Rabu, 02 Desember 2015

2015 #100: Under The Blue Moon

Penulis: Cath Crowley
Penerjemah: Inggrid Nimpoeno
Penyunting: Jia Effendi
Penyelaras aksara: Susanti Priyandari
Penata aksara: Nurul MJ
Perancang sampul: dwiannisa & elhedz
ISBN: 9786020989730
Halaman: 306
Cetakan: Pertama-Oktober 2015
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 69.000


"Kita sudah sepakat. Kita sepakat untuk tidak memberi tahu siapa pun. Kita sepakat bahwa ini adalah seni demi kepentingan seni. Kita sepakat bahwa semakin banyak orang yang tahu, semakin besar kemungkinan polisi akan menangkap kita. Kita sepakat hanya kau dan aku, tidak ada orang lain.

Meski kover buku ini berwarna biru, tidak serta merta membuat saya berniat membacanya. Apalagi konon tema kisah yang diusang adalah roman. Karena kesalahan teknis dengan sis Lusiana, maka buku ini dibaca sampai tuntas. Ternyata isinya tidak mengecewakan juga.

Seorang gadis bernama Lucy, seorang seniman kaca,  sangat mengagumi karya grafiti dari Shadow. Biasanya Shadow membuat grafiti lalu sahabatnya, Poet, akan menggoreskan judul bahkan bait puisi sehubungan dengan karya itu. Mereka sepasang seniman yang identitasnya dirahasiakan.

Hanya sedikit orang yang tahu siapa itu Shadow dan Poet. Lebih sedikit yang tahu akan lebih baik, karena mereka berdua bisa dianggap semacam buronon. Melakukan grafiti di kota itu dianggap kejahatan, sebelum akhirnya pemerintah mengijinkan beberapa tempat untuk dijadikan ajang unjuk diri seniman grafiti.

Satu dari sedikit orang yang tahu adalah Dylan. Rencananya Dylan akan mengajak kencan pacarnya yang sedang marah dan mempertimbangkan untuk putus. Sang gadis menerima ajakan kencan, tanpa Dylan sadar ada sesuatu yang direncanakannya. Ia mengajak Ed dan Leo untuk menemani menikmati pesta perayaan hari terakhir kelas 12. 

Ternyata Daisy, gadis Dylan, juga mengajak dua orang Lucy dan Jazz. Itu sebabnya ia meminta Dylan mengajak 2 orang  temannya. Sebenarnya  alasan utama mereka mau pergi bersama, adalah untuk mengetahui identitas asli Shadow dan Poet. Jika Lucy sangat mengagumi karya Shadow, maka Jazz menikmati permainan kata Poet.

Selama semalaman  secara berpasangan mereka menikmati waktu bersama dengan cara yang unik. Lucy dan Ed menjelajah seluruh kota guna menikmati karya Shadow. Sementara Jazz asyik berdansa dan berdiskusi dengan Leo. Dylan sudah bisa dipastikan mengeluarkan seluruh pesonanya untuk bisa memikat kembali hati Daisy.

Pembaca sebenarnya sudah bisa menduga siapakah sosok misterius Shadow dan Poet ketika membaca buku ini pada bagian awal. Saya sempat merasa heran, jika dari awal sudah bisa diduga sosok asli kedua cowok misterius itu lalu dimana serunya kisah ini?

Ternyata keindahan kisah justru terjadi pada proses pengungkapan jati diri Shadow dan Poet melalui pembicaraan dan perjalanan sepanjang malam. Terutama kisah Lucy dan Ed. Dikisahkan secara bergantian dari kedua sisi tokoh, kisah ini justru membuat kita bisa mendapat gambaran dari sudut pandang yang beragam.

Meski kisahnya tentang cinta, tapi bagi saya buku ini justru lebih mengusung  banyak tema. Tentang bagaimana anak dari korban rumah tangga menjalani kehidupan. Mereka bisa menjadi sahabat bagi kedua orang tuanya, namun bisa juga menjaga jarak. Tergantung bagaimana sikap orang tua. Juga mengenai bagaimana belajar itu bisa dilakukan kapan saja, dengan siapapun, dimana saja mereka mau belajar. Mengenai persahabatan, yang digambarkan menyerupai bayangan. Persahabatan Ed dan Leo sebagai contoh. Ibu Ed bahkan memberikan Leo kasur bekas yang dihamparkan di sebelah tempat tidur anaknya, meski ia sendiri kekurangan uang.

Pembaca pastinya bisa menikmati karya Poet dalam buku ini. Puisi Poet yang saya paling suka ada di bagian awal, judulnya Tempat Tinggalku Dulu. Benar-benar membuat terenyuh hikssss.

............
............
............

Terkadang saat malam
Aku dan kakaku Jake merangkak ke luar jendela
Lalu memotong jalan melintasi taman
Sejenak berayun di palang-palang permainan
Dalam perjalanan ke rumah Nenek

Nenek akan menunggu
Bergaun tidur dan bersandal
Mencari bayang-bayang kami

Dia akan membacakan
Puisi dan dongeng-dongeng
Tempat pedang yang membunuh naga-naga
Dan Jake tak pernah bilang itu omong kosong
Seperti dugaanku

Lalu suatu malam
Nenek berhenti membaca sebelum akhir yang bahagia
Dia bertanya 'Leopard, Jake, kalian mau tinggal
di kamar tamuku?'

Suara Nenek
Terdengar seperti ruang dan langit gelap
Tapi malam itu semua mimpiku
Bisa berpijak

Pesan moral mengenai urusan seks juga terselip dalam buku ini. Andai orang tua Ed tidak bertemu dan melakukan hubungan terlarang, mungkin ia tidak mengalami kesulitan seperti saat ini. Kasih sayang dari sang ibu yang membuatnya kuat. Kutipan saya ambil dari halaman 157.

             "Bayangkan kau mencintai seseorang cukup besar sampai mau tidur dengannya, lalu melupakan namanya," ujarku

             "Dia tidak mencintainya. Kau tidak perlu mencintai seseorang untuk melakukan seks dengan mereka."

             "aku tahu itu," kataku, berusaha untuk tidak terlihat malu karena menganggap cinta dan seks adalah hal yang sama.

Saya jelas terhibur dengan beberapa adegan konyol, tapi wajar dalam buku ini. Misalnya saat para cowok meminta ijin untuk pergi ke kamar kecil guna mendiskusikan beberapa hal diantara mereka pada halaman 54. Biasanya yang begitu adalah para cewek. Dengan alasan ke kamar kecil mereka saling memberi kode guna mengajak yang lain ikut. Di sana mereka sibuk membahas beberapa hal yang tak bisa dibicarakan depan umum.

          "Sekarang, aku yang perlu ke toilet." Ed memandang Leo dan Dylan. "Aku punya firasat bahwa kalian berdua perlu ke toilet juga."

          "Cowok tidak pergi ke toilet bersama-sama. Itu gila," kata Leo.
         
          "Itu bukan satu-satunya yang gila." Ed mencengkram kemeja Dylan. "Ayo."

Atau adegan seru di halaman 204, ketika Ed dan Lucy sedang berurusan dengan Malcolm, seorang pegundal.  Ed merasa ia wajib melindungi Lucy, sementara Lucy tidak ingin membuat Ed terluka atau susah. 

          "Aku menatap Lucy, "Keparat?"
      
          "Keparat," kata Lucy

          "Orang berikutnya yang berkata kalau aku keparat akan menyampaikan pesannya," kata Malcolm.

         "Keparat," kata aku dan Lucy bersamaan.

Secara garis besar saya akan memberikan bintang 3,5 untuk buku ini. Terutama sekali karena perbaduan hiburan serta pesan moral yang terkandung dalam buku ini. Saya tertawa lepas bersamaan dengan menahan rasa haru.
Contoh Grafiti

Sayangnya, meski kita bisa membaca karya Poet, tapi tidak ada ilustrasi mengenai grafiti yang dibuat oleh Shadow. Memang penulis memberikan uraian panjang lebar mengenai karya Shadow, tapi jika ada visualisasinya tentu akan membuat pembaca bisa memahami mengapa Lucy begitu menyukai karya Shadow.

Salah satu situs menyebutkan bahwa  Grafiti (juga dieja graffity atau graffiti) adalah coretan-coretan pada dinding yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk, dan volume untuk menuliskan kata, simbol, atau kalimat tertentu. Alat yang digunakan pada masa kini biasanya cat semprot kaleng. Sebelum cat semprot tersedia, grafiti umumnya dibuat dengan sapuan cat menggunakan kuas atau kapur.

----------------------
Aku jelas bukan Lucy sang seniman kaca
Kau juga bukan Shadow, si seniman grafiti
Kita mungkin adalah Poet,  penyair
sepasang anak manusia yang menghormati dan menikmati  cinta dengan cara yang berbeda.




It's hard for me to say the things
I want to say sometimes
There's no one here but you and me
And that broken old street light
Lock the doors
We'll leave the world outside
All I've got to give to you
Are these five words when I
Thank you for loving me
For being my eyes
When I couldn't see
For parting my lips
When I couldn't breathe
Thank you for loving me
Thank you for loving me

I never knew I had a dream
Until that dream was you
When I look into your eyes
The sky's a different blue
Cross my heart
I wear no disguise
If I tried, you'd make believe
That you believed my lies

Thank you for loving me
For being my eyes
When I couldn't see
For parting my lips
When I couldn't breathe
Thank you for loving me

You pick me up when I fall down
You ring the bell before they count me out
If I was drowning you would part the sea
And risk your own life to rescue me

Lock the doors
We'll leave the world outside
All I've got to give to you
Are these five words when I

Thank you for loving me
For being my eyes
When I couldn't see
You parted my lips
When I couldn't breathe
Thank you for loving me

When I couldn't fly
Oh, you gave me wings
You parted my lips
When I couldn't breathe
Thank you for loving me



Sumber lagu: https://youtu.be/j0AFuoIto44
Sumber gambar: http://www.brilio.net/news








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar