Kamis, 19 Mei 2016

2016 #53: Cerita dibalik Segelas Teh

























Judul asli: The China Tea Book
Penulis:  Luo Jialin
ISBN-10: 1608871568
ISBN-13: 978-1608871568
Halaman: 212
Cetakan: Pertama-November, 2012
Penerbit: Earth Aware Editions
Rating: 3/5

Tea isn't a drink.  
The cup,  that you hold in your hand,  is the culmination of over five thousand years of history.

Buku ini menggoda mata saya saat BBW karena kata China dan Tea. Kedua hal tersebut memang selalu mampu membuat rasa penasaran saya tergelitik. Ditambah dengan warna kover yang mengusung nuansa hitam sehingga membuat gambar terlihat kontras. Saya membayangkan buku ini berada di rak buku saya, pasti cantik *ego penimbun buku*

Pertama kali melihat, masih 
ragu untuk membeli. Alasan utama adalah  karena harganya nyaris sama dengan anggaran maksimal Rp 200.000. Kedua sepertinya pernah lihat buku ini dalam koleksi perpustakaan kantor. Kalau ada yang bisa dipinjam buat apa beli, anggaran bisa disisihkan untuk yang lain. Ketika menemukan buku ini untuk kedua kalinya saat datang lagi, diputuskan untuk memindahkan dalam keranjang belanjaan. Dari pada menyesal nanti.

Kalimat pertama yang saya baca, langsung menyeret saya dalam pesona isi buku ini, "A copy of The Book of Tea from the Qing dynasty (1644-1911). It begins, “Tea is from a grand tree in the south…The flower is like that of the wild red rose turned white…Its liquor is like the sweetest dew of Heaven.”

Secara garis besar, buku ini terbagi menjadi dua bagian utama. Namun sebagai perkenalan diberikan bagian yang berjudul dari   From Myth to Reality. Terbayangkan apa isinya bagian ini.
Pertama adalah mengenai teh, diberi judul Tea. Pada bagian Overview diuraikan berbagai hal mengenai produksi teh. Mulai dari memetik, pelayuan, pememaran, penggilingan, hingga proses penyimpanan. 

Meski sudah diolah secara baik dan menghasilkan teh bermutu tinggi, ternyata urusan penyimpanan juga harus diperhatikan dengan benar. Kesalahan dalam penyimpanan bisa membuat teh tidak seperti yang diharapkan.

Ada empat macam teh yang dibahas dalam bagian ini, meliputi hijau, oolong, hitam, dan teh pu-erh. Sepertinya hal ini pasti akan kita temui dalam tiap buku yang membahas tentang teh. Meski demikian, bagian ini tetap menarik untuk dibaca. Jangan dilewatkan ya.

Tiap teh memiliki karakteristik sendiri. Sepertinya Green tea  disukai kaum muda karena dirasa cocok dengan kepribadian mereka yang energik.  Teh Oolong digemari oleh mereka yang berusia matang, terutama karena dianggap mampu melunturkan atau menekan perkembangan beberapa zat yang tidak baik bagi tubuh. 

Sementara itu teh hitam atau Black Tea juga dikenal dengan nama red tea karena warna seduhannya. Untuk masayarakat China dibedakan karena warna hasil seduhan teh. Sementara di Inggris karena warna daunnya yang agak gelap menyerupai warna hitam. Teh jenis ini sering dianggap sebagai ungkapan kasih seorang.

Sementara itu, Teh Pu-erh merupakan teh yang berasal dari  daerah Yunnan. Teh mulai muncul tahun 1970. Bisa dikatakan seperti inkarnasi dari orang tua yang bijak dengan banyak cerita

Selanjutnya, atau bagian kedua adalah mengenai Tea Culture. Bagian ini menguraikan tentang prinsip dalam menikmati teh. Tidak hanya main tenggak saja ternyata. Ternyata pada budaya China, jika terkait teh,maka akan membahas juga mengenai  tentang waktu, lokasi penanaman, perlengkapan minum teh, serta suasana yang tepat untuk menikmatinya.

Selain untuk dinikmati dengan cara diminum, ternyata dalam masyarakat China, teh juga bisa dinikmati dengan cara lain. Teh  ternyata juga berpengaruh pada karya seni berupa puisi, kaligrafi dan seni lukis. Unik ya

Diuraikan juga mengenai hubungan antara zen dengan minum teh. Teh dianggap minuman yang mampu menahan kantuk, hingga sering disajikan saat meditasi. Meski perlu dipertimbangkan, sekali lagi, pemakaian bahan campuran seperti gula dan susu saat menikmati teh.

Terdapat juga informasi manfaat minum teh bagi  seseorang. Semakin mengetahui segala hal seputar teh, semakin pula menghargai dan menikmati teh. Teh tidak hanya sekedar minuman, tapi sudah berkembang menjadi gaya hidup. 

Meski buku ini memanjakan pembaca dengan aneka gambar yang menawan, namun sepertinya urusan tata letak perlu lebig diperhatikan. Banyak bagian yang dibiarkan kosong. Misalnya, pada satu halaman, yang terisi dengan foto dan tulisan hanya 1/3 saja.
Pemilihan huruf juga harus mendapat perhatian. Penggunaan huruf yang cenderung kecil dan tipis membuat mata menjadi tidak nyaman saat membacanya. Sayang, padahal masih banyak tempat yang tersisa, kenapa tidak sedikit mengubah urusan huruf.

Sampai buku ini selesai saya baca, terus terang, saya masih agak bingung kenapa harganya bisa lebih mahal dibandingkan dengan buku-buku lain. Bukan tidak suka, tapi menurut saya informasi dalam buku ini tidak sebegitu istimewanya dibandingkan dengan buku lainnya.  Mungkinkah karena alasan tahun terbit,? Tapi banyak yang terbih belakangan dijual dengan harga lebih murah. Entahlah, mungkin karena kertas dan banyaknya ilustrasi berwarna yang ada di dalam.

Bagaimana juga, layak untuk dikoleksi.


















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar