Senin, 21 Desember 2015

2015 #108: Garda: Perebutan Kristal Langit


Penulis: Ahmad Sufiatur Rahman
Editor: Andiek Kurniawan
Desain dan ilustrasi cover: Sutadi & Ahmad Sufiatur R
Ilustrasi isi: Ranto Kumbalaseta & Ahmad Sufiatur R
Tata letak: githanoo 
ISBN 10: 9790830912 
ISBN13: 9789790830912
Halaman: 242
Cetakan: Pertama- Juni 2014
Penerbit: Tangga Pustaka 

Sebuah Novel Fantasi
Kalimat itu yang membuat saya membawa pulang buku ini dari area obralan di toko buku G pada Jumat yang lalu. Punya niat ingin mengoleksi kisah fantasi lokal, terlepas bagaimana cerita serta penilaian pembaca. Tujuan utama memang bukan mengoleksi kisah fantasi lokal yang bagus tapi mengoleksi semua kisah antasi karya anak bangsa.

Alur cerita dan gaya penulisan kisah ini lumayan mudah diikuti. Kata yang dipilih juga singkat  dan padat, tidak bertele-tele. Bagi mereka yang belum pernah membaca kisah fantasi, tentunya tidak akan mengalami kesukaran membaca kisah ini.

Ada beberapa catatan saya mengenai kisah ini, terlepas dari urusan akhir kisah yang dibuat ala film Hollywood. Sayang, padahal hal itu justru membuat kisah ini menjadi tidak tuntas.

Pertama-tama saya akan memberikan pujian untuk upayanya memadukan muatan lokal dalam bentuk wayang dengan urusan fantasi. Meski  unsur kekuatan atau makhluk asing memang masih ada, tapi memadukan dengan warisan budaya nenek moyang, merupakan hal yang masih jarang kita temukan.

Kover buku ini sukses membuat mata melirik. Perpaduan warna cerah serta tulisan yang ada, mampu membuat (minimal) orang yang lewat memberikan lirikan.  Apa lagi kostum yang dipergunakan oleh tokoh mengarah pada super hero. Seingat saya saat buku ini terbit sedang ada film yang lumayan laris. Sayangnya wajah tokoh kita terlalu sempurna untuk sosok pria yang berperan sebagai super hero.

Awalnya saya menikmati kisah dengan lancar, mendadak saya mulai gatal untuk komen. Terutama ketika menemukan ada penampakan makhluk setinggi 20 meter di halaman 31. Bukan hal yang sepele angka 20! Pasti wujudnya nyaris seperti robot-robot yang berusaha menghancurkan bumi ala film Jepang.

Saya juga penasaran dengan kata Jagawana. Meski saya bisa menebak maknanya, tapi akan lebih baik jika penulis memberikan catatan kaki mengenai artinya. Karena mungkin saja ada pembaca yang tidak memahami apa artinya. 

Saya menemukan artinya di http://nusantaranger.com,  Jagawana adalah kata yang berasal dari serapan jawa dan sansekerta yang berarti penjaga, pengawal, atau tentara yang berpatroli di sebuah wilayah untuk menegakkan hukum. Di Indonesia sendiri Istilah Jagawana dipakai untuk sebutan polisi hutan. Tidak melenceng dari dugaan saya.

Jika kita persingkat kronologis kisahnya, tokoh kita pergi ke Bromo dimana ia mendadak dirasuki makhluk asing yang memberinya kekuatan. Makhluk itu tidak sendiri, ia ternyata diburu oleh pihak lawan yang ingin memusnakannya. Hal ini terkait dengan sebuah bangsa di angkasa luas sana. 

Sebagai sosok yang dirasuki, tentunya Garda mengalami perubahan dalam dirinya. Salah satu hal membuat ia berada di kamar mandi selama satu malam penuh. Agak membuat saya heran ketika tidak ada teman-teman kost yang berusaha mendobrak kamar mandi untuk cek apa yang terjadi. Kenapa yang ada justru gedoran pagi hari? 

Demikian juga dengan urusan motor. Bagaimana motor trill yang semula ada di Bromo bisa mendadak kembali ke kontrakan Garda?Ok mungkin ada yang menganggap urusan pengambilan motor ke Bromo tidak perlu dibahas, atau seperti juga jeep bisa saja motor sewaan jadi tidak perlu dikisahkan. Namun hal kecil itu justru yang membuat sebuah kisah menjadi masuk akal.

Sering penulis lupa, kekuatan kisah fantasi hingga mampu membuat pembaca terlena adalah hal-hal kecil yang membangun kisah menjadi sesuatu yang masuk akal. Semua ada penjelasannya, dan penjelasan itu harus diuraikan, bukan dianggap pembaca pasti tahu.

Epilog pada akhir kisah  sangat membantu pembaca untuk mengetahui banyak hal yang masih samar serta perkembangan peristiwa. Dengan membaca bagian ini, beberapa eh banyak hal yang menjadi pertanyaan saya terjawab, meski belum semua.

Bagian yang saya nikmati dalam buku ini adalah ilustrasi yang berlimpah dan dalam ukuran yang lumayan banyak. Beberapa gambar terasa aneh, tidak sesuai dengan uraian dalam teks, ada pula yang tidak konsisten. Tapi lumayan untuk hiburan.

Dan kalimat yang paling saya sukai adalah, "Walau ia sudah memiliki perpustakaan digital di tabletnya.  Membaca dari buku cetak dan menyentuh setiap lembaran halamannya merupakan kepuasan tersendiri."

Saya memberikan bintang 2,5 dibulatkan menjadi 3. Pemberian nilai tertinggi pada upaya menggabungkan unsur lokal dalam kisah ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar