Kamis, 31 Desember 2015

2015#116: Kisah Kehidupan Suti Perempuan konyal-kanyil


Judul: Suti
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Desain sampul: AN Rahmawanta
Logo75th: Iwan Gunawan
ISBN : 9789797099862
Halaman: 192
Cetakan: Pertama-2015
Harga: Rp 49.000


Film, wayang, dan buku yang dibacanya selama ini menggodanya untuk berpikir bahwa tidak ada yang mustahil dalam hidup. (hal 144)

Urusan selera memang tidak bisa dipaksa dan tidak ada yang benar atau salah. Demikian juga dengan buku. Butuh pembca yang tepat untuk mengatakan bahwa cerita dalam buku itu bagus. 

Karena saya tidak cukup paham mengenai puisi, cara menikmati puisi sebenarnya, maka saya tidak pernah membeli buku kumpulan puisi karya penulis buku ini. Meski nama besanrnya sering saya dengar. Berhubung karya yang ini adalah novel, maka saya mencoba untuk mencicipi karya seorang Sapardi Djoko Damono

Dimulai dengan Daftar Kata dalam Bahasa Jawa, saya langsung merasa akan menemukan sesuatu yang menarik dalam buku ini. Membaca judul bagian tersebut, berarti akan banyak ditemukan istilah dalam bahasa Jawa dalam buku ini. Sebagai keturunan Jawa, jelas hal ini sangat menggoda rasa ingin tahu. Apa lagi ada 5 halaman yang memuat daftar kata itu.

Buku ini bercerita tentang Suti. Suti bukan perempuan biasa. Perempuan konyal-kanyil itu serta ibunya, Parni tiba di kampung itu, Desa Tungkal, ketika Suti baru belajar berjalan tegak. Ibunya membeli sebuah rumah kecil yang berdekatan dengan rumah ibu Tomblok. Ia dan Tombok menjadi sahabat sejak itu. Sang ibu bekerja sebagai makelar di kota. Sementara Suti kecil tumbuh dalam asuhan tetangga yang rela mengurusnya saat sang ibu bekerja. Kekerabatan masyarakat Jawa yang indah.

Semula sang ibu senang ketika Suti tumbuh menjadi gadis cerdas, suka omong aneh yang tak mudah ia pahami.  Namun sejak Parni mengetahui  Suti suka keluyuran nonton hiburan bersama gerombolan koboi ingusan yang konon hobi ciu, hatinya menjadi tidak tentram. Maka begitu  Sarno, lelaki seusia Parni yang tak memiliki kerja tetap melamar segera diterima tanpa pikir panjang.

Kehidupan Suti berubah sejak kedatangan keluarga Sastrosumardi dari Ngadijayan yang tinggal di dekat  makam keramat Pak Parmin. Mereka sering meminta bantuan Suti dan suaminya. Belakangan ibu Suti malah melepas anaknya untuk membantu secara penuh di sana.

Kian lama Suti seakan menjadi bagian dari keluarga itu. Panggilan Bu Satro kepadanya tidak lagi dianggap aneh. Perawakan Suti juga tidak mengecewakan hingga patut jika disebut sebagai anak bungsu keluarga Sastro. Suti hidup diantara sosok ibu yang tegar dan memperjuangkan keluarganya. Pak Sastro yang gagah, Kunto yang pintar dan sering mengajaknya pergi, Dewo si bungsu yang nakal hingga sangat ditakuti para pegundal desa.  

Apa sih, bibit itu? Apa pula bobot apa pula bebet di zaman sekarang ini? demikian Bu Sastro berkata ketika ada yang mengungkit tentang kedekatan keluarganya dengan Suti. Kedekatan itu yang diangkat menjadi konflik dalam kisah ini. Terutama ketika jiwa Suti menuntut lebih.

Buku ini terdiri dari tiga babak. Babak satu mengisahkan tentang kehidupan Suti mulai asal usulnya hingga ia bisa bergabung dan membantu keluarga Sastrosumardi. Babak kedua menguraikan tentang kehidupan Suti sejak menjadi bagian dari kehidupan keluarga Sastrosumardi.  Mulai sejak ia diajak nonton oleh Kunto anak tertua keluarga Sastrosumardi, perasaannya saat merawat Pak Sastro, atau mengunjungi kebun tebu dengan Dewo. Sementara Babak ketiga merupakan penutup.   Segala hal yang semula samar makin menjadi jelas. Kenapa, bagaimana, siapa dan apa terungkap dengan gamblang serta penuh kejutan tak terduga.

Pembaca semula seakan diarahkan untuk menduga pada siapa Siti berlabuh. Penulis seakan mengajak pembaca untuk memiliki khayalan sendiri mengenai para tokoh. Hati-hati, apa yang kita tanggap belum tentu yang sebenarnya.  Bahkan hingga akhir kisah, banyak hal yang masih membuat saya merasa seandainya bagian ini berakhir berbeda, tentunya kisah akan menjadi lebih menarik.

Membaca buku ini membuat saya terhibur. Benar-benar bacaan ringan yang menghibur. Andai konflik yang ada lebih dipertajam tentunya kisah akan berkembang, halaman makin bertambah, hiburan makin banyak didapat he he he.

Pembaca juga mendapat tambahan ilmu mengenai sejarah. Misalnya alasan mengenai pemerintah Belanda mengirim paksa sebagian orang Jawa ke Suriname adalah untuk membangun kebun tebu di sana. Batang-batang tebu itu bisa menjadi tiang penyangga ekonomi Belanda yang nyaris roboh saat itu. 

Tak ketinggalan juga tentang kehidupan masyarakat Jawa saat itu. Sebuah kalimat yang saya sukai karena mengandung banyak filosofi.
Sesuai adat istiadat yang telah berumur ratusan tahun di Jawa, jawaban ya itu sama saja dengan tidak. Jadi, tidak perlu dirisaukan.
Oh ya, ada lagi kalimat yang membuat saya tercenung,  merasa miris. Begitukah tanggapan masyarakat akan status Suti? Bukan mau dia jika ia menjadi seperti itu. Kalimat itu bisa dibaca di halaman 5. 
Perempuan muda itu yatim, dan itu mungkin sebabnya orang desa cenderung menerima sebagai hal yang wajar-sewajar-wajarnya kalau ada berita aneh tentangnya, meskipun mereka tentu juga tahu bahwa orang yatim tidak harus aneh tingkah lakunya.
Penulis juga memberikan uraian mengenai manfaat membaca  di halaman 136 dan 144. Disebutkan bahwa keluarga Sastro berlangganan aneka bacaan. Bu Sastro membaca Penyebar Semangat, mingguan berbahasa Jawa. Pak Sastro melanggan Suara Merdeka serta sering membeli koran dan majalah. Suti mengetahui banyak hal, jauh melampaui teman-temannya sekampung.

Semula saya agak heran dengan kover yang sangat sederhana. Tapi sesudah membaca buku, saya jadi memahami ada filosofi yang terkandung dari makna sumur itu. Dahulu Suti dan sahabatnya mencuci pakaian di kali. Sejak menjadi bagian dari keluarga Sastro, Suti naik derajat mencuci di sumur dengan mempergunakan sabun cuci baju. Kemewahan kecil yang membuat Suti ingin mendapat lebih. Sumur itu juga yang membuat keluarga Sastro menjadi bahan gunjingaan seluruh desa. Keluarga yang dianggap mampu karena memiliki sumur sendiri.

Ada nama seorang bintang film internasional yang sering disebut dalam buku ini, John Wayne.  Lahir di Winterset, Iowa, Amerika Serikat pada 26 Mei 1907, sosoknya mulai berkarier pada era film bisu. Pada tahun 1940-1970 membintangi film-film besar. Ia terkenal dengan perannya sebagai koboi serta film bertema Perang Dunia II. Meski sudah meninggal pada 11 Juni 1979, karyanya tetap masih diminati orang banyak.

Saya penasaran dengan kata ciu.  Dalam Daftar Kata dalam Bahasa Jawa, saya berusaha mencari makna atau kata itu dalam bukuternyata tidak ada. Selanjutnya saya berusaha menggali ingatan tentang minuman itu. Jika tidak salah, ciu sebenarnya adalah minuman tradisional yang terbuat dari tetes tebu yang difermentasi. Hal itu relevan dengan kisah yang sering menggambarkan Dewo serta teman-temannya beraktivitas di ladang tebu

Pengalaman membaca karya pertama yang tidak terlalu mengecewakan. Saya memberikan bintang 3,5. Jadi mau coba baca buku judul lain, siapa tahu cocok juga ^_^


Sumber gambar:
 https://en.wikipedia.org


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar