Rabu, 30 Desember 2015

2015 #114:Peti Akar


Penulis: El  Trias
Penyunting: Sulaiman
Perancang sampul: Irawan Prasetyadi
Penata letak: Ach. Sakti W
ISBN: 6028357006, 9786028357005
Halaman: 230
Cetakan: Pertama-2008
Penerbit: Grafidia


Biasanya saya tidak begitu terpengaruh pada endors. Tapi penasaran juga jika penulis sekelas mbak Sanie dan Mas Kef berkenan memberikan, maka pasti ada sesuatu yang spesial. Dan buku di area diskon ini segera berpindah dalam belanjaan saya.

Melihat kover buku ini, kedua alis saya langsung beradu dengan imuts.  Dibuat ala hantu Indonesia. Alih-alit atut pembaca merasa takut, mereka malah tertawa karena kekonyolan kisah, biasanya begitu. Pengalaman saya membaca beberapa kisah horor yang berujung tertawa riuh. Judulnya juga dibuat dengan huruf yang berkesan misterius dengan warna yang sangat kontras dengan latar. Andai tidak menangkap nama mas Kef di kover, mungkin saya tidak akan membeli buku ini.

Bermula  dari papanya yang  melakukan tindak korupsi, serta ibunya yang mendadak berpulang, Alien terpaksa pindah ke rumah warisan keluarganya di daerah Kuningan, Jawa Barat. Ia mengajak Linka anak kakaknya yang sudah meninggal. Berharap mereka berdua bisa membuka lembaran baru di tempat baru.

Di tempat baru itu, mereka justru harus menghadapi masalah baru. Selain rumah besar tua yang butuh perawatan, warga sekitar juga bersikap tidak bersahabat. warga merasa  mereka berdua harus bertanggung jawab atas berbagai penyakit yang menyerang beberapa warga, hingga kondisi Linka yang tidak seperti biasanya.

Seperti umumnya kisah, tentunya ada unsur roman dalam kisah ini. Aline harus menghadapi dua pemuda yang menaruh hati padanya. Yang satu teman kuliah dengan profesi wartawan, yang satu mahasiswa yang sedang melakukan penelitian dan menyewa kamar di rumah itu.

Sejak awal kisah, saya sudah menduga bahwa Linka adalah anak indigo. Penulis sepertinya sengaja membuat kesan ia anak yang suka berkhayal. Mungkin saja Aline dan keluarganya masih menganggap anak indigo itu sesuatu yang patut disembunyikan hingga mereka lebih menganggap Linka adalah anak nakal yang suka berkhayal. Mengingat latar belakang keluarga Aline yang cukup terpelajar dan cukup mengenal teknologi, sedikit mengkhawatirkan jika ia tidak menduga ada hal lain yang terjadi pada Linka selain kejiwaan. Perihal anak indigo sudah banyak informasi tersaji dalam dunia maya.

Biasanya, judul kisah mengacu pada isi. Peti akar semula saya kira nama sebuah tempat, atau sejenis benda yang dianggap keramat. Tapi ternyata memang sebuah peti yang menyimpan akar. Pada bagian belakang, baru hal itu terungkap. 

Dan untungnya, penulis menyajikan sebuah penjelasan ilmiah yang bisa diterima akal sehat. Memang tidak semua hal bisa diterima logika, tapi dengan menawarkan penjelasan ilmiah, karya ini menjadi berbeda. Sosok seorang peneliti sangat pas untuk menjelaskan tentang hal tersebut. Meski begitu, hal ini kontras dengan dokter rumah sakit jiwa yang tidak bisa mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan pasiennya menghirup suatu zat yang mampu membuatnya berhalusinasi.

Akhir kisah  juga mengusung gaya yang berbeda. Sederhana dan simpel tanpa ada kesan ala film Hollywood seperti kisah misteri pada umumnya ^_^

Penasaran juga dengan kalimat Hr nz per zan gi na ...Hr nz per zan gi na...Hr nz per zan gi na. Jika memang mempergunakan bahasa asing, ada baiknya penulis mencantumkan penjelasan mengenai arti dari kalimat itu.

Secara keseluruhan kisah dalam buku ini mampu menghibur saya. Plot memang tergolong bisa ditebak, tapi kejutan-kejutan kecil membuat kisah menjadi menarik.

Ada beberapa typo dalam buku ini yang saya temukan tanpa sengaja. Sedang seru-serunya sebuah bagian eh mendadak muncul si typo, jadi tahu saya. Misalnya saja di halaman 95, "ibu-ibu yang mengantar anaknya juga menyingk dariku." Maksudnya pasti menyingkir. Sementara di  halaman 217 tercetak, "Semua telah mengering dan sebagian membisuk." Pasti maksudnya membusuk.

Kalimat indah yang saya sukai ada di halaman 97.
Memiliki teman baru selalu menimbulkan warna-warna pelangi dalam hidupmu. Coba saja kalau tidak percaya! 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar