Rabu, 30 Desember 2015

2015 # 115: Jo's Boys


Penulis: Louisa May Alcott
Alih bahasa: Djokolelono
Editor: Rosi L. Simamora
Desain dan ilustrasi sampul: Ratu Lakhsmita Indira
ISBN: 9786020322728
Halaman: 416
Cetakan: Pertama-November 2015
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 66.000

Waktu berjalan tanpa kita sadari. Sudah sepuluh tahun berlalu sejak kisah tentang sekolah anak laki-laki Plumfield. Para gadis March sudah menjadi ibu dengan segudang masalah. Mereka juga sudah menjadi wanita anggun dengan pemikiran yang matang. 

Jo yang dulu terkenal tomboi dan serampangan misalnya. Saat Amy dan Laurie mengeluhkan tentang pembagian waktu bagi sang putri misalnya, Jo dengan bijak mengutip apa yang dikatakan sang ibu kepada Meg, "... ayah pun harus ambil bagian dalam pendidikan anak-anak, baik lelaki atau  perempuan." Karenanya kuberikan Ted kepada ayahnya kapan saja aku.


Tidak hanya para gadis March yang berubah, Plumfield juga mengalami perubahan pesat. Sekarang itu bukan sekolah anak laki-laki lagi tapi sudah menjadi sebuah universitas atas kemurahan hati  Laurie. Demikian juga dengan Bukit Parnassus. Waktu membuat perubahan pada banyak hal. 

Anak-anak Plumfield juga sudah menjadi pria muda yang memandang masa dengan dengan optimis dan bersemangat mengejar cita-cita. Bisa dikatakan kisah ini merupakan sekuel dari Little Men. Dimana kita akan bertemu lagi dengan  Emil, Demi, Nat, Dan, dengan situasi dan kondisi yang berbeda. Nat menjadi pemusik di Eropa dan sempat tergoda dengan kehidupan mewah sesaat, Emil menjadi pelaut dan menunjukkan jiwa besar dengan membantu kapten kapal saat kapal karam, Tom berusaha menjadi dokter demi memikat Nat. Dan selalu menjad pembela orang lain seperti dahulu.

Kita juga akan menikmati kehidupan mahasiswa di  Universitas Laurence. Di sana mahasiswanya bercampur pria dan wanita, kehadiran para wanita muda memberi warna kelembutan dan nuansa berbeda.  Mrs. Josephine Bhaer, tidak saja dianggap sebagai ibu presiden universitas tapi juga sebagai ibu para mahasiswa. Dengan perpaduan sifat tomboi dan keteguhan hatinya, ia mampu membimbing para mahasiswa menjadi sosok yang lebih baik.

Dalam buku ini juga dikisahkan Jo yang sudah menjadi penulis terkenal. Sebuah penerbit mengiginkan buku tentang anak-anak perempuan, maka tergesa-gesa ia menuliskan sebuah kisah tentang kehidupannya bersama para saudari. Beberapa adegan kisah diceritakan seakan mereka yang melakukan padahal sebenarnya anak-anak lelakilah yang ahli dibidang pekerjaannya.

Semula ia hanya menginginkan sedikit kesuksesan. Buku yang ditulisnya dengan tergesa-gesa itu, diluncurkan tanpa memikirkan penghasilan yang mungkin hanya sekedar saja, justru menjadi kesayangan para pembaca. Banyak yang begitu menyukai  kisah yamg ditulis Jo. Selanjutnya kisah yang lain meluncur dengan mulus.

Tapi kalian tentu tahu bagaimana Jo. Dengan cepat, bukan dengan niat tidak bersyukur yang manusiawi, ia merasa bosan karena kebebasannya  berkurang.  Banyak orang yang tak dikenal berkeras menemuinya. Entah sekedar memberi selamat, memberi nasehat bahkan melakukan hal konyol seperti meminta belalang yang hidup di halaman, kaos kaki yang tak terpakai untuk sambung dengan kaos kaki orang terkenal lain menjadi sebuah permadani

Begitulah kegilaan para fans. Mereka bahkan tak segan mengambil kenang-kenangan dari rumah sang idola tanpa memikirkan bagaimana perasaan pemilik rumah. Asisten rumah tangga Jo segera mengundurkan diri tak lama setelah bekerja di sana, terutama karena tak tahan karena bel rumah seakan tidak pernah berhenti berbunyi atau harus mengusir halus tamu tak diundang yang mendadak masuk tanpa izin ke dalam rumah.

"Mestinya ada hukum yang melindungi para pengarang yang malang." kata Mrs Jo. "Bagiku ini sesuatu yang lebih penting daripada copyright internasional. Waktu adalah uang, kedamaian adalah kesehatan. Dan aku kehilangan keduanya tanpa mendapat imbalan apa pun kecuali rasa hormat yang semakin berkurang dari sesama manusia." Ternyata menjadi orang terkenal tidak selalu menyenangkan. Tentunya saat itu situasi seorang pengarang beda dengan sekarang. Orang bisa saja keluar-masuk rumah seseorang dengan leluasa, mengetuk pinta menyatakan ingin bertemu. Dan atas dasar sopan santun mereka diterima oleh si pengarang.

Oh ya, meski buku ini mengisahkan tentang anak-anak lelaki Plumfield, para gadis juga mendapat porsi perhatian. Ada Nan yang berusaha menjadi dokter yang baik, Josie yang sangat ingin menjadi artis, Bess dengan keahliannya pada seni dan Deasy yang menjadi wanita bijaksana.

Membaca buku ini butuh waktu lebih, terutama karena gaya bahasanya. Kisah ini terbit pertama kali pada tahun 1886, tentu  gaya penulisannya berbeda dengan gaya penulisan saat ini.  Meski begitu, saya bisa mengikuti keriangan, rasa  sedih, semangat dan segala hal yang terjadi dalam kehidupan para tokoh. Misalnya, saat saya ikut merasakan semangat Demi, putra Meg yang ingin mencoba keberuntungan bekerja di sebuah penerbit setelah sebelumnya menjadi seorang wartawan. "...Aku akan mulai bulan depan, di ruang buku, mengisi pesanan. Aku kemudian beredar, mencari pesanan dan melakukan beberapa pekerjaan lain. Aku menyukainya. Aku siap melakukan apa pun yang berhubungan dengan buku. Bahkan kalau hanya  untuk mengelap debu dari buku-buku itu." Agaknya kecintaan pada buku diwariskan dari Jo

Pembaca juga terbantu dengan catatan kaki yang dibuat oleh penerjemah. Perihal Beau Brummel yang disebut pada halaman 337. Penerjemah mencantumkan catatan bahwa Beau Brummel (1778-1884 merupakan tokoh model pria Inggris yang sangat mempengaruhi gaya berpakaian. Atau perihal dansa Jerman di halaman 116, yaitu dansa berpasang-pasangan. Setiap pasangan memimpin pasangan lain membuat berbagai bentuk. Dan pasangan itu selalu berganti-ganti
 
Memang tidak semua hal berjalan dengan indah, justru hal ini yang membuat kisah seri ini menjadi dicintai pembaca. Unsur manusiawi yang begitu lekat dengan para pembaca. Kisah ini menawarkan kisah tentang kehidupan, dimana ada kebaikan juga ada kekurangan, ada ketegaran hati tapi ada rasa terpuruk dilain waktu. Ada tangis bahagia tapi ada juga tangis duka. Semua yang terjadi dikehidupan ditawarkan dalam kisah ini. 

Untuk pesan moral, pastilah banyak dalam buku ini. Tapi yang terutama adalah kita harus saling menyayangi, membantu sesama dan mau bekerja keras dalam kehidupan ini. Apa yang kita peroleh merupakan hasil dari perbuatan kita sendiri. Jujur dan tegar dalam menjalani kehidupan akan membuat segala masalah menjadi lebih mudah.

Meski ada beberapa typo seperti melomopat di halaman 391, saya yakin maksudnya adalah melompat, penerbit patut diacungi jempol untuk kesediaannya menerbitkan serial ini secara lengkap. Memang serial ini juga sudah dierbitkan oleh banyak penerbit tapi seinga saya baru penerbit ini yang mengeluarkan versi alih bahasa secara lengkap. Penerbit yang lain hanya mengeluarkan hingga Little Men, bahkan ada juga yang hanya sampai Little Women saja.

Apalagi dengan mengusung nama alih bahasa yang mumpuni, hal ini menunjukkan keseriuasan penerbit untuk membawa kisah klasik yang indah ini untuk para pembaca.

Untuk urusan kover, jelas saya menyukai. Bukan karena mengusung warna biru, baiklah sedikit sih, tapi ilustrasi yang ada sangat cocok dengan isi kisah. Para gadis March telah menjalankan kewajiban membesarkan anak-anak dengan baik, dan sudah waktunya mereka untuk pergi meninggalkan sarang.
Kini, setelah bekerja keras memberi semuanya pernikahan, sedikit kematian, dan sebanyak mungkin kemakmuran sesuai dengan yang diizinkan oleh kemampuan manusiawi yang kekal, biarlah musik berhenti, lampu mati dan layar  diturunkan selamanya untuk keluarga March.










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar