Sabtu, 30 Januari 2016

2016 #11:The Last Dragonslayer

Penulis : Jasper Fforde
Penerjemah: Inggrid Dwijani Nipoeno
Pwnyunting: Dyah Agustine
Proofreader: Emi Kusmiati
ISBN : 9789794339046

Halaman: 265
Cetakan: Pertama-Oktober 2015
Penerbit : Mizan Fantasi
Harga: Rp 49.000
Rating: 3/5

Selamat datang di dunia dimana sihir sudah dianggap bagian dalam kehidupan!

Seperti yang diungkapkan oleh  Jennifer Strange seorang anak magang di agensi penyihir, semua orang bisa menyihir sedikit. Jika kau memikirkan seseorang, lalu telepon berdering dan orang itulah yang menelepon, itu adalah sihir. Jika kau merasa curiga bahwa dirimu pernah menjadi atau melakukan sesuatu sebelumnya, maka itu juga sihir. Ada di mana-mana. Merembes ke dalam tatanan dunia dan mengalir keluar sebagai peristiwa kebetulan, takdir, peluang, keberuntungan, dan lain-lain. Masalah utamanya adalah membuat sihir itu bekerja untukmu dengan cara yang berguna.   

Para penyihir menyelamatkan kerajaan merupakan hal hebat, dulu. Sekarang mereka harus melakukan hal-hal konyol agar bisa bertahan hidup. Misalnya mengganti rangkaian listrik di sebuah rumah, memindahkan mobil yang salah parkir, bahkan hal  mengirim pizza dengan karpet. Meski begitu, menyihir orang menjadi kodok tetap tidak diijinkan, walau ada juga yang nekat memberikan tawaran bayaran menggiurkan. Para penyihir bergabung dalam sebuah agensi. Salah satunya adalah tempat dimana Jennifer berada sekarang Menara Zambani.

Para penghuni menara merupakan gabungan aneka penyihir dengan berbagai keahlian. Salah satunya keahlian mendapat pengelihatan mengenai masa depan seperti yang dimiliki oleh Kevin Zipp.

Kali ini ia mendapat gambaran bahwa Maltcassion, naga terakhir yang berada di Tanah-Naga akan terbunuh oleh pedang Pembantai-Naga terakhir. Hal tersebut segera menimbulkan kegemparan. Bukan karena sang naga tapi karena lokasi tempat naga itu berada, Tanah-Naga.

Tanah-Naga merupakan tempat dimana para naga tinggal. Hanya Pembantai-Naga dan asistennya yang bisa memasuki wilayah tersebut. Berdasarkan dekrit kuno, Tanah-Naga akan menjadi milik siapa pun yang menuntut kepemilikannya begitu sang naga terakhir mati.  Artinya begitu naga terakhir mati maka siapapun bebas memasuki wilayah itu dan menuntut kepemilikannya. Mulailah terjadi keributan memperebutkan tanah tersebut.  Bahkan raja negara tersebut juga ikut berebut. 

Sebuah peristiwa tak terduga mengubah Jennifer dari seorang anak terlantar pengelola Menara Zambani menjadi Pembantai-Naga terakhir. Satu lagi beban yang harus ia tanggung, seakan selama ini ia belum cukup mengalami kerepotan mengurus para penyihir.

Secara garis besar buku ini menawarkan kisah yang agak berbeda dengan kisah terkait naga yang ada. Naga dalam kisah ini, meski tidak menunjukkan kehebohan dengan cakar dan semburan apinya tetap memiliki peranan yang cukup penting dalam kisah.

Perebutan kepemiikan tanah mengingatkan saya akan perebutan kepemilikan tanah yang terjadi saat ini. Sebuah tanah bisa saja dimiliki oleh beberapa orang dimana masing-masing memiliki satu surat kepemilikan. Bisa aspal atau bahkan memang palsu.

Pesan moral selain perihal sifat keserekahan yang bisa menimbulkan peperangan,juga menunjukkan bahwa kelicikan bisa membuat seseorankehilangan nyawanya. Seperti yang dilakukan oleh asisten Jennifer.

Entah kenapa, sepertinya kisah dalam buku ini hanya berkutat disekitar urusan pembunuhan naga yang bisa berakibat pada perebutan kekuasaan atas sebidang tanah. Pembaca lebih sering menemukan kisah mengenai Jennifer yang sibuk bolak-balik antara menara dan markas besar Pembantai NagaTidak ada hal lain. Meski pada bagian akhir kita akan menemukan beberapa kejutan. Tapi tetap saja kurang greget bagi saya. Atau karena ini buku pertama ya, urutannya The Last Dragonslayer, The Song of the Quarkbeast, The Eye of Zoltar  entahlah.

Pelajaran penting yang bisa dipetik secara tidak langsung adalah bagaimana media bisa berdampak besar pada suatu peristiwa. Ramalan mengenai peristiwa tersebut disiarkan oleh banyak media. Tapi tak ada yang bisa mendapatkan kapan waktu tepatnya peristiwa itu terjadi. Media berebut mengajukan tawaran pembayaran pada Jennifer untuk bisa mendapatkan informasi lengkap. Penting bagi mereka untuk menjadi yang pertama menyiarkan waktu secara tepat kapan peristiwa itu terjadi. 

Bagaimana sebuah peristiwa bisa dimanfaatkan guna sebagai ajang promosi guna meningkatkan penjualan juga bisa kita ketahui dalam kisah ini. Jennifer terpaksa setuju untuk menjadi iklan sebuah produk demi membebaskan diri dari tuntutan tunggakan yang tak pernah ia tahu.

Sungguh, sebenarnya saya agak kasihan pada Jennifer. Betapa repotnya ia harus mengurus dua hal sekaligus dalam usia yang masih cukup muda. Satu lagi, kisah yang mengusung sosok anak remaja sebagai penyelamat.

Naga merupakan hewan yang sering muncul dalam kisah fantasi sejak dahulu. Ada yang menganggap naga pernah ada dan hidup berdampingan dengan manusia, tapi ada juga yang menganggap sebagai hewan khayalan. Nyata atau tidak, naga sudah sering menjadi tokoh dalam kisah. Misalnya kisah putri yang ditahan dalam kastel dimana seorang pangeran harus membunuh seekor naga untuk membebaskannya

Ada sedikit penasaran ketika membaca yang tercetak di halaman 54. Disebutkan bahwa Jennifer sedang bercakap-cakap dengan Tiger Prawns, anak telantar ketujuh perihal Perang Troll. Mendadak ada kata Macan. Apakah maksudnya nama si Tiger yang diterjemahkan secara tidak sengaja? 
"Banyak orangtua yang hilang dalam Perang Troll," kataku.
"ya," kata Macan dengan suara pelan. "Banyak."
Malam semakin larut. Aku menggeliat dan berdiri. "Hari pertama yang baik. Tiger, terima kasih.'

Jangan lupa mampir ke situs resmi penerbit http://www.jasperfforde.com

Jadi mengkhayal, kalau saat ini seperti setting kisah dimana penyihir terpaksa melakukan hal-hal sepele hingga luar biasa agar bisa bertahan hidup. Mungkin saya akan minta dibawa ke beberapa tempat pada tahun kebelakang untuk membeli beberapa buku yang akan menjadi antik dimasa depan, pastinya buku Little Women dan Alice in Wonderland. Juga pergi ke masa depan untuk melihat buku apa yang sedang in sehingga bisa memborong di masa lalu untuk kelak dijual. Bisa juga jadi pedagang barang antik nih*khayalan tingkat tinggi ah*

3 komentar:

  1. Wahahahaha... kelewat ga digantiii.... Karena nama, jadi seharusnya Tiger ga diterjemahin jadi Macan. So sorry and thank you, Mbak Truly ^^
    *catet

    BalasHapus
  2. wkwkwk iyah aku agak kaget sama si Macan itu.
    Tapi benar, kenapa ya sis kurang greget? apa karena buku pertama?
    *nunggu bocoran*

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus