Senin, 04 Januari 2016

2016 #4: Kisah Godfather versi Indonesia


Judul asli: Sudut Mati
Penulis: Tsugaeda
Penyunting: Pratiwi Utami, Ika Yuliana Kurniasih, Adham T. Fusama
Perancang sampul: Bara Umar Birru
Pemeriksa aksara: Pritameani, Intan, Septi ws
Penata aksara: Aryazendi
ISBN: 9786022910374
Halaman: 344
Cetakan: Pertama-September 2015
Penerbit: PT Bentang Pustaka
Rating: 4/5

Buku sering berjodoh dengan saya melalui cara yang unik. Pepatah yang menyebutkan jika jodoh tidak akan kemana, sangat tepat untuk menggambarkan saya dan buku ini. Sempat melihat di toko buku tapi agak ragu membelinya. Maklum trauma dengan kalimat  Sebuah Novel Thriller Korporasi

Beberapa buku yang mengaku merupakan kisah thriller malah membuat saya tertawa. Bukannya hanyut dalam cerita, malah gregetan ingin merombak cerita menjadi masuk akal. Untungnya buku ini membuat saya lupa diri.

Buku ini mendarat dalam tas saya berkat campur tangan Pieter dari Penerbit Mizan. Sebagai hadiah karena saya sibuk koar-koar meramaikan acara di booth mereka saat IRF yang lalu. IRF lagi he he he, maklum program babat timbunan.

Kisahnya unik, meski membaca buku ini membuat saya teringat akan kisah Godfather besutan Mario Puzo. Adalah Titan, anak yang semula tidak ingin ikut campur tangan urusan keluarga mendadak pulang dari Amerika dan langsung melakukan banyak perubahan pada Grup Prayogo. Meski perubahan itu tidak populer, tapi mampu membuat kondisi keuangan yang berada di zona merah, perlahan tapi pasti bergeser ke arah hijau. 

Titok sang kakak merasa tersisih. Sebagai anak pertama, secara otomatis ialah yang mewarisi kekuasan sang ayah,Sigit Prayogo.  Ia menuntut segara diberikan limpahan kekuasaan sementara sang ayah sedang sibuk mencalonkan diri sebagai presiden hingga berkurang waktu untuk perusahaan.

Berbagai upaya dilakukan sang ayah demi meraih kursi presiden, termasuk memanfaatkan ketenaran putri semata wayangnya, Tiara sang artis sinetron.  Hem... penguasa yang jadi capres dengan berkampanye mempergunakan anak yang kebetulan artis membuat pikiran saya menjadi terarah pada salah seorang pengusaha. Sindirankah?

Tentunya harus ada yang menjadi saingan Grup Prayogo sehingga kisah menjadi seru, yang mendapat peran adalah Grup Ares. Makin mirip dengan kisah Godfather ketika Kevin, putra tunggal penguasa grup itu menikahi Tiara, putri musuh besar keluarganya, Pernikahan yang dilakukan demi sebuah proyek balas dendam.

Dalam sebuah keluarga, ada yang berperan menjadi kambing hitam. Dialah Teno anak kedua dalam keluarga Prayogo. Teno selama ini berada dalam tahanan dengan tuduhan membunuh ibu kandungnya. Sikapnya juga sangat eksentrik. Ia sering dipuja karena orasinya, dilain waktu justru membubarkan sebuah pertemuan dengan perkatan singkatnya. Tito bahkan sudah menyusun sebuah Manifesto. Salah satu yang harus ia lakukan adalah menyingkirkan ayahnya!

Selanjutnya kisah dalam buku ini membuat saya kedanan, tidak ingin meletakkan sebelum kisah berakhir.  Alurnya cepat tidak bertele-tele. Pemilihan kata sangat efisien namun mampu menyampaikan secara pas apa yang ingin dikemukakan oleh sang penulis. Kejahatan krah putih bercampur dengan harmoni dengan baku hantam ala preman pasar. 

Ilustrasi yang ada dalam buku ini juga luar biasa bagus! Sebenarnya merupakan gambar sederhana saja, tapi efek yang ditimbulkan besar dan sesuai dengan jalan cerita. Sosok seorang pria yang sedang menghadap ke jendela, memperhatikan gedung dan suasana di luar sambil memegang segelas minuman. Kesan yang ditimbulkan adalah sosok seorang pria yang memiliki kekuasaan tak terbatas. 

Semula saya ingin memberikan bintang 5, tapi karena pertimbangan beberapa hal terpaksa jadi dikurangi. Pertama, adanya pemakaian istilah dalam bahasa asing tanpa ada terjemahannya. Collateral damage sebagai contoh.  Tidak semua orang mengerti apa itu maksudnya. Akan lebih baik jika ada catatan kali mengenai kata itu.


Sosok pembunuh nomer wahid sudah terbuka kedoknya di bagian agak tengah kisah. Tapi kepastiannya saya temukan di halaman 2xx. Seandainya penulis tidak membuat adegan tentang kenangan Tiara di New York pasti rahasia itu akan aman dan makin membuat penasaran pembaca.

Meski kisah ala mafia sering diakhiri dengan terbunuhnya saingan, tapi dalam kisah ini mereka mati dengan terlalu mudah. Bukan! Bukan saya kejam, tapi bayangkan betapa saya tidak gemas, setelah melakukan banyak petarungan dengan berani, akhirnya  salah satu tokoh kalah dan meninggal dengan cara yang konyol. Ibarat jagoan, lolos dari aneka peluru dan lemparan pisau, tapi ia justru mati tersedak duri ikan. 

Saya penasaran dengan "..." yang sering muncul dalam kalimat. Maksudnya apa ya? Apakah maksudnya jeda? Maklum kemampuan tata bahasa saya minim, jadi penasaran jika melihat yang agak tidak biasa.

Oh ya, satu lagi kekuatan buku ini adalah pada para tokoh. Para tokoh digambarkan sebagai karakter yang kuat, bahkan sosok sang ibu yang sudah meninggal pun mampu menciptakan aura tersendiri. Meski demikian sosok Titan yang digambarkan sebagai manusia utuh (ada plus dan minusnya), kurang terasa berwibawa dibandingkan sang kakak Titok. Bahkan Teno pun digambarkan sebagai sosok misterius berdarah dingin yang mampu menciptakan bulu kuduk seseorang berdiri hiiiiii!

Kalimat yang sangat saya sukai adalah kalimat yang diucapkan oleh Teno, "Kesamaan pendapat bukan berarti kesamaan posisi. Mantap!


--------
Mendadak jadi ingat!
Pingin tahu semata, kenapa ya penyuntingnya banyak bingits? 3 lawan 1 lho. Wah wah wah jadi penasaran ada apa dibalik tiu? *Bikin sensasi ngak jelas*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar