Jumat, 01 Januari 2016

2015 #117-118: Sentuhan Karya Peter van Dongen

Sebuah paket buku mendarat di kantor saya. Sempat ge er nih mau dapat paket buku, apa lagi lihat buntelannya cukup besar. Ternyata, hiks tertipu deh. Itu buku-buku yang dikembalikan oleh Raafi he he he. Ada buku tentang naga dari IRF 2015 (setahun lebih!) serta 2 buku yang dipakai saat persiapan acara Peter van Dongen beberapa waktu yang lalu

Karena baru kembali dari pergi jauh (ih sok melo), jadi biarlah kedua buku ini menjadi buku-buku yang direpiu di akhir tahun 2015. Keduanya terkait karena ada unsur karya Peter van Dongen. Buku pertama, Lost City of Z mengusung ilustrasi kover oleh Peter. Sementara buku Rampokan Jawa & Selebes merupakan buku karya Peter.


Judul: The Lost City of Z
Penulis : David Grann
Ali bahasa: Primadona Angela
Editor: Lulu FitrinRahman
Desain sampul: Peter van Dongen
ISBN: 9786020313801
Halaman: 463
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Dalam buku ini, Peter hanya berpean sebagai ilustrasi sampul saja, Tapi kebanyakan pembeli akan memilih sebuah buku karena tertarik pada kover buku tersebut. Hal yang tak bisa dipungkiri. Peter membuat sampul buku ini dengan begitu menawan. Menggabungkan antara nuansa hutan yang misterius  dengan sensasi petualangan yang bisa didapatkan. Apalagi jika sisi yang ditekuk dibuka, nuansa menawan makin terlihat.

Buku ini mengisahkan tentang kota Z yang hilang serta upaya mencarinya. Semula saya mengira ini adalah buku fiksi, tapi ternyata saya salah. Ini buku non fiksi yang agak berat bagi saya ^_^ apalagi dengan metode bercerita yang cenderung mempergunakan kalimat dan paragraf panjang.  Oh ya satu hal yang agak membosankan bagi saya adalah adanya fakta atau uraian yang diulang beberapa kali. Seharusnya jika sudah diungkap tidak usah disebut lagi. Untungnya saya terbantu dengan huruf yang nyaman bagi mata.

Seorang penjelahaj legendari Inggris, Percy Fawcett memasuki hutan Amazon mencari kota Z,  El Dorado. Fawcett mengajak anak lelakinya yang berusia 21 tahun, Jack serta sahabatnya Raleigh Rimel. Hilang tahun 1925. Ia tidak pernah kembali. Seorang wartawan, David Grann menuturkan kisah tersebut.

Saat itu, tentunya belum teknologi belum seperti saat ini, berbagai peralatan canggih tersedia guna memudahkan pekerjaan. Tapi saat itu hanya ada peralatan sederhana seperti parang, golok, tali dan sejenisnya.

Selanjutnya ada upaya mencari jejak  Percy Fawcett dipimpin oleh seorang bankir Brasil berusia 42 tahun bernama James Lynch. Tentunya butuh banyak persiapan mencari  orang yang sudah hilang selama 80 tahun lalu. Ekpedisi tersebut merupakan hal yang mengandung banyak tantangan dan mungkin saja mustahil dilakukan. Peringatan profesor kepada anak laki-lakinya, "Apabila dengan semua pengalamanku aku tak mampu melakukannya, sungguh kecil harapannya orang lain bisa

Meski bukan penulis buku ini, Peter tetap berkenan memberikan tanda tangan. Terima kasih sekali Peter *big hug*. Juga Raafi yang berkenan menggantikan saya untuk minta tanda tangan. Saat H- sekian mendadak saya mendapat tugas dari jenderal di rumah untuk menemani ke Solo. Dari pada saya dikutuk jadi kodok, lebih baik saya saya ikut dan kehilangan kesempatan bertemu dengan Peter ^_^
 
Judul: Rampokan Jawa & Selebes
Penulis & ilustrator: Peter van Dongen
Alih bahasa Jawa: Barnie M. Liem
Alih bahasa Selebes: Egbert Wits
Penyelaras aksara: Anggi Minarni
Tata letak isi: Era Saptiana
Desain sampul: Ryan Pradana
ISBN:9786020307701
Halaman: 168
Cetakan Pertama-2014
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Kisahnya tentang seorang pria kelahiran Selebes yang kembali ke Indonesia pada era kemerdekaan. Johan Knevel berangkat mempergunakan kapal. Tanpa sengaja ia membunuh seorang komunis Beanda bernama Erik Verhagen.  Ia menjadi merasa dihantui oleh rasa bersalah dan arwah rekannya tersebut. 
 
Sekedar untuk memudahkan perjalanan, ia mempergunakan identitas Erik. Ternyata ia justru diburu Belanda karena Erik adalah seorang komunis yang dicari.  Johan lalu pergi ke Makasar mencari pengasuhnya dahulu, Ninih.
  
Sebenarnya saya agak sulit menikmati kisah ini, konsentrasi saya agak terpecah. Disatu sisi sibuk membaca kalimat yang ada, sisi lain sibuk menikmati gambar yang dibuat oleh Peter. Meski hanya terdiri dari dua warna, tapi kisah disajikan dengan apik.

Banyak detail yang disajikan dengan baik sehingga tak heran butuh waktu sekitar 6 tahun bagi Peter untuk menyelesaikan buku ini. sekedar usul, mungkin Peter harus lebih mengenal ciri khas orang Indonesia. Karena tiap suku memiliki ciri keunikan sendiri. Saya merasa Peter menyamakan sosok orang Indonesia dengan ciri khas Asia secara umum. Sosok orang Betawi, Bugis atau lainnya seakan ditampilkan dalam wujud menyerupai orang dengan mata sipit. Tentunya menjadi tidak pas.

Andai buku sejarah juga disajikan dalam versi ini tentunya akan menyenangkan. Makin banyak yang tertarik untuk bisa belajar sejarah. Dalam buku ini kita akan mendapat informasi mengenai kehidupan di era kemerdekaan, saat Jepang kalah dan Belanda ingin kembali ke tanah air.

Saat kecil, Peter sering mendengar dongeng tentang kehidupan masyarakat Jawa Buktinya kita akan menemukan tentang.budaya Rampok Macan yang kondang pada abad ke-19 di daerah Kediri. Merupakan semacam kegiatan budaya dimana prajurit kerajaan dan masyarakat memburu  seekor macan. Lalu prajurit Kerajaan Majapahit harus berhasil membunuhnya. Jika macan itu lolos maka kan terjadi bencana besar bagi negara dan rakyat.

Sekali-kali perlu juga kita mengetahui bagaimana pandangan seorang  pengarang Belanda. Tentunya Peter sudah sangat berusaha profesional menjalankan pekerjaannya.

-----------
Review ini terpaksa dibuat dalam versi world sebelum akhirnya sambungan internet normal. Akhirnya...siang ini bisa posting, padahal reviewnya sudah selesai sejak tanggal 31 Desember 2015.

Betapa, urusan review membuat saya tergantung dengan jalur internet. Hadeh...
 










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar