahkan baca sendiri bukunya....

Saran membaca :
1. Jangan membaca di tempat gelap
2. Jangan membaca disaat sendiri
3. Tidak disarankan untuk yang lemah jantung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar