Rabu, 23 Desember 2015

2015 #109; Referensi Tentang Warisan Dunia Situs Dan Budaya Masyarakat Di Indonesia


Terima kasih untuk Perpustakaan Aldo Zirzov yang membuat buku ini bisa mendarat di rak buku saya. Sebenarnya ada beberapa judul lagi, tapi baru ini yang saya selesaikan.

Buku jenis ini di kantor disebut buku referensi, tempatnya juga khusus tidak bergabung dengan buku lainnya. Buku referensi adalah buku yang dapat memberikan keterangan mengenai suatu hal. Misalnya topik tertentu, tempat, peristiwa,data statistika, pedoman,alamat, nama orang, riwayat orang-orang terkenal, dan masih banyak lagi.

Membaca buku jenis ini membutuhkan waktu yang khusus, bagi saya lho. Selain ukurannya yang besar sehingga tidak mungkin dipangku. butuh pemahaman ekstra untuk meresapi isi buku ini. Pengetahuan saya bertambah sesudah membaca buku ini, sebuah hasil yang sepadan.


Buku yang pertama saya baca adalah Warisan Dunia Situs dan Budaya Masyarakat di Indonesia. Tidak ada alasan khusus  mengapa buku ini yang dibaca dulu. Hanya lebih karena keberadaannya. Buku ini saya simpan di kantor karena belum sempat dibawa pulang. Aldo memang memberikan buku ini ketika kita menghadiri acara bedah buku Pak Ben. Karena keberadaannya, setiap pagi sebelum kerja serta saat istirahat saya membaca beberapa halaman. 

Judul: Warisan Dunia Situs Dan Budaya Masyarakat Di Indonesia
Editor: Sulistyo Tirtokusumo
ISBN: 9791274657, 9789791274654
Halaman: 220
Cetakan: Pertama-2012
Penerbit: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Buku ini berisikan tentang warisan dunia yang dimiliki oleh bangsa kita dan diakui keberaaannya oleh UNESCO. Terdapat  empat belas  warisan budaya yang dari dua bagian, warisan budaya benda dan takbenda.

Untuk warisan budaya kategori benda didasarkan pada Konvensi Warisan Dunia tahun 1972, termasuk juga pelestarian situs budaya dan alam. Ada delapan warisan yang dimiliki kita, yaitu Situs Manusia Purba Sangiran, Kompleks Candi Borobudur, Kompleks Candi Prambanan, Lanskap Budaya Provinsi Bali-Sitem Subak. Warisan Hutan Tropis Sumatra, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman nasional Komodo, serta  Taman Nasional Lorentz.

Sedangkan untuk kategori budaya takbenda, ada enam unsur yang terdaftar, yaitu wayang, keris, batik, program pendidikan dan pelatihan batik bagi siswa SD, SMP, SMK dan politeknik bekerjasama dengan museum batik Pekalongan, Angklung serta Tari Saman-Gayo

Agak bingung saya.  Daftar isi hanya ada tentang batik, tidak menyebutkan tentang program pendidikan dan pelatihan batik bagi siswa SD, SMP, SMK dan politeknik bekerjasama dengan museum batik Pekalongan.  Ada hanya batik, Mungkinkah dianggap satu kesatuan? Karena saat saya membuka bagian yangmengulas tentang batik ternyata ada juga mengenai hal itu.  Atau bisa jadi saya yang kurang memahami maksudnya.
Kover belakang

Oh ya, saat membuka buku ini, kita akan menemukan batik sebagai ilustrasi yang menghias halaman secara penuh. Demikian juga pada bagian akhir. SUngguh mengusung muatan lokal.

Setelah beberapa  sambutan, kita akan menemukan semacam peta. Pada peta itu terdapat keterangan mengenai dimana lokasi situs warisan dunia. Untuk lingkaran dengan waran hijau dipergunakan sebagai tanda  keberadaan sebuah situ warisan dunia alam. Sementara warna  coklat keemasan (menurut saya itu warnanya) menandakan situs warisan dunia budaya. 

Secara garis besar, warisan budaya sudah dikenal oleh masyarakat umum, tapi membaca buku ini membuat pengetahuan kita makin bertambah.  Mengenai Taman Nasional Lorentz misalnya.  Pada tahun 1999 UNESCO mengajui Taman Nasional Lorentz  sebagai situs warisan dunia. Letaknya yang terpencil, di ujung kepulauan Indonesia paling timur Pulau Papua, membuat masih sedikit  dari warga kita yang mengenal apa lagi mengunjunginya. Kecuali orang Papua tentunya. Padahal tempat itu merupakan salah satu lokasi yang memiliki keragaman ekologi terlengkap di dunia, serba sebagai taman konseervasi terbesar di Asia Tenggara.

Beberapa ilustrasi berupa foto  yang dimuat dalam buku ini sungguh memanjakan mata. Apalagi disajikan dalam ukuran yang besar, satu bahkan dua halaman penuh. Selain mengajikan tentang pemandangan lama, ada juga tentang aneka hewan yang hidup di sana. 

Namun karena ilustrasi yang menghabiskan halaman ini kadang keterangan berada di bagian lain, sehingga kadang keterangan terkait ilustrasi itu berada di halaman yang berbeda. Pembaca harus mencocokan keterangan terlebih dahulu.

Berkaca pada kasus sebuah perkebunan bunga yang porak-poranda belum lama, sungguh beruntung wilayah ini belum tersentuh moderenisasi. Menuju ke lokasi ini agak sulit. Bayangkan jika mendadak banyak tulisan nama pengunjung di bebatuan sebagai bukti rasa egois diri. Aduh menakutkan!

Membaca sedertan nama yang terlibat dalam penerbitan buku ini tentunya bisa menggambarkan betapa seriusnya buku ini digarap. Belum lagi kontribusi dari berbagai pihak dalam rangka menyebarkan informasi mengenai warisan dunia yang berada di tanah air kita.

Sempat terpikir juga, kenapa mempergunakan foto dengan nuansa Candi Borobudur, kenapa tidak yang lain. Lalu saya teringat, sepertinya orang lebih mengenal kompleks Candi Borobudur. Mempergunakannya sebagai kover bisa membuat orang tergoda untuk melirik dan kemudian mengambil untuk membaca. Unsur kedekatan karena mengenal sepertinya yang menjadi bahan pertimbangan mempergunakan kover seperti ini.

Sungguh beruntung perpustakaan sekolah yang memiliki buku ini. Bisa menambah wawasan, pengetahuan, menjadi hiburan dan memotivasi untuk berkembang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar