Sabtu, 03 Januari 2015

2015#6: Seri Takut: Apartemen Berhantu


Penulis : Rettania
Editor: Ry Azzura & Syafial Rustama
Profreader: Funy D.R.W
Desain sampul & layout: Gita Mariana
Ilustrasi sampul: Rudiyanto
ISBN: 602-220-134-9 
ISBN-13: 978-602-220-1342
Halaman: 122
Cetakan : 1-Agustus 2014
Penerbit: Bukune
Harga: Rp 35.000

Kasih ibu sepanjang jalan. Hingga kapan pun juga akan selalu menjaga anaknya dari segala macam gangguan. Mengajarinya banyak hal, termasuk membuatnya menjadi mandiri.

Pesan moral tersebut yang ada dalam kisah ini. Buku ini mengisahkan tentang kehidupan seorang gadis bernama Luna  dan bundanya, Arini. Mereka penghuni baru di sebuah Apartemen di pinggiran kota Jakarta Tower dua unit 1505. Tidak disebutkan kenapa mereka pindah hanya berdua saja.

Sejak awak pindah Luna sudah tidak merasa nyaman. Mulai dari isue kasus tanah yang semula kuburan, mutilasi korban pembunuhan, mahasiswa terjun untuk bunuh diri, hingga khabar kemunculan makhluk lainnya. Belum lagi jarak sekolah yang cukup jauh dari apartemen baru tersebut. Pendek kata tidak ada hal baik dari apartemen baru itu bagi Luna.

Beberapa kejadian mulai berlangsung. Dari lift yang tombolnya menyala tanpa ada yang menyentuh, suara-suara lirih di kamar Bunda, sahabatnya yang melihat wajah menakutkan duduk di sebelahnya. Masih banyak lagi hal yang menakutkan. Tapi semuanya tidak seaneh perubahan sikap Bunda.

Dibandingkan buku satunya, kisah dalam buku ini lebih terasa menakutkan. Prolog yang diberikan sudah cukup menjadi pembuka arah kisah akan dibawa. Epilog memberikan jawaban mengenai pertanyaan yang belum terjawab sebelumnya. Meski sekali lagi, akhir menggantung sepertinya sedang menjadi trand.

Bagi mereka  yang penakut, sangat tidak direkomendasikan untuk membaca buku ini meski di siang hari. Penggambaran yang dipakai penulis untuk mendiskripsikan suasana mencekam, sosok menakutkan seakan nyata. Sehingga hanya dengan membacanya saja kita seakan-akan sudah berada dalam kondisi tersebut, atau berhadapan dengan makhluk menakutkan.

Kover sudah cukup eye-catching, walau  nilai seramnya malah kurang terlihat. Yang saya lihat justru sebuah gambaran ruangan yang bobrok karena terawat. Bukannya gambaran apartemen yang menakutkan. 

Beberapa hal menjadi pertanyaan saya hingga tengah kisah, seperti latar belakar kehidupan keluarga Luna. Kenapa mereka hanya berdua? Kemana sosok ayah dalam kisah ini? Kenapa mereka harus pindah? Di mana sebelumnya mereka tinggal? Latar belakang seperti itu penting agar pembaca bisa lebih memahami gambaran kisah mengapa Bunda memilih pindah ke apartemen tersebut selain harga murah.

Hal tersebut ternyata ada di halaman 92. Pembaca jadi tidak dibuat untuk menerima kondisi tersebut begitu saja. Luna hidup berdua dengan Bunda. Karena sesuatu dan lain hal maka mereka harus pindah ke apartemen yang murah. Hal tersebut hanya diungkapkan begitu pada awal kisah. Belakangan memang diuraikan tentang hubungan antara anggota keluarga tersebut.  Dengan demikian pembaca bisa memahami latar belakang kehidupan Luna, maka kisah ini bisa lebih dinikmati.
 
Menurut (KBBI) Kamus Besar Bahasa Indonesia, Apartemen adalah:
Tempat tinggal (yang terdiri atas kamar duduk, kamar tidur, kamar mandi, dapur, dsb) yang berada pada 1 lantai bangunan bertingkat. Atau Bangunan bertingkat, terbagi dalam beberapa tempat tinggal.

Apartemen merupakan sebuah model tempat tinggal yang hanya mengambil sebagian kecil ruang dari suatu bagunan. Suatu gedung apartemen dapat memiliki puluhan bahkan ratusan unit apartemen. Istilah apartemen digunakan secara luas di Amerika Utara, sementara istilah flat digunakan di negara-negara persemakmuran.

Kisah yang seru. Tak heran jika mendapat bintang yang lumayan di GRI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar