Sabtu, 26 Desember 2015

2015 #113: Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan

Penulis: Fitrawan Umar
Penyunting: Pringadi Abdi
Penyelaras Akhir: Shalahuddin Gh
Pemindai Aksara: Chandra Citrawati
Pendesain Sampul: Iksana Banu
Penata Letak: desain651 
ISBN: 9786027279339
Halaman: 242
Cetakan: Pertama-Desember 2015
Penerbit: Exchange publishing 

Harga: Rp 59.000

Para sahabat pria saya memiliki pandangan nyaris serupa mengenai sosok perempuan. Menurut mereka, perempuan itu makhluk yang susah dipahami. Ia akan berkata jangan ganggu aku, padahal maknanya hayuh terus paksa aku dengan kata manismu. Jika ia berkata aku tidak apa-apa, bisa berarti memang ia tidak apa-apa atau justru ia merasa tidak nyaman dan butuh bersandar. Mereka ingin tahu segala hal tanpa ada yang ditutupi, tapi jika aku bercerita semua mereka akan merasa sakit hati dan tersinggung. Hingga aku merasa tidak berkata jujur pada mereka kadang lebih baik. Sungguh butuh seni tersendiri untuk bisa memahami sosok seorang perempuan. Tapi begitu kau bisa memahaminya, semua hidupmu akan menjadi indah.

Mungkin ada yang setuju dengan pandangan para sahabat pria saya, tapi mungkin saja ada yang tidak.Tapi sungguh perempuan memang dgambarkan sebagai sosok yang unik dalam buku ini. Buku tentang sosok seorang perempuan dari sudut pandang pria.

Renja bersahabat dengan Adel saat Sekolah Dasar. Tanpa sengaja mereka bertemu lagi di Kampus Merah, Fakultas Teknik. Mereka juga bersahabat dengan Rustang. Selanjutnya kita akan diajak mengikuti kegiatan mereka selama di kampus, termasuk urusan mengadakan demo dan persiapan menyambut mahasiswa baru sesuai dengan tradisi mahasiswa fakultas teknik.

Bagian ini agak tidak saya suka. Apakah perlu memperjelas urusan kekerasan dalam kehidupan sosial mahasiswa teknik? Beberapa mungkin ada yang begitu, tapi ada juga yang tidak. Bahkan penulis membenarkan alasan para tokoh untuk melakukan kekerasan pada juniornya sebagai salah satu sarana melampiaskan rasa kesal! Akan lebih baik jika penulis justru membuat konflik lebih dalam antara pihak yang setuju dengan tradisi kekerasan dengan pihak yang merasa sedikit kontak fisik dengan anak baru sangat berguna. 

Pastinya ada juga kisah tentang percintaan diantara para tokoh kita. Bagaimana menghadapi perempuan ternyata bukan hal yang mudah bagi Renja dan Rustang. Meski mereka bersahabat dengan seorang perempuan sekalipun!

"Konon, jika seorang perempuan berkata kau terlalu baik untukku, kau terlalu sempurna, atau semacamnya, itu sama buruknya dengan kalimat aku membencimu. Demikiankah?" Begitu pemikiran Renja saat ia menyatakan perasaannya dan sang wanita menjawab agar mereka bersahabat saja, tidak lebih karena dirinya terlalu baik.

Sampai halaman 60, saya masih belum bisa menangkap mau kemana kisah ini akan dibawa. Artinya dari 242 halaman sudah nyaris seperempat buku saya baca belum bisa membawa saya pada inti cerita. Hanya ulasan mengenai kenangan masa lalu yang diungakp melalui gaya penulisan maju-mundur dan sejumput rasa cemburu yang dipendam. Apalagi pada pembatas buku ada kalimat yang menyebutkan, "Jika kau ingin memiliki seseorang di masa depan, kau pun harus memilikinya di masa lalu." Lalu kita akan terus berurusan dengan masa lalukah?

Secara garis besar, saya menangkap penulis mengajak kita untuk ikut menjadi bingung akan sikap para perempuan yang ada dalam buku ini. Seorang gadis yang begitu mudahnya jatuh hati dengan seorang pemuda dan segera mengajak menikah demi membuat bahagia sang nenek. Gadis yang lain, berusaha mengabaikan rasa kasih dengan mendekati pria lain untuk mengalihkan rasa itu. Kenapa harus dialihkan? Kenapa tidak menerima rasa yang ditawarkan sang pria dan menjalin kisah romantis ala novel roman? 

Betul! Kalau itu terjadi maka kisah ini akan segera selesai. Namun penulis bisa membuat konflik yang lebih mendalam lagi selain urusan perbuatan bapak si gadis di masa lalu yang berujung pada konflik bathin si gadis. Kalau hanya rasa bersalah akan perbuatan bapaknya pada masa lalu yang membuat seorang gadis menolak cinta seorang pria yang rela melupakan urusan masa lalu sepertinya terlalu berlebihan buat saya. Sebagai mahasiswa tentunya mereka bisa lebih berpikiran luas dan menjauhi urusan sentimentil. 

Metode kisah yang tak berakhir dengan jelas berarti menyerahkan akhir kisah pada penafsiran pembaca. Bisa beragam. Tergantung sudut pandang pembacanya. Semoga bukan karena mengikuti mode akhir kisah alam film Hollywood.

Kepribadian ketiga rokoh dalam kisah ini juga berkesan tanggung. Adel, karena perempuan mungkin, dibuat memiliki kepribadian tidak jelas. Kadang bisa bersikap baik kepada kedua sahabat prianya. Lain waktu ia bersikap sangat tegas pada Renja hingga tak mau membalas SMS dan menjawab teleponnya. Sikap rasa bersalah akibat perbuatan bapaknya kurang diungkap. Pembaca hanya menemukan beberapa uraian penyesalan. Tidak dijelaskan juga apa yang membuat ia memilih membantu beberapa keluarga korban kelalaian bapaknya. Sekedar acak atau bagaimana? Dan dari mana ia memperoleh uang jika disebut mereka sudah tidak memiliki uang seperti dulu?

Renja bersikap seperti tidak memiliki keteguhan hati saat mendekati pujaan hatinya. Terlalu lembek untuk urusan perempuan menurut istilah sahabat pria saya. Jika memang ia begitu menyukainya berbuat sesuatu hal gila sekalian, seperti tunggu ia pulang di depan kamar kostnya. Toh kost mereka berdekatan. Begitu juga dengan Rustang, begitu piawai menjadi peserta demonstrasi menuntut hak rakyat tapi tak bisa berkata-kata saat mendekati gadis pujaannya.

Semula saya agak heran, kenapa penulis harus menguraikan tentang hal-hal yang kurang mengandung unsur kekinian seperti Kospin di halaman 60. Ternyata hal terebut terkait dengan kisah selanjutnya di halaman 68. Namun seharusnya masih bisa tetap mengusung beberapa hal yang lebih anyar untuk dijadikan bahan obrolan disandingkan dengan kenangan masa lalu.Termasuk mengganti urusan SMS dengan WA.

Dengan mengambil lokasi di daerah Sulawesi Selatan, terutama kota Makasar dan Pinrang, kisah ini menawarkan sessuatu yang berbeda. Penulis sayangnya hanya sedikit mengangkat tentang kebudayaan lokal setempat. Pasti masih banyak yang bisa diulas selain perihal Sayyang Pattudu, syukuran khataman Quran ala Mandar. Padahal buku ini bisa dijadikan ajang promosi pariwisata setempat.

Pesan moral yang bisa diambil antara lain adalah kekerasan tidak harus diturunkan. Bukan berarti jika kita dipukul orang maka kita berhak untuk memukuli orang lain. Cinta harus diperjuangkan bukan diharapkan akan menjadi indah dengan begitu saja. Pesan lainnya adalah agar kita harus menerima masa lalu sebagai bagian dari kehidupan. Tidak bisa dihapus tapi harus dijadikan sebagai pelajaran kehidupan.

Setiap buku memiliki pembacanya masing-masing. Sepertinya buku ini tidak berjodoh dengan saya karena saya tidak bisa menemukan kenikmatan dalam membacanya, pastinya saya juga ikut bingung pada arah kisah ini. Meski begitu ada juga kalimat yang saya sukai. Kalimat yang saya sukai ada di halaman 201, "Bagaimana perasaanmu jika engkau melihat orang yang paling bersetia kepadamu, paling menyayangimu, tetapi kemudian ia menderita karena dirimu?"

Dalam buku ini sering disebutkan tentang Pinrang. Kabupaten Pinrang adalah salah satu Daerah Tingkat II di Sulawesi Selatan. Letaknya hanya sekitar 185 km dari Makassar. Luas wilayah 1.961,77 km2 yang terbagi ke dalam 12 Kecamatan, meliputi 68 desa dan 36 kelurahan yang terdiri dai 86 lingkungan dan 189 dusun. Sementara Kota Makassar  adalah ibu kota provinsi Sulawesi Selatan, merupakan kota internasionalserta terbesar di kawasan Indonesia Timur. Sejak tahun 1971 hingga 1999, kota ini dikenal sebagai kota Ujung Pandang.  

---------------------- 
Sungguh!
Aku merasa seakan memakan semangkuk sayur asam kesukaanku namun dengan rasa yang sedikit hambar.
Aku sudah terbiasa menikmati racikan chef Shal. Tidak mengurangi rasa hormat, sepertinya sayur kali ini terasa berbeda tanpa sentuhan tangannya.
Dan aku kedanan racikannya ^_^ 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar