Rabu, 16 Desember 2015

2015 #104: Membaca Kuda Besi




Judul asli: Kuda Besi
Editor: Andreas Rossi Dewantara, Anugrah Dwi Priadi, Fanny Perdhana, Galih Rakasiwi, Gita Wiryawan Puja Negara
Perancang Sampul: Kuncoro Arif Noviardi
Perancang Poster: Arfindo Briyan
Ilustrator: Asmoro Budi Nugroho,Nurul Ashari, Rangga Danusa
Tim Pendukung: Heru Irfanto, Nur Budi Prasetyo
Koordinator: Marli Haza Fauzi Hidayat
ISBN:9786021599563
Halaman: 178
Penerbit: www.birokreasi

Buku anak memang gampang-gampang susah. Memang tidak susah mencari buku anak, tengok saja gerai toko buku, pastilah mudah menemukan buku anak. Minimal buku anak yang mengusung sosok yang sedang populer dalam bentuk mewarnai atau buku aktivitas. Misalnya Frozen, bisa ditemukan dalam berbagai versi.

Tapi mencari buku anak dengan muatan lokal bisa dikatakan lebih susah. Paling bisa ditemukan adalah buku tentang cerita rakyat.   Harganya juga lumayan dibanding dengan buku yang mengusung tema import. 

Jadi bisa dibayangkan betapa terkejutnya saya ketika menemukan buku ini terselip antara buku-buku di meja bookswap saat IRF 2015 kemarin. Buku anak, fantasi pula. Sepertinya saya pernah melihat buku ini pada IRF tahun 2014. Entah buku yang sama atau bukan, pastinya  buku ini sekarang ada di rak buku saya.       

Kuda Besi, dari Dongeng Anak bersama Birokreasi,  memuat  dua belas kisah berteman fantasi yang dibuat oleh mereka yang bekerja sebagai birokrat. Tujuan pembuatan buku ini, adalah untuk menggalang dana bagi sebuah panti asuhan di Yogyakarta. Niat yang mulia.

Kisah yang ada yaitu Maestro Kodok: Pemimpin Orkestra Padang Rumput, Cita-cita si Peri Kecil, Kisah Sepotong Rito, Dongeng Empat Saudara, Kimuzu yang Pemarah, Ranting Sihir, Fahrel si Semut Congkak, Nula dan Peri Kue, Si Putih dan Wortel Impian, Puteri Angsa Putih, Desas-desus si Buaya, serta Otak Cemerlang Piliang. Setiap kisah mengandung unsur pendidikan pastinya dengan mengusung gaya penulisan masing-masing pengarang.

Beberapa kisah dibuat dengan sangat sederhana sehingga pesan moral langsung bisa dimengerti. Ada juga kisah yang membutuhkan penelaahan lebih lanjut guna mendapatkan pesan yang disampaikan.

Kisah Sepotong Roti misalnya, mengajarkan bahwa yang penting bukan rupa cantik tapi apakah kita bisa berguna dan membawa kebahagiaan untuk orang lain. Serupa dengan pesan moral yang terkandung dalam kisah Cita-cita si Peri Kecil, bahwa setiap anak punya keunikan dan kelebihan masing-masing. Keahlian seorang anak mungkin bisa berbeda dengan yang lainnya.  Yang penting ia bisa berguna dan membuat orang lain bahagia

Kisah favorit saya adalah Dongeng Empat saudara serta ranting penyihir. Dongeng Empat Saudara mengisahkan tentang  empat orang saudara yang mendapat kesempatan untuk mengajukan satu permintaan. Saudara pertama meminta  kekuatan yang tak tertandingi, saudara kedua meminta harta dan kekayaan yang melimpah, saudara ketiga meminta kepintaran yang tak terhingga. Sementara saudara keempat meminta sesuatu yang  membuatnya merasa kuat di saat lemah,  membuat hidup berharga lebih dari harta dan mengajarkan apa yang tidak didapat dari buku.  Dari keempat bersaudara itu, hanya saudara keempat yang bisa menikmati kehidupan dengan tenang.

Ranting penyihir merupakan kisah yang menjadi juara pertama lomba ini. Kisahnya tentang seorang anak yang sangat menginginkan memiliki sebuah ranting penyihir. Dengan ranting itu, mereka bisa bermain apa saja, misalnya adu menumbuhkan pohon paling besar. Sayangnya ranting itu hanya bisa dipakai untuk permainan yang sama sebanyak tiga kali, jika dilanggar maka akan patah dan tak berguna lagi. Hal ini mengajarkan bahwa apa yang dimiliki seseorang tidak terbatas, jangan tergantung pada sebuah alat. Tanpa Ranting penyihir, anak-anak peri bisa bermain sebuah permainan berulang kali tanpa ada rasa cemas.

Sementara untuk kisah Puteri Angsa Putih, saya agak bingung mencernanya. Apa hubungan antara melatih kesabaran dengan emosi membuang sarung tangan yang dipakainya hingga mematahkan kutukan? Bukannya dengan tidak sabar malah kutukan tidak terpatahkan? Mungkin saya yang kurang memahami kisah.

Penempatan urutan kisah menjadi tanda tanya saya, apakah ada makna tertentu atau bagaimana. Jika berdasarkan susunan pemenang lomba, lalu siapa kontributor lainnya? Apakah mereka yang naskahnya dianggap menarik atau bagaimana.

Buku ini benar-benar cocok untuk saya, selain isinya menarik, hurufnya juga bersahabat ditambah ilustrasi yang membuat beberapa kisah menjaid lebih menawan. Anak-anak yang membacanya pasti akan merasa Semoga buku-buku seperti ini makin banyak beredar.

Dari http://birokreasi.com, saya kopas tujuan berdirinya wadah ini, "Akhir 2012, kami, para birokrat yang mengaku suka sastra dan jenuh dengan monotonnya ruang kubikel kantor berdiskusi dan memutuskan untuk membuat sebuah wadah untuk belajar dan berbagi passion yang kami miliki dalam bidang tulis-menulis, terutama soal sastra. Wadah yang segera dituangkan ke dalam ruang di dunia maya, yaitu birokreasi. Silahkan mampir jika ingin mengetahui tentang mereka lebih lanjut.

Pencantuman email di sebelah nama pekerja buku ini sungguh ide yang layak dipuji. Bisa dianggap sekaligus iklan. Mereka yang merasa tertarik lalu ingin menghubungi bisa langsung mengirim email.

Menawan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar