Selasa, 20 Januari 2015

2015 #16: Etiket Batik & Tenun 1930-1990



Penyusun: Hermanu
Penulis: Ibnu Wibi Winarko, Terra Bajraghosa
Tim kerja: M. Wuryani, Zuliati, Suharmanto
Desain & tata letak: Felix S. Wanto
ISBN: 9786021489208
Halaman:176
Cetakan: 1-2014
Penerbit: Bentara Budaya Yogyakarta


Menawi saget tumbes  merek  XXX mawon
Wonten  tempelanipun 
Mantep.

Dulu saya selalu mendapat pesan itu dari pengasuh saya jika kebetulan ada acara ke Solo. Penasaran juga kenapa harus  merek XXX, apa bedanya dengan yang lain. Sekilas bagi saya mutu merek XXX setara dengan merek lain, beberapa bahkan menawarkan harga lebih terjangkau dengan mutu yang sama. Tapi begitulah jika sudah fanatik dengan  brand suatu produk. Biasanya saya membeli beberapa macam untuk dipilih. Tidak perduli ada yang harganya lebih mahal atau  desainnya ada yang lebih bagus tetap saja si mbok akan terlihat  sumringah jika diantara pilihan ada merek  XXX.

Yang dimaksud  si mbok dengan  tempelan merek XX sebenarnya adalah etiket-merek dagang yang menempel pada kain.   Nama pembuat atau pabrik  dibatikkan pada salah satu ujung kain. Sehingga saat dilipat dan dikemas  tak akan terlihat. Pembuat batik merasa perlu untuk mencantumkan informasi mengenai pembuat atau pabrik di atas lipatan supaya mudah terlihat. Bisa dikatakan juga sebagai sarana untuk mengenali produk.

Buku ini memuat informasi mengenai etiket batik dan tenun dari Yogyakarta, Solo, Pekalongan dan Cirebon pada kurun waktu 1930-1990.  Pada Selasa 3 Desember – Jumat 12 Desember 2013 dipamerkan sekitar 500 etiket batik di bantara Budaya Yogyakarta. Dalam acara Pameran Seni Grafis ini, etiket batik  yang dpamerkan  merupakan koleksi Bentara Budaya Yogyakarta dan Ibnu Wibi Winarki. Banyak merek dagang tersebut sudah lama tidak beredar lagi di pasaran kain batik. Etiket batik dan tenun ini berasal dari Pulau Jawa terutama dari kota-kota produsen batik yang terkenal seperti Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Lasem dan beberapa kota kecil seperti Pedan atau Sentol. Buku ini bisa dikatakan sebagai kelanjutan dari kegiatan pameran tersebut.

Etiket berasal kata dari Etiquette (Perancis) yang berarti kertas yang ditempelkan pada kemasan barang-barang dagang yang bertuliskan nama, isi dan sebagainya terkait produk tersebut. Secara umum, etiket dikenal dengan istilah label. Jangan salah dengan etiket yang bermakna sikap sopan santun.

Etiket  batik cenderung berfungsi sebagai label pada kemasan yang tampaknya juga bertugas sebagai merek dan logo produk. Untuk itu  sebaiknya logo  dibuat dengan mengusung orisinil serta mudah diingat, mudah dikenali, sederhana dan tentunya mudah diingat. 

Dalam http://www.dgip.go.id/merek disebutkan bahwa Merek adalah suatu "tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa. Sementara Merek Dagang adalah merek yang digunakan pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan barang-barang sejenis lainnya. Karena salah satu tujuan penggunaan etika untuk membedakan maka tak heran jika gambar pada etiket beragam. Ada yang sekilas mirip, jika diperhatikan lebih seksama pasti ada perbedaannya.

Dalam Etiket yang Terus Melengket, Terra Bajraghosa menyebutkan berbagai jenis etiket. Ada etiket dengan gambar alam misalnya mempergunakan gunung, gambar bola dunia, air mancur dan lainnya. Etiket dengan  angka dan huruf  misalnya 28, 57, 21. 

Saya sedikit bingung melihat  gambar etiket dalam kategori ini.  Pada halaman 119 Judul gambar adalah, "Etiket dengan Gambar Angka"  bukankah seharusnya Angka dan Huruf mengingat juga terdapat etiket yang mempergunakan kata dan abjad, Misalnya BATIK-HALUS  "PURNAMA", BATIK Sumber Redjeki, ada  juga yang mempergnakan Huruf seperti "R", "HI" Sepertinya ada kekurangan pencantuman  judul.

Lalu ada Etiket dengan gambar bintang, binatang seperti burung kakak tua, kelelawar, merak,  kuda, onta, ikan,  bahkan pegasus alias kuda bersayap juga ada. Gambar Wayang, bunga, tanaman, alat transportasi, garuda,  bangunan, serangga seperti kupu-kupu dan laba-laba juga ikut meraikan aneka etiket.

Etiket menggunakan gambar benda misalnya rumah, sepeda, panah,  keris,  hingga  kapal terbang.  Benda-benda yang dipergunakan dalam etiket umunya benda-benda yang  ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Uniknya ada yang tidak bersinggungan denagn dunia batik. Dengan menampilkan benda-benda secara spesifik dipercaya mampu tampil beda dengan merek lainnya. Bahkan ada  yang menampilkan ilustrasi berupa sepasang raket yang saling menyilang serta satu buah shuttecocok di bawahnya tanpa mencantumkan nama merek. Jika begini pembeli dan penjual harus memiliki persepsi yang sama dalam menyebut produk dengan mempergunakan lambang tersebut.

Terdapat juga etiket mempergunakan gambar gadis, tepatnya ilustrasi sosok seorang gadis yang sedang beraktivitas. Ilustrasi gadis bisa berupa gambar ada juga yang mempergunakan foto wajah. Bisa memang foto wajah keluarga atau model yang dianggap bisa merepresentasikan produknya. Kesamaan secara umum adalah mereka mempergunakan busana Jawa.  

Keanekaragaman etiket tersebut tidak lepas pengaruhnya dari perkembangan dunia percetakan dan desain grafis. Para produsen baik mulai memandang merek sebagai hal yang penting. Pemilihan gambar atau simbol sebagai representatif produk  tentunya didasari akan pertimbangan matang tidak hanya sekedar estetika saja.

Sedikit orang yang memperhatikan etiket. Biasanya sebelum dipakai kain akan dicuci terlebih dahulu. Pada proses pencucian ini, sering kali etiket dibuang oleh pemilik kain. Padahal nilainya sebagai barang koleksi cukup tinggi.

Dalam Menikah dengan Gambar, penulis mengisahkan tentang ketidaktahuan seorang anak yang menjual seluruh koleksi etiket milik almarhum bapaknya.   Sang ibu yang mengetahui koleksi milih suaminya sudah dijual berniat mengumpulkannya kembali mengingat bagi suaminya etiket tersebut tak ternilai harganya. Pemburuan pun dilakukan. Etiket-etiket tersebut ditemukan sudah berada di salah satu pedagang atik di Pasar Triwindu, Solo. Namanya juga pedagang, tentunya ingin mencari untung. Sang ibu tidak bisa membeli kembali dengan harga transaksi yang dilakukan oleh sang anak.  Sang ibu yang berniat menebus seluruh etiket terpaksa pulang dengan perih di dada sambil membawa beberapa lembar etikat yang mampu ditebus.

Berkaca pada kejadian tersebut, penulis menyarankan agar para kolektor terbuka pada keluarganya mengenai istri kedua, sebutan bagi  barang-barang yang dikoleksi. Hal ini membuat keluarga akan menghargai barang koleksi tersebut dan memeprlakukannya dengan lebih hati-hati. Serta melindungi dari anak-anak  yang gatal ingin menjual karena ketidaktahuannya.  Jika kelak ingin dilepas tentunya dengan lebih memahami koleksi maka harga jual yang diperoleh  bisa lebih bagus

Melalui etiket kita juga bisa mengetahui perkembangan kehidupan sosial masyarakat pada kurun waktu teetentu. Kita jadi mengetahui saat itu warna yang paling disukai masyarakat adalah warna Z, terlihat dari sebagian besar etiket yang dipergunakan pada waktu itu mempergunakan warna Z. Semakin banyak etiket yang dikeluarkan pada tahun tertentu bisa diasumsikan situasi ekonomi membaik dengan banyaknya produk baru guna memenuhi keinginan pasar. Banyak hal yang bisa digali dari secarik etiket. 

Selain terdapat tulisan mengenai Etiket yang Terus Melengket oleh Terra Bajraghosa serta Menikah dengan Gambar  oleh Ibnu "Benu" Wibi Winarko terdapat juga tulisan  mengenai seni batik, ornamen tradisional Jawa dalam batik serta tentunya tentang  industri batik dari kontribusi yang kompeten. Etiket ada karena perkembangan industri batik sehingga rasanya perlu juga diinformasikan mengenai perkembangan dunia batik.  

Bahkan sepertinya lebih banyak uraian mengenai kain batik dibandingkan tentang etiket itu sendiri. Mungkin karena lebih mengarah pada gambar maka bagian  etiket lebih pada lampiran gambar yang cukup banyak dibandingkan uraian kata.

Bagian dengan judul Bab Batik oleh Soeharto pada halaman 51 hingga 52 merupakan bagian yang unik. Penulis mengulas tentang batik, memang bukan hal yang luar biasa dalam buku ini. Uniknya adalah pada bahasa yang dipergunakan. Bagian ini mempergunakan bahasa Jawa. 

Saya sempat bingung karena setelah Ucapan Terima Kasih terdapat Daftar Pustaka lagi. Sepertinya buku yang saya miliki mempunyai kelebihan halaman. Daftar Pustaka yang diikuti dengan Ucapan Terima Kasih berulang dalam buku yang saya miliki.

Soal kesalahan editing, sepertinya saya menemukan paragraf berulang. Pengulangan terjadi pada paragraf ketiga di halamana 77 dengan paragraf pertama di halaman.

Terlepas dari kekurangan yang ada, buku ini sangat layak masuk dalam koleksi. Isinya memberikan pengetahuan yang unik dan merupakan hasil pengamatan  segelintir orang yang peduli akan keberadaan etiket. Apa lagi tercantum hanya dicetak 1.000 eksemplar. Jika banyak yang membutuhkan mungkin kita akan menemukan cetakan kedua. Jika tidak? Tentunya akan menjadi buku langka yang layak koleksi.

Pada "Menikah dengan Gambar" buatan  Ibnu Wibi Winarko menuliskan sebuah pesan yang  pada halaman 47, 
"Koleksi tidak usah semua barang, fokus saja kepada salah satu barang, biar kantong tidak bolong."
Sepertinya kita diajak untuk konsisten mengoleksi suatu benda saja sehingga hasilnya maksimal. Memang tidak ada larangan untuk mengoleksi beberapa macam barang, tapi untuk itu perlu dana yang lumayan dan waktu. Lebih baik mengoleksi satu barang tapi maksimal dari pada berbagai barang tapi sekedar saja.

Koleksi saya jelas buku Little Women, apa koleksi kalian? ^_^


Sumber gambar:



2 komentar:

  1. wah ntar saya harus kasih tau sama anak saya kalau buku yang saya kumpulkan itu bernilai tinggi

    *lah apa hubungannya*

    hahaha

    BalasHapus
  2. Biar tuh anak enggak manggil tukang loak trus buku-bukunya dikiloin hikssss

    BalasHapus