Jumat, 02 Januari 2015

2015 #1 : Interpretasi Psikotes Gambar

Penulis: Hardi Soenanto
Penyunting: Triwanto
Pemeriksa aksara: Tika
Penata letak: M.S Lubis
Desain sampul: Gunawan
ISBN: 9789796109944
Halaman: 193
Penerbit:Pustaka Widyatama
Harga: Rp 40.000

Saya tidak bisa menggambar.
Pelajaran yang paling saya tidak suka saat sekolah dulu adalah menggambar dan bernyayi. Berbagai upaya saya lakukan agar bisa lolos dari kewajiban membuat gambar. Dari rayuan traktir kantin hingga membeli cat air atau crayon yang besar supaya mereka yang bisa menggambar tapi tidak punya alat mewarnai bersedia menggambarkan untuk saya dengan imbalan menggunakan car air atau crayon saya dengan bebas.

Itu sebabnya setiap kali menghadapi psikotes saat mencari kerja dahulu saya paling senewen pada bagian diminta menggambar.  Pernah saya mengikuti test dimana ada bagian menggambar, jelas saya gagal total, lalu ada bagian diminta menulis tentang apa yang akan saya lakukan jika diterima bekerja di perusahaan itu. Untuk bagian yang ini  saya sukses membuat peserta lain gemetar karena bolak-balik meminat kertas tambahan untuk menulis.

Buku ini dibuat guna menjawab pertanyaan yang sering muncul dalam benak peserta tes, apa kriteria dari sebuah gambar?  Bagaimana sebenarnya kriteria penilaian tersebut, bagaimana gambar yang sebenarnya diharapkan? Untuk posisi bagian keuangan, tentunya diharapkan sosok yang teliti. Untuk itu gambaran yang dibuat oleh peserta psikotes harus mencerminkan sosok yang teliti.

Biasanya saat mengikuti psikotes peserta akan diberikan selembar kertas lalu diminta menggambar orang, pohon atau rumah.  Untuk orang sudah diberikan pesan jangan menggambar stickman. Gambarlah orang yang sedang beraktivitas.  
  

Untuk urusan gambar, yang diminta sebenarnya bukan bagusnya gambar tapi hal lain seperti ukuran, posisi, tebal-tipisnya garis. Jika menggambar pohon bagaimanakah bentuk daun, bentuk  akar, apakah pohon condong atau tegak lurus.  Posisi gambar pohon kecil di bagian bawah kertas interpretasinya subyek didominasi sifat rendah diri, tertutup, ragu-ragu dalam bertindak, percaya diri kurang, ada perasaan tertekan dalam bathinnya (halaman 141).  Gambar akar pohon tertutup interpretasinya subyek memiliki kepercayaan diri kuat, independen, daya juang tinggi, sedikit tertutup, memegang prinsip kuat (halaman 148).

Sementara jika menggambar rumah bagaimanakah bentuk rumah tersebut, rumah mewah atau rumah sederhana, bagaimana posisi pintu, dan lainnya. Gambar rumah dengan pintu terbuka interpretasinya subyek merasa peranannya sebagai anak mendapat tempat sebagaimana mestinya. Kehadiran ibu dianggap cukup memenuhi harapan, tercipta rasa aman dan tenteram (halaman 166)

Kriteria penilaian interprestasi kepribadian atas diri subyek antara lain rambut, alis, mata, hidung, wajah, leher, bahu, gigi, dagu, mulut, tangan, paha serta kaki.  Interprestasi gambar orang dengan rambut gondrong  adalah subyek cenderung berkrepribadian tidak jelas. Ada konflik batin yang sulit dijelaskan. Pergaulannya menjadi tidak nyaman, karena arah pribadi dan keinginannya yang tidak jelas (halaman 33). 

Gambar orang dengan pergelangan tangan dan kaki kecil  interprestasinya jika subyek adalah laki-laki, perilakunya cenderung seperti wanita, lemah gemulai, dingin, halus (halaman 100).  Gambar orang bersandar di pohon interprestasinya subyek adalah pribadi yang sangat mengidolakan sang ayah. Hubungan personal lebih dekat dengan figure ayah daripada ibu, Baginya ayah dapat memberikan rasa aman , dan tenteram (halaman 133).

Kita akan mendapat bonus  Wawasan Seputar Wawancara Kerja pada bagian belakang.  Pada bagian Yang Perlu Anda Ketahui tentang  Wawancara Kerja kita akan mendapat  tambahan pengetahuan apa itu  wawancara kerja, mana yang lebih penting antara wawancara atau psikotes, apakah harus menjawab pertanyaan dengan panjang lebar atau cukup singkat saja, adakah keterampilan khusus dalam menjawab pertanyaan dalam wawancara  dan masih banyak hal  lainnya.

Bagian Persiapan Sebelum Wawancara  memberikan infomasi mengenai persiapan apa saja yang harus dilakukan  sebelum wawancara kerja seperti menyoapkan dokumen, survey lokasi dan lainya.  Termasuk mitos apakah  potongan rambut bisa menggagalkan interview, perlu tidak menggunakan dasi bagi pelamar laki-laki dan lain sebagainya.

Sikap Saat Wawancara merupakan bonus yang tak kalah penting. Saat melakukan wawancara banyak pelamar yang duduk dengan posisi nyaman bagi dirinya tapi tidak nyaman dilihat oleh pewawancara. Ucapan terima kasih juga perlu diucapkan saat dipersilahkan duduk.  

Bahkan posisi duduk tegak memandang lurus ke depan dengan tangan dipangkuan merupakan sikap yang harus dilakukan oleh pelamar. Sering kali mata tidak fokus pada pewancara namun malah memandang kesekeliling ruangan. Hal-hal kecil namun berarti besar harus diperhatikan dengan seksama.

Pertanyaan Umum dalam Wawancara serta Pertanyaan Standar Calon Karyawan kepada Pewawancara merupakan tambahan wawasan mengenai apa saja yang ditanyakan dalam wawancara serta apa yang sebaiknya kita tanyakan saat wawancara. Dengan demikian kita bisa melatih diri guna mempersiapkan jawaban yang  tepat saat diwawancarai guna menimbulkan kesan baik.  Biasanya pertanyaan seputar nama, tempat tinggal, pendidikan, alasan ingin pindah kerja, dan sebagainya. 

Saat wawancara, ada baiknya kita juga bertanya hal umum seperti perusahaan jika belum diberitahukan sebelum wawancara seperti kapan perusahaan berdiri, berapa banyak karyawan. Sementara pertanyaan spesifik sesuai dengan posisi melamar, contohnya untuk melamar HRD Manajer bertanya mengenai funsi HRD selama ini, apalah karyawan sudah terdaftar BPJS, skala prioritas HRD dimasa depan. Hal ini menunjukan profesionalisme dan keinginan untuk bergabung pada perusahaan tersebut.

Bagi saya pribadi, buku ini menjadi semacam penuntun guna saya menilai kepribadian diri saya sendiri. Selama ini setiap kali mengikuti test saya selalu menggambar pohon di bagian tengah dengan ukuran yang lumayan besar. Akarnya bercabang dan tertutup. Sementara bentuk daun mengikuti suasana hati saat mengikuti tes. Ukuran besar lebih karena saya ingin membuat kertas penuh sehingga tak usah menggambar lagi guna mengisi kekosongan. Demikian juga urusan akar, hanya agar kelihatan itu bagian akar maka dibuat bercabang. Semakin banyak cabang buat saya sama artinya dengan tidak perlu menggambar yang lain. Sementara bagi psikolog yang memelaah test tentunya akan mengartikan lain.

Sebuah pertanyaan muncul dalam benak saya. Bagaimana jika orang tidak bisa menggambar? Diri saya sebagai contoh. Test kemampuan bakat saya membuktikan bahwa saya tipe orang dengan kecerdasan kata-kata. Dengan kata lain maka akan tidak mudah bagi saya untuk menghitung atau menggambar. Saya tipe orang yang tidak mampu memvisualisasikan sesuatu hal dengan gambar, untuk itu saya tidak direkomendasikan mengambil jurusan tekhnik.  

Setelah membaca buku ini , maka saat mengikuti psikotes saya menggambar sosok orang yang diharapkan untuk posisi yang saya lamar. Tentunya berpedoman pada isi buku ini saya sudah berlatih menggambar. Selanjutnya apakah hasil penilaian tidak mengalami perubahan? Apakah psikolog yang membaca hasil psikotes  tahu bahwa gambaran yang saya buat adalah hasil latihan, bukan apa adanya diri saya yang tidak bisa menggambar? Lalu apakah benar tidak ada pengaruhnya keindahan gambar yang dihasilkan? 
Sayangnya buku ini tidak memuat secara rinci mengenai interpretasi. Bagaimana jika seseorang menggambar wajah dengan leher seperti jerapah, wajah lebar, mulut tertutup, rambut botak dan mata lebar. Apakah interpretasinya merupakan gambungan dari interpretasi setiap bagian atau ada cara membaca yang lain?

Dari gambar yang dihasilkan psikolog akan menginterprestasikan apakah individu yang mengikuti test merupakan sosok yang pemurung atau ceria, rajin atau malas, cerdas atau biasa saja, ambisius atau pasrah, kekanak-kanakan atau dewasa dan sebagainya. Dalam Pendahuluan disebutkan bahwa test kepribadian dengan metode menggambar ini, sekalipun pelaiannya bersifat interprestasi (tafsiran), tapi tingkat keabsahannya (kebenarannya) cukup tinggi dan terbukti bahwa sudah puluhan tahun metode test sudah dijalankan di berbagai negara, dan sampai sekarang pun test kepribadian menggambar masih dianggap relevan. Jadi adakah pakem mengenai hal tersebut, jika ada berdasarkan apakah hal tersebut. Penasaran, musti cari referensi lagi nih.

Terlepas dari kekurangan yang ada, buku ini cocok dibaca bagi mereka yang akan memasuki dunia kerja dan bersiap menghadapi psikotes.















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar