Minggu, 03 Januari 2016

2016 #2-3: Menikmati karya V Lestari



Sebelum menyukai kisah fantasi, saya menyukai kisah misteri, dan detektif . Cerita detektif adalah cabang fiksi kriminal yang berpusat pada penyelidikan sebuah kejahatan oleh seorang detektif, polisi atau seseorang yang dianggap memiliki kemampuan setara itu. Kejahatan bisa pembunuhan dan lainnya, tapi pada umumnya memang terkait urusan hilangnya nyawa orang.

Nama-nama penulis dunia bisa ditemukan di rak buku saya. Tidak hanya penulis dari luar, tapi juga penulis lokal.  Urusan kisah misteri, di tanah air kita juga dikenal nama S. Mara Gd  dan  V Lestari.  Sosok  V.Lestari dilahirkan di Bogor. Tokoh yang berperan sebagai detektif dalam bukunya adalah perempuan. Novel pertamanya, Yang Tak Ternilai, terbit tahun 1982. Sejak itu sudah lebih dari 30 novelnya diterbitkan Gramedia. 

Belakangan, entah kenapa saya kurang cocok membaca kisah detektif buatan penulis lokal. Ada greget yang seakan hilang. Untuk mengobati kerinduan yang ada, saya mulai mengumpulkan buku-buku karangan penulis detektif lama.

Saat IRF 2015 kemarin, saya mendapatkan harta karun berupa dua buah buku karangan V Lestari. Buku pertama berjudul  Sentuhan Sayang setebal 600 halaman lebih, cetakan kedua. Sementara buku yang lain adalah Cinta yang hilang setebal 176 halaman, cetakan pertama.

Mungkin buku ini sudah tidak diinginkan oleh pemiliknya sehingga ada di area bookswap. Tapi begitulah, buku yang saya koleksi mungkin tidak akan dikoleksi oleh orang lain. Bisa saja buku yang saya letakkan di meja swap adalah hartu karun bagi orang lain. Berbagi dengan indah ^_^

Judul: Sentuhan Sayang
Penulis: V Lestari
Desain dan ilustrasi cover: Eduard Iwan Mangopang
ISBN 10: 9792225889  
ISBN13: 9789792225884
Halaman: 648 
Cetakan: Kedua-Juni 2007
Penerbit: PT Gramedia Pustaka 
Rating: 3/5


644 halaman!
Hal pertama yang membuat saya tercengang! Bukan main buku dengan setebal ini, menawarkan kisah detektif seperti apa? Apakah dalam sebuah kasus ada banyak tersangka? Atau sebuah kasus mengacu pada kasus yang lain? Atau.... banyak pertanyaan yang timbul dalam benak saya.

Setelah membaca setengah buku ini, saya terpaksa menurunkan penilaian awal. Kisahnya agak berbelit-belit sehingga berkesan membosankan. Padahal awalnya sudah sangat menggoda.

Pada sinopsis sudah diarahkan bahwa persoalannya bukan saja pada tokoh yang mendadak meninggal tapi juga ada urusannya dengan peminjaman uang dan perselingkuhan. Motif apa lagi yang lebih baik dari itu? Uang dan cinta. 

Sebenarnya salah satu kekurangan kisah ini ada pada pelaku penyelidikan. Seandainya polisi yang bertugas menangani kasus diberikan bobot yang lebih besar tentunya kisah akan lebih seru. Tapi penulis justru seakan sibuk membuat adegan drama tiada henti antara para tokohnya. 

Buku ini membuat saya merasa betapa rumitnya kehidupan berumah tangga serta bertetangga. Serta betapa cinta kadang berlabuh dengan cara yang sukar dipercaya. 

Bagi yang ingin tahu sinopsis kisah ada di:

Judul: Cinta yang Hilang
Perancang sampul: David G
Halaman:176
Ceakan: Pertama-1993
Penerbit: TRIKARYA, Jakarta

Dibandingkan dengan buku satunya, buku ini cenderung langsung pada sasarannya. Dengan 176 halaman, kisah menjadi singkat dan padat. Oh ya, detektifnya kali ini seorang pria bernama Joko, adik dari korban yang bernma Sumiati.

Kisahnya semula sangat sederhana. Suami Sumiati mendadak tidak pulang ke rumah. Pagi hari ia pergi ke kantor seperti biasa tapi tidak pernah kembali lagi ke rumah. Sang istri tak pernah lelah mencarinya. Mulai dari sekedar membaca berita mayat ditemukan, mendatangi kantor hingga meminta bantuan orang pintar. 

Pak Bachtiar bukan pengusaha sukses, atau pria yang suka neko-neko. Ibu Sumiati memiliki profesi sebagai penjahit dengan langganan para orang kaya, dari istri pejabat hingga penyanyi. Sehingga kecil kemungkinan ada orang yang menculik dan meminta tembusan uang. Perkawinan selama 7 tahun juga adem-ayem mesti tanpa adanya anak.

Ternyata urusannya bukan pembunuhan!
Seseorang bisa saja berubah dan keluar dari zona nyaman saat ada kesempatan. Ia yang selama ini hanya diam bukan berarti tidak bisa bicara, mungkin tidak diberi kesempatan atau tidak dihargai saat bicara. 

Tidak hanya dibutuhkan cinta sepasang suami-istri dalam mengaruhi bahtera rumah tangga. Dibutuhkan juga pengertian, saling menghargai dan kesempatan untuk bisa berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Kenapa buku ini jadi mengingatkan saya pada seseorang ya...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar