Jumat, 28 Oktober 2011

Makrifat Jawa untuk Semua



Penulis : Abdurrahman El-'Ashiy
Peyunting : Asep Sofyan
Proofreader: Titis Adinda
ISBN: 978-979-024-290-6
Halaman: 310
Penerbit : Serambil Ilmu Semesta
Harga :Rp. 45.000,00

Ngawati ingsun ngalars syi'iran
Kalawan muji maring Pangeran
Kang paring rahmat lan kenikmatan
Rina wengine tanpa pitungan

...............................
..............................
..............................

Walau lahir dan besar di Jakarta, sejak kecil saya sudah diajar untuk menyelami dan memahami tata cara kehidupan orang jawa, lebih tepatnya Jawa Tengah mengambil alur dari pihak mama saya. Contoh kecil saja, sampai saya kelas VI Sekolah Dasar, atas dawuh Eyang Putri, setiap Rabu saya dan para saudara harus mengikuti les menari plus kerawitan. Kebetulan salah satu bude memiliki gamelan lengkap dan membuat sanggar. Sementara anak-anak lain mungkin sedang sibuk les balet, piano dan sejenisnya, kami harus melatih keluwesan tubuh. Setiap Halal Bhihalal kami harus membuka acara dengan kerawitan. Kadang saya kangen saat-saat itu. Menari membuat saya merasa berada di dimensi lain dimana waktu terhenti.

Hidup menjalani adat Jawa buat saya gampang-gampang susah. Saya tidak keberatan harus menelan bubur Suro yang rasanya aneh bagi lidah anak Jakarta. Saya tenang saja saat menjalani tirakat mutih Senin-Kamis. Tapi saya sangat merasa tidak nyaman saat harus berhadapan dengan para penduduk desa yang tinggal di dekat sarean  keluarga di Solo. Mau bagaimana, adat mengharuskan begitu.


Usaha pe de ka te  saya dan seseorang gagal total akibat tanpa sengaja dia melihat KTP saya dan membaca tulisan nama lengkap saya. Langsung merasa tak enak hati dan minder. Segera bubar jalan-lah pe de ka te itu. Sepertinya memang belum jodoh yaa.

Saat ini, setelah mengalami banyak warna dalam kehidupani,  saya menjadi  sangat berkompromi dengan nasib. Hidup saya sudah sangat pasrah pada sang sutradara kehidupan ini. Saat timbul keinginan untuk mendapatkan sesuatu, semua usaha dikeluarkan semaksimal mungkin bahkan kadang seperti tidak masuk akal di mata orang lain. Tapi  saat usaha itu tidak membuahkan hasil, sekarang saya hanya bisa  merenung, menelaah langkah-langkah yang sudah diambil dan menjadikannya sebagai sebuah pelajaran. Belum berhasil berarti belum jodohnya sukses.  Sebuah kegagalan tidak perlu disesali, tapi yang terpenting adalah agar tidak menjadi bodoh untuk mengulangi kesalahan yang sama.

 Dahulu...., saya akan meledak, memarahi diri, grusak-gruisuk mencari kambing hitam dan pembenaran untuk sebuah kegagalan. Sebuah kegagalan tidak perlu disesali, tapi yang terpenting adalah agar tidak menjadi bodoh untuk mengulangi kesalahan yang sama.

Kepasrahan dan penyerahan diri  kepada Tuhan yang naik setingkat demi setingkat sehingga sampai ke tingkat keyakinan yang kuat disebut sebagai makrifat. Buku ini menjelaskan bagaimana seseorang, tepatnya seorang Jawa menjalani kehidupan dan berserah diri pada Sang Pencipta. Ajaran yang diberikan mengacu pada seorang arif bijaksana bersama  Ki Ageng Suryomentaram.


Ki Ageng Suryomentaram masih merupakan keluarga bangsawan sebelum menemukan pencerahan. Jalan pikiran Ki Ageng Suryomentaram mirip dengan J. Krishnamurti dari India yang mendasarkan ajarannya pada pengetahuan pada diri sendiri, Zarathustra dari Persia pernah mengemukakan ajaran yang bertema itulah engkau ,  serta Sokrates dari Yunani  dengan teori kenalilah dirimu.

Banyak falsafah kehidupan yang bisa kita petik manfaatnya. Misalnya pada halaman  19 disebutkan mengenai ajaran tentang ilmu pengetahuan. " Tahu itu tanpa batas, karena sampai pada titik tidak tahu, toh kita masih bisa tahu juga. Yaitu tahu bahwa kita tidak tahu. Tidak tahu itu pada akhirnya akan timbul saat kita meneliti satu per satu barang atau satu per satu kejadian....."

Jika ditelaah lebih lanjut, banyak ajaran beliau yang selama ini tanpa saya sadari sudah saya jalani. Misalnya saja saya selalu diingatkan untuk berpikir positif, optimis  dan berprasangka baik. Sebab apa yang kita pikirkan adalah apa yang akan kita peroleh. " Di kolong langit ini, Anakku, tak ada sesuatu pun yang pantas diratapi dan ditakuti. karena begitu seseorang telah mengeluh atau mengkhawatirkan terjadinya sesuatu, pada saat yang sama berarti ia tengah mengharapkan datangnya sesuatu yang tidak ada pada saat itu. Dan ketika seseorang sedang menginginkan sesuatu, harapannya pun merayu ....."

Seseorang akan merasa terbebani oleh rasa sial adalah karena adanya rasa butuh pada diri orang tersebut. Dan yang menjadi penyebab orang bisa memiliki rasa kuasa adalah karena tidak adanya kebutuhan yang bersemayam dalam diri orang itu. Maka bsia disebutkan bahwa butuh ialah sial, dan tidak butuh adalah berkuasa. Jadi rasa berkuasa adalah rasa tidak butuh kuasa, karena mengerti bahwa watak manusia itu 'sial""


Mengutip yang tertera di web penerbit, dalam buku ini, kita juga mendapatkan tips dari Ki Ageng untuk menempa diri:
  1. Mengamati dan meneliti rasa batin kita yang muncul serta bertanya dan menjawabnya dengan jujur; dari mana dan ke mana rasa batin kita menuju?
  2. Membangkitkan kesadaran "aku sejati" agar senantiasa menjadi subjek dalam menghayati hidup dan kehidupan ini dengan penuh kesabaran, sehingga selalu memiliki keberanian untuk menghadapi kenyataan saat ini, di dunia ini, apa pun wujudnya! (saiki, ing kene, ngene!).
  3. Mengambil keputusan atau menentukan sikap/tindakan berdasarkan pemahaman terhadap situasi yang sedang dihadapi, dengan memperhatikan dan mengkritik nilai-nilai yang kita yakini dengan sesungguhnya, dan tidak hanya berlandaskan kepada "katanya-katanya", "pantasnya-pantasnya", dan "duga-duga" semata.
Di halaman belakang, tercetak beberapa kutipan dari berbagai sumber yang sangat bermanfaat. Misalnya saja dari 100 Kalimah Imam Ali, kutipan dari kita-kitab karya Al-Ghazali. Kutipan favorit saya adalah " Etika seseorang mencerminkan kualitas akalnya"

Terakhir....
mari menutup curatan hati ini dengan menembang.

amenangi jaman edan
ewuh aya ing pambudi
melu edan ora tahan
yen tan melu anglakoni
boya keduman milik
kaliren wekasanipun
dilalah karsaning Allah
begja-begjana kang lali
luwih begja kang eling kelawan waspada

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar