Minggu, 30 Oktober 2011

Gonjang-ganjing di Bumi Mataram

Judul: REMBULAN UNGU
Pengarang: Bondan Nusantara
Editor: Faiz Ahsoul & Esti Budihabsari
ISBN: 978-602-8579-69-8
Halaman : 511
Penerbit: Qanita-PT. Mizan Pustaka
Harga : Rp 65.000

Meski aku mencintaimu, aku telah bertindak pengecut dan meninggalkanmu dalam kesendirian.

Berbicara seputar  keraton,  topik mengenai percintaan para penguasanya merupakan hal yang menarik walau dianggap tahu untuk diperbincangkan secara bebas. Tapi seperti biasa, semakin dilarang maka semakin sering para rakyat membicarakan kisah cinta keluarga bangsawan yang ada di balik tembok keraton, walau dilakukan dengan bisik-bisik

Buku berjudul  Rembulan ungu,  mengisahkan tentang kisah percintaan antara Rara Oyi dengan Adipati Anom, putra mahkota kerajaan Mataram. Kisah ini mengambil latar belakang cerita sejarah pada jaman Mataram di masa Amangkurat I. Layaknya kisah cinta yang lain,  kisah percintaan ini  juga dibumbui dengan beberapa cerita cinta yang bertepuk sebelah tangan.  Ada kisah antara Panjalu dengan Rara Oyi, Sekar Pandan yang menyintai Panjalu serta Sempana yang mencintai Sekar Pandan.

Kisahnya diawali dengan  tugas rahasia Panjalu dari Pangeran Pekik untuk pergi ke Banyuwangi guna  menyerahkan surat rahasia kepada Mangunjaya, Demang Banyuwangi. Dalam perjalanan, di tengah hutan Mantingan, ia dicegat segerombolan orang bertopeng yang ingin merampas surat yang dibawanya. Pertempuran seru adu kanuragan pun terjadi. Untungnya  Panjalu berhasil diselamatkan oleh Sekar Pandan dan kakeknya, Reksawana yang  juga merupakan pengikut Pangeran Pekik.

Surat yang  dibawa Panjalu ternyata  berisi permintaan Pangeran Pekik kepada Mangunjaya untuk merelakan putri remajanya yang cantik, Oyi, untuk  diboyong ke Mataram guna  dijadikan selir Amangkurat I , penguasa Mataram yang baru saja kehilangan selir kesayangannya, Ratu Malang.

Sekilas terlihat demi kebahagian sang raja, Pangeran Pekik berjuang dengan gigih agar Rara Oyi menjadi selir Amangkurat, penguasa Mataram. Ternyata  ini adalah taktik yang dijalankan oleh Pangeran Pekik dan istrinya untuk menggulingkan pemerintahan Amangkurat I yang dianggapnya sudah melenceng dari cita-cita para pendiri kerajaan Mataram, mewujudkan Mataram besar dan perkasa. Rakyat menderita akibat kebijakan yang salah arah, yang berpihak kepada kepentingan pribadi semata .Dalam buku ini digambarkan situasi saat masa pemerintahan Amangkurat I, sultan Mataram pengganti Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Beliau digambarkan   sebagai sosok penguasa yang lupa akan tugas utamanya sebagai pemimpin sekaligus pengayom warganya. Segala tindakannya berdasar kepentingan pribadi. Semua penilaiannya subjektif, tergantung kedekatan dengan pembawa pesan. Beliau juga cenderung egois dan pemarah, sehingga tak ada yang berani mengkritik kebijakannya meskipun hal tersebut sering menyengsarakan rakyatnya. Contohnya saja Istana baru di Plered serta pembuatan Segara Anakan yang dibangun menggunakan tenaga rakyat mengharuskan mereka meninggalkan kegiatan utamanya, bertani. Hal tersebut membuat rakyat menjadi kelaparan.

Ketidakbecusan Amangkurat mengurus kerajaan membuat Mataram bergolak. Beberapa pihak berkumpul dan mengatur taktik suksesi. Kisah  Rembulan Ungu ini juga diwarnai dengan cerita  intrik-intrik di dalam keraton, adu domba, penjilat-penjilat bertebaran. Akibatnya, banyak korban berjatuhan. Para pangeran saling bertentangan sambil menunggu lengsernya sang penguasa.

Sosok Panjalu digambarkan sebagai prajurit sejati yang rela melakukan apa saja demi sang raja.  Panjalu terlanjur jatuh cinta kepada Oyi. Begitu pula sebaliknya. Tetapi komitmen tingginya selaku prajurit Mataram membuatnya surut melanjutkan kisah cintanya dengan Rara Oyi, apalagi setelah diketahuinya  Adipati Anom sebagai calon raja Mataram juga mencintai  Rara Oyi.

Urusan kekuasaaan sepertinya juga tak mengenal darah. Amangkurat I juga berselisih dengan putra mahkotanya. Perselisihan ini dipicu  oleh berita bahwa jabatan  Adipati Anom  akan dipindahkan kepada Pangeran Singasari (putra Amangkurat I lainnya). Ketika Sultan Amangkurat I mengetahui bahwa calon selirnya menjalin cinta dengan Adipati Anom, beliau menjadi kalap. Cinta memang tidak dapat dipaksa. Saat  Amangkurat I menyuruh Adipati Anom membunuh Rara Oyi, sang putra mahkota yang memang peragu tidak dapat melaksanakan tugasnya. Demi cintanya kepada sang putra mahkota, Rara Oyi kemudian menubruk keris yang di pegang oleh Adipati Anom, sehingga tewaslah ia tertusuk keris Adipati Anom.

Akibat peristiwa itu, Panjalu, yang diberi amanat Demang Mangunjaya untuk menjaga Rara Oyi, merasa gagal dalam menjalankan tugasnya. Dengan perasaan remuk redam diipeluknya tubuh Rara Oyi. Matanya basah oleh air mata. Hati Panjalu perih bagai tersayat pisau. Tangannya bergerak meraih saputangan yang masih tergenggam di tangan gadis itu,  saputangan bergambar rembulan merah muda yang tersulam dengan indah dengan sepasang merpati di kiri kanannya. Saputangan itu  kini berubah warna menjadi ungu karena dipenuhi oleh darah Rara Oyi, gadis yang dicintai Panjalu. Dari sinilah judul tersebut diambil,

Kanjeng Susuhunan Prabu Amangkurat Agung atau disingkat Amangkurat I terlahir dengan nama Raden Mas Sayidin adalah raja Kesultanan Mataram   (1646-1677). Merupakan anak dari Sultan Agung Hanyokrokusumo. Selama masa pemerintahan banyak mengalami pemberontakan, bahkan  meninggal dalam pelariannya tahun 1677 dan dimakamkan di Tegalwangi, sehingga dikenal pula dengan gelar anumerta Sunan Tegalwangi atau Sunan TegalarumSaat  diangkat menjadi raja Mataram untuk menggantikan ayahnya,   gelar yang diperoleh adalah Susuhunan Ing Alaga

Dalam  Bahasa Jawa,  kata Amangku yang berarti "memangku", dan kata Rat yang berarti "bumi", jadi Amangkurat berarti "memangku bumi". Diharapkan akan  menjadi raja yang berkuasa penuh atas seluruh Mataram dan daerah-daerah bawahannya. Pada upacara penobatannya tersebut seluruh anggota keluarga kerajaan disumpah untuk setia dan mengabdi 

Saya sebenarnya bukan pembaca genre sejarah juga romance. Dua hal yang menonjol dari buku ini. Hanya saja sejak terbuai dengan untaian kata Mas Yudhi  dalam kisah sejarahnya serta pengaruh Sang Raja Galau Dion Yulianto, saya bisa menikmati membaca kisah ini tanpa mengeluh. 

Bondan dengan sosok bersahajanya membuat kisah ini menjadi kian menarik. Sepertinya bintang 3 cukup untuk buku ini.

Dibuat dalam rangka Baca Bersama Bloger Buku Indonesia dengan tema Romance ^_^

Foto Bondan dari :
http://nanungperspectives.blogspot.com/2011/09/bondan-nusantara-saya-berterimakasih.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar