Minggu, 25 Januari 2015

2015 #19: Terminal

Penulis: Roderick Gordon &  Brian Williams
Penerjemah: Maria A Lubis
Penyunting: Esti  A. Budihapsari
Proofreader: Emi Kusmiati
Desain sampul: David Wyatt
ISBN: 9789794338476
Halaman: 475
Cetakan: 1-11 Oktober 2014
Penerbit: Mizan Fantasi
Harga: Rp 65.000

Akhirnya terbit juga!
Kalimat tersebut spontan saya ucapkan ketika mengetahui seri pamungkas dari Tunnels terbit. Seingat saya, kisah sebelumnya, Spiral saya baca sekitar tahun 2012. Maklum cukup lama menunggu, sekitar dua tahun, sampai saya was-was takut pamungkasnya tidak terbit dalam bahasa lokal.

Semula saya mengira buku pamungkas ini pastinya tebal karena memuat banyak hal yang masih belum jelas diuraikan dalam buku-buku terdahulu, ternyata hanya 475 halaman. Tidak beda jauh dengan buku-buku lain dalam seri ini. Sebut saja Tunnels setebal 464, Deeper setebal 655, Freefal setebal 577, Closer setebal 508, Spiral setebal 443.

Saya hampir lupa sedang berada dalam keseruan seperti apa di Spiral. Untungnya kita mendapat semacam inti kisah dari Spiral sebelum mulai membaca. Sehingga pembaca bisa mengingat  kisah sebelumnya dan menikmati kisah yang ini.

Kisahnya dimulai dengan Jiggs yang berhasil selamat menemukan  tubuh  Rebecca Satu tergeletak hangus di dekat Drake . Kondisi Drake juga tak kalah memprihatinkan. Sepertinya ia terpapar radiasi. Jiggs menemukan Drake hanya untuk mengetahui bahwa ia akan kehilangannya. Denyut nadi yang semula lemah menghilang, tubuh itu berhenti bernapas.


Sementara itu Will dan Elliot  tak mengira bertemu dengan manusia yang mampu bertahan meski dengan bantuan alat. Werner, Jurgen dan anaknya Karl bisa bertahan di luar karena menggunakan helm slinder. Werner berupaya mengidentifikasi virus-virus tersebut guna mengisolasi. Bertemu dengan Will membuat ia bisa melakukan penelitain lebih lanjut guna menciptakan vaksin.


Di tempat yang lain, Chester sedang berupaya menerangkan apa yang sebenarnya terjadi ke presiden Amerika Serikat. Namun situasi mendadak berubah menjadi kacau. Styx mulai mengacau lagi.


Pihak lain,  Hermione mengerahkan anak-anaknya untuk membersihkan pusat perbelanjaan. Ia mengeluarkan suara panggilan yang tak bisa didengar oleh manusia. Armagi mengalir dari segala sisi dengan bentuk seperti monster-monster semitransparan, bagaikan dibuat dari es yang mencair, bulu sayap mereka yang tajam berkilau di bawah bola cahaya.

Singkat kata, dalam buku keenam ini kedua belah pihak habis-habisan bertempur. Segala daya dan upaya dikeluarkan untuk mencapai tujuan masing-masing. Aneka keseruan ada pada bagian ini.Will dan teman-temanya berusaha bertahan dari virus yang dilepaskan oleh  pihak Styx.


Pada akhir buku ini, Will menemukan dirinya di dalam rumah sakit tanah, bersatu kembali dengan ibunya dan dengan Bartleby, salah satu dari anak-anak kucing Bartleby yang asli, yang menyerupai ayahnya

Sepertinya kehidupan mulai berjalan normal hingga ibunya mengatakan bahwa ia seakan-akan mencium bau Styx di rumah mereka. Will langsung menjadi waspada, jangan-jangan ada yang telah berubah di dirinya, meskipun ia telah dioperasi setelah Alex menempatkan telur di dalam dirinya. Biasanya tak ada yang mampu bertahan hidup setelah dubuahi oleh Styx, tapi Will jelas berbeda.  Tidak ada yang pasti bukan?

Secara garis besar buku ini menawarkan keseruan dari halaman pertama hingga terakhir. Aneka pertanyaan yang selama ini mengganjal bisa ditemukan jawabannya dalam buku pamungkas ini. Sayangnya jarak terbit yang jauh membuat pembaca bisa saja lambat menikmati kisahnya. 

Gaya berkisah yang cenderung memiliki irama lambat juga bisa membuat pembaca menjadi bosen jika tidak hati-hati. Aneka kejutan membuat kisah dalam serial ini bisa lebih dinikmati.

Kisah yang dimulai dari Will menemukan sebuah lorong berkembang menjadi upaya penyelamatan bumi serta umat manusia. 

Ada yang membandingkan kisah ini dengan HP mengingat salah satu editornya adalah yang menemukan kisah HP. Bagi saya kisah ini berbeda dengan HP, jika harus memilih saya akan memilih HP karena kisahnya lebih mudah dicerna.

Konon berita serial ini akan diangkat ke layar lebar. Mungkin saja justru jika dibuat film malah lebih mudah dimengerti kisahnya. Atau bahkan bisa juga menjadi makin tidak dimengerti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar