Kamis, 21 Januari 2016

2016 #10 : Tewasnya Gagak Hitam yang Tak Tuntas




Buku ini "merepotkan saya"
Saya dan banyak pihak tepatnya, plus si penulis. Bayangkan buku ini kembali ke penulis yang mengirim dengan catatan nama tidak dikenal! Weh....! Yang benar saja! Selama ini paket-paket untuk saya selalu sampai dengan baik dan benar bahkan yang dari luar negeri. Penulis terpaksa harus mengirim ulang diantara kesibukan pelatihannya. Juga menunggu redanya hujan siang hari-hari ^_^. Akhirnya Rabu, 20 Januari 2015 buku ini berhasil mendarat di meja saya. Letihkah bolak-balik Pontianak-Depok? 

Selanjutnya, saat membaca hingga halaman 20 saya kembali "repot" dengan buku ini. Ada hal yang sangat mengganggu saya. Celakanya, hal seperti itu bisa merusak seluruh penilaian saya terhadap isi buku.  Saat saya cerita ke yayang, jawabannya bisa ditebak. Namanya juga fiksi, boleh berbeda. Ih..., fiksi memang bisa dibuat apa saja, tapi ya harus tetap sesuai dengan nalar apalagi jika terkait sebuah profesi. Agar tidak salah, saya mencoba konsultasi dengan banyak pihak terkait. Duh, maafkan saya yang jadi super kepo mas penulis. Tapi ini demi dunia perbukuan kita *uhui*

Untuk yang belum tahu, buku ini sudah ada di GRI dan sudah mendapat bintang yang lumayan tinggi. Silahkan dibaca jika ingin tahu sinopsisnya.  Link GRI di sini. Situs penjualan buku ol dunia juga sudah menjual buku ini seharga $ 8.00. 

Saya mungkin berbeda dengan mereka. Apa yang saya tulis adalah apa yang saya rasakan. Sederhana saja. Dan secara personal saya tidak punya masalah dengan si penulis. Hubungan pertemanan kami cukup baik, makanya saya termasuk yang pertama memesan buku ini.

Dan karena pertemanan itu juga, saya tidak akan sungkan mengatakan bahwa buku ini jauh dari harapan saya. Semula saya mengharapkan membaca sebuah kisah detektif yang seru, dengan logika dan penjabaran yang ok. 

Kisah ini dibuka dengan memberikan latar belakang kehidupan tokoh utama, Elang sang pelukis.
Tokoh Elang yang digambarkan memiliki kekasih gelap, menawarkan nuansa yang lain. Biasanya tokoh dalam sebuah kisah digambarkan sebagai sosok yang sempurna oleh penulisnya. Elang, justru berbeda. Ia digambarkan sebagai manusia utuh dengan kelebihan minus kekurangan. Saya langsung bersemangat melewati bagian ini, merasa kisah ini akan berbeda dengan kisah lainnya.

Selanjutnya, saya dimanjakan dengan pandainya penulis mengisahkan tentang Elang dan kekasih gelapnya, kepandaian Elang mengamati banyak hal serta larisnya karya Elang. Membaca tentang Elang dan Irin membuat saya teringat sebuah lagu lawas. 

Namun menginjak eh membaca halaman 20 saya langsung terkena serangan tidak nyaman yang luar biasa ketika membaca kalimat, "Matanya terhenti pada sebuah kiriman tautan dari temannya bernama Effendi Radaya, tentang peristiwa bunuh diri itu. Effendi menuliskan di atas tautan itu: Sayang sekali, kasus ini masih menjadi misteri. Saya masih belum percaya, pengarang ini gantung diri tanpa sebab eksternal. Ia merenung sejenak...." Sudah bisa mengira-ngira kenapa saya terkena serangan?

Belum juga? Selanjutnya di halaman yang sama tertulis, " .... Oh ya, saya tertarik dengan berita bunuh diri yang baru Bapak bagikan. Apakah kita bisa mengobrolkannya? Kebetulan saya sedang berada di Singkawang." 

Baiklah kalau tidak merasa ada yang janggal. Buat saya seorang polisi yang membuat status di sosmed bukan hal yang salah atau aneh. Tapi menjadi aneh karena ia membagikan sebuah kasus dan menyebutkan keraguan tentang kasus yang sedang diselidiki. Bukankah ini bisa menggiring opini publik pada sebuah kasus? Juga membuat penyelidikan bisa jadi terhambat karena si pelaku (jika memang ada tindak kejahatan) bisa melakukan banyak hal guna mengamankan dirinya agar tidak tertangkap.

Jadi makin aneh karena baik Elang maupun Effendi Radaya sebenarnya sudah berteman di FB selama setahun tapi tidak pernah saling sapa. Mendadak Elang mengirim pesan mengajak "mengobrolkan" kasus itu. Obrolan memang tidak ada yang melarang tapi bukankan ada kode etik yang melarang polisi membicarakan kasus?

Saya bertanya pada beberapa orang yang sangat kompeten perihal pekerjaan polisi. Menurut mereka, kasus yang masih dalam penyelidikan tidak boleh diungkap ke publik. Termasuk informasi yang dikecualikan untuk dipublikasikan. Karena apabila dipublikasikan bisa mengganggu atau menghambat penyelidikan. Kasus hanya boleh diungkap dengan wawancara resmi dengan wartawan atau konferensi pers. Bukan polisi penyidik secara individual nyetatus di FB.  Sebelum diungkap ke publik  juga ada proses yang namanya uji konsekuensi . Salah seorang rekan malah mengirim pasal-pasal terkait pertanyaan saya. Waduh....! Maaf merepotkan kalian ya.

Baiklah, mungkin ada yang menganggap saya terlalu mengada-ngada hanya karena hal itu. Toh mereka hanya ngobrol sekedar, biasakan polisi bikin status, masyarakat bisa kok bantu polisi. Tapi bagaimana yang tercantum di halaman 37? Sebenarnya dimulai dari halaman 26 saya kembali terkena serangan.

Pada halaman 26 disebutkan bahwa Effendi bertemu dengan Inspektur Agung Prasetyo penyelidik kasus kematian Gagak Hitam yang diminati Elang. Si Inspektur tertarik untuk berkenalan. Maka Effendi menjemput Elang untuk diajak ke kantor polisi.

Tidak ada yang salah jika mereka berkenalan. Siapa saja boleh berkenalan dengan polisi khan. Tapi jadi makin ngawur ketika Agung menyodorkan foto-foto dari TKP kepada Elang. Mereka bahkan mendiskusi foto tersebut layaknya sepasang polisi mendiskusikan sebuah kasus.

Makin terkena serangan saya ketika Inspektur Agung mengatakan, "Yuk, kita ke rumah kos itu." Artinya ia mengajak  Elang ke TKP. Lalu di halaman 43 tertulis, "tadi kau sudah dapat identitas baru: kalau ditanyai, namamu Brigadir Yono" Pingsan dengan cantik saya. 
  
Kesimpulan yang saya peroleh sejauh ini adalah Elang membaca  tautan seorang polisi-teman FB yang selama setahun tidak pernah saling menyapa. Ia merasa tertarik  lalu mengajak bertemu untuk mendiskusikan kasus itu. Selanjutnya Elang malah dikenalkan pada polisi yang bertugas untuk menyelidik kasus tersebut, Agung. Inspektur Agung mendiskusi kasus yang ia selidiki dengan Elang-seorang warga sipil biasa, termasuk memperlihatkan  foto-foto TKP. Merasa perlu mendapat informasi lebih lanjut Agung mengajak Elang ke TKP dengan menyebutkan sebagai Brigadir Yono. Elang berubah menjadi polisi guna membantu penyelidikan Agung.

Dan saya menghentikan membaca pada halaman 53.

Ini memang kisah fiksi dewasa, tapi tetap saya merasa tidak sreg. Mungkinkan begitu di kehidupan nyata? Mungkinkah cara kerja polisi seperti itu? narasumber saya jelas menyangkalnya.

Mendadak saya jadi teringat pada sosok Hercule Poirot dan Kapten Arthur Hastings.  Mereka bekerja sama guna memecahkan sebuah masalah. Kadang, justru Inspektur Japp yang membeberkan sebuah kasus pada Poirot guna mendapat saran-saran. Seringnya Poirot justru melakukan penyelidikan sendiri dengan gaya uniknya lalu menyampaikan hasil penyelidikannya pada si Inspektur.Mungkinkah penulis ingin seperti itu? Seorang warga sipil biasa membantu kerja polisi.  

Dalam buku S.Mara Gd kita akan menikmati kisah pasangan polisi Kapten Kosasih dan Gozali dalam menyelesaikan sebuah kasus. Gozali mantan pencuri dengan prinsip tidak boleh melukai korban. Dikisahkan juga butuh waktu sehingga Gozali bisa dijadikan semacam bantuan bagi pihak kepolisian. 

Atau kisah Pulung yang memiliki paman polisi hingga ia bisa mendapat banyak kemudahan saat melakukan penyelidikan. Tapi jangan lupa, Pulung juga sering dimarahi oleh pamannya karena dianggap mengganggu penyelidikan.

Elang dan Agung baru bertemu. Bagaimana bisa Agung begitu percaya pada Elang? Kenapa ia bisa membeberkan kasus yang masih dalam penyelidikan? Bahkan menugaskan Elang untuk melakukan pekerjaan polisi dengan mengakuinya sebagai polisi. Sebegitu putus asakah Agung dalam bertugas? Sebegitu lebai-kah Effendi sehingga membuat status seperti itu? Elang menjadi pahlawan sementara kedua polisi menjadi pelengkap penderita dengan banyak hal yang tidak masuk akal.

Saya berhenti saja.
Sebelum makin banyak serangan yang datang bertubi-tubi. Padahal sepertinya kisahnya mulai seru.
Ada yang menyarankan saya untuk menikmati saja kisahnya tanpa mempertimbangkan banyak hal. Ternyata susah sekali.
Buku ini, mungkin bukan untuk saya.




3 komentar:

  1. "Saya sudah melepas buku itu ke pembaca, saya merasa tidak perlu menyanggah atau "membela" karya saya, biar pembaca yang sepenuhnya menilai. Kritik saya terima dengan lapang dada. smile emoticon"

    Komen penulis yang patut diacungi jempol!!!
    Semoga kita berjodoh dibuku yang lain yaaa Sidik Nugroho

    BalasHapus
  2. kunjungi web kami www.rajaplastikindonesia.com

    CP 021 2287 7764 / 0838 9838 6891 (wa) / 0852 8774 4779 pin bbm 5CFD83E7

    BalasHapus