Kamis, 26 Mei 2016

2016 #57-58 : Kisah Adriana serta Asma

Sering kali saya mendapat  pertanyaan kenapa tidak menonton filmnya dari pada membaca buku, atau kenapa masih membaca bukunya padahal sudah ada film yang diputar. Dilain waktu malah ada yang bertanya, seberapa jauh perbedaan antara film dan buku. 

Pertama saya harus bilang bahwa saya adalah membaca buku cetak bukan pembaca ebook atau penonton film (sebelum ada yang tanya kenapa saya tidak menyimpan versi ebook saja). Kedua menonton bagi saya adalah hiburan agak mewah. Mewah karena saya harus pergi khusus ke bioskop, mengantri, bahkan kadang harus sekian jam sebelum waktu putar, dan berbagai upacara yang kurang saya sukai. Itu juga yang kadang sering membuat saya agak malas ikutan acara nobar meski mendapat free tiket. Jam tayang yang sering nyeleneh serta lokasi bioskop yang jauh membuat saya sering menghibahkan tiket. Kalau pun datang, pasti ada pertimbangan tersendiri.

Untuk yang menawarkan solusi menonton melalui DVD, saya masih malas harus berjuang meneror penjual  DVD guna memastikan kapan  versi DVD  yang sudah layak tonton terbit. Beli versi ori? Ntar ah masih mending buat beli buku.

Itulah saya he he he. Bagi saya yang lebih menyukai membaca, ketinggalan membaca sebuah buku yang sedang hits itu bisa jadi masalah. Sementara menonton film yang sedang hits di bioskop bukan urusan yang penting. Tunggu saja sebentar, nanti juga ada di televisi swasta. Sekali lagi bagi saya lho. Urusan selera antara buku dan film memang tergantung individu masing-masing.


Itu sebabnya, saya masih menyimpan dua buku yang sudah diangkat ke layar lebar, bahkan ada yang dibuatkan versi serial  sinetronnya.  Buku Assalamualaikum Beijing dan Adriana Labirin Cinta di Kilometer Nol. Kedua buku itu sebenarnya sudah lama ada di rak buku saya. Seingat saya bahkan sebelum versi layar lebar ada.  Selalu keduanya tidak bisa berada di bagian atas karena timbunan yang makin saja meninggi. Baru ketika ada yang bertanya apakah saya memiliki versi awal Adriana Labirin Cinta di Kilometer Nol, kedua buku ini bisa naik kelas ^_^.



Judul Buku: Adriana – Labirin Cinta di Kilometer Nol
Pengarang: Fajar Nugros & Artasya Sudirman
Penyunting: Azzura Dayana & Nessy Apriyani

ISBN: 9786028436489
Halaman: 400 hlm
Cetakan: Pertama-Januari 2010
Penerbit: Lingkar Pena
Rating: 3/5

Saya tidak suka pelajaran sejarah! Ok..ok..semua teman sekolah saya sepertinya sudah sangat tahu tentang hal itu. Hanya saat duduk di kelas 3 SMA saya agak menyukai pelajaran sejarah. Itu karena ibu guru yang spektakuler itu memberikan tugas membuat karya tulis mengenai sebuah kisah sejarah. Kalau urusan mengarang bebas dengan mengacu pada beberapa referensi tarik.....!

Buku ini menawarkan sebuah kisah cinta yang tak biasa. Cinta memang biang segala kisah romantis yang ada di dunia ini. Tapi kisah cinta yang dilandasi petualangan memecahkan petunjuk dengan mempergunakan informasi sejarah sangat sedikit. Jangan-jangan hanya ini ^_^
 

Cinta yang membuat Adriana berubah menjadi sosok seperti ini. Cinta juga yang membuat ia melakukan hal-hal yang tidak logis. Seperti memberikan Mamen aneka pertanyaan yang jawabannya merupakan tempat dan waktu pertemuan selanjutnya.

Mamen jelas butuh bantuan! Apalagi maaf saja pengetahuan sejarahnya beda tipis dengan saya alias tidak tahu apa-apa! Disinilah peran Sobar  sahabat SMA Mamen. Sebagai penggemar sejarah, tentunya ia bisa dengan memecahkan teka-teki Adriana. Anehnya...., satu teka-teki belum tuntas ditemukan jawabannya sudah ada teka-teki baru yang muncul. Misterius! Mamen jelas harus berpacu dengan waktu.

Saya ingat saat menonton film ini di layar televisi *jelaslah di mana lagi coba* Perjuangan Mamen lebih terasa karena penonton bisa melihat wajahnya yang letih, kepanikan, peluh di wajah. Visualisasi sangat membantu menceritakan hal-hal yang sulit diungkapkan oleh kata-kata. 
Tapi visualisasi juga yang membuat Mamen terlihat lebih kurang pandai dibandingkan dengan yang diceritakan pada buku.

Untuk kisah ini, saya lebih menyukai buku dari pada menonton.

 
Penulis: Asma Nadia
Cetakan: Pertama- 2013 
ISBN13: 9786021606155
Halaman: 365
Penerbit: Noura Books
Rating: 3/5


Kata Beijing yang membuat saya membeli buku ini. Dengan pengambil ilustrasi tembok China, jelaslah saya tergoda.  

Meski bangsa Asia terkenal sebagai bangsa yang ramah, tapi agak kurang pas juga melihat keramahan antara Asma dan Zhongwen. Memang ada orang yang langsung klik saat pertama kali bertemu, tapi untuk kedua orang ini kesannya terlalu dipaksakan. Visualisasinya terlihat sekali.

Semula Asma sudah memiliki kekasih dan sedang mempersiapkan urusan pernikahan. Apa mau dikata, karena sesuatu hal mereka terpaksa berpisah. Asma memutuskan untuk pergi ke Beijing.  Tak dikira, di sana Asma menemukan sosok pria yang memujanya, Zhongwen.


zhongwen penyuka mitologi mengisahkan tentang kisah cinta sejati antara Ahei dan Ashima. Ia memanggil Asma dengan nama Ashima. Menurutnya keduanya mirip. Sekali lagi, pada film, bagian yang mengisahkan sok akrab Zhongwen membuat saya ingin melempar guling ke layar kaca. 

Melalui Asma, Zhongwen mulai mengenal Islam dan akhirnya menjadi Mualaf. Dan selanjutnya perjalanan kisah cinta mereka vsia ditebak bukan.  Plus, perjuangan Zhongwen mendapatkan cinta Asma yang tidak mudah. Asma menderita penyakit yang berhubungan dengan pengentalan darah yang membuatnya mengalami kesakitan luar biasa, serangan stroke hingga  nyaris buta. Penyakit itu juga membuatnya sangat tidak dianjurkan untuk hamil dan melahirkan. Pada buku, dikisahkan bagaimana Asma tidak mengenali Zhongwen ketika tersadar, ia malah menamparnya.

Mungkin yang agak menarik untuk tetap bertahan menonton film adalah pemandangan China yang indah. Untuk buku ini, saya lebih menyukai versi film hi hi hi. Tahulah kenapa. Tapi memang, kita bicara selera sih. Agak susah itu.


Tapi pada intinya, jangan terlalu berharap jika sebuah film akan dibuat sesuai dengan jalan cerita yang ada di buku. Bisa lebih baik, atau bisa juga kurang menarik. Harap maklum, film menonjolkan efek visual dan bunyi. Sementara buku mengandalkan kata. Tiap individu menyukai hal yang berbeda, jadi tidak bisa sama juga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar