Selasa, 29 Maret 2011

Kisah Persahabatan Abadi Anak berambut Hitam dan Pirang


Penerjemah: Rika Iffati Farihah
Penyunting : Suhindrati a. SHinta
Penyelaras Aksara: Ananta A. Nadya,  Nadya Andwiani
Penata Aksara : elcreative
Disain Sampul : Shanti Indiguerillas
ISBN: 978-602-8579-62-9
Halaman: 406
Penerbit: Qanita
                 Februari 2011


Kusentuh nisan dingin tersebut dan kutempelkan pipi di  situ
Pearl Terkasih...........................
Karena kau tak bisa pergi ke China, aku bawakan China untukmu

“Bilang saja apa adanya! Satu dari sedikit buku yang membuatmu menangis!” kata Silvero saat saya menelponnya begitu selesai menuntaskan buku ini. Sebagai manajer, dia cukup tahu kondisi saya tanpa harus melihat. Dan itu memang betul. Masih berlinang air mata, saya segera menghubunginya untuk memberikan komentar seputar buku ini. Saya memang sudah berjanji akan memberikan komentar begitu buku ini selesai saya baca. Sekarang saya justru menghadapi kendala bagaimana harus membuat ulasannya. Banyak sekali tanda yang saya berikan. Beberapa kali draf dibuat dan dihapus. Jika diungkapkan dengan sebuah komentar, maka hanya satu yang cocok, FANTASTIS!

Pertama kali melihat Pearl of China di Goodread, saya langsung jatuh cinta! Untung ada beberapa mahasiswa kenalan saya yang sedang belajar di Australia. Lewat mereka, saya bisa mendapatkan edisi asli buku ini dengan cepat.  Sayangnya kesibukan serta kemampuan bahasa yang sekedarnya membuat buku ini belum juga tuntas saya baca. Saat melihat edisi terjemahan buku ini dari Penerbit Qanita,  langsung masuk dalam list harus dibaca.

Semua sahabat saya pasti tahu bahwa saya bukan orang yang gampang terenyuh, entah oleh sebuah cerita, film atau peristiwa. Tapi buku ini, terutama sejak bab  tiga puluh empat mengaduk-aduk emosi serta membuat sungai  air mata mengalir tanpa bisa diajak kompromi. Korbannya  satu box tissue plus plus  Sungguh mengharukan!

Bukan penderitaan mereka yang membuat saya terharu namun bagaimana sebuah persahabatan bisa membuat dua orang yang berada di dua negara berjauhan  mampu bertahan menghadapi segala macam  hal. Persahabatan seorang gadis China berambut hitam dan bermata sipit  bernama Willow  Yee dengan seorang anak misionaris berambut pirang bernama  Pearl Sydenstricker  belakangan dikenal dengan nama  Pearl S.  Buck

Awal bersahabatan mereka  bisa  dikatakan melalui jalan yang aneh dan berliku.  Willow yang sedang mencuri tertangkap tangan oleh Pearl.  Tentunya Willow  tidak mengaku ia mencuri. Hal itu membuat Pearl jengkel karena merasa sang ibu tidak mempercayai laporannya  soal Willow.  Sebenarnya bukan maksud ibu Pearl tidak  mempercayai laporannya namun ia  hanya ingin Pearl tidak mengungkit masalah itu lagi. Ia sudah cukup tahu bagaimana miskinnya keluarga Willow  hingga mencuri makanan sudah bukan merupakan hal aneh. “Kau mengambil dompet ayahku dan membelanjakan uangnya; kau mencuri kue Wang Ah-mu dan berbohong kepada ibuku... Dasar keledai kotor”  maki Pearl dengan sengit. Butuh waktu lama bagi Willow untuk meyakinkan Pearl agar mau berteman dengannya.   Belakangan, Pearl tidak hanya menjadi temannya namun menjadi sahabat, saudari dan alasan Willow untuk hidup!


Secara garis besar, buku ini terbagi dalam beberapa bagian. Di mulai dari pertemuan pertama mereka, saat dewasa dan menikah, masa-masa sulit hingga hari tua. Semuanya dituturkan dengan lembut namun berkarakter   oleh Achee Min. Kita akan disuguhi sebuah cerita dari sudut Willow. Di lain bab, kita akan disuguhi sebuah cerita dari sudut Pearl. Kedua sudut tersebut sama-sama menyentuh dan menyayat hati.

 Pearl dan adiknya Grace sangat ingin terlihat  seperti gadis-gadis China. Itu sebabnya pengasuh mereka, Wang Ah-ma membuatkan semacam tudung untuk menyembunyikan rambut pirang mereka. Pearl sangat mencintai China. Banyak kebudayaan dan adat istiadat China yang dipergunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Orang tuanya menggunakan garpu dan pisau, sementara ia menggunakan sumpit. Pearl sudah pandai berbahasa China sebelum bisa bicara dengan bahasa ibu. Baginya China lebih terasa seperti kampung halaman daripada Amerika. Bahkan caranya memaki dalam Bahasa China membuat seorang pujangga jatuh hati padanya.

Sejak kecil Pearl  sangat kesepian. Ia selalu mencari jiwa yang sepaham, jiwa yang mengalami dan memahami dunia timur sekaligus barat. Ayahnya,  Absalom sibuk menyebarkan agama, sementara ibunya, Carie sibuk dengan urusan sosial. Pada sosok Lossing Buck ditemukannya jiwa yang selama ini dicarinya. Pearl  menikah  pada tahun 1917. Bersama-sama mereka pergi ke Cina Utara dan kemudian pindah ke Nanking. Pearl mengajar Sastra Inggris di Universitas Southeastern dan University of Nanking.

Kebahagian Pearl lengkap saat Carol, anak perempuannya lahir. Sayangnya, Carol memiliki masalah mental. Pearl seakan menjadi gila! Belum lagi penolakan suaminya terhadap Carol. Ia mempertahankan pernikahannya hanya agar Carol bisa mendapatkan dokter terbaik. Menulis menjadi penyelamatnya. Itu satu-satunya kegiatan yang mengalihkan pikirannya dari Carol. Ia merasa jika  tak bisa memperbaiki Carol, dia bisa memperbaiki tokoh-tokoh dalam novelnya. Dalam satu minggu ia bisa menghasilkan beberapa cerita pendek.

Suami Pearl, Lossing meragukan ada yang mau menerbitkan kisah-kisah Pearl .” Aku paham Pearl ingin menulis novel untuk melepaskan diri dari kehidupannya. Tapi,  siapa yang ingin membaca cerita-ceritanya? Orang China tidak perlu perempuan pirang menuturkan kisah mereka, sementara orang barat tidak tertarik pada China. Apa yang membuat Pearl mengira dia punya peluang sukses?" Untuk beberapa saat memang tidak ada yang mau menerbitkan tulisannya, namun belakangan setelah tulisannya diterbitkan, Pearl kian produktif untuk membuktikan banyak yang ingin membaca kisah-kisah mengenai China dari olahan seorang berambut pirang! Ia  menyebarkan bagaimana  mencintai China.

Sebuah kisah roman yang melibatkan Pearl, Willow dan seorang lelaki juga menjadi bumbu dalam buku ini. Kisah  cinta mereka penuh dengan kegiatan menawan hingga tidak berkesan norak apalagi vulgar. Pearl memang sudah menikah dan mempunyai satu anak, namun pesonanya tetap memancar kuat. Sementara Willow, bagi suaminya ia sudah dianggap mati! Sehingga ia bebas mencari pasangan hidup baru.

Saat terjadi kerusuhan, Pearl, Grace dan Carol harus pulang ke negerinya. Sebuah negeri yang sama sekali tidak dikenalnya. Usahanya untuk kembali ke China ditentang kuat oleh Madame Mo, istri penguasa saat itu. Alasannya tak lain karena cemburu. Padahal Presiden Amerika saat itu, Nixon mengajak Pearl untuk berkunjung ke China mengingat masa kecilnya dihabiskan disana. Hal ini merupakan pukulan berat Pearl juga bagi para tetangganya dahulu. Seluruh kota sudah bersiap menyambutnya, namun apa daya kecemburuan istri sang pemimpin memupuskan impian mereka untuk bertemu Pearl terkasih. Politik dan rasa cemburu, sungguh perpaduan   yang unik.

Pearl sangat tidak ingin pergi  dari China. Baginya itu merupakan siksaan. Ketika  berada di Amerika ia justru merasa kesepian. "Aku berbahasa  Inggris, tetapi tidak  mengerti kebudayaannya. Aku merasa berada di tempat yang salah dan kebingungan. Yang kita anggap tidak sopan di China, oleh orang Amerika dianggap menarik. Kerabatku menganggapku aneh dan aku menganggap mereka aneh. Di permukaan, aku bergaul dengan semua orang, tetapi di dalam hati, aku kesepian...

Jika Pearl di luar negeri menghembuskan pesan mengenai China  dan mulai menikmati hasil jerih payahnya menjadi penulis, maka Willow  di China, harus berjuang menghadapi banyak bahaya agar bisa bertahan hidup. Saat itu kehidupan Willow sungguh menyedihkan!  Situasi mencekam terasa sampai ke sumsum tulang saya. Kehidupan macam apa yang dijalani Willow sungguh tak bisa saya bayangkan!

Willow harus berurusan dengan partai politik pimpinan Mao Zedong (Hanzi: 毛澤東). Saat itu suaminya, Dick,  ternyata adalah orang kepercayaan Mao. Tidak hanya suaminya, belakangan anaknya juga menunjukkan rasa setianya pada partai Mao. Mao adalah seorang tokoh filsuf dan pendiri negara Republik Rakyat Cina. Ia adalah salah satu terpenting dalam sejarah modern Cina. Sekedar menjaga kerukunan keluarga, Willow rela tidak pergi ke gereja, walau hatinya tak pernah berpaling.

Pada tahun 1911, Mao terlibat dalam Revolusi Xinhai yang merupakan revolusi melawan Dinasti Qing yang berakibat kepada runtuhnya kekaisaran Cina yang sudah berkuasa lebih 2000 tahun sejak tahun 221 SM. Tahun 1912, Republik Cina diproklamasikan oleh Sun Yat-sen dan Cina dengan resmi masuk ke zaman republik. Partai Mao didirikan pada tahun 1921 dan Mao semakin hari semakin vokal. Antara tahun 1934 – 1935 ia memegang peran utama dan memimpin Tentara Merah Cina

Dalam Wikipedia disebutkan bahwa Cina (bahasa Tionghoa: 中国; Hanzi tradisional: 中國; bahasa Tionghoa: Zhōngguó; Tongyong Pinyin: Jhongguó; Wade-Giles: Chung1kuo², bahasa Hokkien: Tiong-kok) adalah nama dari daerah budaya, dan pemukiman turun temurun dari budaya kuno sejak dahulu kala hingga kini, dan merupakan negara di Asia Timur. Peradaban Cina merupakan salah satu peradaban tertua di dunia, terdiri dari sejarah dan budaya beberapa negara yang ada sejak 6 milenia.   Cina merupakan peradaban tertua di dunia yang masih ada hingga kini. Cina memiliki sistem penulisan yang konsisten sejak dahulu dan masih digunakan hingga kini. Banyak penemuan-penemuan penting bersumber dari peradaban Cina kuno, seperti kertas, kompas, serbuk mesiu, dan materi-materi cetak.

Kisah bagaimana siksaan yang dihadapi Willow membuat saya meringis pilu. Walau bersuamikan orang yang dekat dengan Mao, persahabatannya dengan Pearl tetap dianggap sebagai ancaman. Beberapa kali suratnya di buka dan ditahan.  Saya ikut terenyuh saat Willow melakukan segala cara untuk bisa berkirim surat dengan Pearl yang dianggap musuh. Ia nekat berkirim surat walau  resikonya seluruh keluarganya bisa disiksa. Puncaknya ia dihukum penjara.

Agar bertahan waras, Willow mencoba menulis dengan segala cara. Termasuk dengan cara yang menurut saya sungguh menyedihkan, menggunakan air kencing untuk ganti tinta.! Walau tulisannya sebentar juga hilang, tapi Willow tetap menulis. Dengan demikian ia bisa menjaga kejernihan pikirannya.

Willow benar-benar harus berjuang sendiri! Suaminya tidak perduli lagi, terutama saat ia mendapat sekretaris baru berusia belia. Sang anak yang semula memiliki kedudukan lumayan di partai juga harus ikut menderita karena kenekatannya mengirim surat ke Pearl.  Tapi Willow tetap bertahan dengan harapan suatu saat bisa  bertemu dengan Pearl.  Lewat kisah-kisah seputar Pearl yang diceritakannya kepada anaknya, Willow seakan mendapat kekuatan. Sang anak memang tidak pernah bisa bertemu  dengan Pearl, namun kisah Willow membuatnya  begitu mengenal Pearl.

Sungguh susah membayangkan bagaimana kehidupan saat itu! Willow  tergambarkan sangat menderita justru diusia senja. Simak saja bagaimana iaharus bertahan hidup di penjara dengan memakan apa saja bahkan hewan-hewan yang menyebutkan namanya saja sudah membuat perut bergejolak. Saat didera kelaparan lalu dihadapannya  tersedia aneka makanan siapapun tak akan sanggup bertahan. Untuk sesaat Willow memang tak sanggup bertahan, namun jika untuk mendapat kebebasan dan makan enak ia harus berkhianat terhadap Peal, lebih baik tidak usah makan saja!

Bayangkan juga bagaimana perasaan Willow mengetahui sang suami telah dihukum dengan alasan yang aneh dan tinggal menghitung hari sampai saatnya tiba. Untuk bertahan hidup Dick sudah memakan segalanya , termasuk makanan yang bisa  membuatnya mati. Bergantian dengan tahanan yang lain saling mengorek (maaf) anus untuk mengurangi sembelit!  Selama 72 jam Willow menempuh perjalanan  dengan kereta api tanpa duduk di siang hari dan beristirahat dengan meringkuk di dekat kertas-kertas koran yang terkena air kencing pada malam hari. Semuanya hanya untuk menemukan mayat suaminya yang sudah tercabik-cabik burung pemakan bangkai dan dikunyah anjing liar. Tak ada yang mengira, Dick yang dahulu dipercaya oleh Mao berakhir seperti itu!

Saya kurang mengerti soal sejarah, namun dalam buku ini sepertinya kesusahan Willow terjadi saat Rezim  Mao berkuasa. Ketika Rezim baru berkuasa, nasib Willow ikut berubah. Willow dilindungi undang-undang sebagai sejarah hidup, ia dihormati dan dilindungi sebagai harta harun nasional terutama mengingat hubungannya dengan Pearl. Ia bahkan mendapat kiriman buku-buku Pearl, dimana ia bisa merasakan cinta Pearl terhadqp China disetiap halamannya. 

Saya sempat merasa heran akan perubahan sikap Rouge, anak tunggal Willow. Dahulu hubungan mereka sempat tidak baik karena Willow dianggap menentang Mao yang dipuja Dick dan Rouge. Mendadak Rouge menjadi anak baik dan bersedia dihukum mengikuti ibunya. Belakangan  setelah pemimin rezim baru memberikannya kedudukan baru, ia malah mengusahakan mimpi terakhir Willlow, mengunjungi makam Pearl. Perubahan sikap yang dramatis. Seaandainya hubungan ini lebih dibahas tentunya akan menambah indahnya kisah.

Selain kisah persahabatan Pearl dan Willow, kehidupan saat rezin Mao berkuasa, kita juga akan disuguhi kisah seputar dunia tulis menulis. bagaimana cara menulis yang baik, menerbitkan sebuah koran dan sebagainya. Juga kisah seputar penyebaran Agama Kristen di China, mengingat orang tua Pearl  adalah seorang misionaris. Lucu, menawan dan mengharukan bercampur menjadi satu!

Anchee Min  lahir  pada 14 Januari  1957 dengan nama 閔安琪; Mín Ānqí   Suatu saat, seorang wanita memberikannya buuku berjudul The Good Earth. Buku itu membuka mata hati Anchee Min.  Sekitar tahun 1971 ia mendapat perintah untuk menentang kedatangan Pearl ke China. Ia hanya  diberi tahu bahwa buku itu beracun tanpa alasan yang jelas. Pesannya jelas, perintah harus dilaksanakan!  Selesai membaca buku itu, kisah seputar Pearl  of China segera terbayang. Lucunya perkenalan saya dengan buku-buku Pearls S. Buck juga melalui Good Earth, Bumi yang Subur.

Beberapa karyanya antara lain
  •  Red Azalea (1994)
  • Katherine (1995)
  • Becoming Madame Mao (2001)
  • Wild Ginger (2002)
  • Empress Orchid (2004)
  • The Last Empress (2007)
  • Pearl of China (2010)
Pearl Sydenstricker Buck  lahir pada 26 Juni 1892 , meninggal 6 Maret 1973 pada umur 80 tahun. Pearl  dimakamkan di Green Hills Farm di Bucks County, Pennsylvania.   Orangtua Pearl, Absalom dan Caroline Sydenstricker  adalah misionaris.  Mereka datang ke China saat Pearl masih bayi. Saat itu sang ayah berusaha menyebarkan Agama Kristen .  Mereka hidup di  Chinkiang yang terletak di daerah  Sungai Yangtse,  Cina.

Setiap pagi Pearl menjadi murid ibunya. Saat senja ia memiliki seorang guru China sendiri. Itu sebabnya ia mampu berbahasa China dengan aneka dialek dan gaya. Pearl lebih China dari orang China sendiri. Jiwa China di balik kulit yang putih. Ia membawa nuansa  China yang terekam dalam ingatan masa kecilnya pada rumahnya di Amerika.  Termasuk menanam bunga  kamelia yang disukainya. Nisannya pun bertuliskan karakter China.

Pada 1938, dia menjadi wanita Amerika yang pertama untuk dianugerahi Hadiah Nobel Kesusasteraan. Pearl juga memiliki nama samaran Sai Zhen Zhu. Sudah banyak karya yang dihasilkan dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Untuk lebih lengkapnya silahkan simak di www.pearl-s-buck.org

伟大的故事
我爱 Pearl...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar