Senin, 26 Januari 2015

2015 #20: Ini Karyaku, Mana Karyamu?


Judul: Show Your Work
Penulis: Austin Kleon
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penyunting: HP Melati
Penyelaras aksara: Putri Rosdiana
Penata aksara: Isti
Desain sampul: Hedotz Kliwon
ISBN: 978-602-1306-67-3
Halaman: 224
Cetakan: 1- November 2014
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 49.000

Berbagi
Tunjukan karyanya
Tidak perlu malu

Berkarya bagus ternyata tidaklah cukup. Bagaimana bisa orang mengenal karya kita jika tidak ada yang tahu? Harus ada yang menemukan, mengetahui karya kita dan memberitahu ke orang lain. Agar ditemukan, maka kuncinya adalah harus mudah ditemukan. Menurut penulis, ada cara mudah untuk menyebarkan karya kita dan menjadikannya gampang ditemukan sementara kita berfokus menjadi ahli di bidang yang kita geluti.

Ini merupakan buku bagi orang yang tidak suka mempromosikan diri. Merupakan buku tentang mempengaruhi orang lain dengan membiarkan mereka mencuri dari kita. Apa yang dicuri? Segala hal, ide, karya. Dengan demikian karya kita akan tersebar luas dan dikenal. Di zaman serba digital ini sudah bukan hal sulit untuk menunjukan sebuah karya.

Ada sepuluh hal  penting dalam buku ini yang perlu kita telaah. Penulis secara spesifik mengatakan, "Tidak semua nasehat itu sehat. Jangan ragu mengambil yang sesuai, dan abaikan lainnya." Maka  uraian point yang saya ambil adalah yang menurut saya sesuai, mungkin saja tidak menurut orang lain.

1. Tak Perlu Menjadi Jenius
Perubahan dunia yang cepat membuat setiap orang harus menjadi amatir-orang yang melakukan sesuatu atas dasar kesenangan, memperjuangkan karya dengan semangat cinta, tanpa menghiraukan potensi kesohoran, uang atau karier-keuntungan yang kerap didapatkan oleh para profesional. Amatir melalukan   tanpa ada rasa takut salah atau kelihatan memalukan di depan umum. Mereka belajar secara terbuka hingga orang lain busa belajar dari kegagalan dan keberhasilan mereka. 

Cara terbaik untuk mulai membagi karyamu adalah memikirkan apa yang ingin kau pelajari, lalu komitmenlah mempelajarinya melebihi apapun.  Perhatikan apa yang orang lain bagi, lalu catatlah apa yang tidak mereka bagikan.  Cermati kekosongan yang dapat diisi dengan usaha sendiri. Lupakan hal lain.

Ingat tentang Blue Ocean Strategy? Strategi tersebut  bisa diaplikasikan pada point ini.

2. Pikirkan Proses, Bukan Hasil
Tengok sebuah gerai makanan ringan di pusat perbelanjaan terkenal. Selain memajang aneka panganan yang bisa dilihat dari dekat oleh pembeli, pelayanan juga dilakukan secara swalayan. Silahkan tentukan pilihannya, diskusi dengan keluarga atau teman yang datang bersama bahkan bisa dengan sesama pembeli, lalu bayar. Terpenting, pembeli bisa melihat bagaimana proses pembuatannya.  Yang ditawarkan tidak hanya kenikmatan rasa pada makanan tapi juga sensasi mengikuti bagaimana proses pembuatannya.

Melalui publikasi, secara konsisten kita membangun hubungan dengan konsumen. Mereka bisa melihat orang di balik suatu produk. Masyarakat tidak hanya disodori karya bagus tapi juga ingin berkreasi dan menjadi bagian proses kratif.

Bagamana menunjukan karya bila tidak ada yang diperhatikan? Maka yang harus dilakukan adalah meraup potongan dan sisa-sisa proses lalu bentuk menjadi semacam media menarik yang dipublikasikan. Kita harus mampu mengubah yang tak tampak menjadi sesuatu yang bisa  dilihat orang.  Untuk itu sangat perlu mendokumentasikan apa yang kita kerjakan. Dokumentasi bukan untuk dijadikan karya, namun sebagai catatan saja bagaimana karya tersebut diciptakan.

3. Berbagilah Hal Kecil Setiap Hari
Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Publikasikan karyamu setiap ada kesempatan. Satu kalimat per hari misalnya, maka dalam sebulan akan mejadi tiga puluh kalimat. Bayangkan berapa kalimat selama satu tahun. Tapi ingat juga untuk tidak melakukannya jika belum siap dilihat seluruh dunia. Setelah yakin siap baru mulailah mempublikasikan karyamu secara kontinyu.

Terbukalah, bagikan karya tak sempurna dan belum jadi untuk mendapat komentar, masukan dan kritik tapi bukan  berbagi segalanya.  Perhatikan perbedaan besar antara berbagi dan membanjiri. Berbagi adalah sebuah tindakan murah hati, mempublikasikan sesuatu karena menurutmu bermanfaat atau menghibur seseorang. 

4. Buka Koleksimu
Kita semua punya kumpulan koleksi, kumpulan beda kesayangan.  Kita semua membwa benda-benda ajaib dan menyenangkan yang ditemui ketika berkarya dan menjalani hidup. Semua itu membentuk selera, dan selera mempengaruhi karya kita. 

Sebelum siap berbagi karya dengan dunia, kita bisa berbagis elera dengan memperhatikan karya orang lain yang kita sukai. Semua hal yang memberikan pengaruh layak dibagi karena menjadi petunjuk tentang siapa dirimu dan apa yang kamu lakukan. Kadang itu semua bahkan lebih menunjukkan siapa dirimu melebihi karyamu sendiri.

Saat berbagi selera dan sumber pengaruh, beranikan diri mengakuinya. Jangan menyerah pada tekanan untuk terlalu mengoreksi diri. Jangan berusaha menjadi tren atau keren. Terbuka dan jujur akan apa yang disukai adalah cara terbaik untuk dekat demgan orang yang memiliki minat sama. 

5. Ceritakan yang Baik-baik Saja
Manusia ingin tahu dari mana asal suatu benda, cara membuat, siapa yang membuat dan hal lainnya. Kisah yang disampaikan terkait karya tersebut akan berpengaruh pada perasaan dan pemahaman mereka mengenai karya tersebut. Perasaan dan pemahaman orang lain mempengaruhi apresiasi mereka akan karya tersebut. 

Karya tidak lahir begitu saja, sadar atau tidak kita pasti pernah menyampaikan kisah tentang karya tersebut kepada orang lain. Bila ingin lebih efektif ketika berbagi, jadilah pendongeng yang baik. Karena itu, kita perlu tahu bagaimana membuat cerita yang bagus dan cara menyampaikannya. 

Bagian terpenting dalam menyampaikan sebuah cerita adalah strukturnya. Ciri struktur cerita yang bagus adalah rapi, kuat dan logis.  Isi struktur cerita dengan karakter, situasi, latar kehidupan. Namun jangan karena ingin menyampaikan sebuah kisah bagus mengenai diri sendiri kita menjadi mengarang. Sampaikan yang sebenarnya dengan wibawa dan penghargaan kepada diri sendiri. 

6. Ajarkan yang Kamu Tahu
Mengajar bukan menciptakan pesaing. Hanya karena tahu teknik bagaimana seorang pakar melakukannya bukan langsung membuat kita mampu menerapkannya dan juga menjadi pakar. Hal terbaik  ketika berbagi pengetahauan dan karya dengan orang lain adalah kita juga belajar. 

Dengan mengajari orang lain justru kita menambah keahlian kita. Kita bisa mengetahui mana yang menjadi kekurangan dari teknik yang kita ketahui, apa kelebihannya dan bagaimana kemungkinan mengembangkannya kelak. Sewaktu kita mengajarkan sesuatu maka secara otomatis kita akan menarik perhatian lebih atas karya itu. Dan orang akan merasa dekat dengan karya kita karena diizinkan mengetahui prosesnya.

7. Jangan Jadi Manusia Penyampah
Manusia penyampah tidak ingin berkorban, hanya mau idenya didengar tapi tidak mau mendengarkan ide orang lain. Penulis yang ingin karyanya dimuat tapi tidak mau membaca majalah dimana ia ingin karyanya dimuat. Yang penting bagi mereka hanyalah diri mereka sendiri. 

Salah satu bagian dari Seven Habits adalah mendengarkan baru didengar. Kurang lebih bagian ini memuat hal yang sama. Bagaimana seseorang bisa menyadari kita ada jika kita menghargai keberadaannya. 

Bagian dari proses kreatif adalah menemukan bidangmu. Itu ada di mana-mana. Tapi jangan cari di tempat yang salah (Henry Miler).  Berprestasi adalah satu-satunya cara untuk memperoleh relasi atau koneksi. Buat sesuatu yang disukai, bahas, hal tersebut akan menarik orang-orang yang menyukai hal semacam itu. Sederhana.

8. Belajarlah Menerima Pukulan
Ketika mempublikasikan karyamu, kamu harus siap untuk reaksi baik, buruk bahkan tidak ada yang bereaksi sekali pun. Semakin banyak yang menemukan karya kita maka akan semakin banyak kritik yang kita hadapi. Dan pukulan akan datang bertubi-tubi.

Menghadapinya perlu cara khusus; santai dan bernafaslah, tegakkan kepala, mengelaklah, lindungi bagian rapuhmu, serta jaga keseimbanganmu.  Brian Michael Bendis memberikan rik guna menghadapi pukulan. Triknya adalah abaikan anggapan  SEMUA ORANG tentangmu dan hanya pedulikan pendapat orang yang TEPAT. 
Jangan abaikan umpan balik. Langkah pertama dari evaluasi umpan balik adalah menilah sumbernya. Jangan ladeni provokator.  Umpan balik yang kita inginkan adalah yang berasal dari orang-orang yang peduli kepadamu dan pekerjaanmu.

Ada kalanya kita tidak ingin mendengar komentar sama sekali. Tapi memberikan ruang komentar di bawah karyamu sama saja dengan mengundang komentar. Itu sebabnya tidak ada ruang di bawah lukisan dalam geleri yang ditulisi pendapat orang, setelah berkarya kamu tak perlu cek pendapat irang lain mengenainya. Biarkan orang mengontakmu langsung atau membahas karyamu di ruang mereka sendiri (Natalie Dee). 

9. Juallah
Sudah saatnya kita mengakhiri pandangan senimat melarat serta pemikiran mengurusi uang bsia merusak kreativitas. Ketika khalayak mulai berkumpul mencari karya yang selama ini disebarkan gratis, mungkin sudah saatnya menjadikan mereka sebagai sponsor. Hati-hati  menjualnya, ketika orang diminta merogoh dompet, kita akan tahu nilai penghargaan mereka akan karya kita. 

Hal yang penting dilakukan adalah berkarya bagus dan memanfaatkan setiap peluang yang ada. Kreativitas sangat lekat dengan perubahan-maju mengambil peluang, mendobrak batasan-batasan. Ambisius. tetaplah sibuk. Berpikirlah lebih besar. Perluas audiensi. Jangan terbelenggu hanya demi 'lebih pasti" atau  "takut tidak laku' Cobalah hal baru. 

Jika kesempatan datang dan membuat kita bisa berbuat lebih di bidang yang kita inginkan, katakan "ya" tanpa ragu. Jika kesempatan yang datang berarti lebih banyak uang tapi bukan jenis yang disukai tolak saja. 

10. Bertahanlah

Setiap perjalanan karier memiliki pasang surut. Jangan pernah mundur di tengah jalan. Kita tidak merencanakan apapun, hanya menyelesaikan kerja. Kita tidak memastikan kesuksesan, hanya membuka kemungkinan untuk itu, lalu bersiap melompat dan maju ketika saatnya tiba. Bertahan jauh lebih sulit dari pada upaya meraih keberhasilan. 

Dari pada jeda di tengah proyek menunggu umpan balik dan mencemaskan proyek yang akan datang, jadikan akhir satu proyek sebagai amunisi yang baru. Kerjakan apa yang ada di depan mata. Setelah selesai periksa apa yang terlewat, apa yang bisa diperbaiki atau apa yang belum dicapai. Kemudian mulai proyek baru. 

Ketika merasa cukup menguasai sesuatu, sudah waktunya berganti arus dan menemukan hal baru untuk dipelajari supaya lebih maju. Jenuh? Berhentilah sejenak agar bisa berlari jauh lagi. Dengan membuang karya lama, sesunggunya kita menyediakan ruang bagi karya baru. 


Halaman buku ini boleh saja sedikit tapi isi yang terkandungnya sangatlah besar. Bagi mereka yang memiliki karya tapi terlalu takut untuk membagikannya pada khalayak umum, sudah saatnya meninggalkan rasa minder dan mulai memperlihatkan karyanya dengan percaya diri.

Hal yang sedikit kurang nyaman dalam buku ini adalah penulis mempergunakan kata "kamu" sehingga kesannya menggurui. Padahal saya menganggap buku ini bergaya "sharing" atau berbagi karena pada judul tertera kalimat "to share" maka sapaan yang cocok adalah "kita" bukannya "kamu" Meski harus saya akui sang penulis memberikan pelajaran yang mengagumkan dalam buku ini.

Bagan serta kalimat yang perlu kita cermati dibuat dengan mempergunakan latar hitam. Hal ini langsung memberikan pesan pada otak kita untuk lebih memberikan perhatian pada bagian tersebut. Bagan atau gambar semakin mempermudah kita untuk memahami bagian yang diuraikan.

Sudah saatnya keluar dari Zona nyaman dengan memperlihatkan pada dunia sebuah karya.
Ini karyaku, mana karyamu





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar