Minggu, 11 Januari 2015

2015 #12: Karya Terakhir Sang Maestro

Sudut bumi, 20CD

Cintaku

Belahan jiwaku
Kadang pepatah yang mengatakan lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali terjadi padaku.

Saat kehabisan buku untuk mengisa waktu luang sementara buntelan belum mendarat, tentunya yang aku lakukan adalah membongkar area diskon di toko buku. Sering orang tertawa melihatku dengan anteng membongkar tumpukan buku diskon. Mereka tidak tahu, kulakukan hal itu bukan untuk mencari buku murah tapi mencari buku-buku bermutu yang terlewat aku baca.

Mendadak mataku menatap buku ini, Soneta Musim Kelima dari Lan Fang.
Ajaib! Bisa-bisanya ak kelewatan buku Lan Fang. Segera buku masuk ke dalam tas belanjaan. Sepanjang perjalanan aku isi dengan membaca buku setebal 151 halaman. Terbesit rasa rindu dalam hati. Semoga beliau damai di sana.

Masih ingatkah dirimu ketika aku dengan bersemangat mengirim buku-buku untuk ditanda tangani? Sebegitu tidak mau menyusahkannya aku hingga memasukan uang sebagai ganti biaya pengiriman. Dan begitu polosnya beliau mengatakan uangnya lebih. Waduhhh padahal aku justru takut kurang. Begitu rendah hatinya hingga souvenir tas yang aku kirimkan dikembalikan, dan ketika aku tanya kenapa dikembalikan jawabanya membuatku tersenyum," Lho buat aku? Wah aku kira sekedar membungkus buku. Sayang yah belum milikku sepertinya. Padahal bagus lho."

Berikut buku yang aku maksud:

Judul: Sonata Musim Kelima
Penulis: Lan Fang

ISBN: 979228110X
ISBN-13: 9789792281101
Halaman: 151
Cetakan: I-Februari 2012
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama


Kisah yang ada dalam buku ini berjudul Bai She Jing, Dear Gani, Dermaga, Festival Topeng, Gandrung, Hujan di atas Ciuman, Laila, Musim Kelima, Qiu Shui Yi, Sonata, Sri Kresna, Surat Untuk Sakai, Tentang Musim, Tukang Dongeng dan Tukang Mimpi, dan Yang Paling Penting.

Kelima belas kisah dalam buku ini bercerita tentang cinta. Aneka macam peristiwa cinta, bersatu, terpisah, cinta kekasih, cinta keluarga, cinta tanah air. Sumber inspirasinya beragam, dari kisah legendari Siluman Ular Putih, Mahabharata, hingga puisi karya Sapardi Djoko Damono. Lan Fang meramu kata-kata menciptakan kisah cinta dengan mempergunakan bahasa yang indah nan puitis namun bagi saya yang bukan menggemar kisah cinta, jauh dari menye-menye. Kata-kata ala sastra yang terdapat dalam kisah tidak membuat kisah menjadi sukar dipahami, namun menjadikannya menjadi indah dan menawarkan sensasi tersendiri.

Hujan di Atas Ciuman.
Aku seakan kembali pada masa saat aku dan dirinya belajar bersama di bawah pohon tempat kursus saat membaca kisah ini.
Laki-laki itu sungguh lembut baik tutur kata dan perbuatan. Pertemuan kami justru terjadi ketika ia terpaksa ikut kelasku setelah 2 kali tidak bisa masuk kelasnya sendiri karena tugas keluar kota. Tak ada yang tahu soal aku dan dirinya. Meski begitu tak kalah indahnya dengan kisah cinta yang lain. Bagian dari masa lalu yang terusik.

Dibuat dari sudut pandang Lin dan Tato membuat kisah ini menjadi memiliki nuansa yang berbeda. Tato seorang pelukis sementara Lin adalah seorang penulis yang membuat novel dengan judul Ciuman di Bawah Hujan. 

Sosok Lin membuatku teringat akan diri Lan Fang. Bersemangat, welas asih juga produktif berkarya.  Kalimat pada akhir kisah, "Hidup bukan perjuangan menghadapi badai. Tetapi bagaimana agar tetap bisa menari di tengah hujan," menunjukan betapa semangat hidup yang tinggi dan berusaha mengisi hari-hari dengan hal yang baik meski sudah divonis menderita sakit.

Kisah Sri Kresna membuatku teringat pada kisah Mahabharata. Dalam buku ini, Lan Fang mengambarkan situasi saat perang besar terjadi di Kurusetra. Kisahnya diuraikan dari sudut pandang Bisma, sosok yanng dihormati dan dicintai Pandawa juga Kurawa.  Bisma bukan memihak Kurawa. Yang dibelanya adalah negara tercintanya, tanah airnya Hastinapura, Kesetiaannya pada negara. Krisna harus memainkan peranannya dengan baik agar kebenaran bisa meraih kemenangan. Kisah yang padat dengan pesan moral.

Dermaga adalah tempat sebuah kapal berlabuh. Sering kali dianalogikan sebagai hati seseorang dimana ia sudah berlabuh, menyerahkan seluruh cintanya. Seorang wanita yang sering duduk di dermaga, menawarkan hatinya sebagai dermaga agar sang pria bisa berlabuh. Sekian lama menanti, sekian banyak upaya ia tak mau berlabuh juga. Ternyata ada rahasia besar yang tak diketahui perempuan itu. Sang lelaki sudah berlabuh di dermaga yang lain.

Festival Topeng merupakan kisah yang berbeda dibanding yang lain. Kisah tentang seorang pembuat topeng bernama Drajat Hartono yang dipaksa istri Prameswari, untuk ikut mengikuti Festival Topeng seperti Pakde Wan yang memborong aneka topeng di rumah mereka.  Alih-alih membuat banyak topeng, Drajat merasa cukup membuat satu topeng Rahwana, yang mempunyai sepuluh wajah (dasamuka). Sejak ia juga menjadi Pakde Wan, sang istri menjadi tak mengenalnya lagi. Tak ada dongeng sebelum tidur. Semuanya berubah. Sepertinya Lan Fang sedang menyindir situasi politik saat pemilihan anggota dewan.

Bagian ini mengingatkan diriku akan dirimu yang sangat suka mendongeng, terutama kisah-kisah dalam wayang saat kita di peraduan. Dan aku selalu terpesona dengan dongeng yang meluncur dengan lembut dari bibirmu. Aku mendengarkan hingga terlelap dengan nyaman.

Ada kalimat khusus yang ditunjukan untuk Mbak Sanie B. Kuncoro pada halaman 19,"Sanie, tidak peduli kunang-kunang itu bersayap lengkap atau hanya sebelah. Yang terpenting adalah tetap semangat menjadi cahaya!" Kisah Bai She Jing yang dipersembahkan bagi Mbak Sanie terinspirasi dari salah satu legenda China, Bai She Jing atau di tanah air dikenal dengan Legenda Ular Putih. Jadi kangen mbak Sanie.

Lan Fang adalah seorang sastrawan produktif  yang terkenal suka menulis cerita-cerita humanis dan menjunjung plularisme. Ia wafat pada 25 Desember 2011 lalu. Kehilangan besar bagi dunia sastra di tanah air.

Cintaku

Belahan jiwaku
Nyanyikanlah lagu ini sebagai pengantar tidurku. Judulnya 月亮代表我的心 (yue liang dai biao wo de xin) The Moon Represents My Heart

你问我爱你有多深
(ni wen wo ai ni you duo shen)
Kau bertanya padaku seberapa dalam aku mencintaimu


我爱你有几分
(wo ai ni you ji fen)
Seberapa besar aku mencintaimu

我的情也真 
(wo de qing ye zhen)
Perasaan ku ini sungguh-sungguh

我的爱也真 
(wo de ai ye zhen)
Begitu juga dengan cintaku

月亮代表我的心
(yue liang dai biao wo de xin)
Bulan mewakili hatiku

你问我爱你有多深 
(ni wen wo ai ni you duo shen)
Kau bertanya padaku seberapa dalam aku mencintaimu

我爱你有几分
(wo ai ni you ji fen)
Seberapa besar aku mencintaimu

我的情不移
(wo de qing bu yi)
Perasaanku tak akan berpindah

我的爱不变 
(wo de ai bu bian)
Cintaku tak kan berubah

月亮代表我的心
(yue liang dai biao wo de xin)
Bulan mewakili hatiku

轻轻的一个吻
(qing qing de yi ge wen)
Sebuah kecupan lembut

已经打动我的心
(yi jing da dong wo de xin)
Sudah menyentuh hatiku

深深的一段情
(shen shen de yi duan qing)
Sebuah perasaan yang mendalam

教我思念到如今
(jiao wo si nian dao ru jin)
Membuatku memikirkanmu hingga sekarang

你问我爱你有多深
(ni wen wo ai ni you duo shen)
Kau bertanya padaku seberapa dalam aku mencintaimu

我爱你有几分
(wo ai ni you ji fen)
Seberapa besar aku mencintaimu

你去想一想
(ni qu xiang yi xiang)
Kau memikirkannya

你去看一看 
(ni qu kan yi kan)
Kau memperhatikannya

月亮代表我的心
(yue liang dai biao wo de xin)
Bulan mewakili hatiku
 
Wo Ai Ni
TR

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar