Kamis, 26 Mei 2016

2016 #56: Kisah Tentang Ranta dan Ireng



Judul asli: Orang-orang Baru dari Banten
Penulis: Pramoedya Ananta Toer, Dhalia
Halaman: 72
Cetakan: Pertama-1959
Penerbit:Bagian Penerbitan Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA)
Rating: 3,75/5

Mereka yang kuasa, Reng, seolah-olah merekalah jang menentukan hidup kita, walaupun sebenarnja mereka itu lebih djahat daripada maling.

Buku ini, entah bagaimana bisa berada dalam timbunan saya. Tepatnya, saya tidak ingat bagaimana bisa ada pada saya. Dari siapa dan bagaimana bisa saya miliki, masih agak gelap dalam ingatan. Saya hanya ingat buku ini hasil dari swap GRI beberapa tahun lewat. Kalau urusan kenapa tertimbun saya masih bisa memberikan penjelasan he he h. Itulah kegunaan dari sering menata ulang timbunan, ada saja buku yang menggoda untuk didahulukan.

Dengan tebal halaman hanya sebanyak 72 halaman, tak heran jika buku ini mudah tertimbun diantara buku bantal lainnya. Apalagi menilik sisi bahu buku yang tak ada tulisan sama sekali, wajar jika buku ini sering terlewat. Baru setelah melihat dari sisi depan, aura menggoda untuk dibaca mulai terasa ^_^

Sebenarnya ini merupakan sebuah naskah drama dua babak yang diadaptasi dari novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Bagaimana kisahnya, saya belum membaca jadi tidak bisa memberikan uraian. Bagi yang ingin tahu, ada ulasannya di Goodreads Indonesia, bisa dilihat di sini.

Bagi saya, kisahnya sederhana sekali. Bahkan terlalu singkat sehingga pesan moral yang disampaikan langsung terlihat sejak awal. Seakan memberikan pengajaran moral tanpa pendahuluan. Terlalu singkat, padat dan langsung pada sasaran.

Ranta dan Ireng merupakan sepasang suami istri yang hidup serba kekurangan. Harta mereka juga sudah hilang direbut pihak-pihak lain secara keji. Bahkan untuk sekedar bertahan hidup, Ranta harus melakukan pekerjaan tercela, mencuri.

Sebenarnya Ranta mencuri atas perintah paksa dari Juragan Musa. Upahnya pun sangat kecil. Celakanya, bukan mendapat upah lebih setelah berhasil menjalankan tugas mencuri, ia justru dipukuli. Rasa kesal ini yang membuatnya melawan Juragan Musa begitu kesempatan tiba.

Dibantu dengan dua orang pemikul singkong yang menumpang istirahat malam sebelumnya di teras rumah, Ranta membawa barang bukti kelakuan jahat Juragan Musa ke Komadan guna meminta keadilan.

Kelakuan sang juragan ternyata meresahkan warga sehingga banyak yang mendukung Ranta. Seperti juga kisah sejenis, tentunya akhir yang membahagiakan akan ditemui oleh pembaca. Juragan Musa ditangkap, Ranta dicalonkan menjadi Lurah sementara menunggu hasil pemilihan umum. Layar turun setelah Ranta berpidato dengan maksud menggugah semangat para warga setempat.

Pada  kisah ini,  saya menemukan kata DI. Agak merasa khawatir apakah DI yang dimaksud dalam buku ini sama dengan yang ada dalam persepsi saya. Ke belakang, baru ada uraian bahwa DI adalah singkatan dari Darul Islam. Berarti sudah ada persamaan persepsi. Perihal DI bisa dilihat di wikipedia pada  link berikut. Atau juga bisa dilihat di blog ini.

Ireng memang tidak menerima kedua orang tak dikenal untuk menumpang tidur secara langsung yang datang malam hari. Tapi ia tidak mengusir kedua orang tersebut. Tindakan wajar ketika ia membangunkan dan bertanya mengenai siapa kedua orang tersebut, maklum situasi sosial saat itu membuat orang harus waspada.

Alih-alih mengusir pergi, Ireng justru menyajikan air hangat sekedar untuk menghilangkan haus. Hanya air hangat karena ia tak memiliki teh, kopi atau gula. Sikap ini bisa dianggap sebagai sikap tolong-menolong. Gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa. Wajar jika setelah itu kedua orang tersebut juga membantu Ranta mengurus perihal Juragan Musa.

Selain tentang gotong royong, kisah ini juga mengajarkan bahwa kekuasan merupakan amanah, untuk itu maka harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Pemegang amanah janganlah bertingkah semena-mena karena pertanggungjawaban akan sangat berat.

Tengok bagaimana kelakuan Juragan Musa. Ia bertingkah seenaknya. Melihat perempuan licin sedikit langsung ingin menjadikan istri, jika menolak maka dalam waktu singkat ada saja yang terjadi dengan keluarga perempuan itu. Ada yang rumahnya kebakaran dan lainnya. 

Ia ibarat maling teriak maling, orang yang digaji untuk menjaga ketertiban umum padahal ia sendiri yang melakukan kekacauan. Tak heran, selama ini gerakan yang meresahkan warga sulit dilacak. Mereka piawai dalam menjalankan aksinya.

Semula saya mengira Juragan Musa ada hati dengan Ireng he he he menilik cara bicaranya yang selalu menanyakan Ireng ketika sedang memberikan tugas ke Ranta. Gaya sok tahu saya ternyata salah, Juragan Musa sengaja menunjukkan kuasanya pada Ireng dengan menekan Ranta hanya sekedar mendapat pengakuan sebagai sosok yang berkuasa, tidak lebih. Ego seorang penguasa yang ingin diakui keberadaannya.

Perihal keadilan juga dimuat dalam buku ini. Meski suaminya melakukan kejahatan sebagai Residen DI namun Nyonya Musa tidak ikut merasakan dihukum, karena memang ia tidak melakukan hal yang melanggar hukum. Ia bahkan tidak mengetahui rahasia suaminya itu. 

Agak aneh bagi saya menemukan  dialog antara Juragan Musa dengan salah satu kaki tangannya. Mungkin karena terlalu sering melihat sliweran  drama sinetron tanah air, agak tak masuk akal jika ia tak menangkap kode tutup mulut  yang diberikan sang juragan. Tapi jika diingat, saat pembuatan drama ini yang sudah lumayan lama berlalu, maka hal itu mungkin saja terjadi. Mungkin saat itu hal tersebut bisa diterima.

Bagi pembaca, sepertinya harus diingatkan untuk mengabaikan beberapa hal terkait uraian di atas. Perihal situasi kondisi saat pembuatan kisah atau drama ini dengan situasi kondisi saat ini harap diabaikan sehingga bisa menikmati kisah dengan seru.

Meski digunakan untuk menekankan semangat gotong royong, bayangkan jika peristiwa Ireng menemukan sosok yang tidur di terasnya terjadi saat ini. Bukan air yang diperoleh tapi teriakan maling yang ada.

Buku yang saya simpan ini mempergunakan ejaan lama, misalnya penulisan saja untuk saya, setudju untuk setuju, hanja untuk hanya dan masih banyak lagi. Meski begitu, hal ini tidak mengganggu keseruan membaca kisah yang disajikan. 

Jangan dinilai dari kover, apa lagi banyaknya halaman. Tapi nilailah buku ini dari kisah yang sarat dengan makna kehidupan hasil  racikan  apik penulis. Masih relevan dengan kondisi saat ini ^_^

Begitulah, kadang  jodoh saya dengan sebuah buku memang unik.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar