Minggu, 25 Januari 2015

2015 #18: The Doctor



Penulis: Rahardian W. Pandoyo 
Editor: Itanov
Proofreader: Avivah Ve,  RN
Tata sampul: Ann_Retiree
Tata isi: Fitri Raharjo
Pracetak: Wardi
ISBN:  9786022557784
Halaman: 291
Cetakan: 1-Januari 2015
Penerbit : Mazola
Harga : Rp. 44.000


Ketika seorang dokter muda tenggelam dalam merah-hitamnya dunia kedokteran di Indonesia...; di-bully seniornya, dikhianati teman sejawat, dikadali pasiennya, diabaikan nasibnya oleh pemerintah, bahkan ditinggalkan oleh keluarga yang seharusnya mendukungnya, apakah ia akan tetap bertahan dalam profesinya sebagai dokter?


Seumur hidup saya selalu berurusan dengan dokter. Punya dua orang tua yang dokter, adik yang dokter gigi, bekerja di Fakultas Kedokteran sebelum akhirnya pindah ke perpustakaan, punya anak yang (pernah) bercita-cita jadi dokter, bahkan waktu kecil dalam Upacara Turun Tanah yang saya pilih pun adalah steteskop. Tapi pada akhirnya saya justru berada di dunia yang saya cintai tapi jauh dari urusan dokter.

Setiap orang memiliki peranannya masing-masing. Bahkan seorang dokter pun adalah manusia yang juga memiliki keterbatasan. Hanya saja profesi dokter adalah satu dari sekian profesi dengan nol kesalahan. Sedikit saja kesalahan bisa berakibat fatal, nyawa manusia melayang. 

Hal tersebut yang membuka kisah  The Doctor, Manusia Biasa yang Pernah terabaikan dan tersakiti. Adib, seorang dokter lulusan Unibraw belum setahun menjadi karyawan sebuah rumah sakit ketika ia mendapat surat pemecatan karena dianggap tidak bertugas dengan benar. Seorang pasien meninggal  dan kesalahan ditimbahkan pada dirinya.

Sebenarnya saat itu ia harus segera pulang karena istri yang hamil muda mendadak jatuh, sementara dokter yang harusnya menggantikannya malah akan datang terlambat 2 jam karena mengantarkan pacar ke bandara. Secara lisan Adib sudah melakukan serah terima tugas namun penggantinya mengaku tidak menerima serah terima tugas, bahkan menuduh Adib meninggalkan rumah sakit sebelum jam tugas berakhir. Ucapannya melawan keponakan pemilik rumah sakit dan dokter senior.

Pekerjaan yang porak-poranda ditambah dengan urusan rumah tangga yang juga kacau nyaris membuat Adib menyerah. Ia harus bekerja disebuah klinik malam sambil menyambi pekerjaan lain. Kadang dalam bertugas ia mengalami pertentangan bathin. Seperti saat seorang pria membeli pengaman dari kotak dagangan teman yang dititipkan padanya, saat seorang anak kecil membeli rokok bahkan saat ada tawaran untuk melakukan aborsi.

Segala kesialan menimpa Adib menjadi pesimis dalam menghadapi hidup. Untunglah salah satu adik kelasnya muncul menjadi pahlawan, seperti lakon sinetron. Mitha merupakan anak seorang jenderal. Parasnya yang cantik membuat ia digandrungi banyak lawan jelas. Namun demikian ia bukan jenis type gadis yang manja dan memanfaatkan pangkat orang tuanya dengan seenaknya saja.

Adit harus berjuang membuktikan dirinya layak diterima kembali oleh keluarga Nirmala istrinya, memulihkan nama baiknya serta  bertahan dari pesona Mitha gadis yang dikaguminya saat kuliah dulu. Bukan hal yang mudah, tapi bukan hal yang sulit juga untuk dilakukan.

Membaca buku ini membuat saya teringat saat masih bekerja di FK. Bagaimana sibuknya saat menjadi panitia sebuah acara, para dokter yang ahli urusan kesehatan mendadak jadi tidak tahu apa-apa urusan absensi, pembukuan dan promosi kegiatan. Sedih dan tertekannya para co ass saat masuk dalam sebuah bagian. Dilecehkan senior, ditindas suster banyak hal yang mengharukan saat mendengar cerita mereka. Semuanya digambarkan samar dalam kisah ini.

Kisah Adib seakan membuktikan bahwa sesudah jatuh tertimpa tangga, kita pasti akan mengalami kebahagiaan. Sesulit apapun diri kita pasti akan ada pertolonganNYA bahkan melalui orang atau peristiwa yang tidak terduga sama sekali. Meski saya bertanya-tanya sungguh sial sekali nasib Adib. Apakah ia selalu grudak-gruduk sebagai seorang dokter? Dimana ketenangan yang harusnya ada dalam sosok seorang dokter. Apakah Nirmala tidak mengerti profesi suaminya sebagai seorang dokter? Apakah sebegitu sulitnya hidup mereka sehingga  Adib terlalu berkonsentrasi dengan urusan mencari uang dan sedikit mengabaikan istrinya? 

Jika Adib adalah seorang yang digambarkan selalu sial dan memiliki kondisi fisik yang biasa, maka tidak dengan Mitha. Keduanya bagaikan bumi dan langit.  Mitha selalu digambarkan selalu berada dalam waktu dan tempat yang tepat. Ia selalu beruntung.

Adegan dimana Mitha menggunakan pengaruh ayahnya untuk menolong  Adib merupakan suatu ungkapan bahwa kadang kekuasan juga dimanfaatkan untuk kebaikan. Tidak selalu orang yang memiliki kekuasaan mempergunakannya untuk menindas sesama, ada juga yang mempergunakannya untuk bisa membantu sesama.

Sementara sosok Nirmala selaku istri Adib bisa dibilang sebagai pelengkap saja. Kisah bagaimana ia dan Adib berkenalan hingg akhirnya menikah hanya dikisahkan dalam beberapa lembar halaman saja. Kesan yang diberikan oleh penulis pada sosok Nirmala ada seorang perempuan yang lemah dan kurang memahami profesi suaminya. Kondisi sesudah hamil bukanlah alasan untuk membuatnya menjadi lemah dan menurut begitu saja keinginan keluarga besarnya.

Buku ini merupakan  salah satu proyek menulis Diva yang berdasarkan pada profesi. Dalam persyaratan disebutkan, "Diharapkan mencantumkan sumber riset untuk tokoh yang akan dipakai dalam novel tersebut (lebih baik jika penulis dapat kontak langsung dengan yang bersangkutan bahkan melihat kehidupan sehari-harinya)" Saya jadi penasaran apakah tokoh Adib benar-benar ada?  Jika ada mungkin beliau perlu diberikan pelatihan motivasi diri sehingga tidak rendah diri sebagai anak seorang buruh meski sudah menjadi dokter. Hal tersebut yang diungkapkan beberapa kali dalam buku ini. 

Bagi mahasiswa kedokteran atau siapa saja yang tertarik akan dunia kedokteran buku ini perlu dibaca agar memahami bagaimana situasi kerja di rumah sakit atau klinik kesehatan. Serta apa saja yang mungkin terjadi saat seorang dokter melakukan tugasnya terhadap masyarakat. Tidak perlu khawatir,
ada juga sisi baik menjadi seorang dokter. Sayangnya hal tersebut tidak diungkap dalam buku ini. Selain bisa berbagi perihal kesehatan, banyak hal yang bisa melibatkan seorang dokter. Mendirikan rumah sakit bagi yang tidak mampu, memberikan penerangan soal kebersihan, menemukan sebuah obat yang murah bagi penyakit dan lainnya.

Selain buku ini, ada tiga judul lagi yang sudah beredar yaitu;The Dancer, mimpi di ujung selendang merah muda; The Banker. something you didn't realize begin a story; The Violist, my heart will go on. Entah bagaimana ketiga buku yang lain tapi untuk buku yang ini hurufnya tidak nyaman untuk mata.

Sekedar ingin tahu kenapa ditulisnya The Doctor ya? Maksudnya kenapa harus menggunakan bahasa asing. Kenapa tidak menggunakan bahasa lokal, Dokter. Misalnya judulnya menjadi Dokter, Juga Manusia Biasa.

Sepertinya saya orang yang paling cerewet soal glosarium atau catatan kaki. Penulis mempergunakan istilah kedokteran dalam buku ini, tapi tidak ada penjelasannya. Bagi rekan sejawat atau mahasiswa kedokteran semester tertentu bisa mengerti apa yang diuraikan oleh penulis, Tapi tidak bagi masyarakat awam. Jika buku ini ingin dinikmati semua kalangan tentunya pembaca harus memiliki pemahaman yang sama tentang suatu hal. 

Mungkin karena saya terlalu sering berada dalam lingkungan kedokteran saya tidak menemukan sesuatu yang spesial dari buku ini. Malah menurut saya curhatan para mahasiswa lebih seru. Mungkin sedikit urusan permainan detektif yang dilakukan oleh Mitha dab Adib. Sebagian besar kisah dalam buku ini lebih menekankan akan kesulitan Adib dimana Mitha muncul sebagai pahlawan.

Sebagai informasi saja, Adib menolak melakukan aborsi karena terikat akan Sumpah Dokter yang diucapkannya. Sumpah Dokter Indonesia adalah sumpah yang dibacakan oleh seseorang yang akan menjalani profesi dokter Indonesia secara resmi. Sumpah Dokter Indonesia didasarkan atas Deklarasi Jenewa (1948) yang isinya menyempurnakan Sumpah Hippokrates. Lafal Sumpah Dokter Indonesia pertama kali digunakan pada 1959 dan diberikan kedudukan hukum dengan Peraturan Pemerintah No.69 Tahun 1960. Sumpah mengalami perbaikan pada 1983 dan 1993.

Sumpah tersebut adalah sebagai berikut,
Demi Allah, saya bersumpah bahwa : 
  • Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan
  • Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya
  • Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang berhormat dan ber­moral tinggi, sesuai dengan martabat pekerjaan saya
  • Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan
  • Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerja­an saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter
  • Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran
  • Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan
  • Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian, atau kedudukan sosial
  • Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan
  • Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan ke­dokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan
Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan memper­taruhkan kehormatan diri saya.

Bagus tidaklah buku ini saya serahkan pada pembaca.

Sumber Sumpah Dokter:
http://www.kaskus.co.id/thread/52981af319cb17fc41000136/inilah-isi-sumpah-dokter-yuk-dibaca-biar-tau

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar